Kasus Gugatan Ivf Meningkat, Dipicu Embrio Tertukar Hingga Sel Telur Rusak

Jul 26, 2026 04:05 PM - 13 jam yang lalu 527

Jakarta -

Program bayi tabung alias in vitro fertilization (IVF) telah membantu jutaan pasangan di seluruh bumi mewujudkan angan mempunyai anak. Bagi banyak pasangan, program bayi tabung alias in vitro fertilization (IVF) menjadi angan untuk mempunyai bayi setelah lama menanti. Namun, di kembali keberhasilan teknologi reproduksi ini, muncul sejumlah kasus norma yang membikin calon orang tua khawatir.

Beberapa pasangan menggugat klinik fertilitas setelah mengalami kejadian yang tidak terduga, mulai dari embrio tertukar, kesalahan identifikasi sampel, hingga rusaknya sel telur dan embrio yang sudah disimpan bertahun-tahun. 

Kasus-kasus tersebut memang tergolong jarang, tetapi dampaknya bisa sangat besar lantaran menyangkut angan mempunyai anak biologis serta kondisi emosional keluarga.


Mengapa kasus gugatan IVF meningkat?

Meningkatnya perhatian terhadap gugatan IVF tidak selalu berfaedah prosedur bayi tabung semakin berisiko. Namun, semakin banyak pasangan yang menjalani IVF membikin potensi munculnya masalah norma juga menjadi lebih terlihat.

Dikutip dari Reuters, dalam beberapa tahun terakhir pengadilan di Amerika Serikat mulai menangani lebih banyak perkara yang berangkaian dengan teknologi reproduksi berbantu. Secara umum, gugatan tersebut terbagi dalam tiga golongan besar, yaitu:

  • Kelalaian dalam penyimpanan alias penanganan sel telur maupun embrio.
  • Produk alias bahan laboratorium IVF yang diduga mengalami abnormal sehingga memengaruhi perkembangan embrio.
  • Dugaan malapraktik saat pemilihan maupun transfer embrio ke dalam rahim. 

Hal ini menunjukkan bahwa tanggung jawab dalam program IVF tidak hanya berada pada master alias klinik, tetapi juga dapat melibatkan produsen media kultur embrio maupun perangkat laboratorium.

Pengadilan di beragam negara mulai menangani kasus mengenai kelalaian klinik fertilitas, termasuk klaim akibat kesalahan transfer embrio dan kerusakan bahan reproduksi yang disimpan. 

Embrio tertukar, bayi lahir bukan dari orang tua biologis

Salah satu kasus yang paling mengguncang bumi IVF adalah ketika seorang wanita melahirkan bayi setelah embrio yang ditanam rupanya bukan miliknya secara genetik.

Kasus serupa pernah terjadi di Australia ketika sebuah klinik IVF salah mentransfer embrio milik pasien lain. Kesalahan tersebut baru diketahui setelah proses kehamilan berjalan dan menimbulkan gugatan lantaran family mengalami tekanan psikologis akibat kesalahan identifikasi embrio. 

Bagi pasangan yang menjalani IVF, embrio bukan sekadar 'sampel medis'. Embrio merupakan hasil dari perjalanan panjang, mulai dari pengambilan sel telur, proses pembuahan, hingga angan untuk mempunyai anak.

Dalam perkara Murray v. Coastal Fertility Specialists, pengadilan menilai bahwa kerugian yang dialami pasien bukan lantaran kelahiran sang bayi, melainkan lantaran klinik kandas memastikan embrio yang ditanamkan adalah embrio milik pasien tersebut. Atas dasar itu, gugatan pasien diperbolehkan untuk dilanjutkan. 

Kasus seperti ini menjadi pengingat pentingnya sistem identifikasi dan verifikasi berlapis di laboratorium fertilitas. Sebab, kesalahan sekecil apa pun dapat memberikan akibat emosional yang sangat berat.

Sel telur dan embrio rusak akibat kegagalan penyimpanan

Selain embrio tertukar, masalah lain yang dapat memicu gugatan adalah kerusakan sel telur alias embrio akibat kegagalan sistem penyimpanan.

Pada IVF, embrio dan sel telur yang belum digunakan biasanya disimpan dalam tangki kriogenik berisi nitrogen cair dengan suhu sangat rendah. Jika terjadi gangguan pada sistem penyimpanan, bahan reproduksi tersebut bisa mengalami kerusakan.

Salah satu kasus besar terjadi di Amerika Serikat ketika kegagalan tangki penyimpanan menyebabkan ribuan sel telur dan embrio pasien rusak. Kejadian tersebut kemudian memicu banyak tuntutan norma dari family yang merasa kehilangan kesempatan untuk mempunyai anak biologis. 

Dalam salah satu perkara yang dibahas Reuters, seorang pasien kehilangan sebagian besar sel telurnya setelah terjadi masalah saat penyimpanan dan pemindahan.

Pengadilan menilai bahwa klinik mempunyai tanggungjawab untuk menjaga keamanan bahan reproduksi pasien, termasuk memastikan prosedur identifikasi dan rantai penyimpanan (chain of custody) melangkah dengan benar. Bahkan, hilangnya kesempatan untuk mengandung di masa depan dapat dipertimbangkan sebagai corak kerugian yang layak digugat. 

Bagaimana kesalahan IVF bisa terjadi?

Proses IVF melibatkan banyak tahapan yang memerlukan ketelitian tinggi. Mulai dari pengambilan sel telur, pencampuran dengan sperma di laboratorium, perkembangan embrio, pembekuan, hingga proses transfer ke rahim.

Beberapa aspek yang dapat meningkatkan akibat kesalahan antara lain:

  • Kesalahan manusia saat memberi label alias mencatat sampel.
  • Sistem identifikasi pasien yang kurang ketat.
  • Gangguan pada perangkat penyimpanan embrio.
  • Kurangnya pemeriksaan ulang sebelum transfer embrio.

Penelitian yang membahas kasus norma akibat embrio tertukar menemukan bahwa masalah seperti kesalahan pelabelan dan komunikasi menjadi aspek yang sering muncul dalam kejadian tersebut. 

European Society of Human Reproduction and Embryology (ESHRE) dalam Good Practice Recommendations for the Organization of an IVF Laboratory menekankan bahwa sistem manajemen mutu (quality management system), pencarian identitas pasien, serta prosedur verifikasi berlapis merupakan bagian krusial untuk menjaga keselamatan pasien selama menjalani program IVF.

Apakah prosedur IVF sebenarnya aman?

Meski muncul beragam kasus hukum, para mahir menilai IVF tetap merupakan prosedur yang mempunyai standar keamanan tinggi jika dilakukan di akomodasi dengan sistem laboratorium yang baik.

Klinik fertilitas biasanya menerapkan beragam prosedur pencegahan, seperti:

  • Pemeriksaan identitas pasien berulang kali.
  • Sistem pencarian sampel menggunakan barcode.
  • Pemeriksaan oleh lebih dari satu petugas sebelum transfer embrio.
  • Pemantauan kondisi penyimpanan embrio secara rutin.

Tujuannya adalah memastikan setiap embrio, sperma, dan sel telur tetap sesuai dengan pemiliknya.

Apa yang perlu diperhatikan sebelum memilih klinik IVF?

Bagi Bunda yang sedang mempertimbangkan program bayi tabung, memilih klinik dengan sistem keamanan yang baik menjadi perihal penting.

Beberapa perihal yang bisa ditanyakan kepada klinik antara lain:

  • Bagaimana sistem identifikasi embrio dilakukan?
  • Apakah laboratorium mempunyai standar keamanan khusus?
  • Bagaimana prosedur penyimpanan embrio dilakukan?
  • Apakah tersedia sistem pencatatan digital untuk sampel?

Selain keberhasilan program, keamanan dan transparansi klinik juga menjadi bagian krusial dalam perjalanan IVF.

Pada akhirnya, kasus gugatan IVF yang meningkat menjadi pengingat bahwa teknologi reproduksi memerlukan pengawasan dan standar keamanan yang sangat ketat. Kesalahan seperti embrio tertukar alias kerusakan sel telur memang jarang terjadi, tetapi dampaknya dapat mengubah kehidupan sebuah keluarga.

Bagi pasangan yang menjalani program bayi tabung, memahami prosedur dan memilih klinik terpercaya dapat membantu mengurangi akibat serta memberikan rasa kondusif selama perjalanan mendapatkan momongan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya