Jakarta -
Bunda sedang menggunakan KB spiral dan merasa menstruasi jadi lebih lama alias lebih banyak dari biasanya? Kondisi ini memang bisa terjadi, tetapi efeknya berjuntai pada jenis KB spiral yang digunakan.
Secara umum, ada dua jenis KB spiral alias intrauterine device (IUD), ialah IUD tembaga dan IUD hormonal. Keduanya sama-sama efektif untuk mencegah kehamilan, tetapi dapat memberikan pengaruh yang berbeda terhadap pola menstruasi.
Pada IUD tembaga, menstruasi dapat menjadi lebih deras dan lebih lama, terutama pada beberapa bulan pertama. Sementara itu, IUD hormonal umumnya membikin perdarahan semakin sedikit seiring waktu.
KB IUD bisa bikin siklus menstruasi lebih lama?
Bisa Bunda, terutama pada pengguna IUD tembaga.
Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), perdarahan yang lebih banyak alias berjalan lebih lama merupakan perihal yang umum terjadi pada 3–6 bulan pertama setelah pemasangan IUD tembaga. Kondisi ini umumnya tidak rawan dan condong berkurang seiring bertambahnya waktu penggunaan.
American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) juga menyebut bahwa IUD tembaga dapat menyebabkan menstruasi menjadi lebih banyak, terutama selama tahun pertama pemakaian. Artinya, jika Bunda baru menggunakan spiral tembaga dan mendapati menstruasi lebih deras alias lebih lama dari biasanya, perubahan tersebut bisa menjadi pengaruh samping dari perangkat kontrasepsi.
Kenapa spiral tembaga bisa membikin menstruasi lebih banyak?
IUD tembaga bekerja tanpa hormon. Alat ini melepaskan tembaga di dalam rahim yang kemudian menciptakan kondisi yang tidak mendukung pergerakan dan kegunaan sperma sehingga mencegah terjadinya pembuahan.
Efek lokal dari IUD tembaga juga dapat memengaruhi pola perdarahan. Karena itu, sebagian wanita mengalami menstruasi yang lebih banyak, lebih lama, alias lebih nyeri setelah pemasangan.
Penelitian yang dilakukan oleh Shaw dkk. terhadap 127 wanita menemukan bahwa penggunaan Copper T meningkatkan volume darah menstruasi rata-rata sekitar 42 persen dibandingkan sebelum pemasangan. Peningkatan tersebut terutama terlihat pada periode awal setelah pemasangan dan kemudian berkurang pada siklus berikutnya.
Studi lain oleh Larsson, Hamberger, dan Rybo yang mengawasi 43 wanita juga menemukan adanya peningkatan kehilangan darah menstruasi sekitar 20 ml per periode setelah penggunaan IUD tembaga.
Meski demikian, hasil penelitian tidak berfaedah setiap pengguna IUD tembaga pasti bakal mengalami menstruasi lebih lama. Respons tubuh setiap wanita dapat berbeda.
Bagaimana dengan spiral hormonal?
Nah, jika Bunda menggunakan IUD hormonal, ceritanya berbeda. IUD hormonal melepaskan hormon levonorgestrel yang bekerja terutama di dalam rahim. Hormon ini membikin lapisan rahim menjadi lebih tipis sehingga jumlah darah menstruasi dapat berkurang.
CDC menjelaskan bahwa pada 3–6 bulan pertama, pengguna IUD hormonal dapat mengalami spotting alias perdarahan yang tidak teratur. Namun, seiring waktu, perdarahan biasanya semakin sedikit. Banyak pengguna akhirnya hanya mengalami menstruasi ringan alias apalagi tidak menstruasi sama sekali.
ACOG juga menyebut bahwa pada awal pemakaian IUD hormonal, Bunda mungkin mengalami spotting, perdarahan yang lebih sering, alias lebih banyak hari perdarahan. Setelah tubuh beradaptasi, jumlah dan lama menstruasi biasanya menurun. Jadi, jangan menyamakan pengaruh spiral tembaga dan spiral hormonal terhadap haid, ya, Bunda.
Mana yang lebih berpengaruh pada perdarahan, spiral tembaga alias hormonal?
Salah satu uji klinis random yang membandingkan IUD tembaga dengan IUD yang melepaskan levonorgestrel menemukan bahwa pengguna IUD tembaga lebih sering menghentikan penggunaan perangkat lantaran perdarahan menstruasi berat dan nyeri haid.
Dalam studi tersebut, nomor penghentian penggunaan lantaran perdarahan berat dan nyeri adalah sekitar 9,7 per 100 wanita pada golongan IUD tembaga, dibandingkan 1,3 per 100 wanita pada golongan IUD levonorgestrel.
Penelitian lain oleh Andrade dkk. yang mengukur kehilangan darah menstruasi secara kuantitatif juga menemukan perbedaan yang cukup jelas. Pada pengguna IUD levonorgestrel, rata-rata kehilangan darah menstruasi berkurang sekitar 90 persen, sedangkan pada golongan IUD tembaga kehilangan darah justru meningkat dibandingkan kondisi sebelumnya.
Temuan tersebut membantu menjelaskan kenapa spiral hormonal sering kali menjadi pilihan bagi wanita yang mau menggunakan kontrasepsi jangka panjang sekaligus mengalami menstruasi yang lebih ringan.
Berapa lama perubahan menstruasi akibat spiral bisa berlangsung?
Kalau Bunda menggunakan IUD tembaga, perubahan perdarahan biasanya paling terasa pada beberapa bulan pertama. CDC menyebut bahwa perdarahan berat alias berkepanjangan umum terjadi selama 3–6 bulan pertama dan umumnya berkurang dengan penggunaan yang lebih lama.
Sementara itu, pada IUD hormonal, spotting alias perdarahan tidak teratur juga dapat terjadi pada 3–6 bulan pertama. Namun, jumlah perdarahan biasanya semakin berkurang seiring waktu. Jadi, tubuh Bunda memerlukan waktu untuk beradaptasi setelah pemasangan spiral.
Apakah menstruasi lebih lama setelah pasang spiral berbahaya?
Tidak selalu ya Bunda. Perubahan pola menstruasi merupakan salah satu pengaruh samping yang memang dapat terjadi setelah penggunaan IUD. Pada IUD tembaga, perdarahan yang lebih banyak alias lebih lama pada beberapa bulan pertama umumnya bukan kondisi berbahaya. Namun, Bunda tetap perlu memperhatikan seberapa banyak darah yang keluar dan apakah ada indikasi lain.
Perdarahan yang sangat banyak dapat menyebabkan kehilangan unsur besi dan pada kondisi tertentu berkontribusi terhadap anemia. ACOG menjelaskan bahwa perdarahan menstruasi berat dapat menyebabkan anemia akibat kekurangan unsur besi.
Kapan Bunda perlu periksa ke dokter?
Bunda sebaiknya berkonsultasi dengan master jika perdarahan terasa sangat banyak, berjalan terus-menerus, alias justru baru muncul setelah sebelumnya pola menstruasi sudah normal.
CDC menyarankan master mempertimbangkan kemungkinan penyebab lain, seperti IUD bergeser, kehamilan, jangkitan menular seksual, gangguan tiroid, polip, alias fibroid, terutama jika perdarahan berat alias berkepanjangan baru muncul setelah beberapa bulan penggunaan IUD.
Segera periksa jika perdarahan disertai:
- Nyeri perut alias panggul yang hebat.
- Demam.
- Keputihan yang berbau tidak biasa.
- Pusing alias lemas berat.
- Perdarahan yang sangat banyak.
- Kecurigaan IUD bergeser alias keluar.
Jangan lupa, perubahan menstruasi tidak selalu disebabkan oleh KB. Karena itu, pemeriksaan diperlukan jika pola perdarahan berubah secara signifikan.
Apakah KB spiral bisa bikin siklus menstruasi lebih lama?
Bisa ya Bunda, terutama jika Bunda menggunakan spiral tembaga.
IUD tembaga dapat membikin menstruasi lebih banyak, lebih lama, alias lebih nyeri, terutama pada beberapa bulan pertama setelah pemasangan. Seiring waktu, keluhan tersebut pada banyak pengguna dapat berkurang.
Sebaliknya, IUD hormonal justru condong mengurangi jumlah dan lama perdarahan menstruasi setelah tubuh beradaptasi. Pada sebagian pengguna, menstruasi apalagi dapat berhenti.
Jadi, jika Bunda mengalami perubahan menstruasi setelah memakai KB spiral, tidak perlu langsung khawatir. Perhatikan jenis spiral yang digunakan, berapa lama sudah memakainya, serta seberapa banyak perubahan perdarahannya.
Jika menstruasi sangat banyak, berjalan lama secara terus-menerus, alias disertai nyeri dan indikasi lain, sebaiknya konsultasikan dengan master kandungan untuk memastikan penyebabnya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)