Orang dengan mental kuat sering dikaitkan dengan pribadi yang selalu tenang, tidak mudah menangis, dan bisa menghadapi beragam masalah tanpa terlihat goyah. Padahal, orang yang punya mental kuat bukan berfaedah tidak pernah merasa takut, sedih, marah, alias cemas.
Dalam psikologi, keahlian untuk tetap beraktivitas dan membikin keputusan sesuai tujuan meski sedang merasakan emosi yang tidak nyaman dapat menjadi salah satu gambaran ketangguhan mental.
Psikolog Nick Wignall menjelaskan, kekuatan mental dan emosional berangkaian dengan keahlian mengatur respons terhadap pikiran, bukan mengendalikan semua pikiran yang muncul di kepala.
"Kekuatan mental berfaedah memahami bagian mana dari pikiran Anda yang bisa dikendalikan dan bisa melakukannya dengan baik saat perihal itu penting," tulis Wignall, melansir Your Tango.
Seseorang mungkin tidak bisa mencegah rasa cemas muncul. Namun, dia tetap bisa memilih apakah bakal terus mengikuti kekhawatiran tersebut alias mengalihkan perhatian pada perihal yang lebih berguna.
Pandangan ini sejalan dengan konsep psychological flexibility alias elastisitas psikologis.
Dalam sebuah tinjauan penelitian, Todd B. Kashdan dan Jonathan Rottenberg menjelaskan bahwa elastisitas psikologis mencakup keahlian menyesuaikan diri dengan tuntutan situasi, mengubah pola pikir alias perilaku ketika diperlukan, serta tetap melakukan hal-hal yang sesuai dengan nilai yang dianggap penting.
Orang yang mentalnya kuat condong memilih mengalihkan pikiran dan perhatian ke perihal lain yang lebih berguna, daripada terus terjebak dalam kritik diri dan rasa malu. Namun, ada beberapa perihal dalam pikiran yang memang nggak bisa sepenuhnya dikendalikan.
Bunda mungkin nggak bisa mengendalikan rasa cemas yang tiba-tiba muncul. Namun, Bunda tetap bisa memilih apakah bakal terus mengikuti kekhawatiran tersebut alias mengalihkan perhatian ke perihal lain.
Dengan kata lain, ketangguhan emosional bukan berfaedah bisa mengendalikan semua pikiran dan perasaan. Kemampuan ini perlu dilatih agar seseorang lebih bisa mengatur respons ketika menghadapi beragam situasi.
Berikut beberapa kebiasaan sederhana yang dapat membantu membangun kekuatan mental dan ketangguhan emosional.
1. Berani mengakui apa yang sedang dirasakan
Salah satu kebiasaan yang sederhana adalah bisa mengenali dan mengakui emosi sendiri. Misalnya, ketika Bunda sedang kecewa usai bentrok dengan suami, bukan berfaedah Bunda kudu langsung menceritakan masalah tersebut kepada semua orang.
Namun, Bunda bisa mengakui kepada diri sendiri bahwa saat ini sedang merasa kecewa, marah, sedih, alias mungkin campuran dari beberapa emosi sekaligus.
Mengatakan, "Aku sedang kecewa" tentu berbeda dengan berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Kemampuan memberi nama pada emosi juga menjadi perhatian dalam penelitian psikologi. Studi yang diterbitkan di Psychological Science menemukan bahwa ketika seseorang memberi label pada perasaannya dengan kata-kata, respons amigdala terhadap stimulus emosional negatif dapat berkurang. Proses ini dikenal sebagai affect labeling.
Penelitian lain juga menemukan bahwa affect labeling dapat membantu mengurangi pengalaman emosi dalam situasi tertentu, meskipun efeknya tidak selalu sama pada setiap kondisi.
Ini berfaedah mengenali emosi tidak sama dengan larut di dalamnya. Justru, seseorang sedang belajar memahami apa yang terjadi dalam dirinya sebelum menentukan respons.
Jadi, mental kuat bukan berfaedah selalu mengatakan, "Aku enggak apa-apa." Terkadang, kalimat yang lebih jujur justru sederhana, seperti, "Aku memang sedang kecewa dan butuh waktu untuk memprosesnya."
2. Tidak terus-menerus hidup di masa lampau alias masa depan
Memiliki keahlian mengingat masa lampau dan membayangkan masa depan tentu penting. Manusia belajar dari pengalaman, membikin rencana, dan mengantisipasi beragam kemungkinan.
Masalahnya muncul ketika pikiran terus berputar pada perihal yang sudah terjadi alias sibuk membikin beragam skenario jelek tentang sesuatu yang belum terjadi.
Misalnya, Bunda berulang kali memikirkan kesalahan mini di tempat kerja sampai malam. Atau, belum menghadapi suatu masalah, tetapi sudah membayangkan puluhan kemungkinan jelek yang mungkin terjadi.
Dalam psikologi, pola berpikir yang terus berulang seperti ini antara lain dikenal sebagai rumination ketika pikiran banyak berkutat pada pengalaman alias masalah yang sudah terjadi, dan worry ketika pikiran dipenuhi kekhawatiran mengenai kemungkinan jelek di masa depan.
Meta-analisis yang diterbitkan dalam Health Psychology membahas beragam intervensi untuk worry dan rumination.
Peneliti menjelaskan bahwa perseverative cognition, ialah pola pikiran yang terus-menerus berkutat pada peristiwa yang membikin stres alias kemungkinan ancaman, berangkaian dengan beragam aspek kesehatan dan perilaku kesehatan.
Untuk itu, orang yang handal secara mental bukan berfaedah tidak pernah memikirkan masa lampau alias masa depan. Mereka justru bisa belajar mengenali kapan memikirkan sesuatu membantu dan kapan pikiran tersebut hanya membikin mereka berputar di tempat.
Contohnya, belajar dari kesalahan kerja bisa bermanfaat. Namun, mengulang kejadian yang sama selama berjam-jam sembari terus menyalahkan diri sendiri belum tentu menghasilkan solusi.
Begitu juga dengan mempersiapkan presentasi besok. Membuat daftar perihal yang perlu disiapkan tentu berguna. Tetapi membayangkan semua kemungkinan jelek sampai tidak bisa tidur justru dapat menjadi beban tambahan.
3. Dapat membedakan kemauan sesaat dengan nilai yang dianggap penting
Kebiasaan lain yang berangkaian dengan mental yang kuat adalah keahlian membedakan antara apa yang mau dilakukan saat ini dan apa yang sebenarnya dianggap krusial dalam jangka panjang.
Ada kalanya seseorang mau melakukan sesuatu lantaran dorongan sesaat, tetapi tindakan tersebut tidak sesuai dengan tujuan alias nilai yang mau dijalani.
Misalnya, Bunda mau membalas komentar kasar lantaran sedang emosi. Ingin menunda pekerjaan lantaran sedang malas. Atau mau menghindari percakapan krusial lantaran merasa tidak nyaman.
Orang dengan mental kuat bukan berfaedah tidak mempunyai dorongan tersebut. Ia tetap bisa marah, malas, takut, alias mau menghindar. Bedanya, emosi dan dorongan tersebut tidak selalu dijadikan penentu utama tindakannya.
Di sinilah konsep psychological flexibility alias elastisitas psikologis kembali berperan.
Penelitian menunjukkan bahwa elastisitas psikologis berangkaian dengan keahlian mengejar tujuan yang dianggap berbobot meskipun seseorang sedang mengalami ketidaknyamanan emosional.
Studi yang mengembangkan Personalized Psychological Flexibility Index menemukan hubungan elastisitas psikologis dengan kesejahteraan, izin emosi, resiliensi, dan pencapaian tujuan.
Dengan kata lain, seseorang bisa saja berpikir, "Aku sebenarnya enggak mau melakukan ini sekarang." Namun, dia juga bisa bertanya, "Apa yang krusial buat aku?"
Pertanyaan kedua membantu seseorang memandang tujuan yang lebih besar daripada dorongan sesaat.
4. Tidak terpaku pada satu langkah ketika keadaan berubah
Orang yang kuat secara mental tidak selalu memaksakan diri menggunakan langkah yang sama dalam setiap situasi.
Cara yang sukses kemarin belum tentu cocok untuk hari ini. Misalnya, Bunda biasanya memilih menyelesaikan pekerjaan sekaligus. Namun, ketika tubuh sedang lelah, membagi pekerjaan menjadi beberapa bagian mini mungkin lebih realistis.
Begitu juga ketika menghadapi masalah dalam hubungan. Ada situasi yang memerlukan percakapan langsung, tetapi ada juga kondisi ketika menenangkan diri terlebih dulu justru lebih membantu.
Menurut Wignall dalam artikelnya di Psychology Today, orang yang handal secara mental condong terbuka terhadap kemungkinan baru, memilih strategi yang efektif, membangun kebiasaan yang mendukung tujuan, dan menyesuaikan diri dengan keadaan.
Konsep tersebut sejalan dengan penelitian mengenai elastisitas psikologis yang menempatkan keahlian menyesuaikan diri dengan tuntutan situasi sebagai salah satu bagian krusial dari kesehatan psikologis.
5. Membangun kebiasaan mini secara konsisten
Mental kuat juga tidak terbentuk hanya lantaran seseorang pernah sukses melewati satu masalah besar.
Wignall menekankan pentingnya membangun kebiasaan yang mendukung tujuan secara konsisten. Ia menyarankan agar perubahan dimulai dari tindakan yang sangat mini sehingga lebih mudah dilakukan berulang kali.
Pendekatan ini membikin konsentrasi beranjak dari "Aku kudu langsung berubah" menjadi "Apa satu tindakan mini yang bisa kulakukan hari ini?"
Misalnya, seseorang mau mulai berolahraga. Daripada langsung menetapkan sasaran yang terlalu berat, dia bisa memulainya dengan kegiatan singkat yang realistis, kemudian meningkatkan secara bertahap.
Tujuannya bukan menunjukkan bahwa dirinya kuat dalam satu hari, tetapi membangun pola yang dapat dipertahankan.
Dalam kehidupan sehari-hari, bentuknya bisa sangat sederhana: menyelesaikan satu tugas yang tertunda, mengambil jarak ketika mulai kewalahan, meminta support ketika memang membutuhkan, alias kembali mencoba setelah rencana sebelumnya tidak berhasil.
Dari beberapa penjelasan kebiasaan di atas, mental kuat bukanlah kondisi ketika seseorang tidak pernah merasa takut, sedih, marah, alias gagal.
Sebaliknya, ketangguhan mental lebih dekat dengan keahlian untuk menyadari apa yang sedang terjadi dalam diri, memilih respons yang lebih sesuai, beradaptasi ketika keadaan berubah, dan tetap bergerak menuju hal-hal yang dianggap penting.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)