Kebiasaan Sederhana Sebelum Tidur Ini Bisa Bantu Melatih Emosi Dan Bahasa Anak

Jul 22, 2026 03:50 PM - 4 jam yang lalu 182

Tumbuh kembang anak dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk rutinitas yang dilakukan setiap hari. Di tengah kesibukan Bunda, momen-momen singkat yang dilakukan secara konsisten sering kali memberikan akibat yang lebih besar daripada yang dibayangkan.

Salah satu waktu yang mempunyai potensi besar untuk mendukung perkembangan anak adalah menjelang tidur. Pada waktu ini, suasana di rumah biasanya menjadi lebih tenang sehingga Si Kecil lebih mudah merasa nyaman dan fokus. Momen tersebut dapat Bunda lakukan kegiatan sederhana yang berfaedah untuk tumbuh kembangnya.

Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan adalah membacakan kitab sebelum tidur. Dikutip dari Child Mind Institute, kebiasaan ini dapat menumbuhkan rasa penasaran dan khayalan Si Kecil. Selain itu, membacakan kitab secara rutin juga dapat mendorong minat anak untuk belajar membaca secara mandiri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Tak hanya menumbuhkan minat membaca, membacakan kitab sebelum tidur juga dapat membantu meningkatkan keahlian bahasa dan pengelolaan emosi Si Kecil, Bunda. Melalui komunikasi yang terjalin setiap hari, anak belajar mengenali perasaan, memahami langkah mengekspresikannya, sekaligus memperkaya kosakata.

Selain meningkatkan keahlian berbahasa, kebiasaan sederhana ini juga memberikan beragam faedah untuk anak, Bunda. Lantas, apa saja faedah yang bisa anak dapatkan dari kebiasaan sederhana sebelum tidur ini?

Manfaat kebiasaan sederhana sebelum anak tidur

Dilansir dari Child Mind Institute, membacakan kitab sebagai pengantar tidur rupanya dapat memberikan beragam faedah bagi anak. Simak selengkapnya, Bunda.

1. Meningkatkan keahlian berbahasa

Seorang mahir neuropsikologi, Laura Philips, PsyD, mengatakan bahwa setiap kalimat yang disampaikan Bunda dan Ayah berkedudukan krusial dalam membangun jalur bahasa Si Kecil.

Ia juga menambahkan, "Setiap kali Bunda membacakan kitab dan mengucapkan setiap kalimatnya, perihal tersebut dapat membantu meningkatkan keahlian bahasa dan kognitif anak," ujarnya seperti dikutip dari Child Mind Institute.

Data dari sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak yang dibacakan kitab setiap hari oleh orang tuanya terpapar setidaknya 290.000 kata lebih banyak saat memasuki taman kanak-kanak dibandingkan dengan anak yang tidak dibacakan kitab secara rutin.

Namun, jumlah paparan kata tersebut berjuntai pada lama membaca yang dilakukan setiap hari, Bunda. Semakin sering anak dibacakan buku, semakin besar pula kesempatan mereka untuk memperkaya kosakata, dan meningkatkan keahlian memahami bacaan, serta mengembangkan keahlian literasi yang bakal berfaedah baik di sekolah maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Dr. Philips juga menegaskan, "Setiap kitab yang dibacakan tentu dapat mengenalkan kosakata baru dan menarik rasa penasaran anak untuk menggabungkan kata-kata, sehingga memperluas keahlian mereka dalam memahami dan menggunakan bahasa," katanya, seperti dikutip dari Child Mind Institute.

2. Empati dan kesadaran emosional

Saat Bunda membacakan kitab untuk anak juga dapat menumbuhkan rasa empati sejak dini. Misalnya Bunda menceritakan kisah orang-orang yang kehidupannya berbeda dari kehidupan Si Kecil, terutama cerita yang disampaikan dari perspektif pandang orang tersebut. Hal itu tentu bakal mendapatkan apresiasi terhadap emosi orang lain, budaya, style hidup, dan perspektif lain.

Melalui buku, anak-anak juga dapat belajar langkah mengelola emosi dengan sehat. Ketika memandang karakter dalam kitab mengalami emosi yang kuat, seperti marah alias sedih, Bunda dapat menyampaikan bahwa emosi tersebut merupakan perihal yang normal. Selain itu, Bunda juga dapat memberikan kesempatan kepada anak untuk membicarakan emosi yang mungkin susah mereka ungkapkan.

Hal ini dapat menjadi momen untuk menumbuhkan kesadaran emosional anak sekaligus membangun kemampuannya dalam menangani beragam perasaan. Dalam proses tersebut, Bunda dapat mengusulkan pertanyaan seperti, "Pernahkah Anda merasa marah seperti gadis dalam kitab ini? Lalu, apa yang bakal Anda lakukan jika merasakan perihal tersebut?"

3. Meningkatkan kualitas ikatan orang tua dan anak

Selain meningkatkan keahlian berkata dan membantu anak mengelola emosi, membacakan kisah sebelum tidur juga dapat memperkuat ikatan antara Bunda dan Si Kecil. Bahkan, beberapa menit membaca berbareng dapat menjadi kesempatan bagi Bunda dan anak untuk bersantai, terhubung satu sama lain, serta menikmati kegiatan yang menyenangkan.

Terlebih, momen kebersamaan yang nyaman tersebut berfaedah bagi perkembangan kognitif anak, terutama pada usia dini. Pengalaman sensorik saat duduk berbareng Bunda, mendengarkan bunyi yang familiar, serta merasakan kitab di tangan rupanya mempunyai peran krusial dalam perkembangan otak anak.

Dr. Philips juga membenarkan perihal tersebut dan mengatakan, "Mendengarkan cerita melalui kitab yang dibacakan oleh teknologi Alexa tentu berbeda dan tidak memberikan faedah holistik yang sama bagi anak-anak," ucapnya, seperti dikutip dari Child Mind Institute.

Ketika keahlian berkata anak sedang berkembang, setiap kalimat yang mereka dengar dan bahasa yang disampaikan berbarengan dengan pengalaman sensorik bakal membikin paparan tersebut menjadi lebih bermakna.

Dr. Philips menyampaikan, "Kontak bentuk yang anak dapatkan ketika Bunda menggendong dan membacakan kitab sebetulnya membantu mengaktifkan neuron di otak. Hal ini membikin anak-anak lebih reseptif terhadap bahasa dan stimulasi kognitif yang mereka peroleh dari pengalaman tersebut," ujar Dr. Philips, seperti dikutip dari Child Mind Institute.

Tahap perkembangan otak anak

Dikutip dari Raising Children Network, Bunda dapat memantau fase perkembangan otak anak pada setiap tahap usia untuk mendukung perkembangan keahlian berkata dan pengelolaan emosi. Simak selengkapnya.

1. Usia 3-12 bulan

Sejak usia 3 bulan, umumnya bayi mulai menunjukkan perkembangan keahlian berkata dengan mengeluarkan suara-suara kecil, tersenyum, dan tertawa sebagai corak respons terhadap orang di sekitarnya. Seiring bertambahnya usia, mereka juga mulai bereksplorasi dengan beragam bunyi serta berkomunikasi melalui aktivitas sederhana, seperti melambaikan tangan alias menunjuk.

Memasuki usia 4–6 bulan, biasanya bayi bakal mulai memasuki fase mengoceh alias babbling. Pada tahap ini, mereka bakal mengucapkan bunyi satu suku kata, seperti "ba" yang kemudian diulang menjadi "ba-ba-ba". Meski belum mempunyai makna, ocehan ini merupakan bagian krusial dari proses belajar berbicara.

Setelah fase mengoceh, bayi bakal memasuki fase jargon. Pada tahap ini, mereka sering kali terdengar seperti sedang berbincang dalam kalimat dengan intonasi yang menyerupai percakapan. Namun, ucapan tersebut tetap berupa rangkaian bunyi yang belum membentuk kata-kata yang dapat dikenali.

Saat memasuki usia sekitar 10–11 bulan, sebagian bayi mulai mengucapkan kata pertamanya secara bermakna. Mereka tidak hanya bisa mengucapkannya, tetapi juga mulai memahami makna dari kata tersebut.

Bunda juga perlu memperhatikan, jika bayi belum mulai mengoceh saat berumur enam bulan alias belum bisa menggunakan isyarat komunikasi, seperti menunjuk alias melambaikan tangan saat memasuki usia 12 bulan, disarankan Bunda untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan anak untuk mendapatkan pertimbangan lebih lanjut. 

2. Usia 1-2 tahun

Memasuki usia 12–18 bulan, biasanya keahlian berkata anak berkembang semakin pesat. Pada tahap ini, mereka umumnya sudah dapat mengucapkan beberapa kata sederhana sekaligus memahami maknanya. Misalnya, saat Si Kecil mengucapkan kata "papa", dia mungkin sedang memanggil ayahnya.

Seiring bertambahnya usia, penambahan jumlah kosakata anak bakal terus meningkat. Meski jumlah kata yang dapat diucapkan tetap terbatas, keahlian mereka dalam memahami ucapan orang lain biasanya jauh lebih baik. Anak juga mulai bisa mengikuti petunjuk sederhana, seperti "Duduk" alias "Ambil bola".

Saat menginjak usia 18 bulan hingga 2 tahun, sebagian besar balita mulai bisa merangkai dua kata menjadi kalimat pendek, misalnya "mau susu" alias "bola jatuh". Pada masa ini, mereka juga semakin memahami percakapan sehari-hari. Pada umumnya, Bunda dan Ayah dapat mengerti sebagian besar ucapan anak, sementara orang lain mungkin sudah dapat memahami sekitar separuh dari apa yang disampaikan balita.

Meski setiap anak mempunyai kecepatan perkembangan yang berbeda, Bunda perlu mewaspadai andaikan Si Kecil belum bisa mengucapkan satu kata pun saat berumur 18 bulan, alias belum bisa menggabungkan dua kata ketika menginjak usia dua tahun. Jika perihal tersebut terjadi, sebaiknya konsultasikan dengan tenaga kesehatan anak untuk mendapatkan penilaian dan penanganan yang tepat.

3. Usia 2-3 tahun

Saat memasuki usia tiga tahun, keahlian berbincang Si Kecil biasanya berkembang semakin pesat. Ia mulai bisa mengucapkan kata-kata dengan lebih jelas serta menyusun kalimat sederhana yang terdiri dari tiga kata alias lebih.

Pada tahap ini, Si Kecil juga kerap berbincang sembari bermain sebagai bagian dari proses belajar dan mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Ucapannya pun semakin mudah dipahami, sehingga orang yang tidak terbiasa berinteraksi dengannya umumnya sudah dapat mengerti sekitar tiga perempat dari apa yang disampaikannya. 

4. Usia 3-5 tahun

Pada tahap ini, Bunda dapat mulai menikmati percakapan yang lebih panjang dan kompleks dengan Si Kecil. Ia sudah bisa mengungkapkan pikiran, perasaan, serta rasa penasarannya melalui beragam pertanyaan, termasuk tentang orang, tempat, alias peristiwa yang tidak sedang berada di hadapannya. Misalnya, Si Kecil mungkin bertanya, "Apakah di rumah Nenek juga sedang hujan?"

Kosakata Si Kecil bakal terus bertambah sehingga dia semakin leluasa membahas beragam topik. Kemampuan berbahasanya pun semakin matang. Hal ini terlihat dari kemampuannya menggunakan tata bahasa sederhana serta kata penghubung seperti "karena", "jika", "jadi", alias "ketika" untuk menyusun kalimat yang lebih utuh.

Tak jarang, Si Kecil juga mulai aktif bercerita dengan kisah-kisah imajinatif yang menggemaskan, sehingga menggambarkan pesatnya perkembangan keahlian komunikasinya.

5. Usia 5-8 tahun

Selama masa awal sekolah, keahlian bahasa anak bakal terus berkembang dengan pesat. Ia bakal memperluas kosakata dan mulai memahami gimana bunyi-bunyi dalam bahasa saling berangkaian untuk membentuk kata serta kalimat.

Kemudian, anak juga bakal semakin terampil bercerita lantaran mulai bisa menyusun kata dengan lebih beragam dan membikin kalimat yang lebih kompleks. Perkembangan keahlian bahasa ini membantu anak menyampaikan ide, perasaan, serta pendapatnya dengan lebih jelas.

Ketika memasuki usia sekitar 8 tahun, umumnya anak sudah bisa melakukan percakapan dengan struktur dan langkah berkomunikasi yang semakin menyerupai orang dewasa.

Itulah kebiasaan sederhana sebelum tidur yang dapat melatih emosi dan meningkatkan keahlian bahasa anak. Semoga berfaedah untuk perkembangan Si Kecil, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Selengkapnya