Jakarta -
Liburan sering kali menjadi momen yang dinantikan untuk melepas penat dan menikmati suasana baru. Namun, tidak sedikit orang justru merasa sedih alias kehilangan semangat sesaat setelah kembali ke rutinitas.
Perasaan ini dikenal sebagai post-travel blues. Meski terdengar sepele, kondisi tersebut bukan sekadar rasa kangen pada tempat liburan, tetapi juga bisa berangkaian dengan langkah seseorang mengelola emosi dan memaknai pengalaman.
Menurut psikolog, orang yang mengalami kesedihan setelah pulang berpiknik biasanya mempunyai kepekaan emosional yang tinggi. Mereka condong lebih menikmati pengalaman baru, doyan berefleksi, dan menghargai setiap momen yang dijalani.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan orang sedih setelah pulang liburan
Dilansir dari Times of India, salah satu penjelasan terkuat untuk kesedihan setelah liburan berasal dari sensitivitas emosional.
Penelitian tentang kepribadian menunjukkan bahwa beberapa orang memproses pengalaman positif dan negatif lebih dalam daripada yang lain.
Menurut Model Lima Faktor yang dikembangkan oleh psikolog Paul Costa dan Robert McCrae dalam ‘Personality Across the Life Span’, perseorangan yang sangat peka terhadap emosi condong mengalami suka dan duka kehidupan dengan intensitas yang lebih besar.
Ketika sebuah perjalanan memberikan kebahagiaan, hubungan sosial, dan hal-hal baru, investasi emosional menjadi sangat besar. Oleh lantaran itu, kembali ke rutinitas sehari-hari dapat menciptakan kontras yang nyata.
Kedalaman emosional ini sering kali terwujud melalui beberapa karakter kepribadian mereka, Bunda.
Kepribadian orang yang sering sedih setelah pulang liburan
Berikut beberapa karakter kepribadian orang yang sering merasa sedih setelah pulang liburan:
1. Membentuk hubungan yang kuat dengan pengalaman
Alih-alih sekadar mengunjungi tempat wisata, Bunda mungkin bakal menyerapnya. Orang-orang, percakapan, pemandangan, dan kenangan menjadi berarti secara emosional, sehingga kepergian terasa lebih personal.
2. Lebih peka terhadap kontras emosional
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang sensitif secara emosional sangat menyadari perubahan suasana hati, lingkungan, dan rangsangan. Oleh lantaran itu, transisi dari eksplorasi ke rutinitas dapat terasa lebih dramatis.
Para psikolog secara konsisten mengidentifikasi keterbukaan terhadap pengalaman sebagai salah satu karakter kepribadian yang paling erat kaitannya dengan kenikmatan bepergian.
3. Berkembang pesat melalui penemuan baru dan pembelajaran
Lingkungan baru selalu menyediakan informasi, tantangan, dan kesempatan untuk berkembang. Kembali ke rumah mungkin untuk sementara mengurangi rasa mau menjelajah tersebut.
4. Mengaitkan perjalanan dengan pengembangan pribadi
Psikolog Abraham Maslow, dalam karyanya tentang motivasi dan kepribadian, beranggapan bahwa manusia mempunyai dorongan bawaan menuju pertumbuhan dan aktualisasi diri.
Banyak pelancong memandang perjalanan sebagai kesempatan untuk menjadi jenis diri mereka yang lebih cakap, berpengetahuan, dan percaya diri.
5. Aktif mencari makna daripada kenyamanan
Penelitian tentang kesejahteraan psikologis berulang kali menunjukkan bahwa orang sering kali memperoleh kepuasan dari pengalaman yang menantang mereka daripada sekadar menghibur.
Bertentangan dengan kepercayaan umum, merasa sedih setelah pengalaman yang berarti tidak selalu berfaedah tidak sehat. Dalam banyak kasus, perihal itu mencerminkan keahlian seseorang untuk terlibat sepenuhnya dalam kehidupan.
Para psikolog yang mempelajari memori autobiografi telah menemukan bahwa peristiwa-peristiwa yang bermakna secara emosional dikodekan lebih kuat dan tetap terkenang dalam jangka waktu yang lebih lama.
6. Sangat reflektif
Orang yang reflektif secara alami meluangkan waktu untuk menganalisis pengalaman, mengambil pelajaran, dan mengingat kembali momen-momen berarti jauh setelah peristiwa itu terjadi.
7. Lebih menghargai pengalaman daripada kekayaan benda
Penelitian dengan titel Happiness for Sale: Do Experimental Purchases Make Consumers Happier than Material karya Psikolog Leonardo Nicolao dan lainnya menemukan bahwa pembelian berbasis pengalaman condong menghasilkan kebahagiaan jangka panjang.
Bagi orang-orang yang memprioritaskan pengalaman, akibat emosional dari perjalanan yang berkesan bisa sangat kuat.
Itulah penjelasan mengenai argumen orang merasa sedih setelah pulang liburan dan beberapa karakter kepribadiannya. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·