Hukuman Pelaku Maksiat Menurut Imam Hasan Al-BashriBincangSyari’ah.Com— Ketika kita ditanya tentang apa balasan terberat bagi pelaku maksiat, biasanya yang langsung terbayang adalah balasan yang terlihat secara fisik: musibah, kecelakaan, kemiskinan, penyakit, alias balasan neraka di akhirat.
Semua itu memang corak balasan yang sangat berat dan menakutkan. Namun, para ustadz menjelaskan bahwa ada balasan lain yang jauh lebih berat dibanding sekadar penderitaan pada tubuh alias harta. Ironisnya, balasan ini sering tidak disadari oleh orang yang mengalaminya.
Lalu, apa sebenarnya balasan terberat itu?
Suatu ketika, Imam Hasan Al-Bashri didatangi seorang pemuda. Pemuda itu mengeluhkan dirinya. Ia heran lantaran sering bermaksiat, tetapi tidak merasakan adanya balasan dari Allah. Hidupnya melangkah normal; tidak tertimpa musibah, tidak jatuh miskin, dan tidak mengalami kesulitan yang berarti.
Mendengar perihal itu, Imam Hasan Al-Bashri tersenyum. Beliau lampau bertanya kepada pemuda tersebut, “Apakah engkau selalu bangun untuk melaksanakan salat tahajud pada malam hari?”
“Tidak,” jawab pemuda itu.
Kemudian beliau berkata, “Itulah balasan yang sangat berat bagimu. Tidak ada balasan yang lebih berat daripada ketika Allah beralih darimu dan tidak lagi memberimu taufik untuk mendekat kepada-Nya.”
Sering kali seseorang sebenarnya sedang berada dalam balasan Allah, tetapi dia tidak menyadarinya. Harta mungkin bertambah, tubuh tetap sehat, dan kehidupan tampak normal. Namun, bisa jadi itulah corak balasan yang paling lembut dan paling berat.
Ibnu Qayyim Al-Jauzi dalam Shaidul Khatir mengatakan:
وَرُبَّمَا رَأَي الْعَاصى سَلَامَةَ بَدَنِهِ وَ مَالِهِ فَظَنَّ أَنَّ لَا عُقُوْبَةً وَغَفْلَتُهُ بِمَا عُوْقِبَ بِهِ عُقُوْبَةُ وَقَدْ قَالَ الْحُكَمَاءُ: الْمَعْصِيَةُ بَعْدَ الْمَعْصِيَةِ عِقَابُ الْمَعْصِيَةِ وَالْحَسَنَةُ بَعْدَ الْحَسَنَةِ ثَوَابُ الْحَسَنَةِ
“Terkadang seorang pelaku maksiat memandang tubuhnya tetap sehat dan hartanya tetap terjaga, lampau dia mengira bahwa dirinya tidak mendapatkan balasan apa pun.
Padahal, kelalaiannya terhadap balasan yang sedang menimpanya itu sendiri adalah bagian dari balasan tersebut. Para ustadz bijak berkata: ‘Maksiat setelah maksiat adalah balasan atas maksiat sebelumnya, dan kebaikan setelah kebaikan adalah pahala atas kebaikan sebelumnya.’”
Rasa malas untuk melakukan baik, berat menjalankan ibadah, apalagi tidak lagi merasa bersalah setelah bermaksiat, itulah corak balasan yang paling berat. Allah menempatkan keadaan itu lantaran hati sudah mulai dijauhkan dari taufik-Nya.
Bisa jadi seseorang tetap menjalankan ibadah wajib dan sesekali ibadah sunnah. Namun, rasa nikmat dalam ibadah itu perlahan hilang. Ibadah hanya menjadi rutinitas tanpa kehadiran hati.
Lama-kelamaan, kondisi ini membikin seseorang merasa biasa saja terhadap ibadah, kemudian mulai menjauh, hingga akhirnya kehilangan kemauan untuk melakukannya.
Sebagaimana disebutkan:
فَرُبَّ شَخْصٍ أَطْلَقَ بَصَرِهِ فَحَرِّمْ اعْتِبَارَ بَصِيرَتِهِ أَوْ لِسَانِهِ فَحرم صِفَاءُ قَلْبِهِ أَوْ آثَرِ شُبْهَةٍ فِي مَطْعَمِهِ فَاظْلِمْ سِرَّهُ وَحَرّم قِيَامَ اللَّيْلِ وَحَلَاوَةَ الْمَنَاجَاةِ أَوْ غَيْرُ ذَلِكَ
“Betapa banyak orang yang melepaskan pandangannya kepada yang haram, lampau dia dihukum dengan hilangnya kejernihan hati dan penglihatan batinnya. Ada pula yang tidak menjaga lisannya, sehingga hilanglah kebersihan hatinya.
Ada yang menyantap sesuatu yang syubhat, lampau gelaplah hatinya, terhalang dari qiyamullail dan manisnya bermunajat kepada Allah, dan tetap banyak corak balasan lainnya.” (Shaidul Khatir hal. 66)
Mengapa ini disebut balasan yang paling berat?
Karena balasan yang tampak secara lahiriah sering justru menjadi pengingat. Musibah bisa membikin seseorang sadar, menyesal, lampau kembali bertaubat kepada Allah.
Namun, ketika seseorang bermaksiat lampau tidak merasakan apa-apa, tidak ada kegelisahan, tidak ada penyesalan, dan tidak ada dorongan untuk kembali kepada Allah, itulah yang lebih berbahaya. Ia dijauhkan dari rasa dan kesadaran, sementara dia merasa hidupnya baik-baik saja.
Padahal, jarak antara dirinya dengan Allah semakin hari semakin jauh tanpa dia sadari. Semoga menjadi pengingat bagi kita semua. Wallahu a‘lam bish shawab.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·