Hukum Bilal Membaca Shalawat Antara Dua Khutbah Jumat, Bolehkah?Tanya Ustadz
Bagaimana norma seorang bilal alias protokol khutbah membaca shalawat dengan bunyi keras di antara dua khutbah Jumat? Jika referensi shalawat tersebut cukup panjang, apakah dapat memutus muwalat (kesinambungan) antara khutbah pertama dan kedua?
Jawaban
Dalam tradisi masyarakat Muslim Indonesia, khususnya di lingkungan pesantren dan masjid-masjid, sering dijumpai bilal alias muraqqi membacakan shalawat, taradhdhi, alias kalimat-kalimat pengingat sebelum maupun di sela-sela penyelenggaraan khutbah Jumat. Sebagian orang kemudian mempertanyakan, apakah praktik tersebut dibenarkan dalam syariat? Dan apakah referensi yang terlalu panjang dapat memengaruhi keabsahan khutbah Jumat?
Berdasarkan Keputusan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabiul Tsani, 21 Oktober 1926 M mengutip ustadz Syafi’iyah menjelaskan bahwa pembacaan shalawat oleh bilal alias muraqqi termasuk perkara yang baik (bid’ah hasanah) dan tidak terlarang.
Keterangan ini dapat ditemukan dalam Hasyiyatul Kurdi ‘ala Bafadhal. Ia berkata;
فِي حَاشِيَةِ الْكُرْدِيِّ مَا نَصُّهُ: «فَاعْلَمْ أَنَّ هَذَا ـ أَيْ قِرَاءَةَ الْمُرَقِّي بَيْنَ يَدَيِ الْخَطِيبِ ـ بِدْعَةٌ حَسَنَةٌ»
Artinya: “Dalam Hasyiyah al-Kurdi disebutkan: ‘Ketahuilah bahwa perihal ini, ialah pembacaan yang dilakukan oleh muraqqi (bilal) di hadapan khatib, termasuk bid’ah hasanah (inovasi yang baik).’”
Dengan demikian, membaca shalawat alias kalimat-kalimat yang berisi pengagungan kepada Allah dan Rasulullah SAW di sela-sela prosesi khutbah bukanlah sesuatu yang tercela. Bahkan para ustadz mengategorikannya sebagai ibadah yang baik selama tidak bertentangan dengan ketentuan syariat.
Syarat Muwalat dalam Dua Khutbah
Meski demikian, para ustadz juga mensyaratkan adanya muwalat alias kesinambungan antara khutbah pertama dan kedua. Maksudnya, jangan sampai terdapat jarak yang terlalu lama sehingga menghilangkan keterkaitan antara kedua khutbah tersebut.
Masih dalam kitab Hasyiyah al-Kurdi dijelaskan:
وَالْوَلَاءُ بَيْنَهُمَا ـ أَيْ بَيْنَ كَلِمَاتِ كُلٍّ مِنَ الْخُطْبَتَيْنِ وَبَيْنَهُمَا ـ الَّذِي يُخِلُّ بِهِ هُنَا مِقْدَارُ رَكْعَتَيْنِ بِأَقَلَّ مُجْزِئٍ، وَمَا دُونَهُ لَا يُخِلُّ بِالْوَلَاءِ
Artinya: “Muwalat antara keduanya (dua khutbah) dan antara kalimat-kalimat khutbah bakal terganggu andaikan terdapat jarak yang lamanya seukuran penyelenggaraan salat dua rakaat dengan pemisah minimal yang sah. Adapun jarak yang lebih singkat dari itu tidak merusak muwalat.”
Keterangan serupa juga dijelaskan oleh Syekh Zainuddin al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in:
وَوَلَاءٌ بَيْنَهُمَا، وَبَيْنَ أَرْكَانِهِمَا، وَبَيْنَهُمَا وَبَيْنَ الصَّلَاةِ، بِأَنْ لَا يَفْصِلَ طَوِيلًا عُرْفًا
Artinya: “Disyaratkan adanya muwalat antara dua khutbah, antara rukun-rukun khutbah, dan antara khutbah dengan salat Jumat, ialah dengan tidak adanya jarak yang lama menurut ukuran kebiasaan (‘urf).”
Lebih lanjut beliau menjelaskan:
وَسَيَأْتِي أَنَّ اخْتِلَالَ الْمُوَالَاةِ بِفِعْلِ رَكْعَتَيْنِ بِأَقَلَّ مُجْزِئٍ، فَلَا يَبْعُدُ الضَّبْطُ بِهَذَا هُنَا، وَيَكُونُ بَيَانًا لِلْعُرْفِ
Artinya: “Akan dijelaskan bahwa terputusnya muwalat ditandai dengan jarak seukuran penyelenggaraan dua rakaat salat dengan kadar minimal yang sah. Maka tidak berlebihan andaikan ukuran tersebut dijadikan batas dalam masalah ini sebagai penjelas terhadap standar urf.”
Batasan Shalawat yang Dibolehkan
Berdasarkan penjelasan para ustadz di atas, membaca shalawat oleh bilal di antara dua khutbah pada dasarnya diperbolehkan apalagi tergolong bid’ah hasanah. Namun, referensi tersebut tidak boleh berjalan terlalu lama hingga melampaui pemisah yang dianggap memutus muwalat.
Ukuran yang dijadikan patokan adalah waktu yang cukup untuk melaksanakan salat dua rakaat secara ringan dan memenuhi syarat minimal keabsahan salat. Jika lama shalawat tetap berada di bawah ukuran tersebut, maka tidak dianggap merusak kesinambungan dua khutbah.
Karena itu, praktik bilal membaca shalawat pendek, taradhdhi kepada sahabat, alias pengingat kepada jamaah yang lazim dilakukan di banyak masjid tidak menjadi masalah menurut fikih Syafi’i.
Yang perlu diperhatikan hanyalah agar referensi tersebut tidak terlalu panjang sehingga menimbulkan jarak yang dianggap lama menurut kebiasaan masyarakat setempat.
Membaca shalawat dengan bunyi keras oleh bilal alias muraqqi di antara dua khutbah Jumat hukumnya boleh dan termasuk bid’ah hasanah menurut ustadz Syafi’iyah.
Akan tetapi, andaikan referensi tersebut terlalu panjang hingga melampaui jarak yang diperkirakan setara dengan penyelenggaraan salat dua rakaat secara ringan, maka perihal itu dapat memutus muwalat antara khutbah pertama dan kedua. Wallahu a’lam bis shawab.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·