Guru Manshur.
Kincai Media ,JAKARTA — Sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya diwarnai oleh perlawanan para pejuang bersenjata, tetapi juga oleh kiprah para ulama. Di tanah Betawi, sejumlah ustadz tampil di garis depan dalam menghadapi penjajahan, baik melalui dakwah, pendidikan maupun perjuangan fisik.
Nama-nama seperti Guru Manshur Jembatan Lima, Muhammad Ali Alhamidi hingga KH Noer Ali menjadi bagian krusial dari sejarah perlawanan rakyat terhadap kekuasaan kolonial.
Sebagaimana diketahui, daerah tempat masyarakat Betawi berkembang ialah Sunda Kelapa kemudian menjadi Batavia, merupakan pusat pemerintahan kolonial yang menjadi saksi beragam peristiwa krusial dalam sejarah bangsa Indonesia.
KH Rakhmad Zailani Kiki dalam bukunya Genealogi Intelektual Ulama Betawi menuliskan, seniman Betawi Ridwan Saidi dalam sebuah Halaqah Betawi Corner di Jakarta Islamic Center (JIC) menyampaikan bahwa masyarakat Betawi mempunyai kontribusi yang signifikan dalam sejarah Indonesia. Menurutnya Syekh Quro alias Syekh Hasanuddin (awal abad ke-15) menjadi tokoh yang memperkenalkan penggunaan bendera merah putih.
Selain itu, masyarakat Betawi dikenal gigih dalam melawan kolonialisme sejak masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) hingga menjelang kemerdekaan. Tokoh-tokoh seperti Si Pitung dan Entong Gendut telah menjadi legenda perlawanan rakyat Betawi terhadap kekuasaan colonial.
Kontribusi ustadz Betawi dalam perjuangan kemerdekaan juga tidak dapat diabaikan. Di antara mereka adalah Guru Thabrani (Paseban), Guru Manshur (Jembatan Lima), Kiai Rahmatullah Sidik (Kebayoran), Kiai Syam’un (Mauk), Muhammad Ali Alhamidi (Matraman), dan KH Noer Ali (Bekasi) yang kemudian dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·