Kincai Media ,JAKARTA -- Jalan menuju surga tidak hanya ditempuh melalui banyaknya ibadah, tetapi juga melalui keahlian seseorang mengubah orientasi hidupnya dari urusan bumi menuju persiapan akhirat. Ulama sufi terkenal, Syekh Hatim Al-Asham, menjelaskan bahwa ada empat perubahan sikap yang dapat mengantarkan seorang hamba menuju surga, sebagaimana dikutip dalam kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani.
Diriwayatkan dari Syekh Hatim Al-Asham, dia berkata, "Siapapun yang beralih dari empat perihal menuju empat perihal lainnya maka dia bakal mendapatkan surga. Yaitu beralih dari tidur untuk menuju kubur. Berpaling dari kesombongan untuk menuju timbang. Berpaling dari pengangguran untuk menuju titian (Shirath). Berpaling dari syahwat untuk menuju surga."
Berpaling dari tidur untuk menuju kubur maksudnya adalah mengurangi tidur untuk memperbanyak amalan-amalan yang dapat dipergunakan sebagai bekal kelak di alam kubur.
Berpaling dari kesombongan untuk menuju timbangan maksudnya adalah membuang jauh-jauh sifat sombong dan congkak dari dalam dirinya, dan menggantinya dengan memperbanyak kebaikan amal yang dapat menambah berat timbangan amalnya kelak di akhirat.
Berpaling dari pengangguran untuk menuju titian maksudnya adalah pada saat-saat senggang dipergunakan untuk memperbanyak kebaikan perbuatan yang dapat mempercepat masa tempuh pada titian alias shirath (jembatan yang membentang di atas neraka yang semua manusia bakal menyeberanginya pada hari kiamat).
Berpaling dari syahwat untuk menuju surga maksudnya adalah meninggalkan segala dorongan hawa nafsu untuk kemudian berupaya dengan sekuat tenaga menunaikan perintah-perintah agama. Memang berasas keterangan dalam sebuah hadits bahwa surga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak diinginkan bagi hawa nafsu dunia, dikutip dari kitab Nashaihul Ibad yang diterjemahkan Abu Mujaddidul Islam Mafa.
Syekh Hatim Al-Asham adalah seorang ustadz besar bidang tasawuf di daerah Khurasan. Nama Aslinya Hatim bin ibn Yusuf alias yang dikenal dengan Hatim al-Asham (wafat 237 H). Syekh Hatim Al-Asham merupakan satu-satunya ustadz yang mendapat julukan si Tuli, walaupun pendengarannya sebenarnya sangat normal.
Dikisahkan, pada suatu ketika ada seorang wanita yang menemui Syekh Hatim Al-Asham untuk menanyakan suatu masalah. Tiba-tiba wanita tersebut kentut, sehingga wajahnya memerah lantaran malu.
Untuk menutupi rasa malu wanita tersebut, Syekh Hatim Al-Asham kemudian berkata, “Keraskan suaramu.”
Saat itu Syekh Hatim Al-Asham pura-pura tuli dan tidak mendengar ucapan wanita tersebut. Mengetahui perihal itu, wanita itu pun merasa senang dan hilanglah rasa malunya karena dia percaya bahwa Syekh Hatim Al-Asham tidak mendengar bunyi kentutnya.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·