Nama
Beliau adalah seorang pemimpin besar dan ustadz terkemuka, hafizh sabda yang sangat teliti dan kuat hafalannya, serta dikenal sebagai Syekh Khurasan. Nama lengkapnya adalah Abu Hatim Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban bin Mu‘adz bin Ma‘bad bin Suhaid bin Hadiyah bin Murrah bin Sa‘d bin Yazid bin Murrah bin Zaid bin Abdullah bin Darim bin Hanzhalah bin Malik bin Zaid Manat bin Tamim At-Tamimi Al-Busti. Nasabnya bersambung kepada kabilah Bani Tamim. Ia dikenal sebagai penulis banyak karya ilmiah (shahib at-tashanif) yang berbobot tinggi dalam bagian sabda dan ilmu-ilmunya.
Kelahiran
Beliau rahimahullah lahir di kota Bust, daerah Sijistan, sekitar tahun 270 H.
Perjalanan menuntut ilmu
Ibnu Hibban mulai menuntut pengetahuan sekitar tahun 300 H dan sejak awal menunjukkan kesungguhan yang luar biasa dalam mempelajari hadis. Ia melakukan perjalanan ilmiah yang sangat luas dan panjang, apalagi berjalan nyaris empat puluh tahun. Perjalanannya membentang dari daerah Syasy di Asia Tengah hingga Iskandariyah di Mesir. Ia mengunjungi Khurasan, Syam, Mesir, Irak, Jazirah, Naisabur, serta negeri-negeri di seberang Sungai Oxus (kini daerah Uzbekistan). Disebutkan bahwa dia memasuki sekitar lima puluh kota, dan di setiap kota itu dia mempunyai sejumlah guru.
Dalam perjalanannya, dia berjumpa dengan banyak pemimpin besar dan ustadz terkemuka serta memperoleh sanad-sanad yang tinggi. Di antara guru-gurunya yang terkenal adalah Abu Khalifah Al-Fadhl bin Al-Hubab, Imam An-Nasa’i, dan Ja‘far bin Ahmad di Damaskus. Bahkan disebutkan bahwa dia meriwayatkan sabda dari lebih dari dua ribu guru, menunjukkan sungguh luas jaringan keilmuannya.
Selain menuntut ilmu, dia juga aktif mengajarkan pengetahuan kepada para penuntut pengetahuan dan membimbing masyarakat dalam memahami agama. Di beberapa tempat seperti Samarkand, Naisabur, dan Nasa di daerah Khurasan, dia pernah menjabat sebagai qadhi (hakim). Setelah menyelesaikan perjalanan ilmiahnya, dia kembali ke Naisabur, lampau pulang ke kampung halamannya di Bust. Di sanalah dia menetap dan menyelesaikan karya-karya ilmiahnya hingga akhir hayatnya. Kesungguhan belajar, banyaknya pembimbing yang dia temui, serta luasnya perjalanan ilmiahnya menjadikannya salah satu ustadz besar dalam bagian hadis.
Guru-guru
Di antara guru-guru Ibnu Hibban adalah Al-Husain bin Idris Al-Harawi, Abu Khalifah Al-Jumahi, Imam Abu Abdurrahman An-Nasa’i, Imran bin Musa bin Mujasyi‘, Al-Hasan bin Sufyan, Abu Ya‘la Al-Maushili, Ahmad bin Al-Hasan Ash-Shufi, Ja‘far bin Ahmad Ad-Dimasyqi, dan Abu Bakar bin Khuzaimah. Selain mereka, tetap banyak lagi pembimbing lainnya yang jumlahnya sangat banyak, dari daerah Mesir hingga Khurasan. Hal ini menunjukkan luasnya perjalanan ilmiah dan banyaknya ustadz yang menjadi sumber pengetahuan baginya.
Murid-murid
Di antara murid-murid Ibnu Hibban adalah Abu Abdillah Al-Hakim, Manshur bin Abdullah Al-Khalidi, Abu Mu‘adz Abdurrahman bin Muhammad bin Rizqillah, Abu Al-Hasan Muhammad bin Ahmad bin Harun Az-Zuzani, dan Muhammad bin Ahmad bin Manshur An-Nauqati, serta banyak lagi lainnya. Mereka termasuk para ustadz yang kemudian turut menyebarkan dan mengembangkan pengetahuan hadis.
Karya-karya
Ibnu Hibban رحمه الله mempunyai sangat banyak karya ilmiah dalam beragam bidang, terutama sabda dan ilmu-ilmunya. Namun, sangat disayangkan lantaran sebagian besar karyanya telah lenyap dan yang tersisa hingga sekarang hanya sedikit. Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Anwa‘ wat-Taqasim, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Shahih Ibnu Hibban alias Al-Musnad Ash-Shahih. Kitab ini disusun dengan sistem yang rapi dan khusus, meskipun cukup susah dipahami selain oleh orang yang betul-betul menguasai metodenya. Dalam mukadimah kitab tersebut, Ibnu Hibban menjelaskan bahwa dia hanya meriwayatkan sabda dari perawi yang memenuhi lima syarat, ialah setara dalam kepercayaan dan beradab baik, dikenal jujur dalam meriwayatkan hadis, mempunyai pemahaman yang baik terhadap hadis, mengetahui maknanya sehingga tidak salah dalam menyampaikannya, serta tidak melakukan tadlis (menyembunyikan abnormal dalam sanad).
Selain kitab tersebut, dia juga menulis banyak karya lain, seperti Tafsir Al-Qur’an, Al-Jarh wat-Ta‘dil, Ats-Tsiqat, Adh-Dhu‘afa’, beragam kitab Al-‘Ilal (tentang abnormal hadis), Al-Musnad fil Hadits, As-Sunan, Syu‘ab Al-Iman, Shifat Ash-Shalah, Raudhat Al-‘Uqala’, Al-Jam‘ bain Al-Akhbar Al-Mutadadhah, dan Al-Hidayah ila ‘Ilm As-Sunan. Ia juga menulis kitab tentang riwayat hidup dan perawi hadis, seperti Ash-Shahabah, At-Tabi‘in, Taba‘ At-Tabi‘in, Al-Mu‘jam ‘ala Al-Mudun, serta kitab-kitab yang membedakan nama-nama perawi yang mirip agar tidak tertukar. Selain itu, dia menyusun kitab tentang keistimewaan para pemimpin seperti Manaqib Asy-Syafi‘i dan Manaqib Malik.
Banyaknya karya ini menunjukkan keluasan pengetahuan dan ketekunan Ibnu Hibban dalam menulis. Namun, sebagian besar kitabnya lenyap lantaran kondisi era yang tidak stabil. Disebutkan bahwa dia pernah mewakafkan seluruh kitabnya untuk para penuntut pengetahuan di sebuah rumah, tetapi ketika terjadi kekacauan dan melemahnya kekuasaan, tempat tersebut dikuasai orang-orang yang tidak bertanggung jawab sehingga banyak kitab-kitab beliau yang akhirnya hilang.
Fitnah yang menimpa Ibnu Hibban
Ujian yang menimpa Imam Ibnu Hibban termasuk peristiwa yang sangat berat dan nyaris membahayakan nyawanya serta menakut-nakuti warisan ilmunya. Peristiwa ini menunjukkan sungguh berbahayanya kesalahan dalam memahami makna suatu kata dan menafsirkan ucapan seseorang dengan makna yang tidak dia maksudkan. Dalam perihal ini, kita terkenang perkataan Imam Malik,
إذا قال الرجل قولا يحتمل الكفر من تسعة وتسعين وجهًا، والإيمان من وجه واحد حملناها على الإيمان
“Jika suatu ucapan mengandung kemungkinan kufur dari sembilan puluh sembilan sisi dan kemungkinan ketaatan dari satu sisi, maka kita kudu membawanya kepada makna iman.”
Perkataan ini sangat sesuai dengan ujian yang dialami oleh Ibnu Hibban. Kisahnya bermulai ketika Ibnu Hibban sedang mengajar di Naisabur dan ditanya tentang makna kenabian. Ia menjawab,
النبوة ((العلم والعمل))
“Kenabian adalah pengetahuan dan amal.”
Di majelis itu datang beberapa penceramah, dan salah seorang dari mereka menuduhnya sebagai zindik lantaran dianggap beranggapan bahwa kenabian bisa diperoleh dengan upaya manusia. Suasana menjadi gaduh, orang-orang terpecah antara yang memihak dan yang menuduh. Para penentangnya kemudian membikin laporan resmi, memvonisnya zindik, melarang orang menghadiri majelisnya, apalagi mengirim surat kepada khalifah Abbasiyah agar dia dihukum mati.
Khalifah memerintahkan agar perkara itu diselidiki dan jika tuduhan itu benar, maka dia dihukum. Setelah melalui proses panjang, terbukti bahwa Ibnu Hibban tidak bersalah. Namun, dia tetap dipaksa meninggalkan Naisabur menuju Sijistan. Di sana pun tuduhan tetap mengikutinya. Seorang penceramah berjulukan Yahya bin ‘Ammar terus menghasut masyarakat terhadapnya hingga akhirnya dia kembali ke kampung halamannya di Bust. Ia menetap di sana sampai wafatnya dalam keadaan sedih akibat tuduhan tersebut.
Padahal, ucapan “Kenabian adalah pengetahuan dan amal” mempunyai makna yang betul jika dipahami dengan tepat. Maksudnya adalah bahwa sifat dan tugas utama para Nabi adalah mempunyai pengetahuan yang sempurna dan kebaikan yang sempurna. Namun, tidak setiap orang yang berilmu dan beramal bisa menjadi Nabi, lantaran kenabian adalah pilihan dan hidayah unik dari Allah, bukan sesuatu yang dapat diusahakan manusia.
Kalimat ini seperti sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Haji itu adalah Arafah,” yang menunjukkan pentingnya wukuf di Arafah, tetapi bukan berfaedah haji sah hanya dengan wukuf itu saja tanpa memenuhi rukun lainnya. Demikian pula pengetahuan dan kebaikan adalah bagian krusial dari kenabian, dan itulah yang dimaksud Ibnu Hibban.
Fitnah ini mengingatkan pada ujian yang pernah dialami Imam Al-Bukhari. Semoga Allah merahmati kedua pemimpin besar ini, meninggikan derajat mereka, dan menjadikan umat Islam bisa menjaga kehormatan para ustadz dari tuduhan dan tuduhan yang tidak benar.
Pujian para ulama
Ibnu Hibban mempunyai kedudukan yang sangat tinggi dalam pengetahuan hadis. Ia termasuk ustadz besar yang sampai-sampai orang-orang melakukan perjalanan jauh untuk mendengar langsung kitab-kitab dan sanad-sanadnya. Keilmuan dan keutamaannya diakui oleh para ustadz sezamannya maupun generasi setelahnya.
Muridnya sendiri, Abu Abdullah Al-Hakim yang merupakan seorang ustadz besar sabda dan penulis kitab Al-Mustadrak, memuji beliau dengan mengatakan,
كان ابن حبان من أوعية العلم في الفقه واللغة، والحديث والوعظ، ومن عقلاء الرجال
“Ibnu Hibban adalah salah satu penyimpanan pengetahuan dalam bagian fikih, bahasa, hadis, dan nasihat (dakwah). Ia juga termasuk orang yang pandai dan bijaksana.”
Adz-Dzahabi menggambarkan Ibnu Hibban dengan mengatakan,
الإمام العلامة، الحافظ المجوِّد، شيخ خراسان
“Ia adalah seorang pemimpin besar, ustadz yang sangat berilmu, hafizh yang teliti dan kuat hafalannya, serta Syekh Khurasan.”
Al-Hafizh Abu Sa‘d Al-Idrisi berbicara tentang Ibnu Hibban,
كان ابن حبان من فقهاء الدين، وحفاظ الآثار، عالما بالطب وبالنجوم [يقصد الفلك] وفتون العلم، وقد صنف المسند الصحيح، وقد تولى قضاء سمرقند زمانًا؛ فنشر الفقه والعلم هناك بين الناس
“Ia termasuk ustadz besar dalam agama, hafizh dalam hadis, serta mempunyai pengetahuan tentang pengetahuan kedokteran dan pengetahuan bintang (astronomi), juga menguasai beragam bagian ilmu. Ia menyusun kitab Al-Musnad Ash-Shahih, dan pernah menjabat sebagai qadhi (hakim) di Samarkand untuk beberapa waktu. Di sana dia menyebarkan pengetahuan fikih dan pengetahuan kepercayaan di tengah masyarakat.”
Al-Khatib Al-Baghdadi berbicara tentang Ibnu Hibban,
كان ابن حبان ثقة نبيلا فهمًا
“Ia adalah seorang yang terpercaya (tsiqah), mulia, dan mempunyai pemahaman yang baik.”
Sebagian ustadz juga beranggapan bahwa jika Ibnu Hibban tidak memasukkan sebagian perawi yang tidak dikenal (majhul) sebagai perawi terpercaya dalam kitab Musnad-nya, maka kedudukan kitab tersebut bisa saja sejajar dengan enam kitab sabda yang terkenal (Kutubus Sittah). Bahkan, perihal itu mungkin bakal semakin meninggikan posisi dan kedudukannya di antara para ustadz hadis.
Wafat
Imam Abu Hatim Ibnu Hibban رحمه الله wafat pada bulan Syawal tahun 354 H. Saat itu, usianya sekitar delapan puluh tahun. Semoga Allah Ta’ala mengampuni dosa-dosa beliau dan memberikan jawaban berupa surga-Nya.
Baca juga: Biografi Abdullah bin Al Mubarak
***
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Artikel Kincai Media
Catatan kaki:
Diterjemahkan dan disusun ulang oleh penulis dari :
[1] Alukah.net
[2] Ketabonline.com
[3] Mawdoo3.com
[4] Arab-ency.com.sy
English (US) ·
Indonesian (ID) ·