Kebiasaan Tidur Anak Berpengaruh pada Kesehatan Mental, Begini Penjelasannya

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 5 menit 505x dilihat
Kebiasaan Tidur Anak Berpengaruh pada Kesehatan Mental, Begini Penjelasannya

Tahukah Bunda bahwa kebiasaan tidur mempunyai peran besar bagi perkembangan mental anak? Ya, studi membuktikan keduanya saling berkaitan, lho.

Tidur yang cukup tak hanya krusial untuk kesehatan anak secara fisik, tapi juga psikis. Oleh karena itu, jangan anggap enteng membangun rutinitas tidur yang baik untuk membantu mendukung ketahanan emosional dan keahlian kognitif anak di masa depan.

Menurut psikolog klinis di Ameirka Serikat, Brian Razzino, PhD, tidur apalagi bisa menjadi 'fondasi' bagi kesehatan mental anak.


"Kurang tidur secara kronis dapat mengganggu perkembangan emosional, sehingga seseorang rentan lebih mudah mengalami perubahan suasana hati, respons stres yang lebih tinggi, dan kekhawatiran yang terus-menerus," imbuh Razzino, seperti dikutip dari Parents.

Perkembangan emosional disebutkan juga oleh Razzino merupakan struktur alias kerangka dasar yang memengaruhi langkah seseorang mengalami, memproses, dan mengekspresikan emosi.

Hubungan antara tidur dan kesehatan mental

Saat anak kurang tidur dalam jangka waktu yang panjang, kondisi ini dapat berakibat besar pada keahlian mereka dalam mengatur suasana hati, kestabilan emosi, dan kesehatan mental.

Penelitian menunjukkan adanya hubungan langsung antara kurang tidur kronis dan gangguan kesehatan mental, seperti kekhawatiran dan depresi.

Dalam sebuah tinjauan penelitian yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Psychiatry pada tahun 2020, peneliti menemukan bahwa orang yang mengalami insomnia kronis lebih berisiko mengalami gangguan mood.

Hal ini semakin memperkuat pendapat bahwa kualitas tidur yang jelek bukan hanya menjadi gejala, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap munculnya masalah kesehatan mental.

Bagaimana dampaknya bagi anak-anak?

Menurut Razzino, seiring waktu kurang tidur sangat berangkaian dengan meningkatnya akibat depresi klinis dan gangguan kekhawatiran yang lebih berat, apalagi pada anak-anak dan remaja.

Anak-anak dan remaja yang mempunyai pola tidur terganggu juga lebih berisiko mengalami masalah kesehatan mental.

Sebuah penelitian pada 2024 menemukan bahwa anak-anak yang mengalami masalah tidur, mempunyai akibat lebih tinggi mengalami depresi, ADHD, dan masalah perilaku saat berumur 15 tahun.

Setelah seharian bekerja keras, otak memerlukan waktu rehat dan 'pembersihan' yang dilakukan lewat tidur. Salah satu tujuannya untuk menata kembali semuanya agar siap digunakan pada hari berikutnya.

"Ketika tidur, otak menguatkan ingatan, memproses beragam perihal yang menyebabkan stres, dan memperkuat hubungan saraf yang krusial untuk proses belajar. Namun, ketika tidur terganggu, siklus pemulihan tersebut menjadi lebih singkat. Akibatnya, keahlian mengatur emosi dan kegunaan kognitif dapat terganggu," pesannya.

Manfaat tidur yang cukup bagi anak

Stephanie Drew, LCSW, seorang terapis yang berfokus pada kesehatan mental anak dan remaja, juga menekankan faedah tidur yang cukup bagi ketahanan emosional.

Ia menuturkan bahwa anak yang terbiasa cukup tidur sejak awal mempunyai keahlian yang lebih baik untuk mengatur emosi dan menghadapi stres secara efektif.

Tidur membantu mengembangkan keahlian mengatur emosi, yang sangat krusial untuk menghadapi beragam tantangan dalam kehidupan di kemudian hari.

Bagi anak-anak, gangguan tidur, seperti waktu yang terlalu lama untuk bisa tertidur, dapat memberikan akibat yang cukup besar.

Kurang tidur juga berakibat bagi orang tua

Kurang tidur tidak hanya berakibat pada anak, tetapi juga dapat memberikan pengaruh serius terhadap kesehatan mental orang dewasa.

Dalam jangka panjang, masalah tidur kronis dapat memengaruhi kesehatan mental lantaran meningkatkan stres dan mengganggu keahlian mengatur emosi.

Oleh karena itu, saat kurang tidur Bunda mungkin bakal jadi merasa lebih mudah marah, mengalami brain fog alias susah berpikir jernih, dan bagian otak yang membantu mengelola emosi tidak bekerja sebagaimana mestinya.

Stres dan kekhawatiran pun bisa lebih mudah terjadi, apalagi jika tidak segera diatasi dapat muncul indikasi depresi.

Sebuah penelitian pada 2019 yang diterbitkan dalam jurnal Sleep menemukan bahwa orang tua mengalami kekurangan tidur selama 6 tahun pertama kehidupan anak. Kondisi ini dapat berakibat cukup besar terhadap kesehatan mental dan kesejahteraan emosional mereka sendiri.

Bagaimana langkah menerapkan kebiasaan tidur yang sehat?

Sebuah penelitian pada tahun 2018 menemukan bahwa anak-anak yang mempunyai rutinitas tidur yang konsisten mempunyai keahlian berpikir, kesiapan sekolah, dan kesejahteraan secara keseluruhan yang lebih baik.

Rutinitas tidur yang teratur tidak hanya membantu anak mendapatkan rehat yang cukup, tetapi juga mendukung perkembangan kognitif dan kesehatan emosional.

Berikut beberapa langkah yang dapat diterapkan untuk membantu membentuk kebiasaan tidur yang sehat:

1. Siapkan waktu tidur yang teratur

Menetapkan waktu tidur yang konsisten membantu menyelaraskan jam biologis tubuh, sehingga anak dapat menjalani pagi hari dengan lebih mudah dan mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik.

2. Buat rutinitas menenangkan sebelum tidur 

Lakukan kegiatan yang menenangkan sebelum waktu tidur, seperti membaca kitab alias mendengarkan musik lembut sebelum tidur.

Ini dapat membantu anak beranjak dari kesibukan sepanjang hari menuju kondisi yang lebih rileks. Selain itu, kegiatan yang menenangkan ini juga membantu mengoptimalkan proses 'pembersihan' otak pada malam hari.

3. Batasi screen time 

Kurangi screen time setidaknya satu jam sebelum tidur dapat membantu mencegah stimulasi berlebihan dan memberi kesempatan bagi otak untuk rileks sebelum anak tidur.

4. Pastikan suasana bilik sudah nyaman

Agar anak bisa tidur dengan lebih sigap dan nyenyak, pastikan suasana bilik tidurnya sudah cukup nyaman, Bunda.

Misalnya, siapkan lampu tidur di bilik yang tidak terlalu terang dan atur suhu ruangan agar tetap sejuk. Ini merupakan kondisi yang ideal untuk membantu anak mendapatkan tidur yang berkualitas.

Meningkatkan kebiasaan tidur yang sehat pada anak bukan hanya berfaedah bagi kesehatan mental mereka, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan orang tua.

Itulah penjelasan tentang hasil studi kebiasaan tidur anak yang berpengaruh pada kesehatan mentalnya. Semoga berfaedah ya, Bunda!

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak

Bagikan Postingan