Keluarga dengan 1 Penghasilan Makin Sulit Bertahan, Ini Alasannya Menurut Pakar

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 5 menit 503x dilihat
Keluarga dengan 1 Penghasilan Makin Sulit Bertahan, Ini Alasannya Menurut Pakar

Keluarga Bunda yang bekerja dan menghasilkan duit hanya suami? Menurut pakar, family dengan satu penghasilan semakin susah memperkuat in this economy

Menjalani kehidupan family dengan mengandalkan satu sumber penghasilan sekarang terasa semakin sulit, terutama ketika kebutuhan rumah tangga terus meningkat. Jika dulu satu orang yang bekerja dianggap cukup untuk membiayai rumah, kendaraan, kebutuhan anak, hingga tabungan, kondisi tersebut sekarang semakin jarang ditemukan.

Perubahan biaya hidup, nilai rumah, pendidikan, jasa kesehatan, hingga kebutuhan pengasuhan anak membikin banyak family kudu mempunyai lebih dari satu sumber pemasukan. Bahkan bagi sebagian family dengan pendapatan tinggi sekalipun, mengandalkan satu penghasilan dinilai tidak lagi mudah untuk mempertahankan style hidup kelas menengah.


Sarah Foster, analis ekonomi dari Bankrate, mengatakan bahwa masa ketika sebuah family dapat mempunyai rumah, mobil, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari hanya dengan satu penghasilan sekarang sudah banyak berlalu.

“Dahulu kita berada di era keemasan ketika seseorang bisa mempunyai rumah, mobil, dan memperkuat hidup dengan satu penghasilan. Era itu sudah berlalu,” ujar Foster kepada CNBC.

Alasan keluarga dengan 1 penghasilan makin susah bertahan

Simak sejumlah argumen kenapa family dengan satu penghasilan susah memperkuat di era sekarang.

1. Biaya kebutuhan rumah tangga terus melonjak

Salah satu argumen utama family semakin susah memperkuat dengan satu penghasilan adalah meningkatnya beragam pengeluaran rumah tangga. Inflasi dan kenaikan nilai kebutuhan seperti tempat tinggal, perawatan anak, pendidikan tinggi, kendaraan, serta jasa kesehatan membikin pendapatan satu orang semakin sigap lenyap untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Mark Hamrick, Senior Economic Analyst di Bankrate, menyebut kondisi tersebut sebagai tantangan keterjangkauan. Menurutnya, kenaikan beragam biaya membikin family memerlukan penghasilan lebih besar agar dapat mempertahankan kehidupan yang sebelumnya dianggap sebagai standar kelas menengah.

“Ketika biaya-biaya meningkat begitu besar bagi banyak keluarga, kita tahu biaya pengasuhan anak, biaya jasa kesehatan, serta kebutuhan untuk mendapatkan penghasilan lebih tinggi hanya untuk mengimbangi kenaikan tersebut, membikin family kudu bekerja lebih banyak,” kata Elise Gould, Senior Economist di Economic Policy Institute.

2. Biaya rumah dan sewa semakin susah dijangkau

Tempat tinggal menjadi salah satu pengeluaran terbesar yang membikin konsep family dengan satu pencari nafkah semakin susah diterapkan. Kekurangan pasokan kediaman di beragam daerah turut mendorong kenaikan nilai sewa maupun nilai rumah.

Bagi family yang hanya mempunyai satu sumber penghasilan, angsuran rumah alias biaya sewa dapat mengambil porsi besar dari pendapatan bulanan. Kondisi ini membikin ruang untuk bayar kebutuhan lain, seperti makanan, pendidikan, transportasi, hingga menabung menjadi semakin terbatas.

Hamrick mengatakan bahwa pada masa lampau pasangan menikah yang mempunyai anak tetap dapat memenuhi kebutuhan family dengan satu orang yang bekerja. Namun menurutnya, kondisi tersebut sekarang sebagian besar hanya menjadi peninggalan masa lalu.

“Dahulu ada masa ketika pasangan menikah dengan anak dapat memperkuat dengan hanya satu pencari nafkah di rumah. Masa-masa itu sebagian besar sekarang tinggal kenangan,” ujar Hamrick.

3. Biaya kesehatan dan pendidikan ikut membebani keluarga

Pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan juga menjadi aspek yang membikin satu penghasilan semakin susah mencukupi kebutuhan keluarga. Biaya premi asuransi kesehatan untuk family dilaporkan meningkat lebih dari 25 persen sejak 2020, apalagi melampaui laju inflasi.

Di sisi lain, biaya penitipan anak dan biaya kuliah juga mengalami kenaikan lebih dari 5 persen setiap tahun dalam periode yang sama. Ketika pengeluaran tersebut kudu ditanggung hanya dari satu pendapatan, family dapat menghadapi tekanan finansial yang lebih besar, terutama ketika mempunyai beberapa anak.

Situasi ini membikin banyak family tidak hanya perlu memikirkan kebutuhan saat ini, tapi juga biaya jangka panjang seperti biaya pendidikan dan persiapan pensiun. Akibatnya, mempunyai dua sumber penghasilan sering kali bukan semata-mata pilihan style hidup, melainkan strategi untuk menjaga kestabilan finansial keluarga.

4. Dunia kerja semakin tidak memberikan kepastian

Perubahan di bumi kerja turut membikin family susah mengandalkan satu pencari nafkah. Hamrick mengatakan telah terjadi perubahan besar dalam keamanan pekerjaan dan rasa mempunyai yang dirasakan pekerja terhadap tempat kerja mereka.

Menurut Hamrick, semakin banyak pekerja yang masuk ke dalam gig economy. Pola kerja ini dapat memberikan fleksibilitas, namun pendapatan yang diterima condong tidak selalu konsisten dan faedah seperti agunan kerja maupun tunjangan tradisional juga bisa lebih terbatas.

Pekerja penuh waktu pun diketahui tidak selalu mempunyai kepastian finansial seperti generasi sebelumnya. Jam kerja yang tak selalu konsisten, minimnya tunjangan, serta berkurangnya akses terhadap program pensiun tradisional membikin Bunda semakin susah menjamin kestabilan ekonomi keluarganya hanya dengan satu gaji.

5. Beban persiapan pensiun juga semakin besar

Perubahan bumi kerja juga berakibat pada langkah masyarakat mempersiapkan masa pensiun. Semakin sedikit pekerja yang mempunyai skema pensiun tradisional sehingga tanggung jawab untuk menyiapkan biaya pensiun sekarang lebih banyak berada di tangan pekerja sendiri.

Ini artinya sebagian penghasilan kudu dialokasikan untuk kebutuhan jangka panjang. Bagi family yang hanya mengandalkan satu pemasukan, menyisihkan duit untuk pensiun setelah bayar kebutuhan sehari-hari dapat menjadi tantangan tersendiri.

Kondisi tersebut membikin dua penghasilan dapat memberikan ruang finansial yang lebih besar, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan rutin, namun juga membangun biaya darurat, menabung, berinvestasi, dan persiapan masa pensiun.

6. Standar hidup kelas menengah ikut berubah

Selain kenaikan harga, arti mengenai kehidupan kelas menengah juga mengalami perubahan. Keluarga masa sekarang tidak hanya berupaya memenuhi kebutuhan dasar, tapi juga menghadapi beragam pengeluaran yang sebelumnya mungkin tak sebesar sekarang.

Kebutuhan tempat tinggal, kendaraan, pendidikan anak, jasa kesehatan, tabungan pensiun, hingga kegiatan family membikin pendapatan yang dulu dianggap mencukupi sekarang belum tentu bisa memberikan tingkat keamanan finansial yang sama.

“Dulu kita berada di era keemasan ketika Anda bisa mempunyai rumah, mobil, dan memperkuat dengan satu penghasilan. Itu adalah era yang sudah berlalu,” kata Foster.

Data Bureau of Labor Statistics pada 2024 menunjukkan sekitar separuh family pasangan menikah mempunyai kedua pasangan yang bekerja. Pada family yang mempunyai anak, sekitar dua pertiga rumah tangga mempunyai kedua pasangan yang bekerja di luar rumah.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa family dengan dua pencari nafkah sekarang menjadi bagian yang semakin umum dalam kehidupan masyarakat. Alasannya pun beragam, mulai dari kebutuhan ekonomi hingga semakin luasnya kesempatan wanita dalam pendidikan dan karier. Dengan biaya hidup yang terus meningkat serta bumi kerja yang semakin tidak pasti.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak

Bagikan Postingan