Jakarta -
Memiliki anak menjadi angan banyak pasangan. Namun, bagi pasangan yang menghadapi masalah kesuburan, perjalanan untuk mendapatkan kehamilan terkadang memerlukan support teknologi reproduksi, salah satunya melalui program bayi tabung alias in vitro fertilization (IVF).
Sayangnya, ada satu perihal yang sering membikin pasangan berpikir panjang sebelum menjalani prosedur ini, ialah biayanya yang cukup mahal.
Sebenarnya, kenapa program bayi tabung mahal? Ternyata, biaya tersebut bukan hanya untuk proses mempertemukan sel telur dan sperma. Ada serangkaian pemeriksaan, obat-obatan, tindakan medis, teknologi laboratorium, hingga tenaga mahir yang terlibat di dalamnya, Bunda.
Mengenal prosedur program bayi tabung?
Program bayi tabung alias IVF merupakan salah satu teknologi reproduksi berbantu (assisted reproductive technology/ART). Dalam prosedur ini, sel telur diambil dari ovarium kemudian dipertemukan dengan sperma di laboratorium. Jika terjadi pembuahan dan embrio berkembang dengan baik, embrio tersebut dapat ditransfer ke dalam rahim dengan angan terjadi kehamilan.
Prosesnya tentu tidak berjalan dalam satu langkah. Sebelum IVF dimulai, master bakal melakukan pertimbangan kondisi kesuburan pasangan untuk menentukan penanganan yang sesuai.
Kenapa program bayi tabung mahal?
Ada beberapa argumen yang membikin biaya program bayi tabung relatif tinggi.
1. Membutuhkan obat untuk merangsang ovarium
Pada IVF, wanita biasanya mendapatkan obat hormonal untuk merangsang ovarium agar menghasilkan beberapa sel telur dalam satu siklus.
Jumlah dan jenis obat yang dibutuhkan dapat berbeda pada setiap pasien. Karena itu, biaya obat menjadi salah satu komponen yang perlu diperhitungkan dalam keseluruhan biaya IVF.
2. Pemeriksaan dan pemantauan dilakukan berkali-kali
Program bayi tabung memerlukan pemantauan kondisi pasien secara berkala.
Dokter dapat melakukan pemeriksaan ultrasonografi dan pemeriksaan hormon untuk memandang gimana ovarium merespons stimulasi serta menentukan waktu yang tepat untuk pengambilan sel telur.
Jadi, biaya IVF bukan hanya mencakup satu kali tindakan, melainkan juga beragam pemeriksaan dan konsultasi selama proses berlangsung.
3. Prosesnya memerlukan laboratorium khusus
Nah, ini salah satu argumen krusial kenapa program bayi tabung mahal.
Setelah sel telur diambil, proses fertilisasi dan perkembangan embrio berjalan di laboratorium embriologi. Laboratorium ini memerlukan peralatan unik dan sistem pengendalian kualitas yang ketat.
American Society for Reproductive Medicine (ASRM) menjelaskan bahwa laboratorium ART memerlukan beragam akomodasi dan peralatan unik untuk menangani gamet dan embrio, termasuk inkubator, sistem kultur, peralatan pemantauan, serta akomodasi kriopreservasi.
Laboratorium juga memerlukan tenaga ahli dengan skill unik dalam bagian embriologi. Artinya, biaya yang dikeluarkan pasangan turut mencakup teknologi, fasilitas, bahan laboratorium, serta tenaga mahir yang terlibat dalam proses tersebut.
4. Embrio bisa memerlukan proses pembekuan dan penyimpanan
Dalam beberapa kondisi, embrio yang sudah terbentuk tidak langsung ditransfer ke rahim. Embrio dapat dibekukan melalui proses cryopreservation untuk digunakan pada kesempatan berikutnya.
Proses pembekuan dan penyimpanan memerlukan akomodasi khusus. Karena itu, biaya penyimpanan embrio juga dapat menjadi komponen tambahan dalam perawatan IVF. Namun, perlu diketahui bahwa tidak semua pasien memerlukan prosedur alias penyimpanan embrio yang sama.
5. Bisa memerlukan prosedur tambahan
Setiap pasangan mempunyai kondisi kesuburan yang berbeda. Karena itu, master mungkin merekomendasikan prosedur tambahan tertentu sesuai kebutuhan medis.
Misalnya, pada kondisi tertentu dapat dilakukan teknik fertilisasi khusus, pemeriksaan genetik embrio, alias tindakan lain yang berangkaian dengan kondisi pasien. Semakin banyak prosedur tambahan yang dibutuhkan, semakin besar pula biaya yang mungkin kudu disiapkan.
Biaya bayi tabung memang tidak sedikit
Mahalnya biaya teknologi reproduksi berbantu rupanya bukan hanya menjadi persoalan di Indonesia. Sebuah systematic review yang dilakukan oleh Njagi, Groot, Arsenijevic, Dyer, Mburu, dan Kiarie (2023)menganalisis 26 penelitian dari 17 negara berpendapatan rendah dan menengah.
Penelitian yang diterbitkan dalam Human Reproduction Open tersebut menemukan bahwa biaya medis langsung untuk teknologi reproduksi berbantu berada pada kisaran US$2.109 hingga US$18.592.
Para peneliti juga menemukan bahwa di sejumlah negara, biaya tersebut dapat mencapai sekitar dua kali pendapatan domestik bruto (GDP) per kapita. Kondisi ini menunjukkan bahwa jasa ART dapat menjadi beban finansial yang cukup berat bagi pasangan yang memerlukan perawatan infertilitas.
Bagaimana dengan program bayi tabung di Indonesia?
Indonesia juga mempunyai perkembangan jasa IVF yang cukup signifikan. Studi “Ten Years of In Vitro Fertilization in Indonesia: Access to Infertility Care in a Developing Country” yang diterbitkan pada 2024 menganalisis informasi program ART di Indonesia selama 2011–2020. Penelitian tersebut mencatat 69.569 siklus ART selama periode tersebut. Jumlah klinik IVF yang dilaporkan juga meningkat dari 14 klinik pada 2011 menjadi 41 klinik pada 2020.
Namun, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kehamilan tidak selalu terjadi dalam satu kali siklus. Angka kehamilan yang dilaporkan berada pada kisaran 24,6–37,3 persen, tergantung periode dan karakter siklus yang dianalisis.
Artinya, sebagian pasangan mungkin memerlukan lebih dari satu siklus untuk mendapatkan kehamilan. Jika perihal tersebut terjadi, biaya yang kudu dikeluarkan tentu bisa bertambah.
Usia dan kondisi kesuburan juga berpengaruh
Biaya IVF tidak selalu sama untuk setiap pasangan. Usia, kondisi ovarium, kualitas sperma, respons terhadap obat, jumlah sel telur yang diperoleh, perkembangan embrio, hingga prosedur tambahan dapat memengaruhi rencana perawatan.
American Society for Reproductive Medicine menyebut bahwa usia wanita merupakan salah satu aspek krusial yang berangkaian dengan kesempatan keberhasilan IVF. Karena itu, master biasanya bakal menyesuaikan protokol pengobatan dengan kondisi masing-masing pasien. Dengan kata lain, pasangan yang menjalani IVF belum tentu mendapatkan jenis obat, jumlah pemeriksaan, maupun prosedur yang sama.
Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyoroti persoalan biaya dalam jasa infertilitas. Dalam Guideline for the Prevention, Diagnosis and Treatment of Infertility, WHO menjelaskan bahwa biaya pengobatan, kebutuhan tenaga kesehatan terlatih, peralatan, serta prasarana menjadi sejumlah aspek yang dapat membatasi akses masyarakat terhadap jasa infertilitas.
WHO mendorong agar jasa infertilitas dapat dibuat lebih mudah diakses dan lebih terjangkau, termasuk melalui sistem pembiayaan kesehatan yang sesuai.
Kenapa program bayi tabung mahal?
Kalau dirangkum, program bayi tabung mahal lantaran prosesnya melibatkan banyak tahapan medis dan teknologi yang memerlukan akomodasi serta tenaga mahir khusus. Mulai dari konsultasi dan pemeriksaan kesuburan, obat stimulasi ovarium, pemantauan perkembangan sel telur, pengambilan sel telur, proses fertilisasi, kultur embrio, hingga transfer embrio semuanya memerlukan sumber daya medis. Belum lagi jika pasangan memerlukan prosedur tambahan alias penyimpanan embrio.
Jadi, biaya IVF sebenarnya tidak hanya bayar proses membikin bayi di laboratorium. Ada banyak komponen di baliknya, termasuk obat-obatan, dokter, perawat, embriolog, peralatan laboratorium, bahan kultur, sistem pengendalian kualitas, serta akomodasi penyimpanan embrio.
Bagi Bunda dan Ayah yang sedang mempertimbangkan program bayi tabung, sebaiknya tanyakan apa saja yang sudah termasuk dalam paket, seperti biaya obat, pemeriksaan, pengambilan sel telur, fertilisasi, kultur embrio, transfer embrio, serta kemungkinan biaya tambahan jika memerlukan prosedur tertentu. Dengan mengetahui rincian tersebut sejak awal, pasangan bisa mempersiapkan biaya, waktu, dan kondisi mental dengan lebih matang.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)