Ketika Musik Menjadi Bagian dari Mesin Permainan

Review Movie Terbaru oleh Waktu baca 5 menit 295x dilihat
Ketika Musik Menjadi Bagian dari Mesin Permainan

Bagikan Postingan

Dalam album konsep “Tommy” milik The Who, seorang anak yang tuli, buta, dan bisu menemukan bakatnya di depan mesin pinball. Dalam “Pinball Wizard”, lawannya heran kenapa anak itu tak terkalahkan, kemudian menemukan jawabannya: Tommy “can’t hear no buzzers and bells”. Ia bermain tanpa dengung dan bel, dua hal yang bagi pemain lain justru separuh dari permainan. Mesin permainan, sejak awal, adalah alat musik yang menyamar. Cultura pernah membahasnya di daftar album konsep dengan cerita paling menarik, dan “Tommy” ada di urutan pertama.

Mesin slot mewarisi logika yang sama, cuma saja jauh lebih serius soal bunyi. Di balik setiap putaran gulungan ada lapisan bunyi yang dirancang dengan cermat: desis gulungan yang berputar, ketukan saat setiap gulungan berhenti, nada yang naik ketika dua simbol sudah sejajar dan simbol ketiga belum jatuh. Semua itu bukan efek kebetulan. Ia digarap seperti skor film.

Dari Bel Mekanis ke Skor Digital

Mesin slot modern lahir di San Francisco pada akhir 1890-an, ketika Charles Fey merakit mesin tiga gulungan yang ia namai Liberty Bell. Nama itu diambil dari simbol lonceng di gulungannya, dan mesin itu membunyikan lonceng setiap kali membayar. Sejak hari pertama, bunyi adalah metode mesin mengumumkan akibatnya kepada seluruh ruangan.

Seratus tahun kemudian lonceng itu berubah menjadi file audio, dan pembuatnya berubah menjadi tim rancangan suara. Cara kerjanya mirip penata musik film. Ada tema utama yang mengikat identitas permainan, ada motif singkat untuk momen tertentu, dan ada transisi yang menjaga kondisi statis utuh dari satu putaran ke putaran berikutnya. Prinsipnya sama dengan lagu tema James Bond: begitu beberapa nada pertama terdengar, pendengar langsung tahu sedang eksis di bumi mana. Kebetulan bumi Bond pun sering berujung di meja kasino, dari chemin de fer, varian bakarat, di “Dr. No” sampai “You Know My Name” milik Chris Cornell di “Casino Royale”.

Ketika Band Rock Masuk ke Gulungan

Titik ketika musik populer benar-benar masuk ke mesin slot bisa ditandai pada 21 Januari 2016. Hari itu studio asal Swedia, NetEnt, merilis slot bertema Guns N’ Roses yang memuat riff dari lima lagu mereka: “Welcome to the Jungle”, “Sweet Child O’ Mine”, “Paradise City”, “November Rain”, dan “Chinese Democracy”. Kepala produk NetEnt saat itu, Simon Hammon, menyebutnya permainan paling ambisius yang pernah dibuat studionya.

Yang menarik bukan sekadar lisensinya, tapi metode lagu-lagu itu dipakai. Riff tidak diputar utuh seperti di radio. Ia dipotong, dipasang di momen tertentu, dan dijadikan penanda bahwa sesuatu yang besar sedang terjadi di layar, persis seperti music cue di film. NetEnt kemudian mengulang formula ini dengan Jimi Hendrix dan Motörhead, dan katalog musik rock pun resmi punya hayat kedua di layar ponsel.

Dari arah sebaliknya, musisi juga sudah durasi terpikat pada estetika kasino. Arctic Monkeys membangun satu album utuh di sekitar resor fiktif di bulan, dan “Tranquility Base Hotel & Casino” terdengar seperti musik lounge untuk lobi yang tidak pernah tutup. Piano yang malas, bunyi Alex Turner yang seperti penyanyi hotel, dan rasa waktu yang melambat. Itulah bunyi yang selama puluhan tahun diasosiasikan dengan ruang kasino, dan para perancang slot mengerti benar metode memakainya.

Bunyi yang Ikut Dinilai

Karena digarap seserius itu, bunyi kini ikut masuk ke dalam metode sebuah permainan dinilai. Ulasan slot tidak lagi selesai pada visual dan persentase pembayaran. Kualitas audio dibahas sederajat dengan rancangan visual, dan studio yang dikenal punya tim bunyi kuat mendapat reputasi tersendiri.

Malaysia, tetangga terdekat yang pemainnya membaca ulasan dalam bahasa yang hampir sama dengan kita, memberi contoh yang jelas. Situs yang mengulas kasino online Malaysia dan permainan slotnya menempatkan efek bunyi yang imersif sebagai salah satu ciri khas utama yang dicari, sejajar dengan visual berkualitas tinggi, permainan yang lancar, dan tingkat pengembalian ke pemain (RTP). Situs yang sama mencatat Microgaming sebagai pemasok alat lunak paling populer di sana, dengan NetEnt, Playtech, dan Evolution di daftar yang sama. Dengan kata lain, studio yang pernah memasukkan Guns N’ Roses ke dalam gulungan kini ikut menentukan standar bunyi sebuah pasar.

Pasar Asia juga mengubah palet bunyinya. Slot bertema Asia jarang memakai riff gitar. Yang terdengar justru petikan guzheng, gong, dan tangga nada pentatonik, bahasa musik yang sama dengan sinema silat Hong Kong yang dahulu kita tonton di televisi. Desainer bunyi meminjam kosakata yang sudah dikenal telinga pendengarnya, persis seperti penata musik sinema memilih instrumen untuk satu latar cerita. Di layar yang sama, sebuah gulungan bisa terdengar seperti Sunset Strip di Los Angeles maupun seperti klenteng di Penang, tergantung siapa yang diajak bermain.

Ini pergeseran yang cukup besar. Di era Liberty Bell, bunyi cuma punya satu tugas: mengumumkan hasil. Sekarang bunyi adalah bagiankecil dari produk, sesuatu yang dibandingkan, dikritik, dan dijadikan karena untuk memilih satu permainan dibanding yang lain.

Tommy mungkin tidak butuh mendengar apa-apa untuk menjadi pinball wizard. Tapi industri yang tumbuh dari mesin-mesin itu justru berjudi pada kebalikannya: bahwa telinga kita akan selalu ingat lebih durasi daripada mata.

Artikel Lainnya Review Movie Terbaru
↑
Close Right Ads
Close Left Ads