Not Your Usual Halloween Watchlist

Review Movie Terbaru oleh Waktu baca 10 menit 218x dilihat
Not Your Usual Halloween Watchlist

Bagikan Postingan

Dari thriller kejiwaan yang perlahan mengusik pikiran hingga survival brutal penuh darah, delapan sinema dan serial ini menawarkan pengalaman horor yang berbeda untuk menemani Halloween.

Halloween selalu menjadi karena yang tepat untuk balik menikmati sinema horor. Namun, tidak semua ketakutan mesti datang dari rumah berhantu, penampakan makhluk gaib, maupun jumpscare yang sengaja dirancang untuk mengejutkan penonton. Terkadang, manusia dengan rahasia mengerikan, hubungan yang manipulatif, maupun situasi yang tampaknya mustahil dihindari justru jauh lebih menakutkan.

Genre horor sendiri telah berkembang jauh melampaui formula konvensional. Ada sinema yang menggunakan kekerasan sebagai satire sosial, thriller yang mempermainkan persepsi penonton, hingga cerita survival yang mempertanyakan batas moral seseorang ketika dihadapkan pada situasi ekstrem. Daya tariknya bukan cuma pada seberapa menakutkan sebuah adegan, tetapi sepertiapa ketakutan itu dibangun dan apa yang tertinggal setelah sinema berakhir.

Untuk Halloween kali ini, Cultura mengkurasi delapan sinema dan serial dari koleksi Disney+ yang menawarkan pendekatan berbeda terhadap aliran horor dan thriller. Beberapa mengandalkan atmosfer dan permainan psikologis, sementara lainnya memilih kekerasan eksplisit, komedi gelap, maupun ketegangan yang hampir tidak memberi kesempatan kepada pemirsa untuk bernapas.

The Patient

FX

The Patient (2022)

Genre: Psychological Thriller | Serial

Bagaimana jika seorang pembunuh berantai justru meminta pertolongan untuk menghentikan keinginannya membunuh?

Premis tersebut menjadi alas “The Patient”, serial thriller kejiwaan yang dibintangi Steve Carell dan Domhnall Gleeson. Ceritanya mengikuti Alan Strauss, seorang terapis yang disekap oleh pasiennya sendiri, Sam Fortner. Sam mengakui bahwa dirinya adalah pembunuh berantai dan menuntut Alan membantunya mengendalikan desakan membunuh.

Tidak banyak ruang untuk melarikan diri, dan hampir seluruh ketegangannya dibangun melalui hubungan antara kedua karakter. Alan mesti memahami pikiran seseorang yang berpotensi membunuhnya kapan saja, sementara Sam terus memperlihatkan kontradiksi antara keinginannya untuk berubah dan ketidakmampuannya mengendalikan diri.

Kekuatan “The Patient” terletak pada pendekatan yang intim dan penuh tekanan. Serial ini tidak membutuhkan rangkaian pembunuhan tegas untuk membikin pemirsa merasa terancam. Dialog, keheningan, dan ketidakpastian justru menjadi sumber teror utamanya.

Menariknya, serial ini juga menyelipkan permasalahan kehilangan, hubungan keluarga, dan rasa bersalah. Di balik situasi penyekapan yang ekstrem, terdapat dua manusia dengan permasalahan emosional yang sangat berbeda. Bagi pemirsa yang menyukai thriller berbasis karakter, “The Patient” menjadi pilihan yang sulit dilewatkan.

HOLD-YOUR-BREATH

Hold Your Breath (2024)

Genre: Psychological Horror | Film

Berlatar Oklahoma pada 1930-an, “Hold Your Breath” membawa pemirsa ke daerah pertanian yang dilanda anginbesar debu berkepanjangan. Margaret Bellum, seorang ibu yang diperankan Sarah Paulson, berjuang melindungi keluarganya di tengah kondisi lingkungan yang semakin tidak bersahabat.

Namun, intimidasi yang dihadapinya perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih sulit dijelaskan. Margaret mulai meyakini bahwa kekuatan jahat sedang mengincar keluarganya. Ketika debu terus menutupi rumah dan bumi luar semakin sulit dijangkau, batas antara kenyataan, ketakutan, dan paranoia mulai mengabur.

Alih-alih mengandalkan penampakan mengerikan, “Hold Your Breath” memanfaatkan lingkungannya sebagai sumber horor. Udara yang seharusnya menjadi kebutuhan paling mendasar justru terasa berbahaya. Rumah yang seharusnya memberikan perlindungan berubah menjadi ruang penuh kecemasan.

Film ini juga memperlihatkan sepertiapa kehilangan dan tekanan berkepanjangan dapat memengaruhi persepsi seseorang terhadap dunia. Sarah Paulson membawa intensitas emosional yang membikin ketakutan Margaret terasa personal.

“Hold Your Breath” cocok untuk pemirsa yang menikmati horor atmosferik, terutama cerita yang membikin kita terus mempertanyakan apakah intimidasi yang kelihatan benar-benar nyata.

Fresh (2022)

Genre: Horror Thriller, Dark Comedy | Film

Pengalaman mencari pasangan lewat aplikasi kencan sering kali melelahkan. Itulah yang dirasakan Noa, perempuan muda yang akhirnya berjumpa Steve, lelaki menawan yang tampaknya menawarkan sesuatu yang berbeda dari pengalaman kencan sebelumnya.

Hubungan mereka berkembang cepat, hingga Noa menerima imbauan Steve untuk menghabiskan akhir pekan bersama. Namun, keputusan tersebut membawanya pada situasi yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar hubungan romantis yang gagal.

Disutradarai Mimi Cave, “Fresh” menggunakan premis romansa modern untuk membangun kritik terhadap objektifikasi, eksploitasi, dan ketimpangan dominasi dalam hubungan. Film ini sengaja memperkenalkan karakter dan situasinya dengan pendekatan yang terasa ringan sebelum memperlihatkan sisi gelap yang sesungguhnya.

Perubahan tone tersebut menjadi salah satu daya tarik terbesarnya. Daisy Edgar-Jones dan Sebastian Stan membangun dinamika karakter yang menarik, sementara humor gelap dan elemen body horror membikin ceritanya semakin tidak nyaman.

Di balik kekerasannya, “Fresh” juga mengajukan pertanyaan tentang kepercayaan dan sepertiapa seseorang bisa memanfaatkan pesona untuk menyembunyikan niat berbahaya.

Bagi peminat thriller yang menyukai kejutan dan satire sosial, sinema ini menawarkan gabungan yang cukup berani.

The Menu Review

Searchlight Pictures

The Menu (2022)

Genre: Satirical Horror, Dark Comedy | Film

Sebuah restoran eksklusif di pulau terpencil menjanjikan pengalaman kuliner istimewa bagi sekelompok tamu kaya. Dipimpin Chef Julian Slowik yang diperankan Ralph Fiennes, setiap hidangan disajikan dengan konsep artistik dan filosofi yang tampak begitu serius.

Namun, makan malam tersebut perlahan berubah menjadi pengalaman mengerikan ketika para tamu menyadari bahwa mereka bukan sekadar datang untuk menikmati makanan.

“The Menu” merupakan satire yang menggunakan bumi fine dining untuk membicarakan privilese, konsumerisme, obsesi terhadap kesempurnaan, dan hubungan antara pembuat karya dengan mereka yang mengonsumsinya.

Mark Mylod mengemas kritik tersebut melalui komposisi visual yang presisi, kondisi restoran yang steril, dan percakapan yang penuh sindiran. Setiap hidangan memiliki fungsi naratif, sementara perilaku para tamu perlahan memperlihatkan absurditas kelas sosial yang menjadi sasaran kritik sinema ini.

Yang membikin “The Menu” menarik adalah kemampuannya mengubah sesuatu yang tampak mewah dan terkendali menjadi pengalaman penuh ancaman. Kekerasan tidak muncul begitu saja, melainkan menjadi bagiankecil dari komentar sosial yang semakin tajam.

Film ini menjadi pilihan tepat untuk pemirsa yang menyukai horor dengan humor sinis dan ide yang statis bisa diperdebatkan setelah selesai menonton.

The Night House Review

Searchlight Pictures/20th Century Studios

The Night House (2021)

Genre: Supernatural Horror, Psychological Thriller | Film

Setelah kematian suaminya, Beth yang diperankan Rebecca Hall tinggal sendirian di sebuah rumah tepi telaga yang dibangun oleh mendiang pasangannya.

Masa berkabungnya semakin sulit ketika ia mulai mengalami kejadian-kejadian aneh. Penampakan misterius, mimpi buruk, dan beragam instruksi yang ditinggalkan suaminya membikin Beth mempertanyakan seberapa jauh ia benar-benar mengenal orang yang selama ini hidup bersamanya.

“The Night House” merupakan contoh sepertiapa horor supernatural dapat dibangun melalui kesedihan dan ketidakpastian emosional. Sutradara David Bruckner tidak terburu-buru memperlihatkan sumber ancamannya. Sebaliknya, ia memanfaatkan arsitektur rumah, ruang kosong, pantulan, serta permainan cahaya dan deskripsi untuk menciptakan imajinasi visual yang mengganggu.

Rebecca Hall menjadi pusat kekuatan sinema ini. Penampilannya memberikan kedalaman pada karakter yang berupaya memahami kehilangan sekaligus menghadapi kenyataan bahwa masa kemudian suaminya mungkin menyimpan rahasia mengerikan.

Dibandingkan horor yang mengandalkan kekerasan eksplisit, “The Night House” lebih menekankan atmosfer dan rasa tidak betah yang tumbuh perlahan. Film ini juga membicarakan sepertiapa seseorang menghadapi duka ketika balasan yang dicari justru membuka pertanyaan baru.

No One Will Save You

20th Century Studios

No One Will Save You (2023)

Genre: Sci-Fi Horror, Home Invasion | Film

Tidak semua sinema membutuhkan percakapan panjang untuk menyampaikan ketakutan. “No One Will Save You” membuktikannya melalui cerita yang hampir sepenuhnya mengandalkan ekspresi, gerakan, dan rancangan suara.

Film garapan Brian Duffield ini mengikuti Brynn Adams, seorang perempuan muda yang hidup terasing dari kelompok di sekitarnya. Kesendiriannya berubah menjadi mimpi buruk ketika makhluk luar angkasa mulai memasuki rumahnya.

Diperankan Kaitlyn Dever, Brynn mesti mempertahankan diri dari intimidasi yang tidak sepenuhnya ia pahami. Namun, invasi tersebut juga memaksanya salingberhadapan dengan trauma dan rasa bersalah dari masa lalunya.

Pendekatan minim percakapan membikin pengalaman menonton terasa lebih intens. Penonton dipaksa memperhatikan detail visual, fluktuasi suara, dan respons jasmani karakter untuk memahami situasi yang sedang berlangsung.

“No One Will Save You” juga menarik karena menggabungkan home invasion thriller dengan elemen science fiction. Alih-alih menghadirkan invasi alien dalam skala spektakuler, sinema ini mempersempit konfliknya menjadi pengalaman individual yang penuh isolasi.

Hasilnya adalah horor yang menegangkan sekaligus memiliki lapisan emosional tentang kesepian, pengasingan sosial, dan keinginan untuk memperoleh kesempatan kedua.

ready or not review

Ready or Not (2019)

Genre: Survival Horror, Black Comedy | Film

Pernikahan seharusnya menjadi mula hayat baru yang membahagiakan. Namun, bagi Grace yang diperankan Samara Weaving, malam pernikahannya justru berubah menjadi permainan hidup dan mati.

Setelah menikah dengan personel famili Le Domas yang kaya raya, Grace diwajibkan mengikuti tradisi famili berupa sebuah permainan. Situasinya berubah mengerikan ketika ia menyadari bahwa dirinya menjadi sasaran perburuan.

Disutradarai Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett, “Ready or Not” memadukan survival thriller, kekerasan berdarah, dan komedi hitam dengan ritme yang agresif.

Di balik premis permainan mematikan, sinema ini menyimpan sindiran terhadap privilese famili kaya, dominasi yang diwariskan, serta tradisi yang dipertahankan tanpa mempertanyakan akibat moralnya.

Samara Weaving tampil meyakinkan sebagai perempuan yang dipaksa beradaptasi dengan situasi ekstrem. Perubahan Grace dari pengantin yang kebingungan menjadi sosok yang berjuang mempertahankan hidup memberikan daya utama bagi sinema ini.

“Ready or Not” tidak mencoba menjadi horor yang subtil. Kekerasannya eksplosif, humornya sinis, dan ketegangannya terus meningkat. Justru perpaduan inilah yang membikin sinema tersebut sangat menghibur bagi pemirsa yang menyukai survival horror dengan sentuhan satire.

Send Help (2026)

Genre: Survival Thriller, Horror Comedy | Film

Konflik di tempat kerja biasanya selesai pada perselisihan ahli maupun perebutan posisi. Namun, sepertiapa jika dua mitra kerja yang saling tidak menyukai justru mesti bersandar satu sama lain untuk bertetap hidup?

Itulah premis “Send Help”, sinema instruksi Sam Raimi yang mempertemukan Rachel McAdams dan Dylan O’Brien sebagai Linda Liddle dan Bradley Preston.

Setelah mengalami kecelakaan pesawat, keduanya terdampar di sebuah pulau terpencil. Tidak ada lagi struktur perusahaan, jabatan, maupun akomodasi yang bisa melindungi mereka. Situasi tersebut perlahan membalik dinamika dominasi yang sebelumnya terbentuk di lingkungan kerja.

Sebagai sutradara yang dikenal melalui “The Evil Dead” dan “Drag Me to Hell”, Raimi membawa corak penyutradaraan yang menggabungkan kekerasan eksplisit, humor gelap, dan situasi absurd.

“Send Help” menarik karena menggunakan perselisihan instansi sebagai alas thriller survival. Ketegangan tidak cuma datang dari intimidasi lingkungan, tetapi juga dari hubungan kedua karakter yang semakin sulit diprediksi.

Permainan kekuasaan, ego, kebencian, dan insting bertetap hidup berhimpun dalam situasi yang memperlihatkan benar-benar cepatnya hubungan antarmanusia berubah ketika ketentuan sosial tidak lagi berlaku.

Bagi pemirsa yang mencari horor dengan daya lebih liar dan kekerasan yang tidak terlalu serius terhadap dirinya sendiri, “Send Help” menjadi salah satu pilihan menarik dalam daftar ini.

Horor Tidak Selalu Menakutkan dengan Cara yang Sama

Delapan judul tersebut memperlihatkan bahwa daya tarik horor tidak cuma ditentukan oleh seberapa sering sebuah sinema membikin penontonnya terkejut. Ketakutan bisa muncul dari percakapan antara terapis dan pembunuh berantai, hubungan romantis yang berubah menjadi ancaman, maupun sebuah rumah yang menyimpan rahasia orang terdekat.

Ada pula sinema yang sengaja menggunakan kekerasan dan absurditas untuk membicarakan permasalahan sosial. “The Menu” dan “Ready or Not”, misalnya, memperlihatkan sepertiapa horor dapat menjadi medium kritik terhadap privilese dan kekuasaan. Sementara “The Night House” dan “No One Will Save You” lebih tertarik mengeksplorasi pengalaman emosional yang sulit diungkapkan melalui aliran lain.

Karena itu, Halloween tidak mesti selalu menjadi ajang mencari sinema paling menyeramkan. Momen ini juga bisa digunakan untuk menemukan sepertiapa para pembuat sinema mengeksplorasi ketakutan manusia melalui pendekatan yang berbeda.

Kedelapan sinema dan serial pilihan Cultura ini dapat ditemukan dalam koleksi Disney+, dengan beragam pilihan bagi pemirsa yang menyukai thriller psikologis, horor atmosferik, satire gelap, hingga survival berdarah.

Pada akhirnya, mungkin pertanyaan yang lebih menarik bukan sinema mana yang paling menakutkan, melainkan jenis ketakutan seperti apa yang paling sulit kita lupakan setelah layar menjadi gelap.

Artikel Lainnya Review Movie Terbaru
↑
Close Right Ads
Close Left Ads