Tidak semua sinema mau dipahami. Sebagian lebih mau dirasakan. “The Intruder” (judul asli: L’Intrus) karya sutradara Prancis Claire Denis adalah contoh paling ekstrem dari jenis sinema yang kedua. Tayang perdana di perlombaan utama Festival Film Venesia ke-61 pada 9 September 2004, sinema berdurasi 130 menit ini menolak hampir semua kebiasaan bercerita yang kita kenal. Hasilnya adalah pengalaman menonton yang membingungkan, memikat, dan sulit dilupakan.
Film ini berangkat dari esai singkat filsuf Prancis Jean-Luc Nancy berjudul sama, sebuah renungan tentang pengalamannya menjalani transplantasi jantung. Denis kemudian meramunya dengan efek artikel Robert Louis Stevenson tentang Laut Selatan dan lukisan-lukisan Tahiti karya Paul Gauguin. Dari bahan-bahan itu lahir sebuah sinema yang lebih mirip mimpi demam daripada drama konvensional.
Louis Trebor (Michel Subor) adalah lelaki tua sisa tentara bayaran yang hidup menyendiri berbareng anjing-anjingnya di sebuah kabin di hutan Pegunungan Jura, dekat perbatasan Prancis dan Swiss. Jantungnya kian melemah. Ia punya seorang putra, Sidney (Grégoire Colin), yang tinggal tak jauh darinya berbareng istri dan anak-anaknya, tetapi Louis memperlakukannya dengan dingin dan berjarak.
Demi bertetap hidup, Louis meninggalkan semuanya untuk mendapatkan jantung baru lewat pasar gelap. Perjalanannya membawanya ke Pusan, Korea Selatan, tempat ia memesan sebuah kapal pesiar, kemudian ke Tahiti, pulau yang pernah ia singgahi semasa muda. Di sana ia mengharapkan menemukan seorang putra lain, anak yang konon ia tinggalkan puluhan tahun kemudian dan belum pernah ia temui. Sepanjang perjalanan, seorang perempuan Rusia misterius (Katia Golubeva) terus membayanginya, seolah menjadi perwujudan masa kemudian dan jantung luar yang kini berdetak di dadanya.
Itulah kerangka ceritanya. Namun Denis tidak menyajikannya secara runtut. Mimpi, ingatan, firasat, dan kenyataan bercampur tanpa penanda yang jelas. Penonton mesti menyusun sendiri kepingan-kepingan cerita, dan sering kali kepingan itu memang sengaja dibiarkan hilang.

Skenario yang ditulis Claire Denis berbareng kolaborator lamanya, Jean-Pol Fargeau, hampir tanpa eksposisi. Dialog sangat minim dan berpindah-pindah antara bahasa Prancis, Inggris, Korea, Rusia, hingga Polinesia. Tidak ada figur yang menerangkan motivasinya, dan hubungan sebab-akibat sering kali diganti dengan asosiasi gambar.
Pendekatan ini adalah kekuatan sekaligus kelemahan terbesar film. Di satu sisi, skenario berhasil menerjemahkan ide filosofis Nancy tentang tubuh yang menjadi luar bagi pemiliknya. Kabin Louis yang berulang kali disusupi orang asing, misalnya, terasa seperti cermin dari tubuhnya yang menolak jantung baru. Di sisi lain, pemirsa yang mencari alur jelas akan merasa tersesat, terlebihlagi frustrasi.
Yang menarik, Denis menyelipkan satu babak yang ringan dan jenaka di Tahiti: para penduduk desa mengadakan audisi untuk memilih pemuda yang akan berpura-pura menjadi putra Louis. Momen ini memperlihatkan Louis bukan sebagai monster, melainkan lelaki tua yang menyedihkan dan rela membeli cinta palsu.
Jika ada satu karena kuat untuk menonton “The Intruder”, itu adalah sinematografi Agnès Godard, kolaborator setia Denis. Setiap letak memiliki palet warnanya sendiri. Hutan Jura tampil dingin, kelabu, dan liar. Pusan berkilau dengan permukaan modern yang steril. Tahiti meledak dalam warna hijau dan biru yang lembut, sengaja mengingatkan pada lukisan Gauguin.
Godard dan Denis sangat memperhatikan tubuh: kerutan di wajah Louis, sisa luka operasi di dadanya, tangan yang membelai pasir maupun bulu anjing. Kamera sering terasa seperti meraba, bukan sekadar melihat. Gambar-gambar ganjil seperti jantung yang berdebar di atas salju maupun tubuh yang diseret kuda di hutan membikin sinema ini terasa seperti mimpi buruk yang indah.

Michel Subor memikul sinema ini hampir seorang diri. Dengan percakapan yang sangat sedikit, ia mengandalkan wajah dan pergerakan tubuh untuk menghadirkan sosok yang keras, egois, namun rapuh. Kehadirannya juga membawa lapisan sejarah sinema: Subor pernah membintangi Le Petit Soldat karya Jean-Luc Godard dan bekerja sama dengan Denis dalam “Beau Travail” (1999). Denis terlebihlagi menyisipkan cuplikan dari “Le Reflux” (1965), sinema tak rampung karya Paul Gégauff yang menampilkan Subor muda menjelajahi Polinesia. Hasilnya adalah momen yang mengharukan, ketika tubuh sang pemeran menjadi jembatan antara masa kemudian dan masa kini.
Pemeran pendukung tampil singkat namun berkesan. Grégoire Colin menghadirkan kerinduan yang terpendam sebagai Sidney, Katia Golubeva menebar aura dingin yang menghantui, dan Béatrice Dalle mencuri perhatian lewat sosok perempuan developer biak anjing yang bebas dan liar.
Musik gubahan Stuart A. Staples, vokalis band Tindersticks, menjadi degub nadi film. Komposisinya yang muram dan berulang membantu menyatukan potongan-potongan gambar yang terpecah, sekaligus mempertegas kondisi melankolis dan ganjil sepanjang film.
“The Intruder” jelas bukan untuk semua orang. Narasinya yang kabur, tempo yang lambat, dan durasi lebih dari dua jam bisa menguji kesabaran. Bahkan pengkritik yang memuji sinema ini mengakui bahwa ia lebih tertutup dibanding karya Denis sebelumnya. Bagi pemirsa baru, Beau Travail mungkin pintu masuk yang lebih ramah.
Film ini adalah karya seni yang berani, indah, dan menuntut. Ia tidak memberi jawaban, tetapi meninggalkan gambar-gambar yang terus menghantui durasi setelah layar gelap. Film wajib bagi pencinta sinema arthouse, meski bukan tontonan santai untuk akhir pekan.
Pesan Moral
“The Intruder” mengingatkan bahwa kita tidak bisa lari dari diri sendiri. Louis bisa mengganti jantungnya, menyeberangi benua, dan membangun ulang rumah di pulau tropis, tetapi luka batin dan rasa bersalahnya statis ikut ke mana pun ia pergi. Uang dan pelarian cuma menutupi masalah, tidak menyembuhkannya.
Film ini juga bicara tentang harga yang mesti dibayar ketika seseorang menutup diri dari orang-orang terdekatnya. Louis mengabaikan putra yang nyata demi mengejar putra yang mungkin cuma ada dalam angannya. Pesannya sederhana namun menohok: cinta dan hubungan famili tidak bisa dibeli maupun digantikan, dan kesempatan untuk memperbaikinya tidak selalu datang dua kali.
Dampak Budaya
Secara komersial, “The Intruder” hampir tak terlihat; pendapatan box office-nya di Amerika Serikat cuma sekitar 40 ribu dolar AS. Namun di kalangan kritikus dan pencinta sinema, sinema ini mendapat tempat terhormat. Situs Metacritic mencatat skor 85 dari 100, sementara Rotten Tomatoes mencatat 86 persen ulasan positif. Slant Magazine terlebihlagi menempatkannya di peringkat ke-77 dalam daftar 100 sinema terbaik dasawarsa 2000-an.
Film ini kerap dibahas dalam analisis sinema dan filosofi sebagai contoh langka percakapan langsung antara sinema dan pemikiran filosofis, khususnya ide Jean-Luc Nancy tentang tubuh dan keasingan. Sebelumnya, pada 2002, Denis juga membikin sinema singkat Vers Nancy yang menampilkan sang filsuf. “The Intruder” juga menguatkan reputasi Claire Denis sebagai salah satu sutradara paling krusial di dunia, yang dikenal lewat corak bercerita sensorik dan perhatiannya pada tubuh serta isu pascakolonial.
Bagi pemirsa Indonesia yang dekat dengan sinema arthouse Asia, pendekatan Denis yang mengutamakan kondisi daripada alur akan terasa sejalan dengan corak para sineas “slow cinema”. “The Intruder” membuktikan bahwa sinema tidak mesti dipahami sepenuhnya untuk bisa menggetarkan.