15 Film Thriller Korea Underrated yang Layak Masuk Watchlist

Review Movie Terbaru oleh Waktu baca 13 menit 372x dilihat
15 Film Thriller Korea Underrated yang Layak Masuk Watchlist

Bagikan Postingan

“Memories of Murder”, “The Chaser”, “I Saw the Devil”, dan “Forgotten” hampir selalu muncul ketika seseorang mencari anjuran thriller Korea. Reputasi film-film tersebut memang sulit dibantah. Namun, jika daftar anjuran terus mengulang judul yang sama, ada banyak sinema lain yang akhirnya luput dari perhatian.

Sebagian sinema dalam daftar ini pernah berhasil di bioskop Korea Selatan maupun mendapat pengakuan festival, tetapi tidak memperoleh tempat sebesar judul-judul populer dalam percakapan peminat internasional. Sebagian lainnya terlebihlagi hampir tidak dikenal di luar kalangan penikmat sinema Korea. Mereka juga menawarkan pengalaman yang beragam, dari investigasi pelaku kejahatan yang rumit hingga ketakutan yang dimulai dari aktivitas sehari-hari.

Berikut 15 sinema thriller Korea underrated yang layak masuk watchlist, disusun berdasarkan tahun rilis tanpa urutan peringkat kualitas.

1. “Blood Rain” (2005)

Sutradara: Kim Dae-seung | Historical Mystery Thriller

Pulau Donghwado pada abad ke-19 hidup dari industri pembuatan kertas. Ketika kapal pengangkut kertas untuk kerajaan terbakar, seorang penyelidik disebut Won-kyu dikirim untuk mengusutnya. Namun, kedatangannya disusul serangkaian pembunuhan mengerikan yang oleh penduduk setempat dikaitkan dengan kutukan famili penganut Katolik yang pernah dihukum mati.

“Blood Rain” menggabungkan misteri pembunuhan dengan sejarah penganiayaan kepercayaan dan ketidakadilan kelas pada masa Joseon. Penyidiknya mesti menghadapi penduduk yang lebih gampang mempercayai pembalasan arwah daripada kemungkinan bahwa pelaku eksis di antara mereka sendiri. Latar sejarah memberikan karena konkret kenapa begitu banyak orang memilih menyembunyikan kebenaran.

Film ini meraih hampir dua juta pemirsa Korea berdasarkan anotasi Korean Film Council, sehingga jelas bukan kegagalan komersial. Meski demikian, posisinya dalam anjuran thriller Korea modern tidak sebesar pencapaiannya ketika dirilis. Bagi peminat misteri berlatar sejarah dengan kekerasan cukup eksplisit, “Blood Rain” layak ditemukan kembali.

Our Town

2. “Our Town” (2007)

Sutradara: Jeong Gil-yeong | Crime, Serial Killer Thriller

Kyung-ju adalah seorang penulis novel pelaku kejahatan yang kesulitan menyelesaikan hidupnya sendiri. Ketika pertengkaran dengan pemilik rumah berakhir dengan kematian, ia mengatur jasad korban agar menyerupai pembunuhan berantai yang sedang meneror lingkungannya. Tindakan tersebut justru menimbulkan masalah baru: penyelidik mungkin menyadari bahwa pembunuhan terakhir dilakukan oleh orang yang berbeda.

Premis “Our Town” menarik karena pemirsa sejak mula mengetahui salah satu pelakunya. Ketegangan kemudian muncul dari upaya Kyung-ju menemukan pembunuh berantai sesungguhnya, dengan pertolongan kawan detektifnya, sebelum polisi dapat menghubungkan dirinya dengan kematian sang pemilik rumah.

Hubungan antara pelaku kejahatan tiruan, pembunuh asli, dan penyelidik membikin sinema ini punya formasi perselisihan yang lebih rumit daripada perburuan pembunuh biasa. Para karakternya sama-sama berupaya mengetahui sesuatu, tetapi masing-masing memiliki karena berbeda untuk menyembunyikan informasi.

3. “Moby Dick” (2011)

Sutradara: Park In-jae | Political Conspiracy Thriller

Sebuah ledakan terjadi di jembatan dekat Seoul pada 1994. Ketika seorang jurnalis disebut Lee Bang-woo menerima arsip rahasia dari kenalan lamanya, ia mulai mencurigai bahwa peristiwa tersebut tidak seperti yang diberitakan kepada publik. Bersama beberapa rekannya, ia menyelidiki kemungkinan keterlibatan jaringan dominasi yang bergeser di balik peristiwa tersebut.

“Moby Dick” menggunakan alat klasik thriller konspirasi: sumber anonim, arsip rahasia, pertemuan mencurigakan, dan keterangan yang dapat membahayakan siapa pun yang menyimpannya. Namun, intimidasi utama dalam sinema ini bukan sekadar kemungkinan dibunuh karena mengetahui terlalu banyak. Bang-woo juga mesti menentukan keterangan mana yang benar, mana yang sengaja diberikan untuk menyesatkannya, dan siapa yang statis dapat dipercaya.

Film yang dibintangi Hwang Jung-min ini menjadi pilihan menarik bagi pemirsa yang menyukai investigasi jurnalistik seperti “All the President’s Men” maupun “Zodiac”. Ketegangannya lebih banyak dibangun melalui pekerjaan mengumpulkan bukti dan menghadapi orang-orang yang tidak mau fakta diketahui.

The Fives

4. “The Fives” (2013)

Sutradara: Jeong Yeon-shik | Revenge Thriller

Eun-ah kehilangan suami dan putrinya akibat serangan pembunuh yang juga membuatnya mesti menggunakan bangku roda. Bertahun-tahun kemudian, ia menyusun hajat balas dendam dengan merekrut empat orang yang memiliki keahlian berbeda. Sebagai imbalan, ia menawarkan organ tubuhnya kepada mereka yang membutuhkan transplantasi untuk personel keluarganya.

“The Fives” memiliki salah satu konsep pembalasan dendam paling tidak biasa dalam daftar ini. Orang-orang yang direkrut Eun-ah tidak bergabung karena hubungan emosional dengannya. Mereka memiliki kebutuhan mendesak yang membikin tawaran tersebut sulit ditolak, meskipun pekerjaan yang mesti dilakukan sangat berbahaya.

Hubungan transaksional itu membedakan sinema ini dari kisah balas dendam seorang figur yang mendadak bisa menghabisi semua musuhnya. Eun-ah bersandar pada kapasitas orang lain, sementara setiap personel himpunan mempertaruhkan keselamatan demi mendapatkan sesuatu yang sangat pribadi. Hasilnya adalah thriller yang menggabungkan perencanaan pelaku kejahatan dengan keputusan moral yang tidak nyaman.

5. “Office” (2015)

Sutradara: Hong Won-chan | Psychological, Workplace Thriller

Seorang manajer penjualan disebut Kim Byeong-guk membunuh personel keluarganya, kemudian menghilang. Polisi mendatangi kantornya untuk mengetahui apa yang terjadi sebelum pembunuhan tersebut. Di sana, para karyawan menyimpan hubungan yang penuh tekanan, sementara seorang pegawai magang mulai merasakan ketakutan yang semakin sulit dijelaskan.

Hong Won-chan, yang sebelumnya terlibat dalam pengembangan skenario sejumlah thriller Korea, menjadikan instansi sebagai lingkungan yang menyesakkan. Percakapan antarpegawai, hubungan dengan atasan, dan tuntutan pekerjaan membangun ketegangan sebelum sinema bergeser menuju kekerasan yang lebih eksplisit.

“Office” juga memperlihatkan sepertiapa hierarki pekerjaan memengaruhi siapa yang berani berbicara dan siapa yang memilih diam. Ketika sebuah insiden mengerikan menimpa seorang mitra kerja, lingkungan instansi tidak otomatis berubah menjadi tempat yang lebih jujur.

Film ini diputar dalam program Midnight Screenings Cannes 2015. Unsur slasher pada bagiankecil akhirnya mungkin tidak memuaskan semua penonton, tetapi ide menjadikan tekanan ahli sebagai bagiankecil dari atmosfer thriller membikin “Office” layak mendapat perhatian.

Socialphobia

6. “Socialphobia” (2015)

Sutradara: Hong Seok-jae | Crime, Social Thriller

Komentar provokatif seorang perempuan di media sosial memicu amarah sekelompok pelanggan internet. Identitasnya kemudian disebarkan, dan beberapa orang memutuskan mendatangi tempat tinggalnya untuk meminta pertanggungjawaban. Ketika mereka menemukan perempuan tersebut telah meninggal, dua pemuda yang sedang mempersiapkan cobaan kepolisian mulai mempertanyakan penyebab kematiannya.

“Socialphobia” menarik karena para tokohnya sudah memungut keputusan untuk menghukum seseorang sebelum memahami permasalahan secara utuh. Setelah kematian terjadi, keinginan mencari fakta bercampur dengan kebutuhan membenarkan aksi mereka sendiri.

Film ini tidak memperlakukan media sosial cuma sebagai teknologi yang memungkinkan kejahatan. Perilaku penggunanya justru menjadi bagiankecil krusial dari penyelidikan. Identitas yang dibangun di internet, komentar yang terlepas dari konteks, dan keberanian massa ketika bergeser berbareng menciptakan kondisi yang terus memperburuk keadaan.

Dengan kasus doxing dan persekusi digital yang statis sering terjadi, “Socialphobia” statis relevan tanpa perlu mengubah latar ceritanya.

7. “The Truth Beneath” (2016)

Sutradara: Lee Kyoung-mi | Political, Psychological Thriller

Putri seorang kandidat personel parlemen menghilang ketika kampanye sedang berlangsung. Sang bapak menghadapi intimidasi terhadap pekerjaan politiknya, sementara istrinya, Yeon-hong, menuntut pelacakan segera. Perbedaan prioritas tersebut membikin Yeon-hong mesti menyelidiki hayat putrinya sendiri, termasuk hubungan dan aktivitas yang sebelumnya tidak ia ketahui.

Lee Kyoung-mi membangun cerita dari situasi famili yang seharusnya memperoleh perlindungan, tetapi justru terjebak dalam kepentingan politik. Bagi para pengelola kampanye, hilangnya seorang anak dapat menjadi permasalahan pemberitaan dan reputasi. Bagi Yeon-hong, setiap waktu yang terbuang berarti semakin sedikit kesempatan menemukan putrinya.

Penampilan Son Ye-jin sebagai Yeon-hong memberikan tenaga utama sinema ini. Ia memerankan seorang ibu yang terus bergeser dari satu instruksi ke instruksi lain, terlebihlagi ketika orang-orang terdekatnya mulai mempertanyakan tindakannya.

“The Truth Beneath” cuma mencatat sekitar 251 ribu pemirsa di Korea Selatan, meskipun memperoleh perhatian kritis. Dengan pembangunan misteri yang tidak gampang ditebak dan karakter utama yang kuat, sinema ini menjadi salah satu anjuran utama dalam daftar.

8. “Missing” (2016)

Sutradara: Lee Eon-hee | Mystery, Kidnapping Thriller

Ji-sun adalah seorang ibu yang mesti bekerja sekaligus menghadapi perselisihan hak asuh anak. Ketika putrinya menghilang berbareng pengasuh disebut Han-mae, ia tidak segera menghubungi polisi karena cemas kasus tersebut memengaruhi perebutan hak asuh. Pencarian pribadi kemudian membawanya pada kenyataan bahwa identitas Han-mae tidak seperti yang selama ini ia ketahui.

“Missing” menggunakan hilangnya seorang anak untuk membahas hubungan yang timpang antara perempuan dengan kondisi ekonomi dan sosial berbeda. Ji-sun mempercayakan anaknya kepada seseorang yang kehidupannya hampir tidak ia kenal. Sementara itu, keberadaan Han-mae dalam rumah tangga tersebut dibentuk oleh kebutuhan pekerjaan dan ketergantungan majikannya.

Film yang dibintangi Uhm Ji-won dan Gong Hyo-jin ini tidak terburu-buru menjadikan pengasuh sebagai sosok jahat yang gampang dipahami. Perkembangan misterinya membuka permasalahan tentang kerentanan perempuan dan kegagalan orang-orang di sekitarnya memahami situasi yang mereka hadapi.

Meski meraih lebih dari satu juta pemirsa Korea, “Missing” statis layak masuk daftar sebagai thriller yang kurang sering dibicarakan dalam anjuran internasional.

The Beast

9. “The Beast” (2019)

Sutradara: Lee Jeong-ho | Crime, Police Thriller

Han-su dan Min-tae merupakan dua detektif yang saling bersaing dalam penyelidikan pembunuhan seorang gadis. Ketika Han-su menangkap tersangka, Min-tae justru mempertanyakan kesimpulan tersebut. Situasi semakin rumit setelah seorang informan menawarkan keterangan mengenai pelaku sebenarnya dengan hadiah yang berisiko.

“The Beast” menempatkan perselisihan di antara dua polisi yang seharusnya memiliki tujuan serupa. Ambisi menyelesaikan kasus membikin mereka semakin sulit bekerja sama, sementara keputusan untuk menyembunyikan keterangan justru menciptakan masalah yang lebih besar daripada penyelidikan awal.

Lee Sung-min dan Yoo Jae-myung memainkan dua karakter yang sama-sama percaya pada kapasitas mereka, tetapi tidak selalu bersedia mengakui kesalahan. Persaingan tersebut menjadi pusat cerita, terlebihlagi ketika kasus pembunuhan berkembang semakin rumit.

Film ini memungut inspirasi dari thriller pelaku kejahatan Prancis “36 Quai des Orfèvres” (2004). Bagi pemirsa yang menyukai permainan kucing-kucingan antardetektif, “The Beast” menawarkan perselisihan tentang sepertiapa sebuah penyelidikan dapat rusak ketika gengsi dan kompromi moral mulai menguasai keputusan polisi.

10. “Bring Me Home” (2019)

Sutradara: Kim Seung-woo | Missing-Person Thriller

Jung-yeon tidak selesai mencari putranya yang hilang bertahun-tahun sebelumnya. Ketika keterangan baru mengarah ke sebuah kelompok di daerah terpencil, ia mendatangi tempat tersebut dengan harapan menemukan petunjuk. Namun, orang-orang yang ditemuinya tidak menyambut pelacakan itu dengan baik.

“Bring Me Home” membangun ketegangan melalui kegigihan seorang ibu yang salingberhadapan dengan lingkungan yang saling melindungi. Semakin jauh pencariannya berlangsung, semakin jelas bahwa ancaman tidak selalu datang dari satu pelaku. Orang-orang yang mengetahui sesuatu tetapi memilih membisu juga memiliki peran dalam mempertahankan keadaan.

Lee Young-ae balik menjadi pemeran utama sinema panjang setelah “Sympathy for Lady Vengeance” (2005). Jika sinema Park Chan-wook tersebut memperlihatkan karakter yang menyusun pembalasan dendam, Jung-yeon dalam “Bring Me Home” bergeser karena kebutuhan menemukan anaknya.

Film ini tidak menawarkan perjalanan yang ringan. Kekerasan terhadap anak, intimidasi, dan ketidakpedulian penduduk menjadi bagiankecil dari ceritanya. Ketegangan yang paling kuat justru muncul ketika harapan Jung-yeon untuk menemukan putranya berjumpa dengan orang-orang yang mau memastikan ia segera pergi.

The Culprit

11. “The Culprit” (2019)

Sutradara: Koh Jung-wook | Crime, Mystery Thriller

Young-hoon kehilangan istrinya akibat pembunuhan di rumah mereka. Sahabatnya kemudian menjadi tersangka utama, meskipun Young-hoon kesulitan mempercayai bahwa orang yang begitu dekat dengannya sanggup berbuat kejahatan tersebut. Istri sang sahabat memohon agar Young-hoon memberikan kesaksian yang dapat membantu suaminya.

“The Culprit” membangun misteri dari hubungan individual yang perlahan kehilangan kepercayaan. Setiap keterangan baru berpotensi mengubah pandangan terhadap orang yang sebelumnya dianggap tidak mungkin bersalah. Bukan kebetulan jika persahabatan dan hubungan perkawinan menjadi bagiankecil krusial dari konflik: kedekatan membikin seseorang merasa mengenal orang lain, tetapi juga dapat mengaburkan penilaiannya.

Film ini memenangkan Audience Award dalam perlombaan fitur Bucheon International Fantastic Film Festival 2019. Meski demikian, jumlah pemirsa domestiknya cuma sekitar 168 ribu. Perpaduan kesaksian, kecurigaan, dan hubungan yang terus memburuk membikin “The Culprit” cocok bagi peminat misteri pembunuhan yang lebih mengandalkan perselisihan karakter daripada aksi.

12. “Idol” (2019)

Sutradara: Lee Su-jin | Political, Psychological Thriller

Karier politik Myung-hui terancam setelah putranya terlibat dalam kecelakaan yang menewaskan Bu-nam, putra seorang lelaki disebut Joong-sik. Myung-hui mendorong putranya untuk mengakui insiden tersebut, tetapi permasalahan menjadi lebih rumit ketika seorang perempuan yang menyaksikan peristiwa itu menghilang. Kedua famili kemudian berupaya menemukannya dengan kepentingan yang sangat berbeda.

“Idol” menempatkan famili korban dan famili pihak yang berkewajiban dalam perselisihan yang tidak gampang diselesaikan. Seorang bapak berupaya memahami kematian anaknya, sementara pihak lain mesti menghadapi kemungkinan bahwa sebuah kecelakaan akan menghancurkan hayat dan pekerjaan yang telah dibangun.

Lee Su-jin, sutradara “Han Gong-ju” (2013), mengembangkan thriller ini melalui karakter-karakter yang terus membikin keputusan di bawah tekanan. Bahkan aksi yang pada awalnya tampak benar dapat menghasilkan akibat mengerikan ketika dilakukan untuk tujuan yang berbeda.

Dengan durasi 143 menit, “Idol” lebih menuntut kesabaran dibanding thriller pelaku kejahatan beralur cepat. Namun, bagi pemirsa yang menyukai cerita penuh kecurigaan dan tokoh-tokoh berakhlak rumit, sinema ini memiliki daya tarik yang kuat.

The 12th Suspect 2019

13. “The 12th Suspect” (2019)

Sutradara: Ko Myoung-sung | Historical, Political Mystery

Pada musim gugur 1953, tidak durasi setelah Perang Korea, seorang penyelidik dari kesatuan kontraintelijen militer mendatangi kedai kopi di area Myeongdong, Seoul. Ia sedang menyelidiki pembunuhan seorang penyair yang sering mengunjungi tempat tersebut. Para budayawan dan pengunjung kedai kopi kemudian menjadi sasaran pertanyaan yang semakin tajam.

“The 12th Suspect” menggunakan letak terbendung untuk menciptakan kondisi yang terus memburuk. Orang-orang yang semula berkumpul untuk berbincang mulai mempertanyakan hubungan satu sama lain. Ketika penyelidik memiliki kuasa untuk menentukan siapa yang dicurigai, setiap balasan dapat memperbesar konsekuensi bagi orang yang mengucapkannya.

Latar tahun 1953 memiliki peran penting. Situasi setelah perang dan keberadaan petugas kontraintelijen membikin penyelidikan pembunuhan tidak dapat dipisahkan dari kondisi politik saat itu. Film ini memperlihatkan sepertiapa rasa takut dapat mengubah hubungan antarmanusia terlebihlagi sebelum fakta kasus terungkap.

Korean Film Council mencatat cuma 5.465 pemirsa domestik untuk “The 12th Suspect”. Dibanding sinema lain dalam daftar ini, ia termasuk yang paling sulit memperoleh perhatian pemirsa secara luas. Pendekatan misteri yang bertumpu pada percakapan dan kecurigaan menjadikannya pilihan bagi mereka yang menyukai thriller berlatar sejarah.

14. “The Anchor” (2022)

Sutradara: Jung Ji-yeon | Psychological, Mystery Thriller

Se-ra adalah pembaca berita televisi yang sedang membangun pekerjaan ketika menerima telepon dari seorang perempuan yang mengaku akan dibunuh. Panggilan itu semula dianggap sebagai gangguan, tetapi insiden berikutnya membawa Se-ra ke sebuah kasus kematian yang mulai mengganggu hayat pribadinya.

“The Anchor” menggunakan bumi pemberitaan televisi untuk membangun perselisihan antara deskripsi publik dan keadaan kejiwaan seseorang. Se-ra dituntut tampil tenang dan meyakinkan di depan kamera, sementara pengalaman di luar studio membuatnya semakin sulit mempertahankan kendali atas dirinya.

Cheon Woo-hee memerankan karakter yang menghadapi tekanan karier, hubungan keluarga, dan ketakutan terhadap sesuatu yang belum sepenuhnya ia pahami. Perjalanan Se-ra juga membawa sinema menuju daerah horor psikologis, dengan permainan antara persepsi, ingatan, dan kenyataan.

Ada bagiankecil misteri yang mungkin dapat diperkirakan oleh pemirsa berpengalaman. Meski demikian, perpaduan lingkungan media dan kerentanan kejiwaan memberi “The Anchor” identitas yang berbeda dari thriller investigasi pelaku kejahatan biasa.

Don't Buy the Seller

15. “Don’t Buy the Seller” (2023)

Sutradara: Park Hee-gon | Cybercrime, Stalking Thriller

Soo-hyun membeli mesin cuci sisa melalui aplikasi dagang daring setelah pindah rumah. Ketika barang tersebut rupanya rusak, ia meninggalkan komentar yang memperingatkan pembeli lain dan melaporkan penjualnya kepada polisi. Perselisihan transaksi itu kemudian berkembang menjadi teror: panggilan telepon tidak senonoh, kiriman barang yang tidak dipesan, hingga kedatangan orang-orang luar ke rumahnya.

“Don’t Buy the Seller” memungut ketakutan yang sangat dekat dengan hayat sehari-hari. Informasi pribadi yang diberikan untuk menyelesaikan transaksi dapat menjadi alat untuk menakut-nakuti seseorang. Pelaku juga memanfaatkan kemudahan membikin identitas daring dan menghubungi orang lain tanpa mesti berjumpa secara langsung.

Shin Hye-sun memerankan Soo-hyun sebagai perempuan yang berupaya mempertahankan hayat normal ketika ruang pribadinya terus diganggu. Ancaman dalam sinema ini berkembang dari masalah digital menjadi ancaman fisik, memperlihatkan bahwa aksi pelaku kejahatan melalui internet dapat memiliki akibat yang sangat nyata.

Premisnya sederhana, terlebihlagi gampang dibayangkan terjadi di lingkungan sekitar. Itulah kekuatan utama “Don’t Buy the Seller”: sebuah transaksi barang sisa yang seharusnya berakhir dengan keluhan pelanggan berubah menjadi permasalahan keselamatan.

Dari misteri sejarah “Blood Rain” hingga intimidasi transaksi daring dalam “Don’t Buy the Seller”, kelima belas sinema ini memperlihatkan luasnya pendekatan thriller Korea. Beberapa mengandalkan teka-teki pembunuhan, sementara yang lain menggunakan tekanan pekerjaan, hubungan keluarga, maupun dominasi politik untuk membangun ketegangan. Tidak semuanya sempurna, tetapi masing-masing menawarkan karena yang cukup kuat untuk keluar dari daftar anjuran yang itu-itu saja.

Artikel Lainnya Review Movie Terbaru
↑
Close Right Ads
Close Left Ads