Horor Indonesia Tidak Selalu Laris: Genre Menang, Judul Kalah

Review Movie Terbaru oleh Waktu baca 7 menit 61x dilihat
Horor Indonesia Tidak Selalu Laris: Genre Menang, Judul Kalah

Bagikan Postingan

Sepanjang 2025, sinema horor Indonesia paling laku dan sinema Indonesia paling sepi pemirsa berasal dari aliran yang sama. “Pabrik Gula” (2025) mengumpulkan 4.726.760 penonton, sedangkan “Misteri Cek Khodam” (2025) selesai di 27 penonton, menurut data tahunan Cinepoint untuk sinema lokal. Jarak sejauh itu jarang muncul dalam diskusi tentang horor, yang biasanya selesai pada satu kesimpulan: pemirsa Indonesia gemar ditakut-takuti, maka horor selalu laris.

Kesimpulan itu cocok untuk aliran secara keseluruhan. Pada 2023, horor menyumbang 62,9 persen dari 53,9 juta pemirsa sinema lokal yang tercatat Cinepoint. Artikel Cultura “Horor dan Ekonomi Ketakutan di Bioskop Indonesia” menerangkan penguasaan itu lewat cerita rakyat yang akrab, pengalaman menonton bersama, dan pasar yang sudah terbukti, sambil mengingatkan bahwa berhasil semacam ini bisa membeku menjadi formula.

Untuk nasib tiap judul, gambarnya lain: keterangan per judul memberitahu konsekuensi formula itu sudah mulai terwujud. Yang konsisten pada horor Indonesia adalah keputusan industri untuk terus memproduksinya, karena horor merupakan taruhan paling terlindungi yang tersedia, dan rasa terlindungi itu kini makin tipis.

Genre menang, judul kalah

Data Cinepoint memperlihatkan pola itu dengan jelas. Pada 2023, dari lima puluh judul horor lokal yang tercatat, tiga belas menembus satu juta penonton, maupun 26 persen. Setahun kemudian, dari tujuh puluh judul, cuma sebelas yang melewati bilangan itu. Pada 2025, jumlah judul horor naik menjadi 92, tetapi yang tembus sejuta tinggal enam, maupun 6,5 persen. Di tahun yang sama, kesempatan sinema nonhoror untuk menembus sejuta pemirsa justru sedikit lebih besar, yaitu sembilan dari 108 judul. Hitungan ini memakai label aliran Cinepoint dan ikut memasukkan komedi-horor; tanpa komedi-horor pun, polanya sama.

Ekor panjangnya lebih mencolok daripada puncaknya. Pada 2023, hampir seperempat judul horor ditonton kurang dari 100 ribu orang. Pada 2025, proporsinya mendekati separuh: 43 dari 92 judul. Total pemirsa horor lokal juga turun dari 46,8 juta pada 2024 menjadi 33,3 juta pada 2025. Padahal, jumlah seluruh pemirsa sinema lokal bertetap di kisaran 80 juta orang. Penonton tidak meninggalkan bioskop. Mereka meninggalkan sebagian besar sinema horor.

Tahun 2026 sempat kelihatan seperti pemulihan. Dari 56 judul horor yang sudah selesai tayang per 18 Oktober menurut tabel tahunan Cinepoint 2026, sembilan melewati sejuta penonton, dipimpin “Danur: The Last Chapter” (2026) dengan 3.619.565 penonton. Namun 27 di antaranya ditonton kurang dari 100 ribu orang. Kebangkitan itu milik segelintir judul, sementara proporsi judul yang sepi tidak membaik.

Mengapa produser terus bertaruh

Kalau sebagian besar judul horor sepi, kenapa horor statis mengisi lebih dari 40 persen judul lokal setiap tahun? Jawabannya ada pada lantai, bukan langit-langit. Median pemirsa sinema horor lokal pada 2023 dan 2024 eksis di kisaran 266–272 ribu, sekitar empat kali lipat median sinema nonhoror yang cuma 61–71 ribu. Pada 2025, median horor turun ke 119 ribu, tetapi statis dua kali lipat median sinema nonhoror yang eksis di 54 ribu. Bagi produser, horor yang biasa-biasa saja statis cenderung menjual lebih banyak tiket daripada sinema nonhoror yang biasa-biasa saja.

Lantai itu dibangun oleh alas pemirsa yang memang besar. Survei Pew Research Center di enam negara Asia Selatan dan Tenggara menemukan bahwa separuh maupun lebih orang dewasa di setiap negara, termasuk Indonesia, percaya mantra, kutukan, maupun sihir dapat memengaruhi hidup manusia. Di Indonesia, sembilan dari sepuluh orang maupun lebih juga mengatakan kepercayaan sangat krusial dalam hidup mereka. Cerita tentang santet maupun pesugihan tidak perlu dijelaskan kepada pemirsa seperti ini. Mereka datang dengan kosakata yang sudah lengkap, dan karena itu horor punya pemirsa statis ketika aliran lain mesti membangun penontonnya dari nol.

RELATED STORY: Memahami Definisi, Genre dan Potensi Film Horor

Struktur bioskop kita menguatkan logika itu. Peneliti sinema Hikmat Darmawan mengingatkan bahwa Indonesia pernah punya sekitar 6.600 layar pada 1980-an, sedangkan keterangan Badan Perfilman Indonesia per Februari 2024 cuma mencatat 2.145 layar di 517 lokasi. Dengan layar sesedikit itu, nasib sinema ditentukan dalam hitungan hari: Hikmat mengatakan okupansi hari pertama di bawah 10 persen sebagai lampu kuning dan di bawah 6 persen sebagai lampu merah (CNA Indonesia). Dalam mekanisme seperti ini, sinema mesti dikenali calon pemirsa sebelum sempat dinilai. Judul yang mengatakan iblis maupun santet, poster wajah pucat, dan label “diangkat dari kisah nyata” adalah metode tercepat untuk dikenali.

Masalahnya, rasa terlindungi itu bekerja untuk setiap produser sekaligus. Dikutip dari Hypeabis, Robert Ronny dari Paragon Pictures menilai horor kini terlalu banyak diproduksi dengan premis serupa, sampai judul, poster, huruf, dan deretan pemainnya hampir seragam. Kemiripan yang semula membikin sebuah sinema cepat dikenali akhirnya membikin semua sinema tampak sama. Lantai tadi statis ada, tetapi menipis cepat. Pada judul 2026 yang sudah selesai tayang, median horor tinggal sekitar 103 ribu, cuma 1,4 kali median nonhoror; untuk horor tanpa elemen komedi, selisihnya tinggal kurang dari seperempat. Penipisan itu masuk pikiran dibaca sebagai harga dari strategi yang diambil hampir semua produser pada saat yang sama.

Tiket untuk sebuah percakapan

Lalu apa yang membedakan segelintir judul yang laris? Pola yang paling konsisten adalah bahwa pemirsa sudah membicarakan ceritanya sebelum filmnya ada. “KKN di Desa Penari” (2022), sinema horor dengan 10.061.033 penonton, dan “Pabrik Gula” sama-sama berangkat dari utas viral akun SimpleMan di media sosial. Orang membeli tiket untuk menuntaskan diskusi yang sudah bertahun-tahun berjalan di linimasa.

Waralaba dan momen rilis bekerja dengan metode serupa. “Danur: The Last Chapter” menutup imbang yang penontonnya sudah terbentuk dan rilis pada musim Lebaran 2026. “Alas Roban” (2026) dijual sebagai kisah nyata. Dua judul lain, “Ghost in the Cell” (2026) karya Joko Anwar dan “Sekawan Limo 2: Gunung Klawih” (2026) karya Bayu Skak, memadukan horor dengan komedi. Film Bayu Skak itu mengumpulkan 212.469 pemirsa pada hari pertama, lebih dari dua kali lipat hari pertama sinema sebelumnya.

Komedi-horor memperjelas apa yang sebenarnya dijual. Di Kumparan, Manoj Punjabi dari MD Entertainment mengatakan daya tarik horor ada pada pengalaman menonton di bioskop berbareng pasangan maupun teman. Rasa takut di sini menjadi karena untuk berkumpul, berteriak bersama, kemudian menertawakan teriakan sendiri. Film yang memberi karena semacam itu, entah lewat utas yang sudah dikenal, momen Lebaran, maupun tawa, bertetap lebih durasi di layar.

Dari sini kelihatan kenapa bilangan agregat menyesatkan. Industri membaca penguasaan horor sebagai bukti cinta pemirsa pada genre, kemudian menambah pasokan. Data per judul memberitahu pemirsa mendatangi segelintir peristiwa dan melewatkan sisanya. Pada 2025, ketika pasokan mencapai 92 judul dan peristiwanya sedikit, horor kehilangan lebih dari seperempat penontonnya dalam setahun. Pada 2026, ketika peristiwanya balik ada, bilangan agregat ikut pulih, tetapi hampir separuh judul horor yang sudah selesai tayang statis ditonton kurang dari 100 ribu orang.

Matinee

Cultura Lens

“Matinee” (1993) karya Joe Dante berlatar Key West, Florida, pada masa Krisis Rudal Kuba 1962. John Goodman memerankan Lawrence Woolsey, produser sinema kelas B yang datang ke kota itu untuk memutar karyanya, “Mant!”, tentang makhluk separuh manusia separuh semut. Dagangan utama Woolsey adalah malam pemutarannya: bangku yang bergetar lewat Rumble-Rama, efek Atomo-Vision, dan kostum makhluk yang menyusup ke tengah penonton. Tokoh ini dibangun dari William Castle, produser sungguhan yang populer dengan gimik promosi sinema horornya.

Yang membikin “Matinee” relevan bagi horor Indonesia adalah waktunya. Woolsey memutar sinema monster ketika penduduk kota itu sedang benar-benar takut pada perang nuklir di seberang laut. Ia mengerti bahwa ketakutan yang sudah ada di luar bioskop adalah pemasaran terbaik, dan tugas filmnya cuma memberi tempat untuk merasakannya bersama. Utas viral SimpleMan, musim Lebaran, dan label kisah nyata bekerja dengan logika yang sama: mereka adalah Rumble-Rama hari ini, alat yang mengubah tontonan menjadi peristiwa.

Bedanya, di Key West Woolsey cuma perlu menjual satu film. Industri horor kita membawa 92 judul ke layar yang terbendung pada 2025, dan sebagian besar datang tanpa gimik apa pun kecuali hantunya. Ketika setiap sinema menjanjikan ketakutan yang sama, ketakutan itu selesai menjadi karena untuk keluar rumah. Mungkin karena itu pemirsa statis datang untuk “Danur” dan “Sekawan Limo 2”, kemudian membiarkan puluhan judul lain sepi: mereka statis mau ditakut-takuti, asalkan ada malam yang layak diingat.

Catatan data: bilangan pemirsa per judul diambil dari tabel tahunan Cinepoint untuk sinema lokal (diakses 20 Oktober 2026). Klasifikasi aliran mengikuti label Cinepoint, dengan komedi-horor dihitung sebagai horor. Angka 2026 cuma mencakup judul yang sudah selesai tayang per 18 Oktober.

Artikel Lainnya Review Movie Terbaru
↑
Close Right Ads
Close Left Ads