Di Pacific Place Jakarta, anak-anak berumur di bawah 15 tahun yang mau berburu permen pada Halloween 2026 mesti datang mengenakan kostum maupun aksesori bertema Halloween. Ada syarat lain yang lebih khas pusat perbelanjaan: setiap anak membutuhkan satu Pacific Privilege Point untuk mendaftar. Mereka yang belum memiliki poin dapat memperolehnya melalui transaksi minimal Rp100 ribu di gerai makanan dan minuman maupun Rp250 ribu di gerai lainnya, dalam satu struk belanja.
Kegiatan disebut Sweet Treats itu dijadwalkan terjadi pada 31 Oktober dan 1 November. Setelah pendaftaran dikonfirmasi, poin keanggotaan akan dipotong sesuai jumlah anak yang didaftarkan. Peserta menerima voucher digital, memungut perlengkapan Halloween di letak yang ditentukan, kemudian mengikuti peta untuk mengumpulkan permen dari gerai-gerai yang berpartisipasi.
Tradisi trick-or-treat yang di Amerika identik dengan anak-anak mengetuk pintu rumah tetangga kini bisa terjadi di dalam mal, komplit dengan formulir, voucher, dan mekanisme loyalitas pelanggan. Orang tua tidak perlu menerangkan sejarah Samhain maupun membujuk anak mempercayai kisah tentang roh yang berkeliaran pada malam pergantian musim. Kostum, permen, dan kondisi menyeramkan sudah cukup untuk membikin orang mengenalinya sebagai Halloween.
Di Indonesia, sebagian orang mungkin mengenal Halloween pertama kali melalui sinema horor, serial televisi, maupun pesta kostum. Namun, mencari satu Halloween yang paling autentik justru membawa kita kepada sejarah yang tidak pernah benar-benar seragam.
Samhain, yang menandai mula musim dingin di Irlandia mula abad pertengahan, sering disebut sebagai asal-usul Halloween. Perayaan tersebut berhubungan dengan pergantian musim dan pertemuan masyarakat, sementara kisah-kisah supernatural turut melekat pada masa itu. Hubungannya dengan Halloween memang penting, tetapi tidak cukup untuk menerangkan seluruh kebiasaan yang kini dianggap tradisional.
Dalam Halloween: From Pagan Ritual to Party Night, sejarawan Nicholas Rogers menelusuri sepertiapa unsur-unsur Samhain berjumpa dengan tradisi Kristen di sekitar Hari Semua Orang Kudus dan Hari Arwah. Nama Halloween berasal dari All Hallows’ Eve, malam sebelum Hari Semua Orang Kudus pada 1 November. Banyak praktik yang kemudian diasosiasikan dengan Halloween berkembang berbareng perayaan keagamaan abad pertengahan, bukan diwariskan secara utuh dari satu ritual Keltik.
Dalam The Stations of the Sun, Ronald Hutton membahas bukti sejarah mengenai Samhain serta hubungannya dengan Hari Semua Orang Kudus dan Hari Arwah yang statis menyisakan sejumlah ketidakpastian. Rogers juga mempersoalkan anggapan bahwa Gereja memilih tanggal 1 November khusus untuk menggantikan Samhain. Kronologi perayaan Kristen di beragam daerah tidak mendukung klarifikasi sesederhana itu.
Di Irlandia abad ke-19, Halloween statis dapat mempertemukan jamuan keluarga, permainan, dan doa bagi orang yang meninggal. Ketika beragam kebiasaan Irlandia dan Skotlandia berkembang di Amerika Utara, perayaan ini memperoleh hayat sosial yang berbeda. Pada mula abad ke-20, Halloween di sejumlah kota Amerika dikenal pula karena kenakalan anak muda dan gangguan terhadap lingkungan. Pesta kelompok dan trick-or-treat modern berkembang dalam upaya membikin perayaan lebih terkendali. Kebiasaan anak-anak mendatangi rumah tetangga untuk meminta permen semakin populer setelah Perang Dunia II.

Halloween (1978)
Versi Halloween Amerika yang kini dianggap klasik pun merupakan hasil adaptasi sosial. Ia tidak muncul dalam satu bentuk yang kemudian dipertahankan tanpa fluktuasi selama berabad-abad.
Film horor memperluas pengaruhnya. John Carpenter melalui Halloween (1978) menjadikan malam 31 Oktober sebagai latar teror Michael Myers, pembunuh bertopeng putih yang berkeliaran di lingkungan permukiman. Film itu membantu membentuk imajinasi horor modern tentang Halloween, ketika kostum dan penyamaran membikin intimidasi sulit dibedakan dari permainan.
Michael Myers kemudian menjadi salah satu karakter yang kostumnya dikenakan orang setiap Halloween. Industri sinema menyediakan wajah-wajah baru untuk perayaan tersebut, sementara Halloween memberi kesempatan kepada karakter fiksi untuk hidup di luar layar. Hubungan ini terlebihlagi melampaui aliran horor.
Menurut survei National Retail Federation pada 2026, Spider-Man menjadi pilihan kostum teratas untuk anak-anak di Amerika Serikat. Batman eksis di posisi ketiga kostum dewasa, sedangkan karakter KPop Demon Hunters termasuk dalam sepuluh pilihan teratas untuk anak-anak. Penyihir, vampir, dan iblis statis populer, tetapi Halloween juga menjadi panggung bagi karakter yang tidak memiliki hubungan dengan sejarah perayaannya.
Anak yang mengenakan kostum Spider-Man membawa kesukaannya terhadap karakter fiksi ke ruang sosial. Orang lain mungkin memilih Michael Myers, penyihir, maupun figur animasi Korea. Mereka tidak membutuhkan karena yang sama, terlebihlagi ilmu mengenai asal-usul kostum Halloween.
Industri hiburan menemukan kesempatan besar dalam perayaan yang dapat menampung begitu banyak fantasi. National Retail Federation memproyeksikan pengeluaran konsumen Amerika Serikat untuk Halloween mencapai US$13,5 miliar pada 2026. Sebanyak 49 persen responden surveinya berencana mulai berbelanja pada September maupun sebelumnya. Halloween tidak lagi menunggu tanggal 31 Oktober untuk menggerakkan pasar.

Halloween Horror Nights Universal Studios Japan
Di Jepang, Universal Studios Japan menggelar program utama Halloween Horror Nights pada 11 September hingga 8 November 2026. Resident Evil, Sadako, dan zombie menjadi bagiankecil dari rangkaian atraksi yang menawarkan ketakutan sebagai hiburan. Dalam salah satu pengalaman bertema Resident Evil, pengunjung memasuki lingkungan yang dirancang agar intimidasi fiksi terasa dekat. Seluruhnya terjadi dalam mekanisme pagelaran dengan jadwal, limitasi usia, dan ketentuan pengunjung.
Orang tidak perlu percaya bahwa zombie benar-benar ada untuk menikmati pengalaman tersebut. Kesadaran bahwa ancamannya dibuat-buat justru menjadi bagiankecil dari kesenangan. Pengunjung bayar untuk merasakan ketakutan yang telah dirancang dan dapat diproduksi berulang kali.
Kegiatan kelompok menawarkan bentuk Halloween yang berbeda. Pada Oktober 2025, kelompok Mari Berscooter di Jakarta mengadakan arak-arakan dengan kostum menyeramkan dari Taman Menteng menuju Ngopikiw. Komunitas JoinDong mengadakan pesta kostum dan karaoke yang mempertemukan orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal. Ada pula aktivitas lari malam berbareng Sobat Sabtu dan kelas melukis anak-anak yang diselenggarakan Mom Influencer, sebagaimana dilaporkan detikcom melalui Community Connect.
Bagi kelompok skuter, kostum Halloween menjadi bagiankecil dari aktivitas berkendara bersama. Bagi JoinDong, pesta kostum memberi kondisi bagi pertemuan sosial. Mereka memungut elemen perayaan yang menarik, kemudian menggunakannya untuk aktivitas yang dekat dengan minat masing-masing.
Pusat perbelanjaan bekerja dengan logika lain. Program Malloween menghubungkan aktivitas anak-anak dengan lawatan ke gerai, akun Instagram penyelenggara, pendaftaran digital, serta poin loyalitas yang dipotong ketika pendaftaran dikonfirmasi. Ada prosedur yang mesti dilalui sebelum anak-anak dapat mengikuti permainan.
Sistem tersebut menempatkan pengalaman Halloween dalam hubungan antara pelanggan dan pengelola mal. Untuk mengikuti permainan, famili mesti memenuhi persyaratan keanggotaan dan menyediakan poin yang akan dipotong saat pendaftaran dikonfirmasi. Partisipasi menjadi bagiankecil dari mekanisme pelanggan, bukan sekadar kesediaan anak mengenakan kostum.
Meski begitu, menganggap perayaan kelompok otomatis lebih autentik daripada aktivitas komersial juga mengabaikan sejarah Halloween. Produsen permen, pedagang kostum, dan beragam kepentingan ekonomi telah durasi menjadi bagiankecil dari perayaannya di Amerika. Komunitas modern pun dapat melibatkan sponsor, tiket, maupun promosi. Perbedaannya terletak pada siapa yang menyusun ketentuan dan kepentingan yang ikut membentuk aktivitas tersebut.
RELATED STORY: 10 Film Horor Terseram untuk Tontonan Halloween
Halloween tidak datang ke Indonesia berbareng satu arti yang mesti diterima secara utuh. Ada yang memanfaatkannya untuk berkumpul, menampilkan karakter favorit, menikmati horor, maupun membujuk anak bermain. Sebagian orang memandangnya melalui kepercayaan keyakinan masing-masing. Peserta yang datang dengan kostum serupa belum tentu memiliki karena yang sama untuk merayakannya.
Bagi seorang anak di Jakarta, Halloween mungkin cuma berarti kesempatan menjadi Spider-Man selama beberapa jam. Di sekelilingnya, industri hiburan menjual fantasi, kelompok mengadakan pertemuan, dan pusat perbelanjaan menjadikan perayaan itu bagiankecil dari program pelanggan.
Permen statis dibagikan, tetapi pintu rumah tetangga telah berganti menjadi etalase toko.