The Landscape Is Changing: Ketika Hutan Terbakar dan Manusia Terus Menyebutnya Kemajuan

Review Movie Terbaru oleh Waktu baca 7 menit 503x dilihat
The Landscape Is Changing: Ketika Hutan Terbakar dan Manusia Terus Menyebutnya Kemajuan

Bagikan Postingan

Kita hidup di era ketika manusia bisa mengirim wahana ke planet lain, mengembangkan kecerdasan buatan, dan membangun kota-kota yang semakin canggih. Namun, untuk urusan menjaga hutan agar tidak terus terbakar, tampaknya peradaban statis membutuhkan lebih banyak waktu. Atau mungkin lebih banyak alasan.

Pada Oktober 2026, kebakaran hutan dan tanah balik menjadi perhatian di Kalimantan. Kementerian Kehutanan mencatat sebanyak 569 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi di Kalimantan Tengah pada 5 Oktober, meningkat dari 116 titik sehari sebelumnya. Angka tersebut bukan jumlah kebakaran yang terkonfirmasi, melainkan gejala anomali suhu permukaan yang membutuhkan pengecekan lapangan. Meski demikian, peningkatannya memperlihatkan benar-benar cepat intimidasi kebakaran dapat berkembang.

Kondisi ini menghadirkan ironi yang terlalu akrab. Kita memiliki satelit untuk memantau titik panas, teknologi untuk memprediksi cuaca, serta beragam instrumen untuk memahami kerusakan lingkungan. Namun, kapasitas mendeteksi bencana tidak otomatis berarti kita telah berhasil mencegahnya.

Empat dasawarsa sebelum permasalahan ini balik memenuhi pemberitaan, sebuah band elektronik asal Inggris telah menyuarakan kegelisahan serupa melalui musik.

Ketika Depeche Mode Mendengar Alam yang Sedang Berubah

Pada 22 Agustus 1983, Depeche Mode merilis album ketiganya, “Construction Time Again”. Di tengah karakter musik elektronik yang semakin industrial, album tersebut memperlihatkan perhatian yang lebih besar terhadap permasalahan sosial, ekonomi, dan hubungan manusia dengan bumi yang sedang dibangunnya.

Salah satu lagunya, “The Landscape Is Changing”, ditulis oleh Alan Wilder. Berbeda dengan banyak lagu pop yang menggunakan lingkungan sebagai metafora romantis, karya ini justru menempatkan kerusakan lingkungan sebagai permasalahan utamanya.

Wilder pernah menerangkan bahwa ide lagu tersebut muncul setelah ia menyaksikan sebuah dokumenter televisi tentang hujan asam. Fenomena yang menjadi perhatian besar pada era industrialisasi itu memberitahu sepertiapa polusi dapat bergeser melampaui sumbernya, mencemari air dan tanah, serta merusak ekosistem yang eksis jauh dari pusat aktivitas industri.

Melalui deskripsi hutan yang sekarat, mengerti air yang tercemar, serta bentang lingkungan yang kehilangan keseimbangannya, lagu ini mengubah sesuatu yang sering diperlakukan sebagai permasalahan teknis menjadi pengalaman emosional. Alam tidak digambarkan sebagai latar belakang pasif bagi aktivitas manusia, melainkan sebagai sesuatu yang sedang mengalami penderitaan akibat keputusan-keputusan manusia sendiri.

Namun, kritik “The Landscape Is Changing” tidak selesai pada pencemaran. Ada kegelisahan yang lebih mendasar mengenai kecenderungan manusia memperlakukan lingkungan seolah seluruh keberadaannya dapat diatur ulang untuk memenuhi ambisi peradaban. Pembangunan dipahami sebagai sesuatu yang mesti terus bergeser maju, sementara kerusakan yang menyertainya kerap ditempatkan sebagai akibat yang bisa dibicarakan belakangan.

Lagu tersebut juga menyentil sikap manusia yang merasa cukup dengan gestur kepedulian. Kesadaran terhadap kerusakan lingkungan memang penting, tetapi menjadi kontradiktif ketika tidak diikuti fluktuasi yang nyata. Sebuah ide yang terasa sangat relevan pada masa ketika kepedulian lingkungan juga dapat dikemas menjadi strategi pemasaran, kampanye korporasi, dan laporan keberlanjutan yang dirancang dengan sangat meyakinkan.

Empat puluh tiga tahun kemudian, “The Landscape Is Changing” bukan sekadar lagu durasi yang terdengar relevan. Ia menjadi pengingat tentang benar-benar sedikitnya kemajuan yang berarti jika manusia terus mengulangi pola kerusakan yang sama.

Harrison Ford dan Pertanyaan tentang Hutan Indonesia

Jika Depeche Mode menyampaikan kritiknya melalui musik pada 1983, tiga dasawarsa kemudian Harrison Ford mempertanyakan permasalahan serupa secara langsung di Indonesia.

Dalam serial dokumenter “Years of Living Dangerously” (2014), Ford mengunjungi Indonesia untuk menelusuri hubungan antara deforestasi, industri, dan fluktuasi iklim. Salah satu letak yang dikunjunginya adalah Taman Nasional Tesso Nilo di Riau, Sumatra, area konservasi yang menghadapi tekanan serius akibat pembukaan tanah dan ekspansi perkebunan sawit.

Apa yang ditemukannya menjadi salah satu bagiankecil paling mengganggu dalam dokumenter tersebut. Kawasan yang seharusnya mendapatkan perlindungan justru mengalami kerusakan luas. Berdasarkan temuan yang ditampilkan dalam dokumenter, area hutan yang statis eksis dalam kondisi baik saat itu telah menyusut secara signifikan, sementara aktivitas pembukaan tanah terus berlangsung.

Ford kemudian mempertanyakan sepertiapa taman nasional dapat mengalami kerusakan sedemikian parah jika pemerintah memiliki kewenangan untuk melindunginya. Dalam pertemuannya dengan Menteri Kehutanan saat itu, Zulkifli Hasan, pada September 2013, ia secara terbuka menyoroti permasalahan penegakan aturan dan tanggung jawab pemerintah.

Momen tersebut menjadi krusial bukan karena seorang pemeran Hollywood datang mempertanyakan kebijakan Indonesia. Yang lebih mengganggu adalah kenyataan bahwa status area konservasi rupanya tidak dengan sendirinya menjamin perlindungan terhadap hutan yang eksis di dalamnya.

Tesso Nilo dan kebakaran hutan di Kalimantan tentu merupakan peristiwa berbeda, dengan lokasi, waktu, dan permasalahan lapangan yang tidak sepenuhnya sama. Namun, keduanya mengarah pada pertanyaan mendasar tentang tata kelola lingkungan: seberapa ampuh perlindungan yang telah dijanjikan, dan siapa yang mesti berkewajiban ketika kerusakan terus terjadi?

Pertanyaan yang disampaikan Ford lebih dari satu dasawarsa kemudian statis memiliki relevansi karena perlindungan hutan tidak cukup selesai pada penetapan kawasan, penerbitan kebijakan, maupun pernyataan komitmen. Ukurannya adalah apa yang benar-benar terjadi di lapangan.

Ketika Hutan Terbakar dan Manusia Terus Menyebutnya Kemajuan

Photo Cr. fairventures.org – Archive Photo 2023

Ketika Keberlanjutan Menjadi Bahasa yang Sangat Meyakinkan

Kita semakin pandai menghitung pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak selalu menghitung apa yang mesti dikorbankan untuk mencapainya. Keberhasilan pembangunan kerap ditampilkan melalui investasi, ekspansi industri, peningkatan produksi, dan beragam indikator yang memberitahu kemajuan. Sementara itu, kerusakan ekologis yang menyertainya tidak selalu memperoleh perhatian yang sebanding.

Bukan berarti pembangunan dan pertumbuhan ekonomi mesti diperlakukan sebagai lawan lingkungan. Persoalannya muncul ketika keberhasilan ekonomi digunakan untuk membenarkan kerusakan yang sebenarnya dapat dicegah, maupun ketika biaya ekologis dan sosial tidak diperhitungkan secara memadai.

Dalam perdebatan mengenai kebakaran hutan, kondisi cuaca sering menjadi perhatian utama. Memang, suhu tinggi, kekeringan, dan kondisi atmosfer dapat memperbesar konsekuensi kebakaran. Namun, aspek cuaca tidak boleh menggantikan kebutuhan untuk memeriksa tata kelola lahan, praktik pembukaan kawasan, pencegahan kebakaran, dan efektivitas pengawasan.

Ironisnya, kita memiliki begitu banyak metode untuk memberitahu kepedulian. Ada penelitian, pertemuan internasional, sasaran penurunan emisi, kampanye hijau, hingga laporan keberlanjutan perusahaan yang disajikan dengan rancangan semakin menarik. Bahkan ketika kerusakan telah terjadi, hampir selalu tersedia pernyataan resmi yang disusun dengan pilihan kata sangat hati-hati.

Sayangnya, lingkungan tidak bisa dipulihkan dengan pilihan diksi yang baik. Hutan tidak tumbuh balik cuma karena sebuah perusahaan menerbitkan laporan keberlanjutan yang mengesankan, dan kerusakan ekosistem tidak otomatis terselesaikan setelah pertemuan pers berakhir.

Di sinilah kritik Depeche Mode menemukan resonansinya. Ada perbedaan besar antara memahami kerusakan dan bersedia menghentikan penyebabnya. Kemajuan ilmu tidak memiliki banyak arti jika tidak diterjemahkan menjadi keputusan yang melindungi kehidupan.

Kerusakan yang Bertahan Lebih Lama daripada Pemberitaan

Di balik asap kebakaran hutan, terdapat permasalahan yang jauh lebih besar daripada panorama langit yang berubah warna. Api dapat menghancurkan lingkungan hidup satwa, mengganggu keseimbangan ekosistem, dan merusak tanah yang membutuhkan waktu panjang untuk pulih. Kebakaran tanah gambut terlebihlagi dapat menyimpan bara di bawah permukaan, sehingga pemadamannya membutuhkan penanganan lebih kompleks.

Bagi penduduk yang tinggal di daerah terdampak, konsekuensinya tidak selesai pada kerusakan lingkungan. Kualitas udara dapat memburuk, aktivitas sehari-hari terganggu, dan konsekuensi kesehatan meningkat, terutama bagi anak-anak, lansia, serta himpunan rapuh lainnya. Mereka tidak memiliki kemewahan untuk sekadar menggulir layar ketika berita kebakaran mulai terasa melelahkan.

Pemerintah memang telah mengerahkan operasi darat dan udara untuk mengendalikan kebakaran. Upaya pemadaman dan kerja para petugas di lapangan perlu diakui sebagai bagiankecil krusial dari perlindungan masyarakat. Namun, keberhasilan mengendalikan api seharusnya tidak menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pengelolaan hutan.

Tantangan yang lebih mendasar adalah memastikan pencegahan berjalan konsisten, pengawasan benar-benar efektif, dan pihak yang terbukti berbuat pelanggaran dimintai pertanggungjawaban. Tanpa itu, pemadaman berisiko menjadi pekerjaan berulang untuk menghadapi permasalahan yang akar penyebabnya tidak pernah benar-benar diselesaikan.

Di tengah semua evolusi teknologi dan meningkatnya kesadaran lingkungan, mungkin permasalahan terbesar manusia bukan lagi ketidakmampuan memahami bahwa lingkungan sedang berubah. Kita telah memiliki cukup ilmu untuk mengenali kerusakannya. Yang belum selalu kita miliki adalah keinginan untuk mengubah metode memperlakukannya.

Empat puluh tiga tahun adalah waktu yang cukup panjang bagi sebuah lagu untuk menjadi klasik. Seharusnya juga cukup panjang bagi sebuah peringatan untuk berubah menjadi pelajaran. Tetapi kita tampaknya lebih berhasil melestarikan musik dari masa kemudian daripada hutan yang seharusnya statis bisa dinikmati generasi mendatang.

The landscape is changing. And apparently, our excuses are timeless.

Artikel Lainnya Review Movie Terbaru
↑
Close Right Ads
Close Left Ads