Ada sesuatu yang menarik dari setiap pengumuman nominasi Festival Film Indonesia (FFI). Film-film yang terpilih tentu mendapat perhatian, tetapi tidak jarang justru nama-nama yang absen memancing perdebatan lebih panjang. Seolah-olah daftar nominasi bukan cuma berisi siapa yang dianggap terbaik, melainkan juga mengingatkan publik tentang siapa saja yang luput dari pengakuan.
Tahun ini, nama Irma Rihi menjadi salah satu pusat perbincangan. Penampilannya sebagai Mak dalam “Na Willa” (2026) mendapat apresiasi dari sebagian pemirsa dan pelaku perfilman, tetapi tidak berhasil membawanya ke nominasi pemeran Piala Citra. Padahal, sinema instruksi Ryan Adriandhy tersebut memperoleh sembilan nominasi, termasuk Film Cerita Panjang Terbaik dan Pemeran Utama Perempuan Terbaik untuk Luisa Adreena.
Keputusan itu mengundang pertanyaan yang lebih menarik daripada sekadar kenapa Irma tidak terpilih. Bagaimana sebuah industri menentukan akting yang layak disebut hebat? Apakah melalui intensitas emosi, transformasi fisik, kerumitan karakter, maupun kapasitas membikin kita lupa bahwa seseorang sedang berakting?
FFI memiliki mekanisme penjurian, asosiasi profesi, dan para peraih Piala Citra yang tergabung dalam Akademi Citra. Semuanya dirancang untuk memberikan alas ahli bagi penghargaan tertinggi perfilman Indonesia. Namun, justru karena pengaruhnya begitu besar, standar penilaian tersebut perlu terus dipertanyakan.
Persoalan FFI 2026 bukan apakah akting yang berisik lebih buruk daripada akting yang sunyi, melainkan apakah standar penilaian industri cukup peka untuk mengenali kehebatan yang tidak selalu memperlihatkan dirinya secara mencolok.
Irma Rihi dan Akting yang Terlalu Sunyi untuk Diperhatikan
Kritik Arie Kriting terhadap absennya Irma Rihi dari nominasi FFI 2026 menyentuh permasalahan yang selama ini jarang menjadi pembicaraan utama dalam penghargaan sinema Indonesia. Arie mengingatkan bahwa pengalaman serupa pernah terjadi ketika Irma membintangi “Women from Rote Island” (2023), sinema yang memenangkan Piala Citra untuk Film Cerita Panjang Terbaik, tetapi tidak menghasilkan nominasi akting bagi pemeran utamanya.
Dua sinema dengan pendekatan berbeda. Dua karakter dengan tuntutan dramatik yang tidak sama. Namun, akibatnya serupa bagi Irma: tidak ada nominasi pemeran.
Dalam “Na Willa”, Irma tidak memainkan karakter yang hidupnya sepenuhnya dibangun di sekitar penderitaan. Mak adalah seorang ibu yang datang dalam keseharian anaknya, dengan kehangatan, ketegasan, dan beragam lapisan emosi yang tidak selalu membutuhkan babak dramatis. Keberadaan karakter tersebut menjadi bagiankecil krusial dari bumi yang dibangun Ryan Adriandhy.
Di sinilah persoalannya menjadi menarik. Akting yang baik tidak selalu menuntut seorang pemeran menangis sampai kehabisan suara, menghancurkan barang ketika marah, maupun menjalani fluktuasi jasmani ekstrem. Kadang, kapasitas terbesar justru terletak pada metode seorang pemeran mendengarkan lawan mainnya, mengekang respons, maupun mengucapkan kalimat sederhana tanpa membuatnya terdengar seperti percakapan yang sudah dihafalkan.
Tenang, tetapi hidup. Sederhana, tetapi presisi. Tidak mencolok, tetapi membekas.
Akting naturalistis memiliki kesulitannya sendiri. Pemeran mesti memahami ritme keseharian, menjaga kesinambungan emosi, dan membikin setiap pergerakan tampak spontan meskipun terjadi dalam proses produksi yang penuh pengulangan. Ketika berhasil, pemirsa tidak lagi melihat seorang pemeran yang sedang memberitahu kemampuan. Mereka melihat manusia.
Justru karena akibatnya kelihatan begitu mudah, pekerjaan tersebut sering kali lebih sulit dikenali sebagai pencapaian teknis.
Ini membawa kita pada satu pertanyaan artistik yang layak diuji: apakah industri perfilman Indonesia lebih gampang memberikan pengakuan terhadap akting yang memperlihatkan kerja keras secara kasatmata daripada akting yang menyembunyikan seluruh kerumitannya?
Perdebatan mengenai Irma tidak membuktikan adanya pola tersebut dalam penjurian FFI. Namun, kasusnya memberi karena untuk memeriksa sepertiapa para penilai mendefinisikan kekuatan sebuah penampilan, terutama ketika akting yang tenang tidak selalu menyediakan satu babak besar yang gampang dijadikan ukuran kehebatan.

Women from Rote Island (2023)
Mengapa Karakter dari Indonesia Timur Harus Selalu Menderita?
Bagian paling tajam dari kritik Arie Kriting justru bukan tentang nominasi. Ia mempertanyakan metode perfilman Indonesia melihat karakter dari area timur negeri ini, yang kerap dilekatkan pada kemiskinan, keterbelakangan, perselisihan sosial, maupun penderitaan.
Kritik tersebut membuka celah yang selama ini gampang tertutup oleh pembicaraan mengenai keberagaman representasi. Industri bisa menghadirkan lebih banyak pemeran dari beragam daerah, tetapi jika karakter yang dipercayakan kepada mereka terus berkisar pada penderitaan yang sama, keberagaman itu cuma selesai pada wajah dan asal geografis.
Seorang perempuan dari Rote tidak mesti kehilangan keluarganya untuk menjadi karakter yang layak diperhatikan. Seorang ibu dari Nusa Tenggara Timur juga tidak perlu terus-menerus menghadapi tragedi agar pengalamannya dianggap cukup krusial untuk diangkat ke layar.
Mereka bisa membesarkan anak, bercanda dengan tetangga, jatuh cinta, bertikai dengan pasangan, maupun menjalani hayat yang biasa-biasa saja. Persis seperti karakter famili kelas menengah Jakarta yang selama puluhan tahun mendapatkan ruang luas dalam sinema dan televisi Indonesia.
“Na Willa” menawarkan kemungkinan itu melalui karakter Mak. Identitas kedaerahan tidak dihapus, tetapi juga tidak dijadikan satu-satunya karena karakter tersebut hadir. Ia boleh menjadi seorang ibu tanpa mesti terus-menerus mewakili penderitaan suatu wilayah.
Di titik ini, kritik terhadap representasi berhubungan langsung dengan kritik terhadap standar akting. Jika industri lebih terbiasa mengenali karakter dari daerah tertentu melalui perselisihan yang besar dan emosi yang meledak-ledak, penampilan yang bekerja dalam nada keseharian berisiko kurang mendapat perhatian.
Representasi yang baik bukan sekadar menghadirkan lebih banyak wajah berbeda, tetapi juga membebaskan wajah-wajah tersebut dari tanggung jawab memainkan cerita yang sama.
Akademi Citra dan Selera yang Menjadi Standar
Menanggapi kritik terhadap nominasi FFI 2026, Prilly Latuconsina menerangkan bahwa Komite FFI tidak menentukan nominasi secara langsung. Proses tersebut melibatkan Akademi Citra dan asosiasi pekerjaan perfilman, sedangkan komite bekerja menjalankan pelaksanaan sesuai mekanisme yang telah ditetapkan.
RELATED STORY: FFI 2026 Memperketat Jalan Menuju Piala Citra
Menurut keterangan FFI, sebanyak 531 karya terdaftar tahun ini, termasuk 93 sinema cerita panjang. Seleksi tahap kedua melibatkan 35 perwakilan dari 13 asosiasi profesi, sedangkan penentuan nominasi melibatkan 85 personel Akademi Citra.
Secara administratif, mekanisme tersebut memiliki landasan yang jelas. Keterlibatan perkumpulan pekerjaan dan para penerima Piala Citra sebelumnya dimaksudkan untuk memastikan bahwa karya dinilai oleh orang-orang yang memahami proses produksi film.
Namun, klarifikasi tentang siapa yang memberikan harga tidak serta-merta menjawab permasalahan tentang sepertiapa selera dan standar penilaian terbentuk.
Akademi Citra memiliki karakter kelembagaan yang menarik karena keanggotaannya berakar pada para peraih penghargaan sebelumnya. Sistem seperti ini membantu menjaga kesinambungan ilmu profesional, tetapi sekaligus mengundang pertanyaan: sejauh mana standar kualitas dari generasi sebelumnya ikut menentukan siapa yang memperoleh pengakuan pada generasi berikutnya?
Bayangkan sebuah lingkaran yang memberikan penghargaan berdasarkan ukuran tertentu, kemudian para penerima penghargaan tersebut ikut terlibat dalam menentukan karya terbaik pada tahun-tahun berikutnya. Ada kesinambungan keahlian di sana, tetapi juga kemungkinan bahwa selera yang sudah mapan terus mendapatkan efek lebih besar dibandingkan pendekatan yang belum banyak diakui.
Ini merupakan permasalahan yang patut diperiksa oleh setiap institusi penghargaan. Ketika sinema Indonesia terus berkembang, standar penilaiannya juga mesti bisa membaca bahasa visual, tradisi akting, dan pengalaman adat yang mungkin berbeda dari karya-karya yang selama ini memperoleh pengakuan.
Di sinilah transparansi FFI seharusnya berjalan lebih jauh. Publik tidak cuma membutuhkan klarifikasi mengenai tahapan seleksi maupun metode menghitung skor. Sama pentingnya adalah memberikan pemahaman tentang hakikat artistik yang menjadi alas penilaian, sepertiapa kategori didefinisikan, dan sejauh mana keberagaman perspektif pandang terwakili dalam proses tersebut.
Kredibilitas penghargaan tidak cuma bersandar pada siapa yang memenangkan piala, tetapi juga pada kepercayaan bahwa setiap bentuk pencapaian artistik mendapatkan kesempatan untuk dinilai dengan adil.
Pilihan Penonton Tidak Menyelesaikan Persoalan
Di tengah kontroversi nominasi Piala Citra, FFI 2026 juga membuka pemungutan bunyi untuk kategori Film Pilihan Penonton, Aktor Pilihan Penonton, dan Aktris Pilihan Penonton. Voting terjadi pada 14 Oktober hingga 14 November 2026 melalui situs resmi festival.
Sepintas, kategori tersebut kelihatan seperti balasan terhadap perbedaan selera antara juri dan masyarakat. Jika nama yang disukai publik tidak memperoleh pengakuan profesional, pemirsa statis memiliki kesempatan memberikan apresiasi secara langsung.
Namun, Pilihan Penonton bukan solusi untuk permasalahan standar penjurian. Kategori tersebut memberikan jenis pengakuan berbeda, sementara kewenangan menentukan penerima Piala Citra statis eksis pada mekanisme penilaian profesional.
Lagipula, pemungutan bunyi publik memiliki persoalannya sendiri. Aktor dengan jutaan pengikut media sosial memiliki kesempatan menggalang sokongan jauh lebih besar dibandingkan pemeran sinema independen yang mungkin cuma dikenal oleh sebagian kecil penonton. Film dengan kampanye promosi besar juga lebih gampang mempertahankan perhatian publik daripada karya yang distribusinya terbatas.
Masalahnya, perdebatan mengenai FFI 2026 memang tidak muncul karena pemirsa mau memungut alih pekerjaan juri. Kritik terhadap absennya Irma Rihi datang pula dari sineas yang memahami bumi akting dan produksi film, termasuk Ernest Prakasa dan Kamila Andini.
Artinya, perbedaan penilaian tidak sesederhana kontradiksi antara orang awam yang menyukai sinema dan ahli yang memahami kualitasnya. Mereka yang bekerja dalam industri pun dapat memiliki pandangan berbeda mengenai sebuah pencapaian artistik.
FFI boleh memberikan ruang bagi publik untuk memilih favoritnya. Namun, ketika kritik diarahkan pada ukuran kualitas yang digunakan dalam kategori utama, jawabannya tidak bisa sekadar menyediakan kategori lain. Yang dibutuhkan adalah kesediaan memeriksa balik sepertiapa penilaian ahli dilakukan.
Penghargaan Bukan Putusan Akhir atas Kualitas Film
Piala Citra statis memiliki peran krusial dalam ekosistem perfilman Indonesia. Sebagai penghargaan nasional yang melibatkan pelaku industri, FFI memberikan pengakuan terhadap pekerjaan imajinatif yang sering kali tidak memperoleh perhatian sebesar pemeran dan sutradara, termasuk editor gambar, penata suara, pengarah artistik, serta beragam pekerjaan di balik layar.
Namun, mempertahankan kredibilitas penghargaan tidak mesti berarti mempertahankan setiap keputusannya dari kritik. Sebuah institusi justru dapat memberitahu kedewasaan ketika bisa membedakan antara serangan terhadap integritas pelaksanaan dan perdebatan yang sah mengenai standar artistik.
Hal yang sama berjalan bagi publik. Tidak menyukai sebuah keputusan nominasi bukan karena untuk merendahkan kualitas pemeran lain yang berhasil terpilih. Apresiasi terhadap satu penampilan tidak mesti dibangun dengan mengurangi pencapaian penampilan lainnya.
Kontroversi FFI 2026 seharusnya tidak selesai sebagai pertengkaran media sosial yang perlahan menghilang setelah malam penghargaan selesai. Ada permasalahan yang jauh lebih layak dibahas: sepertiapa pekerjaan akting dinilai, seberapa luas perspektif pandang yang terwakili dalam Akademi Citra, serta apakah penghargaan nasional benar-benar siap membaca fluktuasi bahasa dan adat sinema Indonesia.
Komite FFI dan asosiasi pekerjaan memiliki kesempatan untuk mengubah kontroversi ini menjadi sesuatu yang produktif. Mereka dapat mengundang aktor, sineas daerah, kritikus, akademisi, dan pembuat sinema dari beragam generasi untuk membicarakan standar penilaian secara terbuka, termasuk permasalahan akting naturalistis, representasi, dan kemungkinan bias artistik yang kerap luput dari perhatian.
Diskusi itu tidak perlu menghasilkan kesepakatan mengenai siapa yang seharusnya dinominasikan tahun ini. Tidak perlu pula mengubah daftar nominasi cuma karena tekanan publik. Yang dibutuhkan adalah kesediaan mengakui bahwa kualitas seni terus berkembang, sementara mekanisme yang menilainya tidak boleh selesai belajar.
RELATED STORY: Honorary Palme d’Or Cannes 2026: Ketika Cannes Meredefinisi Makna Legasi Sinema
FFI tidak mesti membikin semua orang setuju dengan keputusan jurinya. Namun, jika mau terus menjadi ukuran tertinggi pencapaian perfilman Indonesia, FFI berbareng asosiasi pekerjaan mesti berani membuka ruang percakapan yang lebih inklusif, memperluas perspektif pandang penilaian, dan memastikan bahwa Piala Citra tidak cuma merayakan bentuk kehebatan yang sudah dikenal industri.
Sebab, penghargaan yang besar bukanlah penghargaan yang tidak pernah dipertanyakan, melainkan yang cukup percaya diri untuk mendengarkan kritik, terlebihlagi ketika kritik tersebut datang dari mereka yang tidak membawa pulang piala.