Pada jamuan kenegaraan di Rashtrapati Bhavan, New Delhi, akhir Januari 2025, Menteri Luar Negeri Sugiono dan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyanyikan lagu “Kuch Kuch Hota Hai” di depan Presiden India Droupadi Murmu. Pilihan lagunya tidak mengejutkan. Film dengan judul yang sama, “Kuch Kuch Hota Hai” (1998), bertahun-tahun diputar ulang di televisi kita, dan bagi banyak pemirsa Indonesia, “film India” berarti Shah Rukh Khan, Kajol, dan lagu yang hafal di luar kepala.
Film-film itu berkata Hindi dan lahir di Mumbai, dari industri yang dijuluki Bollywood. Namun Bollywood cuma satu bagiankecil dari sinema India. Film India terlaris 2024 berkata Telugu, dan pada akhir 2025, gelar sinema terlaris tahun itu sempat dipegang sinema berkata Kannada. Untuk memahami perbedaannya, kita perlu mulai dari julukan-julukan yang sering dipakai bergantian dan kerap tertukar.
Dari mana datangnya julukan “-wood”
Julukan pertama yang meniru Hollywood justru bukan Bollywood. Istilah Tollywood muncul pada 1932 dalam artikel Wilford E. Deming, insinyur Amerika yang ikut menggarap sinema bicara pertama India, di jurnal American Cinematographer. Ia menggabungkan Tollygunge, area studio di Kalkuta (kini Kolkata), dengan Hollywood untuk mengatakan industri sinema berkata Bengali.
Bollywood datang belakangan sebagai campuran Bombay (nama durasi Mumbai) dan Hollywood, kemudian pola yang sama diikuti industri lain: Kollywood dari Kodambakkam di Chennai, Sandalwood dari cendana yang lekat dengan Karnataka, dan Mollywood untuk sinema berkata Malayalam.
Di sinilah kerancuan pertama muncul. Kini Tollywood lebih sering dipakai untuk industri sinema Telugu di Andhra Pradesh dan Telangana, karena awalan “T” cocok dengan “Telugu”. Kamus pun mencatat kedua arti itu: industri Telugu dan industri Bengali di Tollygunge. Kritik terhadap julukan-julukan ini juga datang dari India sendiri.
Biswadeep Ghosh, dalam tulisannya di Swarajya pada 2015, mempertanyakan gunanya istilah yang bisa mengacu dua industri sekaligus, padahal pembaca India mengenal kata “Bengali” dan “Telugu”. Ia juga mencatat bahwa “Mollywood” sudah lebih dahulu dipakai untuk sinema kelompok Mormon di Amerika. Karena itu, julukan “-wood” sebaiknya dipahami sebagai nama panggilan. Pembagian yang sebenarnya mengikuti bahasa dan negara bagian.
Peta ringkas
Satuan duit di bawah memakai crore, unit India yang sederajat dengan 10 juta rupee. Pangsa box office diambil dari laporan tahunan Ormax Media, institusi riset yang memantau box office semua bahasa di India. Total box office India pada 2025 mencapai ₹13.395 crore, rekor tertinggi sejauh ini. Sisa pangsa di luar tabel diisi sinema internasional, yang menyumbang 10%, serta sinema berkata lain seperti Marathi, Gujarati, dan Punjabi.
| Industri | Bahasa | Pusat produksi | Pangsa box office 2025 | Film penanda |
|---|---|---|---|---|
| Bollywood | Hindi | Mumbai, Maharashtra | 41% | “Dilwale Dulhania Le Jayenge” (1995), “Jawan” (2023), “Dhurandhar” (2025) |
| Tollywood | Telugu | Hyderabad, Telangana | 18% | “Mayabazar” (1957), “RRR” (2022), “Pushpa 2: The Rule” (2024) |
| Kollywood | Tamil | Chennai, Tamil Nadu | 13% | “Muthu” (1995), “Vikram” (2022), “Jailer” (2023) |
| Mollywood | Malayalam | Kochi, Kerala | 9% | “Chemmeen” (1965), “Manjummel Boys” (2024), “Lokah Chapter 1: Chandra” (2025) |
| Sandalwood | Kannada | Bengaluru, Karnataka | 4% | “Bangarada Manushya” (1972), “KGF: Chapter 2” (2022), “Kantara: Chapter 1” (2025) |
| Tollywood (Bengali) | Bengali | Kolkata, Benggala Barat | Kecil | “Pather Panchali” (1955), “Bohurupi” (2024), “Raghu Dakat” (2025) |

RRR
Cara cepat membedakannya
Petunjuk paling sederhana adalah bahasa autentik filmnya, bukan bahasa varian yang kita tonton. “RRR” yang beredar dalam varian Hindi statis sinema Telugu, dan “Kantara: Chapter 1” yang laku di India Utara statis sinema Kannada. Nama bintang juga membantu: Shah Rukh Khan untuk Hindi, Allu Arjun dan Prabhas untuk Telugu, Rajinikanth dan Vijay untuk Tamil, Mohanlal dan Mammootty untuk Malayalam.
Bollywood: yang paling besar, yang paling dikenal
Hindi adalah bahasa dengan pengujar terbanyak di India, dan Bollywood memetik khasiat dari pasar itu. Pada 2025, sinema berkata Hindi meraup ₹5.504 crore, tahun terbaiknya sepanjang sejarah. Pangsanya 41%, jauh di atas industri mana pun. Dari bilangan itu, 93% datang dari sinema yang memang dibuat dalam bahasa Hindi, bukan dari sinema selatan yang disulihsuarakan.
Untuk penanda klasik, pilihan paling jelas adalah “Dilwale Dulhania Le Jayenge” (1995), kisah cinta Raj dan Simran yang diperankan Shah Rukh Khan dan Kajol. Bioskop Maratha Mandir di Mumbai memutarnya setiap hari selama 1.009 minggu, hampir 20 tahun, rekor penayangan terlama dalam sejarah sinema India. Dua dasawarsa kemudian, Shah Rukh Khan statis menjadi poros industri ini. “Jawan” (2023), sinema aksi tentang bapak dan anak yang melawan korupsi, sempat menjadi sinema berkata Hindi terlaris di India. Rekor itu kemudian dipecahkan “Dhurandhar” (2025), yang menurut Ormax meraup ₹950 crore dan memecahkan rekor sinema berkata Hindi terlaris pada 2025. Sekuelnya, “Dhurandhar: The Revenge” (2026), menyumbang 20% box office India pada paruh pertama 2026.
Tollywood Telugu: skala besar dan tiket mahal
Pusat industri Telugu adalah Hyderabad, kota yang menjadi letak Ramoji Film City. Kompleks seluas 674 hektare dengan 47 sound stage itu tercatat Guinness World Records sebagai kompleks studio sinema terbesar di dunia. Skala itu sejalan dengan reputasi film-film besar Telugu, yang dikenal lewat epos kepahlawanan penuh aksi dan warna dengan anggaran yang terus membesar.
Akar klasiknya adalah “Mayabazar” (1957), sinema mitologi yang dibuat dalam varian Telugu dan Tamil. Film ini statis dirujuk sebagai salah satu klasik sinema India. Dua penanda terbarunya jauh lebih dikenal pemirsa internasional. “RRR” (2022) karya S.S. Rajamouli, tentang dua pejuang yang melawan pemerintah kolonial Inggris, dikenal lewat babak aksinya yang megah, dan lagunya, “Naatu Naatu”, memenangi Oscar untuk lagu orisinal terbaik. “Pushpa 2: The Rule” (2024), kisah penyelundup kayu cendana merah yang diperankan Allu Arjun, menjadi sinema terlaris India 2024 dengan ₹1.403 crore, menurut laporan tahunan Ormax.
Angka besar itu menyimpan catatan. Laporan Ormax memberitahu jumlah pemirsa sinema Telugu turun dua tahun berturut-turut. Pendapatannya bertetap karena harga tiket film-film besarnya naik.

Muthu
Kollywood: sisa dapur berbareng industri selatan
Kodambakkam, area di Chennai yang dahulu dipenuhi studio, memberi nama pada Kollywood. Sejarahnya lebih luas dari sinema Tamil. Sepanjang 1940-an sampai mula 1960-an, Madras (nama durasi Chennai) adalah pusat produksi untuk semua bahasa India Selatan, dari Tamil, Telugu, dan Malayalam sampai Kannada. Industri-industri selatan baru memisahkan diri ke negara bagiankecil masing-masing beberapa dasawarsa kemudian.
Bintang terbesar Tamil, Rajinikanth, punya cerita yang memberitahu jangkauan industri ini. “Muthu” (1995), drama aksi bertabur lagu tempat ia berpartisipasi sebagai kusir kereta, dirilis di Jepang pada 1998 sebagai “Muthu: The Dancing Maharaja” dan laris di sana. Hampir tiga dasawarsa kemudian, Rajinikanth statis menjadi penarik penonton.
“Jailer” (2023), tentang penjaga penjara pensiunan yang memburu penyelundup arca, termasuk sinema Tamil terlaris tahun itu. Setahun sebelumnya, “Vikram” (2022) yang dibintangi Kamal Haasan meraup sekitar ₹415 crore di seluruh dunia. Namun posisi Tamil sedang goyah: pangsanya turun dari 17% pada paruh pertama 2025 menjadi 12% pada masa yang sama tahun 2026, menurut Ormax.
Mollywood: sinema yang bertumpu pada cerita
Industri sinema Malayalam sempat bergeser ke Madras, kemudian balik ke Kerala pada akhir 1980-an dan kini berpusat di Kochi. Pasarnya kecil, sehingga sinema Malayalam jarang mengandalkan anggaran raksasa. Reputasinya dibangun lewat cerita dan akting. Data juga memperlihatkan wataknya: dalam analisis keterangan sertifikasi CBFC, institusi sensor sinema India, yang dilaporkan The Hollywood Reporter India, Malayalam punya porsi sinema untuk semua umur yang tertinggi di antara industri-industri besar.
Jejak klasiknya bisa ditelusuri ke “Chemmeen” (1965), kisah cinta di kampung nelayan Kerala yang diangkat dari novel Thakazhi Sivasankara Pillai. Film ini menjadi film India Selatan pertama yang meraih lencana emas Presiden untuk sinema terbaik. Dua penanda terbaru memberitahu bahwa sinema Malayalam kini juga laku di luar Kerala.
“Manjummel Boys” (2024), drama pengamanan yang diangkat dari kisah nyata sekelompok sahabat, menjadi film Malayalam pertama yang menembus ₹200 crore, dengan sekitar ₹50 crore di antaranya datang dari Tamil Nadu. Setahun kemudian, “Lokah Chapter 1: Chandra” (2025), sinema superhero perempuan yang meminjam figur dari cerita rakyat Kerala, menjadi sinema Malayalam pertama yang menembus ₹300 crore, menurut The Hollywood Reporter India.

Bangarada Manushya
Sandalwood: pangsa kecil, lonjakan besar
Kawasan Majestic, kini Gandhinagar, di Bengaluru dahulu menjadi pusat industri sinema Kannada, tempat bioskop tunggal menentukan nasib sebuah film. Pangsa Kannada di box office nasional cuma 4%, tetapi di antara empat bahasa selatan, cuma Kannada yang tumbuh signifikan pada 2025.
Bagi Kannada, posisi klasik itu ditempati “Bangarada Manushya” (1972), sinema yang dibintangi Rajkumar tentang lelaki kota yang balik ke desa untuk bertani. Film ini diputar 104 minggu tanpa henti di Bengaluru, dan ceritanya disebut mendorong sebagian anak muda balik menggarap tanah di kampungnya. Dua penanda terbarunya mengubah posisi Kannada di peta nasional. “KGF: Chapter 2” (2022) statis menjadi sinema Kannada terlaris, dan “Kantara: Chapter 1” (2025), kisah berlatar mitologi pesisir Karnataka karya Rishab Shetty, menyusul di posisi berikutnya. Menurut Ormax, “Kantara: Chapter 1” meraup ₹735 crore di India dan sempat menjadi sinema terlaris 2025, sebelum disalip “Dhurandhar” pada akhir tahun.
Bengali: pemilik julukan pertama
Industri Bengali di Tollygunge pernah menjadi pusat sinema India, dan dari sana lahir salah satu sutradara terpenting dunia, Satyajit Ray. Debutnya, “Pather Panchali” (1955), tentang masa kecil Apu di sebuah desa di Benggala, meraih penghargaan di Festival Film Cannes dan membuka jalan bagi sinema India di panggung bazar internasional.
Skala komersialnya kini jauh lebih kecil daripada industri lain. “Bohurupi” (2024), drama perampokan tentang budayawan penyamar tradisional Benggala, disebut ThePrint sebagai hit pertama setelah masa lesu yang panjang, dengan pendapatan lebih dari ₹13 crore dalam sebulan pertama. Angka itu kecil dibanding sinema Telugu maupun Hindi, tetapi termasuk lima besar sinema Bengali sepanjang masa. Setahun kemudian, ThePrint mencatat sinema kepahlawanan rakyat “Raghu Dakat” (2025) yang dibintangi Dev memenangi persaingan box office musim Durga Puja, saat film-film besar Bengali beradu setiap tahun.
Yang lain dan yang sedang naik
India statis punya industri sinema dalam banyak bahasa lain. Marathi sedang mengalami tahun terbaiknya: pada paruh pertama 2026, sinema Marathi meraup lebih dari ₹220 crore, lebih dari dua kali lipat pendapatannya sepanjang 2025. Film Gujarati juga mencatat rekor ketika “Laalo: Krishna Sada Sahaayate” (2025) menjadi sinema Gujarati terlaris sepanjang masa. Di luar itu statis ada industri Punjabi, Bhojpuri, Odia, Assam, dan bahasa-bahasa lain dengan pasar yang lebih kecil.

Baahubali 2: The Conclusion
Era pan-India: ketika batas mulai cair
Selama puluhan tahun, sinema yang berhasil di satu bahasa kerap dibuat ulang untuk bahasa lain. Pola itu berubah ketika film-film besar mulai dirilis serentak dengan sulih bunyi dalam beberapa bahasa. Industri menyebutnya sinema pan-India. “Baahubali 2: The Conclusion” (2017), sinema Telugu karya Rajamouli, menjadi film India pertama yang menembus ₹1.000 crore di seluruh dunia, dan varian Hindinya didistribusikan rumah produksi Bollywood milik Karan Johar.
Sejak itu, sinema selatan yang disulihsuarakan ke bahasa Hindi rutin mengisi bioskop di India Utara. Namun 2025 memperlihatkan arah sebaliknya. Pada 2024, 31% pendapatan box office berkata Hindi berasal dari sinema selatan yang disulihsuarakan. Pada 2025, porsinya tinggal 7%, dan pangsa campuran empat bahasa selatan turun dari 48% menjadi 44%. Batas antarindustri memang lebih cair daripada sebelumnya, tetapi pusat gravitasinya terus berpindah, sering kali ditentukan oleh satu maupun dua sinema raksasa dalam setahun.
India di layar Indonesia
Bagi pemirsa Indonesia, sinema India pertama-tama dikenal lewat televisi. Bollywood dari era Shah Rukh Khan menjadi tontonan siang yang akrab, dan kedekatan itu meluas ke serial. Serial Hindi “Mahabharat” (2013–2014) begitu populer di ANTV sehingga, menurut anotasi Tirto, stasiun itu mendatangkan para pemainnya ke Indonesia pada 2014. Serial itu bukan produk industri film, tetapi popularitasnya memberitahu benar-benar cerita dan bintang India sudah durasi dekat dengan pemirsa kita.
Hubungannya kini juga bergeser di ranah produksi. Falcon Pictures mengumumkan “Keluarga Slamet”, adaptasi dari sinema Hindi “Badhaai Ho” (2018), sebagai film Indonesia pertama yang secara resmi diadaptasi dari sinema India. Pada Februari 2025, Kedutaan Besar India menggelar Festival Film India di Jakarta, Bali, dan Medan dengan sinema yang disulihsuarakan ke bahasa Indonesia. Gambaran lebih luas tentang skala industri sinema India dibanding negara Asia lain bisa dibaca di artikel Cultura tentang negara dengan industri sinema terbesar di Asia.
Yang belum banyak berubah adalah ingatan kita. Bagi pemirsa yang tumbuh berbareng siaran siang televisi, sinema India statis berarti Shah Rukh Khan dan Kajol, padahal sinema berkata Hindi kini meraup kurang dari separuh box office India. Lagu yang dinyanyikan di Rashtrapati Bhavan itu berasal dari sinema yang dirilis lebih dari seperempat abad lalu, dari industri yang paling durasi kita kenal. Banyak rekor terbaru sinema India justru lahir dalam bahasa yang jarang kita kenali: Telugu, Kannada, dan Malayalam.