Dokumenter tentang pendiri Theranos membuka jauh di atas proyeksi, lima pelanggan menggugat agar Paramount+ dan HBO Max tidak disatukan, dan serikat musisi Amerika Serikat menuntut persetujuan, kredit, serta bayaran ketika karya musisi dipakai AI. Inilah tiga berita utama dari Film, TV/Streaming, dan Music pada 17–21 Oktober 2026.
Film: “You Can See Everything” Buka Terbesar untuk Dokumenter sejak 2013
Dokumenter “You Can See Everything” (2026) meraup US$15,6 juta pada akhir pekan pembukaan 16–18 Oktober di Amerika Utara, menurut Deadline. Film karya Nathan Fielder dan Lance Oppenheim tentang pendiri Theranos, Elizabeth Holmes, itu tayang di 855 bioskop dan menempati posisi kedua di bawah “Street Fighter” (2026), yang membuka dengan sekitar US$31 juta dari 3.575 bioskop. Angka tersebut sedikit di atas estimasi mula studio sebesar US$15 juta.
TheWrap mencatat pembukaan itu sebagai yang terbesar bagi dokumenter sejak “One Direction: This Is Us” (2013), sinema konser yang membuka dengan US$15,8 juta. Bila sinema musik dikecualikan, AP menyebutnya pembukaan dokumenter terbesar dalam dua dekade, sejak “Fahrenheit 9/11” (2004) yang membuka dengan hampir US$24 juta dari 868 bioskop. Capaian tersebut melampaui proyeksi sebelum rilis yang, menurut Forbes, eksis di kisaran US$7 juta hingga US$10 juta. A24 mengatakan lebih dari 2.000 pagelaran terjual hilang selama akhir pekan, seperti dilaporkan AP.
Pada Senin, 19 Oktober, sinema ini mengepalai box office harian dengan US$2,57 juta. A24 dijadwalkan memperluas penayangannya ke sedikitnya 2.600 bioskop pada akhir pekan 23–25 Oktober, berbarengan dengan debut “Clayface” (2026) dari Warner Bros. dan DC, menurut laporan Deadline yang sama. Sebelumnya, sinema berdurasi 174 menit ini diputar perdana secara mengejutkan di Telluride Film Festival pada mula September, kemudian dirilis terbatas pada 16 Oktober.
Streaming: Pemilik Paramount+ dan HBO Max Digugat agar Kedua Layanan Tetap Dipisah
Lima pelanggan jasa streaming mengajukan mosi preliminary injunction (‘perintah pendahuluan’) pada 16 Oktober 2026 agar Paramount Skydance tidak menyatukan Paramount+ dan HBO Max, menurut Deadline. Mosi itu diajukan ulang ke pengadilan federal di Oakland di depan Hakim Araceli Martínez-Olguín, yang menolak tuntutan mula para pelanggan karena jabatan aturan (standing) tetapi mengizinkan pengajuan ulang.
Penggugat tidak meminta penggabungan dibatalkan karena transaksinya sudah rampung. Akuisisi Warner Bros. Discovery oleh Paramount Skydance selesai pada 6 Oktober 2026 dengan harga sekitar US$110–111 miliar termasuk utang, seperti diulas dalam artikel Cultura tentang akuisisi tersebut. Para pelanggan meminta upaya yang diakuisisi dijalankan terpisah hingga putusan akhir, termasuk larangan menghapus langganan berdikari kedua jasa maupun memindahkan pelanggan ke platform pengganti, agar opsi divestasi statis terbuka jika tuntutan dimenangkan.
Penggugat meminta sidang pada 3 Desember, tetapi belum ada putusan maupun agenda yang dikonfirmasi. Skydance tidak menjawab permintaan komentar Deadline hingga Senin, 19 Oktober. Saat akuisisi rampung, perusahaan belum mengumumkan penyatuan kedua layanan, sedangkan Ellison sebelumnya mengungkapkan keduanya diperkirakan dipadukan berjenjang setelah masa paket gabungan, menurut laporan yang sama.
Music: Serikat Musisi AS Luncurkan Kampanye “Human Made, Human Paid”
American Federation of Musicians (AFM), serikat musisi terbesar di Amerika Serikat dengan lebih dari 80.000 personel profesional, meluncurkan kampanye “Human Made, Human Paid” pada Selasa, 20 Oktober 2026, menurut Rolling Stone. Kampanye ini meminta Universal Music Group, Sony, Warner, dan Hollywood Records milik Disney memberi musisi hak menyetujui maupun menolak pemakaian karya mereka untuk melatih model AI, cicilan yang transparan, serta pembayaran atas pemakaian AI dan kesepakatan lisensi label. Presiden AFM Tino Gagliardi merangkumnya sebagai soal “consent, credit, and compensation”, yaitu persetujuan, kredit, dan kompensasi.
Kampanye ini berpijak pada perundingan Sound Recording Labor Agreement (SRLA), kontrak kerja kolektif yang mengatur antara lain tarif royalti dan garansi kesehatan musisi dalam rekaman label besar. Situs kampanye mengatakan perundingan akan dilanjutkan pada 3 November 2026. Di jalur hukum, AFM menggugat Universal, Warner Records, dan Atlantic Recording Corp. di pengadilan federal New York pada 5 Juni 2026, dengan dakwaan tidak memberi tahu serikat dan tidak bayar musisi setelah katalog rekaman dilisensikan ke Suno dan Udio.
Label beranggapan klausul “penggunaan baru” dalam SRLA tidak mencakup lisensi AI, dan Universal mengungkapkan akan menyelesaikan permasalahan lewat perundingan, menurut Music Business Worldwide. Hingga laporan CelebrityAccess pada 16 September, pengadilan belum memutuskan permohonan label untuk membatalkan gugatan. Topik royalti dan AI ini pernah dibahas Cultura dalam esai tentang AI dan industri musik.