Edward Yang dan Kesulitan Manusia Memahami Satu Sama Lain

Review Movie Terbaru oleh Waktu baca 11 menit 46x dilihat
Edward Yang dan Kesulitan Manusia Memahami Satu Sama Lain

Bagikan Postingan

Melalui hayat keluarga, pekerjaan, dan hubungan individual di Taiwan yang terus berubah, Edward Yang memperlihatkan benar-benar sedikit yang sebenarnya kita ketahui tentang orang-orang terdekat.

Dalam babak pembuka “Taipei Story” (1985), Chin dan Lung mengunjungi sebuah apartemen kosong. Mereka sedang melihat kemungkinan tempat tinggal baru, tetapi perhatian keduanya tertuju pada hal berbeda. Chin membayangkan di mana televisi, stereo, dan pemutar video akan diletakkan. Lung justru memperagakan pergerakan memukul bola bisbol, seolah ruangan kosong itu mengingatkannya pada hayat yang pernah ia jalani.

Tidak terjadi pertengkaran besar. Keduanya eksis di tempat yang sama, membicarakan kemungkinan masa depan bersama. Namun, sejak awal, Edward Yang memperlihatkan bahwa mereka tidak sepenuhnya membayangkan masa depan yang sama. Chin melihat kesempatan untuk membangun hayat baru, sementara Lung statis membawa sesuatu dari masa lalunya.

Apartemen itu belum menjadi rumah, dan hubungan mereka pun belum memiliki arah yang disepakati. Yang membiarkan ruang tersebut menerangkan sesuatu yang tidak perlu dinyatakan melalui pertengkaran. Dalam pembacaan Andrew Chan untuk Criterion Collection, pintu dan pembagian ruang dalam apartemen itu turut memisahkan pasangan tersebut di dalam komposisi gambar. Ketika dua orang berdiri dalam satu ruangan, kedekatan jasmani rupanya tidak menjamin bahwa mereka memahami keinginan masing-masing.

Persoalan semacam ini terus muncul dalam sinema Edward Yang. Karakter-karakternya saling mengenal, tinggal serumah, bekerja bersama, terlebihlagi menghabiskan sebagian besar hidup mereka dalam hubungan yang sama. Mereka berbicara, membikin keputusan, dan mencoba mempertahankan hayat yang telah dibangun. Meski demikian, sering kali mereka tidak mengetahui apa yang sesungguhnya sedang dialami orang lain.

Yang tidak selalu menggambarkan keadaan tersebut melalui kesunyian maupun kesepian. Kadang masalahnya justru terletak pada percakapan yang terlalu banyak, harapan yang tidak pernah dibicarakan secara terbuka, maupun kepercayaan bahwa seseorang sudah cukup mengenal orang lain sehingga tidak perlu lagi mendengarkannya.

Taipei Story

Taipei Story

Ketika Kota Mengubah Cara Manusia Hidup

“Taipei Story” dibuat ketika Taiwan mengalami fluktuasi ekonomi dan sosial yang pesat. Pertumbuhan industri dan perdagangan mengubah Taipei, menciptakan kelas menengah ahli serta membuka kesempatan pekerjaan yang tidak tersedia bagi generasi sebelumnya. Perubahan tersebut juga memengaruhi pembagian peran dalam keluarga, aspirasi personal, dan ukuran keberhasilan seseorang.

Chin termasuk generasi yang mencoba membangun masa depan melalui pekerjaan dan gerak sosial. Ia bekerja di perusahaan developer properti yang menghadapi tekanan bisnis, tetapi statis berupaya mempertahankan kendali atas kehidupannya. Lung, mantan pemain bisbol yang menjalankan upaya tekstil keluarga, memiliki hubungan berbeda dengan ide keberhasilan. Ia statis terikat pada kenangan masa lalu, persahabatan lama, dan tanggung jawab terhadap orang-orang di sekitarnya.

Perbedaan itu tampak dalam keputusan sehari-hari. Ketika Lung menggunakan tabungannya untuk membantu bapak Chin mengatasi permasalahan keuangan, tindakannya dapat dipahami sebagai kesetiaan terhadap harga keluarga. Namun, keputusan yang sama juga mengganggu hajat masa depan yang sedang mereka bangun. Sesuatu yang dianggap Lung sebagai tanggung jawab tidak selalu dipahami Chin sebagai bentuk perhatian yang dibutuhkannya.

RELATED STORY: Mengapa Wong Kar-wai Tetap Relevan Tiga Dekade Kemudian?

Yang menempatkan permasalahan ini dalam hubungan antara hayat individual dan keadaan ekonomi. Chin tidak dapat memungut keputusan cuma berdasarkan keinginannya sendiri. Lung pun tidak sepenuhnya bebas meninggalkan kebiasaan dan tanggung jawab yang membentuk identitasnya. Mereka salingberhadapan dengan bumi yang berubah, tetapi fluktuasi tersebut tidak terjadi dengan kecepatan yang sama bagi setiap orang.

Melalui apartemen, kantor, jalan raya, dan ruang komersial Taipei, kota menjadi bagiankecil dari metode karakter menjalani hubungan. Bangunan baru menawarkan tempat bekerja dan tinggal, tetapi tidak otomatis menyediakan hayat yang mereka harapkan. Arsitektur modern memberi bentuk jasmani bagi kemungkinan baru, sementara manusia yang menempatinya statis bernegosiasi dengan masa lalu.

Kritik Yang menjadi menarik karena ia tidak memperlakukan tradisi sebagai balasan atas kegelisahan modern. Kewajiban famili dan harapan mengenai peran lelaki juga menciptakan tekanan. Lung bukan sekadar korban penduduk yang semakin materialistis, sebagaimana Chin bukan deskripsi manusia modern yang kehilangan kepedulian. Keduanya memiliki karena yang dapat dipahami, sekaligus kekurangan dalam melihat hayat pasangannya.

Ketegangan tersebut tidak pernah sepenuhnya menjadi permasalahan siapa yang benar. Yang lebih mengganggu adalah benar-benar durasi sebuah hubungan dapat berjalan tanpa kedua pihak benar-benar memahami perbedaan yang menentukan masa depan mereka.

The Terrorizers

The Terrorizers

Informasi yang Tidak Selalu Menghasilkan Kebenaran

Dalam “The Terrorizers” (1986), permasalahan memahami orang lain berkembang melalui struktur cerita yang lebih rumit. Film ini mengikuti beberapa karakter di Taipei yang hayat mereka tampak terpisah, sebelum aksi dan keputusan masing-masing mulai menimbulkan akibat bagi orang lain.

Seorang fotografer muda memungut gambar perempuan yang melarikan diri dari penggerebekan polisi. Di tempat lain, seorang penulis menghadapi permasalahan perkawinan dengan suaminya, seorang lelaki yang sangat memperhatikan kemajuan karier. Hubungan antarkarakter kemudian berkembang melalui kebetulan, kecurigaan, dan keterangan yang tidak selalu dapat dipercaya.

Fotografi menjadi elemen krusial dalam sinema ini. Sebuah gambar dapat merekam seseorang pada waktu tertentu, tetapi tidak menyediakan seluruh cerita mengenai orang yang dipotret. Apa yang kelihatan oleh kamera cuma sebagian kecil dari pengalaman yang terjadi di luar bingkai.

Yang menggunakan permasalahan tersebut untuk membangun hubungan antara gambar dan pengetahuan. Penonton memperoleh keterangan melalui babak yang tersebar, tetapi tidak langsung mengetahui sepertiapa setiap peristiwa saling memengaruhi. Sebuah aksi yang tampaknya tidak krusial dapat memiliki akibat besar bagi karakter lain, terlebihlagi ketika pelakunya tidak menyadari hubungan tersebut.

Panggilan telepon iseng menjadi salah satu contoh paling jelas. Kata-kata yang bagi seseorang merupakan permainan dapat diterima orang lain sebagai keterangan serius. Maknanya berubah karena penerima membawa persoalan, kecemasan, dan kecurigaan yang tidak diketahui oleh orang yang menelepon.

RELATED STORY: Akira Kurosawa dan DNA Film Modern

Dalam “Taipei Story”, dua karakter menghadapi perbedaan harapan yang tumbuh sepanjang hubungan mereka. “The Terrorizers” memperlihatkan permasalahan lain: manusia dapat memungut keputusan berdasarkan keterangan yang keliru, sementara aksi orang luar sanggup mengubah hubungan yang sebelumnya tampak tidak berkaitan.

Struktur naratif sinema tersebut membikin pemirsa menghadapi kekurangan serupa. Kita mencoba memahami hubungan antarkarakter, tetapi keterangan baru terus mengubah penilaian terhadap peristiwa sebelumnya. Yang tidak memberikan deskripsi kota yang sepenuhnya dapat diketahui dari satu perspektif pandang.

Pendekatan itu juga menjadi salah satu ciri khas krusial penyutradaraannya. Alih-alih selalu mengikuti perjalanan emosional satu tokoh, Yang sering memperlihatkan sepertiapa hayat beberapa orang berjumpa dan saling memengaruhi. Masing-masing karakter memiliki pengalaman sendiri, tetapi tidak seorang pun mengetahui keseluruhan cerita yang sedang berlangsung.

A Confucian Confusion

A Confucian Confusion

Orang-Orang yang Terus Berbicara, tetapi Tidak Saling Mendengarkan

Jika “The Terrorizers” menggunakan keterangan yang terputus untuk membangun ketidakpastian, “A Confucian Confusion” (1994) memperlihatkan permasalahan komunikasi melalui metode yang jauh lebih riuh.

Film ini mengikuti sekelompok ahli muda Taipei yang terlibat dalam bisnis, industri kebudayaan, persahabatan, dan hubungan romantis. Molly mengelola perusahaan hubungan penduduk yang mengalami kesulitan, sementara orang-orang di sekitarnya membawa kepentingan yang sering bertentangan dengan hubungan individual mereka.

Salah satu karakter, Larry, terlebihlagi membandingkan persahabatan dengan investasi jangka panjang. Perbandingan tersebut bukan sekadar kelakar. Sebagaimana dibahas dalam kajian retrospektif The Nation, Larry memperlakukan relasi sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk memperoleh keuntungan, termasuk ketika ia memanipulasi hubungan orang-orang terdekatnya.

Yang menyajikan bumi tersebut melalui komedi, percakapan cepat, dan pertemuan beragam karakter. Perbincangan mengenai pekerjaan dapat berubah menjadi perselisihan percintaan, sementara hubungan yang tampaknya dekat menyembunyikan persaingan. Berbeda dari kondisi “Taipei Story”, keretakan dalam sinema ini muncul di tengah orang-orang yang terus bersosialisasi.

Persoalannya bukan bahwa para karakter tidak saling berbicara. Mereka justru begitu terbiasa bernegosiasi dan menilai kepentingan orang lain sehingga hubungan individual pun diperlakukan sebagai bagiankecil dari strategi. Yang memperlihatkan sebuah lingkungan sosial tempat seseorang bisa memahami posisi upaya temannya dengan sangat baik, tetapi statis mengabaikan emosi maupun kebutuhan temannya sebagai manusia.

Persoalan yang Lebih Tua daripada Kemakmuran Taipei

Kesulitan memahami orang lain dalam film-film Edward Yang tidak dapat seluruhnya dijelaskan sebagai akibat modernisasi ekonomi. “A Brighter Summer Day” (1991) memperluas permasalahan tersebut melalui latar Taiwan pada mula 1960-an, ketika hayat penduduk statis dibentuk oleh pemerintahan otoriter, ketegangan politik, dan pengalaman famili yang bergeser dari Tiongkok daratan.

Melalui hayat Xiao Si’r, keluarga, lingkungan sekolah, serta himpunan remaja di sekitarnya, Yang memperlihatkan hubungan antara perselisihan individual dan dominasi yang jauh lebih besar daripada individu. Para orang tua membawa pengalaman sejarah yang berbeda dari anak-anak mereka. Otoritas sekolah dan negara membatasi pilihan, sementara para remaja berupaya membangun identitas melalui persahabatan, percintaan, dan adat populer.

Ketika bapak Xiao Si’r menghadapi interogasi aparat, tekanan politik memasuki hayat keluarga. Persoalan memahami orang lain kini berhubungan dengan ketakutan, pengalaman sejarah yang tidak dibagikan secara terbuka, dan ketidakmampuan seseorang mengendalikan keadaan yang menentukan kehidupannya.

Film ini krusial karena memperlihatkan batas pembacaan Edward Yang sebagai pengkritik hayat kota modern. Sebelum pertumbuhan ekonomi Taiwan menghasilkan deskripsi Taipei yang semakin makmur, hubungan manusia telah dipengaruhi oleh dominasi dan perbedaan pengalaman antargenerasi.

Dengan demikian, modernisasi tidak menciptakan seluruh permasalahan dalam bumi Yang. Perubahan ekonomi dan adat dapat memperbesar maupun mengubah bentuk ketegangan yang sudah ada, tetapi sumbernya juga dapat ditemukan dalam sejarah politik, struktur keluarga, serta metode seseorang melihat orang lain melalui harapan dan ketakutannya sendiri.

Belajar Melihat Kehidupan dari Sudut yang Berbeda

Dalam “Yi Yi” (2000), Edward Yang membawa perhatian tersebut ke hayat satu famili kelas menengah Taipei. NJ bekerja dalam bumi upaya teknologi, istrinya Min-Min menghadapi permasalahan famili dan kegelisahan personal, sementara kedua anak mereka mengalami kesulitan yang tidak sepenuhnya dipahami oleh orang dewasa di sekitarnya.

Yang mengikuti hayat mereka tanpa menjadikan satu karakter sebagai pusat seluruh pengalaman. Persoalan pekerjaan NJ berkembang berdampingan dengan hubungan emosional putrinya, Ting-Ting. Pengalaman orang dewasa dan anak-anak tidak dipisahkan menjadi bumi yang sepenuhnya berbeda. Keputusan, keraguan, dan pengalaman mereka terkadang memiliki kesamaan yang tidak mereka sadari.

NJ, misalnya, balik salingberhadapan dengan seseorang dari masa lalunya. Pertemuan tersebut membawanya meninjau hayat yang telah dipilih dan kemungkinan lain yang pernah ditinggalkan. Sementara itu, Ting-Ting menghadapi pengalaman percintaan yang membuatnya mengenali emosi yang sebelumnya belum ia pahami.

Yang mempertemukan pengalaman kedua generasi melalui pengeditan silang, tanpa mengharuskan mereka membicarakan semuanya. Kent Jones dalam esainya untuk Criterion Collection mencatat sepertiapa pengalaman romantis NJ dan Ting-Ting saling dihubungkan, sementara bunyi dari satu babak terkadang menyatu dengan babak lainnya. Penonton mengetahui sesuatu tentang hayat mereka yang tidak diketahui oleh personel famili yang lain.

RELATED STORY: Yi Yi Review: Potret Sunyi Kehidupan Keluarga di Tengah Kekacauan Modern

Di tangan Yang, famili menjadi tempat beragam pengalaman hidup terjadi berdekatan tanpa selalu saling terbuka. Setiap orang menghadapi permasalahan yang dianggap penting, tetapi mereka sering tidak memiliki cukup waktu, perhatian, maupun ilmu untuk memahami apa yang sedang dialami personel famili lainnya.

Pembacaan tersebut mencapai bentuk yang paling jelas melalui Yang-Yang, anak bungsu famili itu. Ia mulai menggunakan kamera untuk memfoto bagiankecil belakang imam orang lain. Ketika memperlihatkan salah satu hasil fotonya kepada pamannya, ia menerangkan bahwa orang tidak bisa melihat bagiankecil belakang kepalanya sendiri. Foto tersebut membantu memperlihatkan sesuatu yang selama ini tidak dapat dilihat sang paman.

Bagi Yang-Yang, fotografi memberinya kesempatan memperlihatkan sesuatu yang tidak dapat dilihat seseorang dari perspektif pandangnya sendiri. Ia tidak sedang mencari gambar yang elok maupun mengabadikan peristiwa penting. Perhatiannya tertuju pada hal yang biasa, tetapi luput dari pengalaman orang yang dipotret.

Gagasan itu berhubungan dengan metode “Yi Yi” memperlakukan karakter-karakternya. Penonton dapat melihat sesuatu yang tidak diketahui NJ mengenai anak-anaknya, maupun memahami kesulitan Ting-Ting yang tidak pernah sepenuhnya sampai kepada personel famili lain. Namun, kelebihan keterangan tersebut tidak membikin pemirsa memiliki penilaian yang pasti terhadap setiap aksi mereka.

Yang sering menggunakan ruang interior, jendela, dan pantulan permukaan kaca untuk menempatkan manusia di tengah lingkungan yang terus bergerak. Dalam sejumlah komposisi, hayat kota kelihatan berbarengan dengan aktivitas karakter. Gambar memperlihatkan hubungan antara manusia dan lingkungannya tanpa mengharuskan setiap elemen menjadi lambang keterasingan.

Pendekatan tersebut turut menerangkan kenapa efek Yang dapat ditemukan pada karya sineas setelahnya. Dalam wawancara Taiwan Film and Audiovisual Institute pada 2023, Ryusuke Hamaguchi menerangkan bahwa pengamatan terhadap hubungan kamera, karakter, dan ruang dalam film-film Yang memengaruhi penyutradaraannya, terutama “Intimacies” (2012). Ia memberi contoh sepertiapa posisi kamera dapat memperlihatkan aktivitas kota di luar jendela, sekalipun perhatian utama babak eksis pada manusia di dalam ruangan.

Neo Sora menyampaikan pengakuan serupa melalui wawancara Senses of Cinema pada 2025. Baginya, Yang memperlihatkan sepertiapa lanskap kota dan pengalaman karakter saling berhubungan. Pengaruh tersebut berhubungan dengan rentang kamera dan metode lingkungan sosial datang dalam gambar, bukan semata-mata kesamaan kondisi maupun tema.

Dibandingkan dengan hubungan yang semakin sulit dipertahankan dalam “Taipei Story” maupun rangkaian salah pengertian dalam “The Terrorizers”, “Yi Yi” memberi ruang lebih besar bagi perhatian dan empati. Karakter-karakternya statis berbuat kesalahan, menghadapi penyesalan, dan menjalani hayat yang tidak sepenuhnya mereka kendalikan. Tetapi melalui Yang-Yang, sinema ini memperlihatkan bentuk perhatian yang tidak dimulai dari keinginan menilai maupun mengubah orang lain.

Fotografi Yang-Yang tidak menyelesaikan masalah perkawinan, pekerjaan, maupun hubungan antargenerasi. Ia cuma memperlihatkan sesuatu yang tidak dapat dilihat orang lain sendirian. Dalam famili yang anggotanya sering kesulitan memahami pengalaman satu sama lain, aksi kecil itu memperoleh arti yang jauh melampaui hasil sebuah foto.

Edward Yang tidak menawarkan garansi bahwa kedekatan akan menghasilkan pemahaman. Melalui “Yi Yi”, ia justru memberikan kemungkinan yang lebih sederhana dan masuk akal: manusia bisa belajar memperhatikan bagiankecil hayat orang lain yang sebelumnya tidak pernah mereka pikirkan.

Artikel Lainnya Review Movie Terbaru
↑
Close Right Ads
Close Left Ads