Dua naskah N. Riantiarno memperoleh panggung melalui “Koma Sejenak Vol. 1” di Gedung Kesenian Jakarta pada 22–23 Oktober 2026. Di tangan Bayu Dharmawan Saleh dan Nino Bukir, keduanya menghadirkan pendekatan yang berbeda. “Kebohongan di Atas Atap” menempatkan ketidakjujuran dalam pergulatan seorang manusia dengan dirinya sendiri, sementara “Srikandi” membawanya ke bumi pewayangan, tempat propaganda dan kepalsuan menjadi intimidasi yang mesti dihadapi bersama.
Bagi Teater Koma, program ini juga membuka kesempatan untuk menghidupkan balik naskah-naskah peninggalan pendirinya melalui interpretasi generasi pembuat berikutnya. Perbedaan pendekatan kedua sutradara kelihatan dalam penggunaan ruang, pergerakan aktor, tata cahaya, dan multimedia yang membangun karakter masing-masing pertunjukan.
Ketika Kebohongan Mengambil Bentuk
Dalam “Kebohongan di Atas Atap”, Gamal Nashar, seorang figur kebudayaan sekaligus pengusaha kaya yang sedang sakit kritis, menemukan dirinya eksis di atas epilog berbareng seorang anak perempuan. Situasi ganjil tersebut menjadi pintu masuk untuk membicarakan kesulitan manusia mengakui fakta kepada dirinya sendiri.
Naskah ini menggunakan ide dari kisah Pinokio: hidung Gamal memanjang setiap kali ia berbohong. Kebohongan yang semula digunakan untuk menutupi sesuatu perlahan menjadi beban yang semakin sulit dilepaskan. Gambaran jasmani tersebut memberi bentuk yang konkret pada perselisihan batin tokohnya.
Tata panggung menguatkan situasi itu melalui sebuah sektor miring memanjang yang mendominasi ruang pertunjukan. Bentuknya menghadirkan kesan epilog sekaligus tempat yang tidak sepenuhnya stabil. Ketika para pemeran duduk, berbaring, merangkak, maupun bergeser menyusuri permukaannya, posisi tubuh mereka menciptakan hubungan ruang yang terus berubah. Jarak dan pertemuan antartokoh dapat dibangun tanpa mesti bersandar pada pergantian dekorasi yang rumit.
Permainan pemeran bergeser antara dialog, gestur, dan ekspresi wajah. Pada babak yang lebih intim, fluktuasi emosi kelihatan melalui tatapan, sikap tubuh, dan rentang fisik. Sementara itu, pergerakan yang lebih lebar serta ekspresi yang kuat membawa beberapa bagiankecil cerita ke daerah yang lebih teatrikal. Perpaduan tersebut membikin situasi surealis dalam lakon statis memiliki hubungan dengan permasalahan emosional yang gampang dikenali.
Tata cahaya bernuansa biru, ungu, dan magenta menambah kesan bahwa peristiwa terjadi di antara kenyataan, ingatan, dan bumi batin. Area panggung yang terang mengarahkan perhatian kepada figur tertentu, sementara bagiankecil yang tenggelam dalam gelap menciptakan ruang bagi sesuatu yang belum terungkap. Kehadiran deskripsi dan deskripsi visual di belakang pemeran turut memperluas kondisi tersebut.
Melalui formasi artistik ini, ketidakjujuran tidak cuma menjadi permasalahan dalam dialog. Tubuh aktor, sektor panggung yang miring, dan permainan cahaya membantu menggambarkan keadaan seseorang yang semakin terperangkap dalam cerita yang dibangunnya sendiri.

“Srikandi”: Dunia Pewayangan dan Musuh yang Tak Terlihat
Jika “Kebohongan di Atas Atap” bergeser dalam daerah pergulatan pribadi, “Srikandi” membawa permasalahan serupa ke ruang sosial yang lebih luas. Di bawah instruksi Nino Bukir, Dewi Srikandi berbareng Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong menghadapi intimidasi yang tidak gampang dikenali di tengah hutan menjelang Perang Baratayudha.
Dunia pewayangan digunakan untuk membicarakan permasalahan kontemporer, terutama hoaks, propaganda, dan ketidakjujuran publik. Musuh yang dihadapi para figur tidak selalu muncul sebagai sosok yang dapat dilihat secara langsung. Ancaman tersebut juga datang melalui keterangan yang dipelintir dan narasi yang dapat memengaruhi metode penduduk memahami kenyataan.
Pendekatan panggungnya lebih ekspresif. Kostum, riasan, dan siluet pemain membangun deskripsi visual yang kuat, sementara pergerakan tubuh serta gestur yang diperbesar membikin karakter gampang dikenali dari kejauhan. Pose-pose tegas menciptakan komposisi yang menyerupai gambar hidup dari bumi wayang.
Tubuh para pemain menjadi alat krusial dalam membangun karakter. Perubahan arah pandang, posisi tangan, dan metode mereka menguasai ruang membantu membentuk hubungan antartokoh. Dalam babak kelompok, perbedaan gestur dan posisi masing-masing pemain menghasilkan formasi visual yang dinamis.
Tata cahaya merah, ungu, dan biru mempertegas bentuk kostum serta riasan, sedangkan deskripsi dan proyeksi visual membangun kedalaman panggung. Hutan yang menjadi latar cerita tidak dihadirkan melalui dekorasi naturalistis, melainkan melalui perpaduan cahaya, multimedia, dan pergerakan pemain.
Penggunaan multimedia memberi ruang bagi pagelaran untuk bergeser antara bumi pewayangan dan pembacaan modern atas permasalahan yang diangkat. Latar visual menjadi bagiankecil dari pembentukan suasana, bukan semata-mata penghias panggung.
Di balik bahasa pagelaran yang ekspresif itu, “Srikandi” berbicara tentang sepertiapa ketidakjujuran dapat memperoleh kekuatan ketika terus diulang dan dipercaya bersama-sama. Melalui figur pewayangan yang sudah dekat dalam kebudayaan Indonesia, permasalahan propaganda dan manipulasi keterangan mendapat bentuk dramatik yang dapat dikenali pemirsa masa kini.

Dua Pendekatan terhadap Kebohongan
Perbedaan paling menonjol dari kedua lakon terletak pada metode masing-masing sutradara menggunakan panggung untuk menggambarkan konflik. Dalam “Kebohongan di Atas Atap”, sektor miring dan pergerakan pemeran membangun ruang yang terasa terasing, sejalan dengan pergulatan pribadi Gamal Nashar. Sebaliknya, “Srikandi” mengandalkan komposisi kelompok, gestur ekspresif, serta perpaduan kostum dan multimedia untuk menghadirkan intimidasi yang lebih luas.
Keduanya sama-sama menempatkan tubuh pemeran sebagai bagiankecil krusial dari penceritaan. Namun, tubuh tersebut menjalankan fungsi yang berbeda. Pada lakon pertama, fluktuasi posisi dan rentang membantu memperlihatkan ketegangan antartokoh. Pada lakon kedua, pergerakan himpunan dan siluet yang tegas membangun bumi simbolis tempat informasi, keyakinan, dan ketidakjujuran saling berhadapan.
Perbedaan pendekatan itu membikin kedua naskah memiliki identitas pagelaran masing-masing, meskipun berangkat dari kegelisahan yang berdekatan.
Format Ringkas, Ruang bagi Generasi Berikutnya
“Koma Sejenak Vol. 1” menjadi bagiankecil dari upaya Teater Koma mengeksplorasi format pagelaran yang lebih ringkas setelah puluhan tahun dikenal melalui produksi berskala besar. Bagi produser Ratna Riantiarno, program ini merupakan kesempatan untuk membuka ruang bagi sutradara dan pembuat baru sekaligus mendorong regenerasi dalam himpunan teater tersebut.
Kehadiran Bayu Dharmawan Saleh dan Nino Bukir memperlihatkan sepertiapa naskah karya N. Riantiarno dapat dikembangkan melalui pendekatan penyutradaraan yang berbeda. Keduanya tidak sekadar memindahkan cerita ke atas panggung, tetapi membangun pengalaman pagelaran melalui pilihan artistik masing-masing.
Ada hal krusial dalam proses tersebut. Naskah-naskah yang ditinggalkan seorang penulis tidak mesti selesai sebagai arsip. Karya itu statis dapat dibaca balik dan mendapatkan bentuk baru ketika eksis di tangan sutradara, pemain, dan buruh artistik dari generasi berikutnya.
Melalui “Koma Sejenak”, Teater Koma memperlihatkan salah satu metode menjaga keberlanjutan himpunan setelah kepergian pendirinya. Dua lakon N. Riantiarno statis membawa perhatian pada permasalahan manusia dan masyarakat, tetapi bentuk pertunjukannya kini turut ditentukan oleh pembuat yang memperoleh ruang untuk menafsirkannya. Di situlah program ini menemukan arti pentingnya bagi perjalanan Teater Koma: menjaga karya statis hidup dengan memberi kesempatan kepada generasi berikutnya untuk mengolahnya.