10 Film yang Terinspirasi Lukisan Terkenal

Review Movie Terbaru oleh Waktu baca 10 menit 505x dilihat
10 Film yang Terinspirasi Lukisan Terkenal

Bagikan Postingan

Lukisan dan sinema berbagi satu permasalahan dasar: bingkai. Jauh sebelum kamera ada, pelukis sudah mesti memutuskan dari mana cahaya datang, di mana tubuh ditempatkan, dan momen mana yang layak dibekukan. Sinema mewarisi semua keputusan itu, kemudian menambahkan sesuatu yang tidak dimiliki kanvas, yaitu durasi. Maka ketika seorang sutradara meminjam lukisan, yang ia ambil jarang selesai pada gambar yang indah. Ia ikut meminjam metode pelukis itu melihat, dan sering kali juga beban arti yang sudah melekat pada kanvasnya, entah itu iman, sejarah, maupun ketakutan.

Pinjaman seperti itu juga gampang diklaim, karena kesamaan visual gampang dipaksakan. Daftar ini mengumpulkan sepuluh sinema dari enam dekade, dari Spanyol sampai Taiwan, yang masing-masing terhubung dengan satu lukisan maupun satu pelukis tertentu, sebagai sumber cerita maupun bahasa visual. Syaratnya ketat: hubungan itu mesti diakui pembuat filmnya maupun dibahas analisis kritik yang kredibel, sedangkan kesamaan yang cuma ditemukan peminat tidak dihitung. Biopik pelukis cuma masuk jika filmnya ikut meminjam corak lukisan sang pelukis, dan urutan di bawah ini kronologis, bukan peringkat.

Viridiana (1961)

Sutradara: Luis Buñuel · Negara: Spanyol, Meksiko · Lukisan: “Perjamuan Terakhir” (sekitar 1495–1498), Leonardo da Vinci

Buñuel pulang dari pengasingan panjang di Meksiko untuk membikin “Viridiana”, dan akibatnya dilarang pemerintah Franco serta dikecam Vatikan sebagai penistaan. Adegan yang paling sering disebut terjadi di rumah peninggalan om sang figur utama, seorang biarawati muda yang menampung para gelandangan.

Menurut ringkasan BFI, jamuan mabuk para tamunya tiba-tiba membeku menjadi tableau yang menyerupai lukisan Leonardo. Kajian Julián Daniel Gutiérrez-Albilla di Journal of Romance Studies (2005) menyoroti satu detail di dalamnya: Enedina, salah satu peminta-minta perempuan, berpura-pura memfoto rombongan di meja itu. Peminjaman Buñuel ampuh karena komposisi meja panjang Leonardo dikenali siapa saja dalam sekejap, sehingga pemirsa langsung mengerti apa yang sedang ia jungkirbalikkan. Film ini kemudian memenangi Palme d’Or Cannes 1961.

Mamma Roma (1962)

Sutradara: Pier Paolo Pasolini · Negara: Italia · Lukisan: “Lamentation of Christ” ‘Ratapan atas Kristus’ (sekitar 1480), Andrea Mantegna
Peringatan spoiler: entri ini membahas babak akhir film.

Di akhir film, Ettore, anak remaja Mamma Roma (Anna Magnani), terbaring terikat di ranjang sel tahanan dan dibingkai dari arah kakinya. Gino Moliterno di Senses of Cinema menulis bahwa sekuens itu jelas mengingatkan pada Kristus wafat karya Mantegna, pembacaan yang sudah beredar sejak sinema pertama kali diputar. Pasolini sendiri menolaknya. Dalam tulisannya di majalah Vie Nuove varian 4 Oktober 1962, yang dimuat ulang Cinefilia Ritrovata, ia mengeluh bahwa para kritikus serempak mengatakan Mantegna cuma karena tubuh Ettore dilihat dari ujung kaki. Menurutnya, hitam-putih yang keras di sel itu lebih dekat ke pelukis yang hidup puluhan tahun sebelum Mantegna, maupun ke perpaduan Masaccio dan Caravaggio.

Kita tidak mesti memilih salah satu pihak. Pasolini pernah belajar sejarah seni kepada Roberto Longhi, jadi keberatannya lebih masuk pikiran dibaca sebagai protes atas tafsir yang terlalu gampang daripada penyangkalan bahwa lukisan bekerja dalam filmnya. Shot itu statis layak masuk daftar ini karena perdebatannya terdokumentasi dari dua arah, dan jarang ada sutradara yang menolak sebuah sumber dengan begitu keras justru ketika sumber itu tampak begitu jelas.

Solaris (1972)

Solyaris / Solaris (1972)

Sutradara: Andrei Tarkovsky · Negara: Uni Soviet · Lukisan: “The Hunters in the Snow” ‘Para Pemburu di Salju’ (1565), Pieter Bruegel tua

Perpustakaan stasiun luar angkasa di “Solaris” digantungi reproduksi siklus “The Months” karya Bruegel, dan lanskap pedesaannya menjadi tandingan bagi dinding stasiun yang keras dan licin. Menurut jabaran Artnet, Hari, mendiang istri Kris yang dihadirkan balik oleh planet Solaris, suatu kali duduk sendirian di ruangan itu sambil merokok dan memandangi “The Hunters in the Snow”.

Kamera menyusuri detailnya satu per satu: anjing di belakang para pemburu, gagak di pohon gundul, orang-orang berseluncur di telaga beku. Artnet membaca babak itu sebagai pertemuan makhluk tanpa masa kemudian dengan panorama yang dekat bagi mata manusia tetapi luar baginya. Tarkovsky pernah mengatakan kepada kritikus Michel Ciment bahwa ada sesuatu yang sangat Rusia dalam metode Bruegel menjejalkan banyak figur yang sibuk dengan urusan masing-masing ke dalam satu kanvas. Lukisan yang sama ia rujuk lagi di “Zerkalo” / “The Mirror” (1975).

The Exorcist (1973)

Sutradara: William Friedkin · Negara: Amerika Serikat · Lukisan: “The Empire of Light, II” (1950), René Magritte

Shot kedatangan Pastor Merrin di depan rumah famili MacNeil, yang kemudian dipakai untuk poster, berangkat dari lukisan yang dilihat Friedkin di Museum of Modern Art, New York. Dalam dokumenter “A Decade Under the Influence” (2003), seperti dikutip Artnet, Friedkin mengatakan ia memilih rumah yang cocok dengan lukisan Magritte itu, komplit dengan lampu jalan dan arsip cahayanya.

Magritte melukis tema yang sama sekitar 27 kali, dan varian koleksi MoMA bertahun 1950. Di kanvasnya, langit siang yang terang menggantung di atas jalan yang sudah malam. Artnet mencatat sepertiapa kejanggalan cahaya itu pindah ke poster: cahaya kuat dari jendela lantai dua jatuh ke sosok Merrin yang berdiri di bawah lampu jalan, tetapi tubuhnya statis hitam pekat. Bagi “The Exorcist”, sinema horor yang hampir seluruhnya terjadi di satu rumah, gambar itu bekerja sebagai pengumuman: dua sumber cahaya yang saling bertentangan sudah cukup memberi tahu pemirsa bahwa ada yang salah di dalam.

“Yume” / “Dreams” (1990)

Sutradara: Akira Kurosawa · Negara: Jepang · Lukisan: “Wheatfield with Crows” ‘Ladang Gandum dengan Gagak’ (1890), Vincent van Gogh

“Karasu” (“Gagak”), bagian dari sinema antologi Akira Kurosawa ini, dibuka di sebuah galeri. Seorang mahasiswa seni, alter ego sang sutradara, melewati kanvas-kanvas Van Gogh dari tahun-tahun terakhir hidupnya, kemudian berjalan masuk ke “The Langlois Bridge at Arles” (1888) dan bertanya kepada sekelompok perempuan di kaki jembatan di mana Van Gogh tinggal.

Matthew Michaud dan Justin Richardson di Senses of Cinema menguraikan kelanjutannya: ia berjumpa sang pelukis, diperankan Martin Scorsese, di sebuah ladang, kehilangan jejaknya, dan berakhir di depan “Wheatfield with Crows”, salah satu lukisan terakhir Van Gogh, ketika gagak-gagak beterbangan. Kedua penulis itu juga mengingatkan bahwa Kurosawa muda pernah mau menjadi pelukis sebelum memilih film.

Di antara semua entri, pinjaman inilah yang paling harfiah, karena lukisan dijadikan lanskap yang bisa dijelajahi. Pertemuan dengan Van Gogh pun bisa dibaca sebagai sutradara berumur 80 tahun yang menengok balik cita-cita masa mudanya.

Girl with a Pearl Earring

“Girl with a Pearl Earring” (2003)

Sutradara: Peter Webber · Negara: Inggris, Luksemburg · Lukisan: “Girl with a Pearl Earring” ‘Gadis dengan Anting Mutiara’ (sekitar 1665), Johannes Vermeer

Satu-satunya biopik di daftar ini diadaptasi dari novel Tracy Chevalier dan membayangkan sepertiapa Vermeer (Colin Firth) melukis Griet (Scarlett Johansson), pelayan di rumahnya di Delft. Lukisannya memang sumber cerita, tetapi pinjaman yang lebih menentukan ada pada cahaya.

Kepada Variety pada 2004, yang dikutip ulang dalam obituarinya, sinematografer Eduardo Serra menerangkan bahwa pelukis era itu bekerja dengan cahaya alami dari satu jendela dan mencatat persis apa yang dilakukan cahaya itu pada wajah, dinding, dan benda-benda di meja. Inti film, katanya, adalah sepertiapa cahaya menyentuh Griet dan sepertiapa Vermeer menangkapnya di kanvas. Pekerjaan ini membawa Serra ke nominasi Oscar. Film ini lolos syarat biopik karena yang dipinjamnya adalah metode Vermeer melihat, sementara histori hidup sang pelukis cuma menjadi bingkai.

pan’s labyrinth

“El laberinto del fauno” / “Pan’s Labyrinth” (2006)

Sutradara: Guillermo del Toro · Negara: Meksiko, Spanyol · Lukisan: “Saturnus Melahap Putranya” (sekitar 1820–1823), Francisco Goya
Catatan konten: lukisan dan babak yang dibahas memuat kekerasan grafis.

Del Toro tidak menyembunyikan sumbernya. Dalam tulisannya untuk The Guardian pada 2006, seperti dikutip Far Out, ia mengatakan Goya sebagai rujukan yang jelas untuk Pale Man, makhluk pucat dengan mata di telapak tangan yang menjaga meja jamuan dalam salah satu cobaan Ofelia.

Adegan ketika Pale Man menggigit imam para peri, tulisnya, datang langsung dari lukisan Goya tentang Saturnus yang memangsa anaknya. Goya melukis karya itu di dinding rumahnya sendiri, ketika ia makin tuli, sakit, dan kecewa, dan postur bungkuk serta kulit pucat Saturnus menjadi titik mula gambar Pale Man.

Pinjaman ini bekerja di dua lapis. Secara visual, monster del Toro mewarisi tubuh Saturnus; secara tematik, sosok tua yang memangsa yang muda cocok untuk sinema yang berlatar Spanyol di bawah Franco pada 1940-an.

“Le voyage du ballon rouge” / “Flight of the Red Balloon” (2007)

Sutradara: Hou Hsiao-hsien · Negara: Prancis, Taiwan · Lukisan: “Le Ballon” (1899), Félix Vallotton

Film ini lahir dari pesanan museum. Untuk merayakan ulang tahun ke-20, Musée d’Orsay meminta sejumlah sutradara memakai satu lukisan dari koleksinya sebagai titik berangkat yang longgar, dan Hou memilih “Le Ballon”, lukisan seorang anak yang mengejar bola merah.

Darragh O’Donoghue di Senses of Cinema mencatat bahwa lukisan itu baru muncul di babak terakhir, dan cuma dalam potongan detail yang tertutup pantulan cahaya, sementara cicilan epilog mengatakan sinema singkat “Le ballon rouge” (1956) karya Albert Lamorisse sebagai alas ceritanya.

Menurut O’Donoghue, efek Vallotton justru tersebar di seluruh film: ruang yang dipipihkan, perspektif pandang yang dijungkirbalikkan, dan batas ruang publik dan privat yang bocor, seperti dalam karya-karya himpunan Nabis tempat Vallotton bernaung. Dari sepuluh entri, inilah pinjaman yang paling halus, dan karena itu juga yang paling gampang terlewat.

room in new york edward hopper

Room in New York – Edward Hopper

“Shirley: Visions of Reality” (2013)

Sutradara: Gustav Deutsch · Negara: Austria · Lukisan: 13 lukisan Edward Hopper, antara lain “Room in New York” (1932) dan “Office at Night” (1940)

Tidak ada sinema lain di daftar ini yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada lukisan seperti karya Gustav Deutsch ini. Ia menghidupkan tiga belas kanvas Hopper dan menjadikan perempuan-perempuan di dalamnya satu tokoh: Shirley, aktris fiktif yang hidupnya diikuti dari 1930-an sampai 1960-an.

Menurut keterangan program Berlinale 2013, setiap bagian jatuh pada 28 maupun 29 Agustus di tahun yang berbeda, dibuka dengan potongan siaran berita radio, dan diisi ceramah batin Shirley tentang teater, politik, dan hubungan asmaranya. Sejarah Amerika, dari Depresi Besar sampai pergerakan hak sipil, mengalir di latar belakang. Catatan bazar itu mengatakan sinema ini memanfaatkan mutu sinematis dan naratif yang seolah sudah tersimpan di lukisan Hopper, dan Deutsch menguji anggapan itu sampai ujung dengan memberi setiap bingkai Hopper waktu untuk bergerak.

Mencuri Raden Saleh

“Mencuri Raden Saleh” (2022)

Sutradara: Angga Dwimas Sasongko · Negara: Indonesia · Lukisan: “Penangkapan Pangeran Diponegoro” (1857), Raden Saleh

Lukisan Raden Saleh di sini adalah sumber cerita sekaligus barang yang diperebutkan. Piko (Iqbaal Ramadhan), mahasiswa seni yang hidup dari memalsukan lukisan, diminta membikin replika “Penangkapan Pangeran Diponegoro” untuk ditukar dengan yang asli. Menurut artikel Muhammad Daniel Fahmi Rizal di NU Online, Angga mulai menggagas sinema ini pada 2016, setelah mendatangi ke tempat yang menyimpan beberapa lukisan Raden Saleh dengan penjagaan minim, dan ia mengharapkan generasi muda tergerak mencari tahu siapa sang maestro.

Esais Sarah Monica di Whiteboard Journal membaca tema pengkhianatan dalam skenario sebagai gaung dari peristiwa di kanvas itu sendiri. Diponegoro dijebak dan ditangkap pada 28 Maret 1830 setelah Belanda melanggar kesepakatan gencatan senjata, dan Raden Saleh melukisnya sebagai tandingan atas varian Nicolaas Pieneman yang menggambarkan sang pangeran menyerah.

Monica juga mencatat satu kekeliruan kecil: percakapan sinema mengatakan replika Piko mengikuti hasil restorasi 2012, padahal lebih banyak sumber mengatakan restorasi itu dikerjakan pada 2013. Pembahasan Cultura tentang filmnya sebagai drama heist bisa dibaca di review “Mencuri Raden Saleh”.

Artikel Lainnya Review Movie Terbaru
↑
Close Right Ads
Close Left Ads