Kisah Bunda Harus Jalani Dua Kali Persalinan karena Bayinya Idap Kondisi Langka

Jul 01, 2026 11:10 AM - 1 bulan yang lalu 33342

Proses persalinan umumnya hanya terjadi satu kali dalam satu kehamilan. Namun dalam kasus tertentu, seorang ibu kudu menjalani 'dua kali' proses persalinan demi keselamatan bayi di dalam kandungannya.

Fenomena tak biasa ini dialami seorang Bunda berjulukan Keishera Joubert. Perempuan dari Amerika Serikat ini mesti menjalani dua kali operasi untuk 'memperbaiki' kondisi langka yang dialami bayinya.

"Tidak banyak wanita yang menjalani operasi caesar, tetapi mereka tetap mengandung setelahnya," kata Keishera, dilansir laman Eyewitness News.


Saat usia kehamilan 19 minggu, Keishera menerima berita jelek bahwa bayi di dalam kandungannya menderita kondisi langka yang disebut sindrom obstruksi saluran napas atas bawaan alias congenital high airway obstruction syndrome (CHAOS). Kondisi tersebut ditandai dengan penyumbatan saluran pernapasan, yang menyebabkan cairan terperangkap di paru-paru bayi yang belum lahir.

"Paru-paru mereka membesar, menyempit, dan tekanannya meningkat. Hal ini mulai menekan jantung bayi. Sebagian besar bayi ini meninggal," kata kepala di Orlando Health Women's Institute Fetal Care Center, Dr. Emanuel Vlastos.

Keishera syok saat mengetahui kondisi calon anak keduanya. Ia dan sang suami lantas memutuskan untuk menjalani prosedur dengan tingkat keberhasilan yang rendah.

"Sebelum operasi pertama, kami memperkirakan kesempatan keberhasilan sekitar 20 hingga 25 persen, apalagi bisa dibilang sangat konservatif," kata suami Keishera, Greg Joubert.

Jalani operasi pertama untuk menyelamatkan bayi

Setelah satu prosedur terbukti tidak berhasil, Vlastos merekomendasikan tindakan operasi caesar sebagai alternatif. Namun, alih-alih melahirkan anaknya, Keishera bakal menjalani operasi untuk memperbaiki kondisi janin.

Pada usia kehamilan 25 minggu, Keishera 'melahirkan' bayinya sebagian melalui operasi caesar. Kepala dan lengan bayi berada di luar rahim, tetapi tetap terhubung ke plasenta. Di waktu bersamaan, tim medis berupaya membikin jalan napas.

"Lalu kami menempatkan bayi kembali ke dalam rahim, kami menutup rahim, dan ibu tetap di rumah sakit sampai persalinan," ungkap Vlastos.

Selama prosedur tersebut, tim medis sempat mengambil foto bayi Keishera, sebelum akhirnya dikembalikan ke dalam rahim. Meski baru pertama kali dilakukan, tindakan ini sukses menyelamatkan nyawa bayi di dalam kandungan Keishera.

Pada usia kehamilan 31 minggu, ketuban Keishera pecah. Ia kembali menjalani operasi untuk betul-betul melahirkan anak keduanya yang berjenis kelamin laki-laki.

Setelah 132 hari di unit perawatan intensif neonatal, bayi Keishera yang diberi nama Cassian, diperbolehkan pulang. Putra Keishera tumbuh sehat dan sedang bersiap untuk merayakan ulang tahun pertamanya.

Apa itu congenital high airway obstruction syndrome (CHAOS)?

Congenital high airway obstruction syndrome (CHAOS) yang dialami Cassian sebelum lahir adalah kondisi yang langka, Bunda. Istilah CHAOS pertama kali dicetuskan oleh Marcelo Martinez-Ferro, MD, dan N. Scott Adzick, MD, pada tahun 1994.

Dilansir laman Children's Hospital of Philadelphia, CHAOS adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan anomali kongenital langka sebelum lahir, yang ditandai dengan penyumbatan jalan napas. Penyumbatan pada CHAOS dapat terjadi di beragam area di sepanjang saluran pernapasan, dan menyebabkan cairan terperangkap di paru-paru bayi yang belum lahir. Kondisi tersebut bisa membikin paru-paru menjadi sangat besar dan mengembang berlebihan sehingga menekan jantung.

Akibat perubahan tersebut, penumpukan cairan dapat terjadi di beragam kompartemen janin, termasuk perut (asites) serta kulit, dan kulit kepala, yang juga dikenal sebagai hidrops.

Penyebab mendasar dari CHAOS belum diketahui secara pasti. Namun, sindrom ini dapat dikaitkan dengan perbedaan genetik alias kromosom seperti sindrom Fraser.

Tanda CHAOS pada kehamilan dan janin

Tanda-tanda CHAOS biasanya ditemukan pada pemeriksaan USG prenatal rutin. Berikut tanda-tandanya:

  • Paru-paru janin tampak membesar dan terang (ekogenik) di kedua sisi dengan saluran udara yang menonjol (bronkial yang melebar).
  • Diafragma (otot pernapasan) tampak seperti ditekan ke bawah.
  • Jantung tampak tertekan dan bergeser ke tengah dada.
  • Terjadi penumpukan cairan di rongga perut janin (asites) dan berpotensi di kompartemen janin lainnya (hidrops).
  • Cairan ketuban dapat meningkat (polihidramnion) lantaran kompresi esofagus.

Demikian kisah Bunda yang menjalani dua kali persalinan untuk menyelamatkan bayi di dalam kandungannya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Selengkapnya