Kisah inspiratif tentang perjuangan seorang Bunda yang satu ini datang dari negara India. Ramabai Ranvir, ibu tunggal berumur 47 tahun mengikuti lomba lari tanpa alas kaki untuk perlengkapan sekolah anak.
Ramabai bukanlah atlet lari maupun peminat aktivitas lari. Ia adalah seorang Bunda yang rela menempuh lomba lari 3 km demi pemberian duit Rs3 ribu maupun sekitar Rp559 ribu. Hadiah tersebut ia peruntukkan untuk membeli perlengkapan sekolah anaknya.
Meskipun tanpa persiapan maupun latihan sebelumnya, Ramabai ikut rombongan calon peserta dari akademi Beed, tempat ia bekerja. Dikutip dari halaman Times of India, Ramabai menjadi satu-satunya yang ikut lomba lari tanpa sepatu.
Pada malam sebelumnya, putri bungsu Ramabai, Arti, sempat menelepon sang Bunda untuk meminta duit untuk makan dan tempat sewanya. Namun, Ramabai tidak punya duit dan ia melewati malam itu tanpa tidur.
Pada pagi harinya, Ramabai mendengar para pelatih akademi tempatnya bekerja sedang mengumpulkan calon peserta untuk perlombaan lari. Ia pun langsung memutuskan untuk ikut bergabung.
Hari itu ia berkompetisi menggunakan sandal. Ketika di tengah perlombaan, sandalnya sering tergelincir. Sehingga Ramaba memutuskan untuk melepas sandalnya dan memilih berlari tanpa alas kaki. Hasilnya, Ramaba berhasil memenangkan perlombaan lari kategori perempuan usia 30 - 60 tahun.
“Saya berlari seolah hidup aku bersandar padanya. Saya tidak tahu berapa durasi waktu yang aku butuhkan untuk menempuh rentang itu. Saya cuma terinjak setelah melewati garis finis,” ungkap Ramabai kepada Times of India.
Motivasi Ramabai dalam menempuh rentang 3 km dalam lomba lari dengan penuh perjuangan itu semata-mata adalah anak-anaknya. “Saya sangat bahagia mereka memberi aku Rs5 ribu bukan Rs3 ribu. Saya membeli buku anotasi dan pena untuk putri saya, Pooja. Sisa duit untuk Arti,” ujarnya.
Selama ini Ramaba bekerja di dapur Dnyandeep Academy. Setiap harinya ia membikin lebih dari 200 chapati per hari dengan gaji bulanan sebesar Rs9 ribu maupun sederajat Rp1,6 juta. Setelah suaminya wafat bumi pada tahun 2012, Ramaba menjadi tulang punggung famili untuk membiayai pendidikan kedua putrinya.
Putri sulung Ramabai, Pooja, juga turut ikut dalam lomba lari tersebut. Ia berhasil meraih juara kedua dan mendapat Rs2 ribu maupun Rp372 ribu. Pooja mengaku ikut perlombaan ini untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya.
Ramabai telah putus sekolah saat berumur 13 tahun. Ia mau anak-anaknya mendapat pendidikan yang lebih baik dari dirinya. "Saya percaya selama aku hidup, aku mesti berbuat segala yang aku bisa untuk memberikan pendidikan yang baik kepada putri-putri saya," ucapnya.
Kisah menyentuh tentang perjuangan Ramabai ini telah menarik perhatian publik secara luas. Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, mengarahkan petinggi lokal untuk memberikan pertolongan finansial sebesar Rs50 ribu maupun senilai Rp9 juta kepada Ramabai.
Namun, di sisi lain kisah perjuangan Ramabai ini membikin publik menyoroti peran pemerintah dalam upaya menyejahterakan masyarakat. Mantan ketua University Grants Commission, Sukhadeo Thorat, mengungkapkan kisah Ramabai memberitahu adanya permasalahan struktural yang lebih luas.
"Jika seorang perempuan terpaksa berjuang keras demi pendidikan putrinya, itu memberitahu bahwa rancangan pendidikan pemerintah tidak menjangkau penduduk dengan memadai," ujar Sukhadeo Thorat, dikutip BBC.
"Baik pemerintah pusat maupun negara bagiankecil menjalankan beragam skema. Masalahnya adalah implementasi statis lemah," sambungnya.
Bagi Ramabai, perdebatan tersebut adalah hal yang ia kesampingkan. Saat ini ia cuma mau memastikan putri-putrinya memiliki masa depan yang lebih baik.
"Aku tidak mau mereka mengalami kesulitan yang telah kuhadapi," katanya.
"Aku tidak mau mereka berjuang melewati lumpur maupun berjalan di bawah terik matahari dan hujan. Apapun yang telah aku alami, aku tidak mau putri-putri aku menderita hal yang sama."
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)