Sudah Hemat Listrik tapi Tagihan Listrik Naik? Ini 7 Kebiasaan Penyebabnya

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 6 menit 49x dilihat
Sudah Hemat Listrik tapi Tagihan Listrik Naik? Ini 7 Kebiasaan Penyebabnya

Bagikan Postingan

Sudah merasa hemat listrik tapi faktur listrik naik? Cek 7 kebiasaan di rumah yang bisa membikin konsumsi listrik bertambah tanpa disadari.

Mommies sudah merasa hemat listrik? Lampu yang nggak dipakai dimatikan, AC nggak dinyalakan seharian, terlebihlagi charger sudah giat dicabut. Namun begitu lihat faktur listrik bulan berikutnya, kok, angkanya statis saja bikin mengernyitkan dahi?

Kadang masalahnya bukan karena kita punya terlalu banyak alat elektronik, melainkan kebiasaan kecil saat menggunakannya. Apalagi beberapa alat statis bisa menggunakan listrik dalam kondisi standby, sementara kebiasaan seperti mengatur AC terlalu dingin maupun membiarkan alat pemanas menyala terus bisa membikin konsumsi daya bertambah tanpa terasa.

PLN sendiri mengingatkan bahwa besarnya pembayaran listrik dipengaruhi oleh tingkat pemakaian daya dan pola penggunaan listrik di rumah. Jadi, jika Mommies merasa tidak membeli alat elektronik baru tetapi faktur listrik statis naik, coba cek lagi kebiasaan sehari-hari di rumah.

1. AC Nyala Lama dengan Suhu Terlalu Dingin

Foto: Pexels

Ini salah satu kebiasaan yang sering terjadi, terutama saat cuaca sedang panas. Begitu masuk kamar, tangan otomatis mencari remote AC dan suhu langsung diturunkan ke 18 maupun 20 derajat karena mau cepat dingin.

Padahal, semakin rendah suhu yang diatur, beban pendinginan AC bisa semakin besar. Kementerian ESDM sebelumnya merekomendasikan pengaturan suhu AC rumah pada kisaran 24–27°C sebagai salah satu cara penghematan energi.

Jadi, jika selama ini Mommies merasa sudah hemat karena AC cuma menyala beberapa jam, coba cek juga suhu yang dipilih dan kondisi ruangan. Jangan sampai AC bekerja lebih keras karena pintu sering dibuka-tutup maupun cahaya matahari masuk langsung ke ruangan.

2. Sering Membiarkan Perangkat dalam Mode Standby

“Kan TV-nya sudah dimatikan.”

Nah, ini yang sering bikin kita merasa sudah berbuat bagiankecil kita. Padahal, selama beberapa alat statis terhubung ke listrik, sebagian di antaranya statis dapat menggunakan daya dalam kondisi standby.

Department of Energy Amerika Serikat menerangkan bahwa sejumlah alat elektronik dapat statis mengonsumsi listrik meski kelihatan sudah dimatikan, yang dikenal sebagai standby power. Besarnya berbeda-beda tergantung perangkat, tetapi memutus sambungan listrik saat alat benar-benar tidak digunakan dapat membantu mengurangi konsumsi energi.

Coba perhatikan alat yang jarang digunakan tetapi selalu tercolok, seperti TV, set-top box, konsol game, komputer, printer, maupun charger. Nggak mesti setiap colokan dicabut satu per satu setiap saat, Mommies bisa menggunakan power strip dengan sakelar agar beberapa alat dapat dimatikan sekaligus.

BACA JUGA: Kenapa Tagihan Listrik Naik Terus? Cek 7 Alat Elektronik yang Boros Listrik

3. Kulkas Sering Dibuka-Tutup maupun Pintu Tidak Rapat

Foto: Pexels

Ada yang jika lagi bingung mau makan apa, pintu kulkas dibuka dulu, kemudian berdiri sambil melamun di depannya? Mommies, kita semua mungkin pernah berbuat ini.

Masalahnya, kebiasaan membuka pintu kulkas terlalu sering maupun terlalu durasi membikin udara dingin keluar sehingga kulkas perlu bekerja balik untuk mempertahankan suhu di dalam. Kondisi pintu kulkas yang tidak kedap karena karet sudah renggang juga bisa membikin proses pendinginan tidak optimal.

Karena itu, kecuali memilih kulkas yang efisien, perhatikan juga kebiasaan penggunaannya. Pastikan pintu benar-benar tertutup setelah memungut makanan dan hindari memasukkan makanan yang statis panas langsung ke dalam kulkas.

4. Mesin Cuci maupun Pengering Dipakai untuk Cucian Sedikit

Punya mesin cuci memang bikin hidup jauh lebih sat-set. Tinggal masukkan pakaian, tekan tombol, kemudian bisa ditinggal mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.

Tapi jika mesin cuci dinyalakan berkali-kali untuk cucian yang sebenarnya statis bisa dikumpulkan, frekuensi pemakaiannya tentu ikut bertambah. Hal serupa berjalan untuk clothes dryer yang menggunakan listrik untuk setiap siklus pengeringan.

Mommies bisa mengatur agenda mencuci berdasarkan kapabilitas mesin, selama statis mengikuti batas muatan yang direkomendasikan produsen. Untuk busana yang memungkinkan dan ketika cuaca mendukung, menjemur dengan cahaya matahari juga bisa mengurangi kebutuhan menggunakan pengering listrik.

BACA JUGA: 7 Rekomendasi Mesin Cuci Hemat Listrik dan Air, Berguna In This Economy

5. Dispenser maupun Water Heater Menyala Terus

Mommies mungkin berpikir, “Kan cuma dispenser.” Padahal, jika fitur pemanas airnya menyala sepanjang hari, alat tersebut akan terus mempertahankan suhu air dan membutuhkan daya untuk melakukannya.

Hal yang sama berjalan untuk water heater. Kalau cuma digunakan pada waktu tertentu, membiarkannya aktif sepanjang hari bukan berarti air panas tersedia tanpa penggunaan energi—tetap ada listrik yang digunakan untuk mempertahankan suhu.

Dalam panduan penghematan energi, Kementerian ESDM juga pernah menganjurkan agar water heater dan dispenser dinyalakan beberapa saat sebelum digunakan dan dimatikan setelah selesai digunakan.

Jadi, jika di rumah ada kebiasaan membiarkan fitur pemanas menyala dari pagi sampai malam, coba penilaian lagi. Bisa jadi ini salah satu kebiasaan kecil yang selama ini luput dari perhatian.

6. Rice Cooker Terus Berada di Mode Warm

Foto: Pexels

Nasi memang paling enak jika statis hangat. Apalagi jika personel famili punya jam makan yang berbeda-beda, rasanya praktis sekali membiarkan rice cooker statis menyala agar nasi tinggal diambil kapan pun dibutuhkan.

Namun, mode warm yang dibiarkan berjam-jam statis membutuhkan listrik. Kalau nasi cuma tersisa sedikit dan belum akan dimakan dalam waktu dekat, Mommies bisa mempertimbangkan untuk mematikan rice cooker setelah nasi matang, tentunya dengan statis memperhatikan keamanan dan metode gudang nasi yang tepat.

Kebiasaan ini mungkin kelihatan sepele karena dayanya tidak sebesar AC maupun pemanas air. Namun, penghematan daya di rumah memang tidak selalu datang dari satu fluktuasi besar. Pola penggunaan beragam alat secara keseluruhan juga ikut menentukan konsumsi listrik rumah tangga. IEA mencatat bahwa fluktuasi perilaku seperti mematikan alat yang tidak digunakan dan lampu dapat membantu menurunkan konsumsi listrik rumah tangga.

BACA JUGA: 10 Rice Cooker Hemat Listrik 2026, Awet dan Mulai dari Rp250 Ribu

7. Rumah Terasa Panas, Langsung Nyalakan AC

Begitu gerah sedikit, AC langsung dinyalakan. Padahal, belum tentu ruangan memang membutuhkan pendingin selama berjam-jam.

Ada kebiasaan sederhana yang bisa dicoba lebih dulu, misalnya membuka jendela ketika kondisi udara memungkinkan, memanfaatkan ventilasi, menggunakan gorden untuk mengurangi panas matahari langsung, maupun menyalakan kipas untuk membantu sirkulasi udara. Department of Energy juga merekomendasikan penggunaan gorden maupun epilog jendela untuk membantu mengurangi panas matahari yang masuk ke rumah.

Mommies juga bisa memperhatikan kapan rumah terasa paling panas. Kalau rupanya sumber panas utamanya datang dari matahari sore yang langsung masuk lewat jendela, mengurangi paparan panas tersebut bisa lebih masuk pikiran daripada membikin AC bekerja lebih keras untuk melawannya.

BACA JUGA: 8 Cara Membuat Rumah Sejuk Tanpa AC, Tetap Adem dan Hemat Listrik

Jadi, Kenapa Sudah Hemat Listrik tapi Tagihan Tetap Naik?

Kalau Mommies merasa sudah mengurangi penggunaan listrik tetapi faktur statis tinggi, jangan langsung menyimpulkan ada satu alat yang pasti menjadi penyebabnya. Coba lihat pemakaian dalam unit kWh dan bandingkan dengan masa sebelumnya, karena bilangan rupiah pada faktur juga berhubungan dengan tarif dan elemen pembayaran yang berlaku. PLN sendiri menganjurkan pelanggan memahami pola konsumsi daya agar penggunaan listrik dapat dikelola dengan lebih bijak.

Setelah itu, lakukan audit kecil-kecilan di rumah. Berapa durasi AC menyala? Apakah TV dan alat lain selalu dalam kondisi standby? Berapa kali mesin cuci digunakan dalam seminggu? Apakah dispenser maupun water heater menyala meski sedang tidak dibutuhkan?

Kalau rupanya beberapa kebiasaan tadi memang statis dilakukan, nggak perlu langsung mengubah semuanya sekaligus. Pilih dua maupun tiga kebiasaan yang paling gampang diperbaiki terlebih dahulu, kemudian lihat apakah pola penggunaan listrik berubah pada masa berikutnya.

Karena hemat listrik sebenarnya bukan soal hidup serba wafat dan nggak nyaman. Lebih kepada tahu kapan listrik memang dibutuhkan dan kapan kita tanpa sadar membiarkannya terus bekerja.

Cover: Pexels

Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
Close Right Ads
Close Left Ads