Jakarta -
Setiap orang tua tanpa disadari memiliki anak favorit di keluarga. Tetapi, banyak anak tidak menyadari bahwa dirinya yang menjadi favorit di mata orang tuanya, Bunda.
Penelitian tentang favoritisme orang tua menemukan bahwa sebagian besar ibu secara pribadi mengakui memiliki anak favorit. Tetapi, ketika peneliti meminta anak-anak untuk menebak siapa anak favorit orang tuanya, tebakan mereka biasanya salah.
Dalam studi ini, peneliti Jill Suitor dari Purdue University dan Karl Pillemer dari Cornell University mewawancarai lebih dari 400 ibu yang lebih tua tentang hubungan mereka dengan lebih dari 1.500 anak dewasa. Demikian seperti melansir dari halaman Bolde.
Alih-alih menanyakan siapa anak favorit, peneliti memecah pertanyaan tersebut menjadi beberapa bagian. Pertanyaan ini berupa, 'Anak mana yang paling dekat secara emosional dengan ibu? Anak mana yang paling membikin ibu bangga? Anak mana yang paling sering membikin ibu berkonflik? Anak mana yang paling mengecewakan ibu?'.
Tujuan pertanyaan ini adalah untuk memisahkan hal-hal yang diduga tidak akan sesuai dengan anggapan kebanyakan keluarga. Faktanya memang ditemukan ketidaksesuaian, Bunda.
Hasil studi menemukan bahwa sekitar tiga perempat ibu mengutarakan nama anak yang mereka rasa sangat dekat, dan sekitar 6 dari 10 mengutarakan nama anak yang sangat mereka banggakan. Para ibu tersebut benar-benar membedakan nama anak mereka.
Tetapi, studi mengungkap bahwa anak yang pertama kali ibu hubungi saat jengkel mungkin bukan orang yang sama yang ia banggakan kepada teman-temannya. Kemudian, orang yang akan ibu percayai dalam krisis juga kemungkinan berbeda dengan yang lain.
Anak-anak tahu praktik 'pilih kasih' tapi tidak tahu siapa yang disayang
Studi ini juga mengungkap tentang para anak yang tahu praktik 'pilih kasih' orang tuanya. Namun, mereka salah menebak tentang siapa yang lebih disayang tersebut, Bunda.
Sebagian besar anak dewasa 'melebih-lebihkan' kemungkinan bahwa ibu mereka mengatakan mereka sebagai orang yang paling dekat. Sementara yang lain salah menebaknya.
Sebagai contoh, sebuah famili bisa menganggap Josh adalah anak kesayangan ibunya. Padahal, ibu mungkin mengatakan nama anak yang berbeda ketika ditanya secara pribadi. Narasi famili dan pengalaman ibu pun akhirnya berjalan di jalur yang terpisah, dan tidak ada yang pernah mengeceknya.
Lantas, apa penyebabnya?
Dalam keluarga, semakin banyak konflik, maka semakin lebar kesenjangan hubungan antara ibu dan anak. Seorang anak biasanya percaya bahwa ibu lebih menyukai kerabat kandungnya karena merasakan ketegangan yang nyata, tetapi mengaitkannya dengan sumber yang salah.
Alasan lain kenapa tebakan anak salah adalah karena mereka mencari satu pemenang. Padahal, ibu mungkin saja tidak memiliki anak favorit di famili maupun cuma menganggap lebih dekat dengan satu dan dua anak saja.
Gagasan tentang satu anak favorit jarang sesuai dengan deskripsi famili pada umumnya. Misalnya, salah satu anak memiliki selera humor yang sama dengan ibunya. Anak lainnya menelepon setiap hari Minggu. Anak lain membikin pilihan yang dia kagumi maupun anak anak yang ibu percayai untuk mengelola keuangan. Semua ikatan itu nyata, dan tidak satu pun dari itu yang menggambarkan keseluruhan gambaran.
Hal yang membikin ibu dekat dengan salah satu anak
Tinjauan yang lebih luas terhadap riset menambahkan konteks bahwa orang tua cenderung memberitahu lebih banyak kehangatan kepada anak perempuan, kakak kandung dalam beberapa kasus, dan anak-anak yang lebih gampang bergaul. Namun, pola tersebut berubah tergantung pada jenis favoritisme yang terukur.
Jadi, favoritisme sering kali tumbuh dari kecocokan alami. Satu anak melihat bumi lebih seperti ibunya datu anak yang lain lebih gampang diajak bicara oleh ibunya. Ikatan terkuat cenderung terbentuk berdasarkan kecocokan, bukan prestasi.
Seorang ibu yang sangat liberal dan memiliki satu anak konservatif serta satu anak progresif mungkin merasa lebih dekat dengan anak yang pandangan dunianya sesuai dengannya. Kedekatan itu tidak ada hubungannya dengan usaha.
Namun, semua hal tentang favoritisme dan tebakan yang salah belum tentu tidak menimbulkan akibat apa pun, Bunda. Apa yang diyakini anak-anak tentang favoritisme membentuk metode kerabat kandung memperlakukan satu sama lain, dan dampaknya bisa berlanjut hingga dewasa.
Persepsi tentang favoritisme telah dikaitkan dengan ikatan yang lebih lemah antara kerabat kandung dan ketegangan yang lebih besar dalam keluarga, terlebihlagi beberapa dasawarsa kemudian. Seorang ibu mungkin secara pribadi percaya bahwa dia telah menjaga semuanya statis seimbang, sementara anak-anaknya telah membangun cerita yang sama sekali berbeda tentang siapa yang lebih disayangi.
Bila seorang ibu memang memiliki anak favorit, maka menjadi anak kesayangan bukanlah hal yang gratis. Hal itu bisa disertai rasa bersalah hingga memicu kebencian dari kerabat kandung.
Demikian studi tentang favoritisme anak dalam keluarga. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)