Tim Nasional (timnas) Jepang tersingkir di babak 32 besar Piala Dunia 2026 setelah hanya mengantongi 5 poin dari 4 pertandingan. Jepang kudu mengakui kekalahan 2-1 dari timnas Brasil pada pertandingan yang digelar di Houston Stadium, Texas, Amerika Serikat, Selasa (30/6/2026) dinihari WIB.
Kekalahan yang didapat Jepang cukup dramatis, Bunda. Para pemain dari Negeri Sakura ini sempat memimpin jalannya pertandingan di babak pertama lewat gol Kaishu Sano.
Namun, Brasil membalikkan keadaan menjadi 2-1 di babak kedua lewat gol dari Casemiro dan Gabriel Martinelli. Gol terakhir yang tercipta dari Gabriel Martinelli menerobos pertahanan Jepang di babak injury time.
Kekalahan Jepang membikin kiper Zion Suzuki merasa bersalah. Ia merasa sudah berupaya menghalau serangan lawan, namun kudu menyerah sebelum wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan.
"Paling menyakitkan adalah hasil yang tidak sesuai harapan, di mana kami tidak bisa meraih kemenangan. Kami berjuang hingga akhir, tetapi pada kudu menerima kekalahan. Ini emosi yang sangat sulit," kata Suzuki yang dikutip dari situs resmi FIFA.
"Secara pribadi, saya merasa semestinya bisa mencegah gol-gol yang bikin kami kebobolan. Saya tetap belum cukup baik, dan saya tidak bisa melakukan pengamanan yang dibutuhkan tim di saat-saat paling penting. Saya tahu saya tetap perlu banyak berkembang," sambungnya.
Suzuki kiper timnas Jepang keturunan Ghana
Sosok Zion Suzuki mencuri perhatian di gelaran Piala Dunia 2026. Tak hanya jago menjaga gawang Jepang, pemain dari klub Parma ini rupanya blasteran Jepang-Ghana, Bunda.
Melansir dari laman The Sun, Suzuki lahir pada 21 Agustus tahun 2002, di Newwark, New Jersey, Amerika Serikat. Ayahnya adalah keturunan Ghana-Amerika, sementara sang Bunda berdarah Jepang.
Secara teknis, Suzuki memenuhi syarat untuk mewakili Amerika Serikat di Piala Dunia. Namun, laki-laki 23 tahun ini memilih untuk memihak Jepang lantaran membangun pekerjaan sepak bolanya di sana.
Orang tua Suzuki diketahui pindah ke Jepang dan menetap di Urawa tak lama setelah Suzuki lahir. Kepindahan Suzuki ke Jepang pada akhirnya membentuk identitas sepak bola sang atlet di lapangan hijau.
Karier sepak bola Suzuki
Suzuki mengikuti jejak kakak laki-lakinya ketika pertama kali menekuni sepak bola. Ia memulai kariernya sebagai pemain lapangan sebelum akhirnya beranjak menjadi penjaga gawang saat tetap bersekolah. Suzuki pernah berasosiasi dengan akademi muda Urawa Red Diamons yang cukup terkenal di Negeri Sakura.
Suzuki tampil sebanyak 29 kali untuk klub Urawa Red Diamonds setelah menghabiskan 11 tahun di akademi junior. Sepanjang kariernya di klub tersebut, sang kiper menikmati pernah memenangkan AFC Champions League Elite dan Super Cup pada tahun 2022, serta Emperor Cup pada tahun 2021.
Di level junior, Suzuki juga tergabung tim U-15 dan terus berkembang di jejeran tim nasional. Pada saat perhatian internasional tertuju pada Jepang, Suzuki terpilih menjadi kiper utama negara ini.
Setelah berkecimpung di Jepang, Suzuki memutuskan untuk bermain di klub Belgia Sint-Truiden dengan status pinjaman pada musim panas 2023. Pada Februari 2024, transfernya dipermanenkan di klub ini, Bunda.
Pada Juli 2024, Suzuki pindah ke klub Parma di liga utama Italia. Sejak bermain di klub ini, Suzuki telah membikin 57 penampilan, dengan mencatatkan lima clean sheet dalam 20 pertandingan saat tim didikan Carlos Cuesta itu mengamankan posisi ke-13 di liga.
Pada usia 23 tahun, Suzuki memasuki Piala Dunia 2026 sebagai kiper pilihan utama Jepang. Sebagai kiper, Suzuki menjadi sorotan lantaran mempunyai skill atletis dan refleks yang cepat. Demikian seperti dikutip dari The Economic Times.
Banyak penonton yang pertama kali mengenal Suzuki selama Piala Dunia mengaku terkejut mengetahui bahwa kiper ini lahir di Amerika Serikat dan mempunyai akar keturunan Ghana dan Jepang.
Sayangnya, langkah Suzuki di Piala Dunia 2026 kudu terhenti saat Jepang dikalahkan Brasil di babak 32 besar. Suzuki tak mau menyerah. Ia berambisi tetap bisa terus berkembang dan berjuang untuk negaranya di kejuaraan yang bakal datang.
"Berkompetisi di panggung ini (Piala Dunia) adalah sesuatu yang kudu saya jadikan motivasi. Secara emosional tetap susah untuk menatap turnamen berikutnya, tetapi pasti bakal ada kesempatan berikutnya, jadi saya mau mengukir pengalaman ini di hati saya dan terus maju," katanya.
Demikian kisah family Zion Suzuki, kiper timnas Jepang yang keturunan Ghana.
(ank/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·