Jakarta -
Sebagai orang tua, pasti Bunda relate sekali dengan topik kali ini. Mungkin Bunda sering memandang peralatan random atau sembarangan di tengah ruang tamu. Mungkin Bunda alias Ayah pernah mengeluarkan balok mainan, batu, ranting, alias apalagi daun kering dari jaket alias celana anak ketika mau dicuci.
Bagi kita, barang-barang tersebut terkesan random, tetapi bagi anak-anak, ini adalah koleksi.
Sebagian besar dari kita mungkin pernah bertanya-tanya, "Mengapa anak saya mengumpulkan begitu banyak peralatan sembarangan?" alias "Apakah ini hanya kebiasaan asing alias sebenarnya mempunyai makna bagi pertumbuhan dan perkembangan mereka?".
Ternyata, ada banyak perihal yang terjadi di kembali permukaan ketika anak-anak mengumpulkan barang-barang random, terutama batu dan kekayaan karun mini lainnya yang mereka temukan di luar. Banyak anak mengalami fase mengumpulkan di masa kanak-kanak awal dan pertengahan.
“Ketika anak-anak mengumpulkan sesuatu, bagi saya itu berfaedah mereka sedang mengembangkan minat dan keahlian kognitif mereka,” kata asisten guru besar ECE Rasmussen, Joni Kuhn, dikutip dari laman resmi Rasmussen University Amerika Serikat.
Ia mengatakan ada lapisan emosional dalam proses tersebut juga. “Mengumpulkan peralatan juga memberi anak-anak rasa kendali. Ini dapat membantu mereka merasa aman," lanjutnya.
Menurut Kuhn, seorang anak yang dengan hati-hati menyusun penghapus alias menyimpan barang unik di mejanya mungkin menggunakan rutinitas itu untuk menenangkan diri sebelum mereka berasosiasi dengan kegiatan lainnya sepanjang hari.
Koleksi peralatan random adalah pencarian pola
Psikolog dan kepala jasa anak untuk Pusat Trauma dan Ketahanan UTHealth Houston, Leslie Taylor, PhD, menjelaskan mengumpulkan adalah contoh dari sesuatu yang disebut sebagai skema.
“Skema adalah pola alias tema mental yang membantu anak-anak menguji buahpikiran dan memahami langkah kerja sesuatu. Ini adalah pola berulang yang digunakan anak-anak untuk menyelidiki bumi di sekitar mereka," kata Leslie Taylor dikutip dari laman Parade.
Artinya, ketika anak-anak mengumpulkan sesuatu, meskipun barang-barang tersebut tampak acak, perihal itu dapat menunjukkan perkembangan kognitif mereka.
“Mereka memperhatikan kesamaan barang-barang tersebut, perbedaannya, dan gimana barang-barang tersebut sesuai dengan gambaran bumi mereka yang sedang berkembang,” ujarnya.
Menurut Taylor, koleksi seringkali juga disertai dengan banyak cerita, seperti kapan peralatan itu ditemukan dan kenapa peralatan itu dipilih. Berbagi cerita-cerita ini mendukung pengembangan kosakata dan keahlian berkata mereka, Bunda.
Koleksi peralatan random adalah ekspresi diri dan eksplorasi
Anak-anak juga menggunakan koleksi peralatan random untuk mengekspresikan siapa diri mereka. Anak yang mengumpulkan bulu mungkin tertarik pada burung, warna, alias tekstur lembut. Anak yang menyusun mobil mainan mungkin tertarik pada kecepatan, keteraturan, alias gimana sesuatu bergerak.
Sebagian besar anak-anak bakal mempunyai dan berakhir mengoleksi beragam peralatan seiring waktu. Dalam kebanyakan kasus, tumpukan kekayaan karun itu adalah bagian normal dari proses tumbuh kembang, Bunda.
Koleksi peralatan random latih keahlian kognitif anak
Ilustrasi/Foto: Getty Images/travelism
Jika Bunda pernah memandang seorang anak menumpahkan setumpuk batu alias mobil mainan, Bunda mungkin memperhatikan bahwa barang-barang itu tidak bakal lama berada dalam tumpukan acak.
Anak-anak suka menyortir dan mengelompokkan barang-barang. Mereka menyusun barang-barang berasas ukuran, membikin "keluarga" berasas warna, alias memisahkan batu kasar dari batu halus. Bahkan jika tidak ada orang dewasa yang meminta mereka, mereka sering mulai membikin sistem mini sendiri.
“Ketika anak-anak mengoleksi barang, bagi saya itu berfaedah mereka sedang mengembangkan minat dan keahlian kognitif mereka,” kata Kuhn.
Kuhn menjelaskan jika menghitung dan menyortir berasas ukuran, warna, bentuk, dan karakter lainnya membangun keahlian matematika dalam kognisi mereka. Dengan kata lain, tumpukan mini kekayaan karun di atas meja itu juga merupakan laboratorium matematika mini, Bunda.
Perbedaan antara mengoleksi dan menimbun (hoarding)
Jika seorang anak terus-menerus mengambil benda-benda secara random, kita mungkin percaya bahwa ada sesuatu yang lebih dalam sedang terjadi. Faktanya, bukan hanya orang dewasa yang menimbun (hoarding), anak-anak pun bisa. Namun, ada perbedaan yang jelas antara sekadar mengoleksi dan menimbun.
Menurut Taylor, mengoleksi dan menimbun (hoarding) itu berbeda, dan orang tua mungkin mau meninjau tindakan anak mereka untuk memandang perbedaan ini.
“Sebuah koleksi mempunyai koherensi tematik, dan anak-anak sering kali bangga dengan koleksi mereka. Mereka mau membagikannya dengan orang lain. Menimbun pada dasarnya berbeda. Anak-anak mungkin mengumpulkan peralatan apa pun yang mereka yakini bakal berfaedah bagi mereka di masa depan tanpa organisasi alias koherensi (yaitu, barang-barang random berada dalam tumpukan di lantai)," tuturnya.
Beberapa parameter penimbunan pada anak-anak mungkin adalah mereka merasa malu alias tidak nyaman membiarkan orang lain memandang alias memegang barang-barang dari koleksi mereka.
“Anak-anak mungkin juga mempunyai pemahaman minimal tentang kenapa mereka mengumpulkan barang-barang ini,” kata Taylor.
Mereka juga menunjukkan peningkatan kekhawatiran ketika orang lain menyentuh alias mengambil barang-barang ini tanpa izin mereka, yang bisa menjadi indikasi bahwa anak-anak memerlukan intervensi.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·