Tahukah Bunda jika ada beberapa peralatan dapur yang bisa menakut-nakuti kesehatan jika salah penggunaannya? Banyak peralatan dapur dipilih lantaran praktis, awet, mudah dibersihkan, dan harganya terjangkau.
Namun sejumlah penelitian terbaru menunjukkan bahwa beberapa perlengkapan yang sering digunakan sehari-hari rupanya berpotensi melepaskan unsur rawan ke dalam makanan. Mulai dari spatula plastik hitam, talenan plastik, hingga wajan antilengket, semuanya disebut mempunyai akibat tertentu ketika digunakan dalam kondisi tertentu alias sudah mengalami kerusakan.
Para mahir pun menyarankan Bunda untuk lebih jeli memilih peralatan dapur demi meminimalkan paparan unsur kimia maupun mikroplastik yang berpotensi mengganggu kesehatan dalam jangka panjang.
Peralatan dapur yang menakut-nakuti kesehatan
Mengutip Science Focus, berikut deretan peralatan dapur yang bisa menakut-nakuti kesehatan Bunda dan keluarga.
1. Peralatan masak plastik hitam
Sendok sayur, spatula, maupun centong berbahan plastik hitam menjadi perlengkapan dapur yang sangat umum ditemukan. Penelitian terbaru menemukan bahwa sebagian produk tersebut berpotensi melepaskan senyawa penghambat api (flame retardants) beracun, seperti decabromodiphenyl ether (decaBDE), ke dalam makanan.
Menurut para peneliti, bahan kimia tersebut awalnya digunakan pada perangkat elektronik untuk mengurangi akibat kebakaran. Masalah muncul ketika limbah elektronik didaur ulang menjadi bahan baku pembuatan peralatan dapur berbahan plastik hitam.
Studi lain apalagi menemukan sekitar 85 persen produk rumah tangga berbahan plastik hitam yang diuji, termasuk nampan makanan sigap saji, mainan anak, dan peralatan dapur, mengandung unsur penghambat api beracun. Di antara seluruh sampel tersebut, peralatan dapur mempunyai konsentrasi yang tergolong tinggi.
Paparan decaBDE telah dikaitkan dengan beragam gangguan kesehatan, seperti peningkatan akibat kanker, gangguan hormon dan tiroid. Risiko lainnya bisa menyebabkan gangguan perkembangan pada anak, masalah saraf dan perilaku, hingga gangguan pada sistem reproduksi serta kekebalan tubuh.
Melihat risikonya, penggunaan decaBDE telah dilarang di Inggris sejak 2018 melalui Konvensi Stockholm PBB mengenai Polutan Organik Persisten dan dihentikan penggunaannya di Amerika Serikat oleh Environmental Protection Agency (EPA) pada 2021.
Para intelektual yang melakukan penelitian itu memperkirakan seseorang dapat terpapar rata-rata 34,7 bagian per sejuta (ppm) decaBDE setiap hari dari penggunaan peralatan dapur plastik hitam hasil daur ulang. Yang mengkhawatirkan, sekarang belum ada pemisah paparan yang betul-betul dianggap kondusif lantaran unsur tersebut dapat menumpuk di dalam tubuh melalui proses bioakumulasi.
Sebagai pengganti lebih aman, para mahir menyarankan penggunaan peralatan memasak berbahan stainless steel alias food-grade silicone. Stainless steel dinilai tahan terhadap suhu tinggi sehingga tidak mudah melepaskan unsur kimia serta mudah dibersihkan.
2. Talenan plastik
Selain peralatan memasak, talenan plastik juga menjadi perhatian para peneliti. Setiap kali permukaan talenan dipotong menggunakan pisau, partikel-partikel plastik berukuran sangat mini alias mikroplastik dapat terlepas dan bercampur dengan makanan.
Dalam penelitian yang dilakukan intelektual dari University of North Dakota, Amerika Serikat, diketahui bahwa memotong sayuran di atas talenan berbahan polipropilena dan polietilena dapat menghasilkan hingga 1.114 partikel mikroplastik hanya dari satu kali proses pemotongan alias setara sekitar 15 mg material plastik.
Jika terakumulasi selama satu tahun, diperkirakan Bunda dapat mengonsumsi sekitar 50 gram mikroplastik. Berbagai penelitian pun mulai menunjukkan bahwa mikroplastik berpotensi membahayakan kesehatan.
Partikel tersebut ditemukan dapat masuk ke pembuluh darah arteri sehingga meningkatkan akibat serangan jantung dan stroke. Selain itu, mikroplastik juga dikaitkan dengan kerusakan DNA, stres oksidatif, peningkatan peradangan, hingga akibat penyakit seperti kanker dan gangguan autoimun.
Tak hanya itu, banyak mikroplastik mengandung bahan kimia pengganggu hormon (endocrine-disrupting chemicals) yang dapat memicu gangguan reproduksi, kelainan metabolisme, asma, hingga gangguan perkembangan sistem saraf. Ini sifatnya sangat susah terurai sehingga mikroplastik berpotensi menumpuk di dalam tubuh, namun akibat jangka panjangnya tetap terus diteliti.
Sebagai langkah pencegahan, para mahir menyarankan mengganti talenan plastik dengan talenan berbahan kayu alias bambu. Selain lebih ramah lingkungan, kedua material tersebut dinilai lebih tahan lama dan secara alami mempunyai sifat yang dapat menghalang pertumbuhan bakteri.
3. Wajan antilengket
Wajan antilengket menjadi favorit banyak orang lantaran membikin proses memasak lebih mudah dan tidak memerlukan banyak minyak. Namun lapisan antilengket ini mengandung golongan bahan kimia PFAS (per- and polyfluoroalkyl substances) yang dikenal sebagai forever chemicals lantaran sangat susah terurai di lingkungan.
PFAS telah dikaitkan dengan beragam gangguan kesehatan, mulai dari kerusakan hati, penyakit tiroid, obesitas, gangguan kesuburan, hingga peningkatan akibat kanker.
Sejumlah wajan modern menggunakan lapisan PTFE (polytetrafluoroethylene). Kini PTFE tetap dianggap kondusif jika digunakan sesuai petunjuk, tapi para intelektual menilai tetap diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai akibat paparan jangka panjang, terutama jika wajan digunakan pada suhu sangat tinggi alias telah mengalami kerusakan.
Sebelumnya, kekhawatiran utama tertuju pada PFOA (perfluorooctanoic acid) yang dulu digunakan dalam proses produksi. Paparan PFOA dikaitkan dengan kerusakan ginjal, penyakit hati, gangguan tiroid, kolesterol tinggi, hingga beberapa jenis kanker.
Kabar baiknya, EPA telah mewajibkan perusahaan-perusahaan besar menghentikan penggunaan PFOA sejak 2015 sehingga bahan tersebut tidak lagi digunakan dalam produksi wajan antilengket baru. Meski demikian, masyarakat tetap disarankan berhati-hati menggunakan wajan lama yang kemungkinan tetap diproduksi sebelum patokan tersebut berlaku.
Para master menilai Bunda tetap perlu menggunakan peralatan dapur sesuai petunjuk, menghindari pemanasan berlebihan, serta segera mengganti peralatan yang sudah rusak alias tergores untuk mengurangi potensi paparan unsur kimia maupun mikroplastik.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·