Kisah Khalifah Umar Menolak Diberi Hadiah

May 13, 2026 07:32 PM - 2 jam yang lalu 80

Kincai Media , JAKARTA -- Dalam masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab, umat Islam merasakan betul makna penerapan prinsip-prinsip keadilan. Setiap malam, Umar selalu berjaga-jaga, menapaki jalan dari rumah ke rumah di Kota Madinah. Tujuannya, memastikan keadaan rakyat. Al-Faruq—demikian julukannya—akan sangat cemas jika ada satu saja penduduk yang dalam kondisi kelaparan alias ketakutan.

Namun, pada suatu malam justru hati Umar dilanda gundah. Ia sedang berpikir dengan hati-hati, siapa di antara para panglima Muslimin yang paling layak memimpin penaklukan Ahwaz. Wilayah yang dimaksud terbentang di sisi barat Persia. Misi ini penting, khususnya dalam ikhtiar membuka jalan Islamisasi ke timur.

Menjelang pagi, dalam akal Khalifah Umar muncul satu nama: Salamah bin Qais al-Asyja'i. Sosok ini termasuk sahabat Nabi Muhammad SAW yang gagah berani dalam beragam pertempuran musyrikin. Kegelisahan pun lenyap dari diri al-Faruq.

Kemudian, Umar menjadi pemimpin shalat subuh di masjid seperti biasanya. Usai shalat, sang khalifah memanggil Salamah bin Qais al-Asyja'i agar maju ke hadapannya.

Selanjutnya, sang Amirul mukminin juga berpesan kepadanya. Di Ahwaz nanti, jika berjumpa dengan kaum musyrikin, maka Salamah mesti membujuk mereka kepada Islam. Bila mereka menerima, ajukanlah dua pilihan, ialah mereka tetap tinggal di desa setempat alias menyertai pasukan Salamah untuk memerangi kaum kafir di Persia.

Jika memilih tinggal di kampung, mereka wajib bayar amal serta tidak berkuasa menerima kekayaan rampasan perang. “Jika mereka memilih turut bertempur bersamamu, mereka mempunyai kewenangan dan tanggungjawab yang sama seperti tentaramu yang lain,” ujar Umar.

Bagaimana jika para pemuka Ahwaz menolak Islam? Khalifah Umar berpesan agar mereka lantas diwajibkan bayar pajak kepada pasukan Muslim sebagai agunan diri. Mereka dibebaskan menganut kepercayaan masing-masing.

Dengan pajak tersebut maka pasukan Muslim wajib melindungi mereka dari dari musuh-musuh, utamanya rezim Persia. Sang khalifah mengatakan, jangan sampai Salamah selaku ketua pasukan membebani kaum Ahwaz melampaui keahlian mereka.

“Jika mereka malah mengangkat senjata, barulah engkau perangi mereka,” ucap Khalifah Umar.

“Saya siap dan sanggup, wahai Amirul mukminin,” jawab Salamah.

Sesudah itu, emosi Umar pun jadi lega. Ia lantas berdoa, semoga Allah memberikan kemenangan atas pihak Muslimin.

Singkat kata, setelah melalui rute yang sangat berat, sampailah pasukan Muslimin di daerah Ahwaz. Selaku komandan, Salamah melaksanakan apa-apa yang telah diamanatkan oleh Khalifah Umar.

Salamah menyeru kepada masyarakat Ahwaz agar masuk Islam. Namun, seruan itu segera mendapatkan penentangan. Para pemuka dan masyarakat Ahwaz menolak Islam. Mereka pun tidak mau bayar pajak sebagai agunan perlindungan dari pasukan Muslim. Para pemuka Ahwaz tampil dengan congkak di hadapan pasukan Muslimin.

Jalan perang

Dengan begitu, tidak ada pilihan bagi Salamah dan pasukan Muslim. Perang pun terjadi. Baku tempur ini berjalan dalam beberapa waktu. Akhirnya, bala tentara Islam sukses meredam perlawanan musuh.

Salamah bin Qais sebagai panglima membagi-bagikan kekayaan rampasan perang kepada para prajuritnya. Ternyata, di antara kekayaan tersebut, ada sebuah perhiasan yang sangat bagus dan berbobot mahal. Ia pun berencana mempersembahkan perhiasan tersebut unik kepada Khalifah Umar.

Mengetahui rencana itu, para prajurit menyepakatinya. Selain itu, ada emosi bangga dari mereka lantaran bakal dianggap memberikan persembahan terbaik ke Madinah.

Selengkapnya