Kisah Ra Kartini Yang Meninggal Usai Melahirkan Anak Pertama, Diduga Karena Preeklamsia

Apr 21, 2026 11:10 AM - 5 jam yang lalu 241

Jakarta -

Pahlawan Nasional Indonesia Raden Ajeng Kartini mempunyai seorang putra dari pernikahannya dengan Raden Adipati Joyodiningrat. Anak berjenis kelamin laki-laki yang lahir pada 13 September 1904 ini berjulukan Raden Mas Soesalit Djojoadhiningrat.

RA Kartini meninggal bumi pada 17 September 1904 alias empat hari setelah melahirkan sang putra. Perempuan kelahiran Jepara, Jawa Tengah ini wafat di usia yang tetap terbilang muda, ialah 25 tahun.

Dalam kitab berjudul Dari Kajoran Sampai Harvard 40: Tahun Mengabdi Kesehatan Masyarakat, Sebuah Memoar Dokter Hartanto karya Wiwien Wintarto, disebutkan tentang kemungkinan penyebab meninggalnya RA Kartini. Penyebabnya dikaitkan dengan preeklamsia.

"Penyebab kematiannya diperkirakan lantaran perdarahan pasca persalinan alias mungkin preeklamsia, yang tidak terlalu jelas didokumentasikan," demikian isi tulisan.

Perlu diketahui, preeklamsia adalah salah satu komplikasi kehamilan, yang ditandai dengan tekanan hipertensi dan kadar protein tinggi dalam urine. Preeklamsia dapat mengindikasikan kerusakan ginjal (proteinuria) alias tanda-tanda kerusakan organ lainnya.

Melansir Mayo Clinic, preeklamsia biasanya dimulai setelah 20 minggu kehamilan. Preeklamsia yang tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi serius bagi ibu dan bayi.

Pada kondisi preeklamsia, persalinan diri sering kali dianjurkan, Bunda. Waktu persalinan bakal berjuntai pada seberapa parah kondisi dan berapa minggu usia kehamilan. Sebelum melahirkan, pengobatan preeklamsia dapat meliputi pemantauan jeli dan pemberian obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah dan mengelola komplikasi.

Angka kematian ibu akibat preeklamsia

RA Kartini wafat nyaris 147 tahun yang lalu. Meski bumi sudah modern, hingga saat ini nomor kematian ibu akibat preeklamsia tetap sering ditemukan, Bunda.

Angka kematian ibu menjadi salah satu informasi yang bisa ditarik untuk mengetahui kasus preeklamsia di Indonesia. Menurut informasi BOS 2020, Indonesia termasuk negara di Asia Tenggara yang mempunyai nomor kematian tertinggi, ialah 189/100.000.

Artinya, jika setiap tahunnya ada 4.5 juta kelahiran di Indonesia, dengan AKI 189/100.000 kelahiran hidup, maka 8.500-an ibu meninggal setiap tahun alias 700-an per bulan alias seorang ibu meninggal di Tanah Air setiap 1 jam. Demikian seperti dikutip dari akun Dr Yassin Yanuar Mohammad, Sp.O.G, Subsp, F.E.R., M.Sc di IG @yassinbintang. HaiBunda telah mendapat izin untuk memgutipnya.

Dikutip dari CNN Indonesia, informasi 2022 menunjukkan sekitar 3.500 ibu meninggal akibat beragam komplikasi kehamilan di Indonesia. Dari nomor tersebut, 20,9 persen disebabkan oleh perdarahan, 22,4 persen oleh eklamsia, dan 4,9 persen akibat infeksi.

Perlu diketahui, eklampsia adalah komplikasi kehamilan yang parah dan menakut-nakuti jiwa. Kondisi medis ini umumnya ditandai dengan timbulnya tegang tonik-klonik umum alias koma pada wanita dengan preeklamsia.

Preeklamsia juga tetap menjadi masalah kesehatan di dunia. Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), preeklamsia setidaknya memengaruhi 3 hingga 8 persen wanita yang melahirkan di seluruh dunia, Bunda.

Secara umum, gangguan hipertensi yang dikaitkan dengan preeklamsia bertanggung jawab atas sekitar 16 persen kematian ibu secara global. Pada tahun 2023, nomor tersebut setara dengan sekitar 42.000 kematian.

Diagnosis dan aspek akibat preeklamsia

Preeklamsia didiagnosis berasas munculnya indikasi hipertensi alias tekanan darah di atas 140/90 mm Hg dan proteinuria (protein dalam urine) lebih dari 0,3 gram per 24 jam, setelah usia kehamilan 20 minggu. Preeklampsia berat dapat meliputi indikasi seperti sakit kepala hebat, gangguan penglihatan, dan nyeri perut bagian atas.

Ada beberapa aspek dapat meningkatkan akibat terjadinya preeklamsia selama kehamilan, seperti:

  • Kehamilan pertama
  • Kehamilan dobel (seperti kembar dua)
  • Kegemukan alias obesitas
  • Kondisi yang sudah ada sebelumnya, seperti hipertensi, diabetes, alias penyakit ginjal
  • Riwayat family preeklamsia.

Preeklamsia yang tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi serius bagi ibu dan bayi. Komplikasi ini dapat berupa masalah jangka pendek hingga masalah kesehatan jangka panjang. Berikut beberapa komplikasi mengenai preeklamsia:

  • Eklampsia (kejang)
  • Sindrom HELLP
  • Kerusakan organ (ginjal, hati, otak)
  • Abrupsi plasenta
  • Kelahiran prematur
  • Pembatasan pertumbuhan janin
  • Kematian ibu dan janin

Penanganan preeklamsia

Pemerintah hingga sekarang tetap berupaya untuk menurunkan angka kematian ibu dengan melakukan beragam program. Salah satunya adalah memberikan pelayanan kesehatan masa mengandung yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan Masa Sebelum Hamil, Masa Hamil, Persalinan, dan Masa Sesudah Melahirkan, Pelayanan Kontrasepsi, dan Pelayanan Kesehatan Seksual.

Pelayanan kesehatan ini salah satunya adalah pengukuran tekanan darah yang menjadi indikasi dalam preeklamsia. Pelayanan secara terpadu dilakukan dengan prinsip penemuan awal masalah penyakit dan penyulit alias komplikasi kehamilan.

Pada tahun 2024, Direktur Pelayanan Kesehatan Keluarga Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI), dr. Lovely Daisy, M. K. M., yang sebelumnya menjabat Direktur Gizi dan KIA, sempat mengatakan tentang preeklamsia sebagai penyebab kematian ibu terbanyak di Indonesia. Menurutnya, komplikasi kehamilan ini sebenarnya dapat dicegah, Bunda.

"Penyebab kematian ibu yang terbanyak adalah hipertensi dalam kehamilan, biasa kami sebut dengan preeklamsia dan perdarahan yang sebenarnya ini bisa dicegah," kata Direktur Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Kementerian Kesehatan, dr Lovely Daisy, MKM, dilansir laman resmi Kemenkes.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah melalui Kemenkes telah membikin sejumlah kebijakan yang diharapkan bisa menurunkan nomor kematian ibu dan bayi. Berikut beberapa kebijakan alias program yang dimaksud:

1. Pemeriksaan kehamilan

Pemeriksaan kehamilan pada ibu mengandung yang dulunya hanya dilakukan empat kali sekarang diubah menjadi enam kali. Dua kali dari enam pemeriksaan tersebut dilakukan oleh dokter. Pemeriksaan kehamilan dilakukan untuk mendeteksi akibat komplikasi yang terjadi pada ibu hamil, yang mungkin bakal berakibat pada sang ibu dan bayi di dalam kandungan.

2. Pemberian tablet tambah darah

Pemberian tablet tambah darah pada ibu mengandung juga menjadi salah satu program pemerintah untuk menurunkan nomor kematian ibu. Setidaknya, ibu mengandung wajib minum satu kali dalam sehari. Pada ibu mengandung yang mempunyai penyakit anemia. mereka tidak hanya diberikan tablet tambah darah, tapi juga dilakukan terapi untuk menanggulangi kondisi medis ini.

3. Makanan tambahan

Makanan tambahan saat mengandung bakal diberikan pada ibu yang mengalami kurang daya kronik (KEK). Intervensi ini dilakukan agar pertumbuhan janin dapat optimal.

"Itu intervensi yang kami lakukan agar bayi tidak lahir di bawah 2.500 gram alias bayi prematur dengan melakukan intervensi pada ibunya," ungkap Daisy.

Secara umum, WHO juga memberikan pedoman pencegahan terhadap preeklamsia selama kehamilan. Selain memeriksa tekanan darah secara teratur, ibu mengandung juga disarankan untuk menjalani tes urine untuk memandang kadar protein.

Ada beberapa langkah pencegahan tambahan lainnya, seperti pemberian dosis rendah aspirin pada usia kehamilan 20 minggu alias saat perawatan antenatal dimulai, suplementasi kalsium, dan melanjutkan pengobatan tekanan hipertensi yang sudah dilakukan sebelumnya dengan obat anti-hipertensi.

Demikian penjelasan mengenai preeklamsia yang diduga menjadi penyebab RA Kartini meninggal bumi lebih dari seabad yang lalu. Semoga info ini berfaedah ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

Selengkapnya