Jakarta -
Bunda, pernah membayangkan ada dua bayi yang lahir dari satu kehamilan, tetapi rupanya mempunyai orang tua biologis yang berbeda?
Kejadian langka ini betul-betul terjadi di Queensland, Australia. Seorang wanita berumur 27 tahun yang menjadi ibu pengganti alias surrogate melahirkan dua bayi melalui operasi caesar. Menariknya, salah satu bayi merupakan anak biologis dari pasangan yang menggunakan jasa surogasi, sementara bayi lainnya rupanya merupakan anak biologis sang ibu pengganti dan suaminya.
Kisah unik ini apalagi sampai kudu dibawa ke pengadilan lantaran situasinya tidak biasa dan menimbulkan pertanyaan mengenai status norma kedua bayi tersebut.
Berawal dari program surogasi
Perempuan tersebut menjadi ibu pengganti bagi pasangan yang tidak dapat mempunyai anak melalui kehamilan lantaran sang calon ibu tidak mempunyai rahim sejak lahir. Pasangan tersebut kemudian menjalani program bayi tabung atau in vitro fertilization (IVF). Sebuah embrio yang berasal dari pasangan itu ditanamkan ke rahim sang ibu pengganti.
Awalnya, semuanya melangkah seperti kehamilan surogasi pada umumnya. Namun, sekitar dua minggu setelah transfer embrio, pemeriksaan menunjukkan bahwa sang ibu pengganti rupanya mengandung dua janin. Kondisi ini tentu membikin master dan family penasaran. Bagaimana mungkin embrio yang ditanam hanya satu, tetapi kemudian terdapat dua janin?
Satu bayi dari IVF, satu lagi dari kehamilan alami
Setelah kedua bayi lahir, dilakukan pemeriksaan DNA. Hasilnya menunjukkan bahwa salah satu bayi memang merupakan anak biologis dari pasangan yang menjalani program surogasi.
Sementara itu, bayi lainnya rupanya merupakan anak biologis dari sang ibu pengganti dan suaminya. Jadi, kedua bayi tersebut tidak mempunyai hubungan genetik sebagai kerabat kembar, meskipun berkembang di dalam rahim yang sama dan lahir pada hari yang sama.
Dikutip dari ABC News, kehamilan alami tersebut terjadi ketika sang wanita sedang menjalani proses surogasi. Kasus ini kemudian menjadi salah satu kejadian yang sangat tidak biasa dalam praktik reproduksi berbantu. The Guardian juga melaporkan bahwa kedua bayi lahir pada November 2025 melalui operasi caesar.
Kok bisa mengandung lagi saat sudah hamil?
Nah, bagian ini yang mungkin membikin Bunda bertanya-tanya.
Secara umum, ketika seorang wanita sudah hamil, tubuh mengalami perubahan hormonal yang membikin ovulasi berikutnya sangat tidak mungkin terjadi. Karena itulah, kondisi ketika terjadi pembuahan baru setelah kehamilan sudah berjalan disebut superfetasi dan dianggap sangat langka pada manusia.
Dalam superfetasi, secara teori, sel telur baru dilepaskan, kemudian dibuahi dan berkembang menjadi embrio meskipun sudah ada kehamilan sebelumnya. Fenomena ini berbeda dengan kembar biasa.
Pada kembar fraternal alias dizigotik, misalnya, dua sel telur dilepaskan dalam satu periode ovulasi dan kemudian masing-masing dibuahi oleh sperma. Keduanya berkembang dalam kehamilan yang sama dan mempunyai hubungan genetik seperti kerabat kandung. Sementara pada superfetasi, konsepsi terjadi pada waktu yang berbeda.
Namun, Bunda perlu tahu bahwa kasus di Queensland ini tidak bisa begitu saja disebut sebagai superfetasi yang sudah terbukti secara medis. Laporan media menyebut adanya kehamilan dari embrio IVF dan kehamilan alami yang berjalan dalam waktu yang berdekatan, tetapi tidak menetapkan pemeriksaan superfetasi secara definitif.
Fenomena yang sangat langka
Superfetasi pada manusia merupakan kejadian yang sangat jarang dilaporkan. Salah satu tinjauan ilmiah mengenai superfetasi menjelaskan bahwa bukti mengenai kondisi ini pada manusia tetap terbatas. Para peneliti juga menilai bahwa membuktikan terjadinya superfetasi bukan perkara mudah lantaran diperlukan bukti bahwa dua konsepsi memang terjadi pada waktu yang berbeda.
Sementara itu, laporan kasus dalam Journal de Gynécologie Obstétrique et Biologie de la Reproduction juga membahas kasus yang diduga sebagai superfetasi dan menunjukkan sungguh jarangnya kondisi tersebut.
Teknologi reproduksi berbantu seperti IVF membikin situasi biologis yang tidak biasa semakin mungkin untuk teridentifikasi. Sebab, master dapat mengetahui secara lebih jelas kapan embrio ditransfer dan kemudian membandingkannya dengan perkembangan kehamilan.
Kedua bayi akhirnya diasuh family masing-masing
Setelah lahir, kedua bayi tersebut kemudian diasuh oleh family biologis masing-masing. Meski demikian, kisah mereka tidak berakhir di sana. Kedua family sepakat bahwa kedua anak tersebut tetap bakal saling mengenal ketika mereka tumbuh besar. Mereka juga mendapatkan pendampingan konseling untuk membantu mempersiapkan kondisi family yang tidak biasa ini.
Bagi kedua anak tersebut, mereka memang bukan kerabat kembar secara genetik. Namun, keduanya mempunyai satu pengalaman yang sangat unik ialah pernah tumbuh berbareng di dalam rahim yang sama dan lahir pada hari yang sama.
Sampai kudu dibawa ke pengadilan
Kasus ini rupanya juga menghadirkan persoalan hukum. Di Queensland, Australia, patokan mengenai surogasi mempunyai ketentuan tertentu mengenai status anak yang lahir dari kehamilan yang sama. Situasi dua bayi dengan orang tua biologis berbeda seperti ini tidak secara jelas diantisipasi dalam patokan tersebut. Karena itu, kasus ini kemudian dibawa ke Children's Court of Queensland.
Hakim akhirnya memutuskan bahwa kedua bayi tersebut dapat mempunyai status norma sebagai anak dari family biologis masing-masing. Keputusan tersebut menjadi krusial lantaran kasus seperti ini sangat jarang dan tidak mudah dimasukkan ke dalam kerangka patokan surogasi yang sudah ada.
Kisah ini memang terdengar seperti sesuatu yang susah dipercaya. Tetapi di kembali keunikannya, ada banyak perihal yang bisa dipelajari mengenai reproduksi manusia. Perkembangan IVF dan teknologi reproduksi berbantu memungkinkan pasangan dengan beragam kondisi medis untuk mempunyai keturunan. Namun, teknologi tersebut juga dapat menghadirkan situasi yang sangat kompleks, bukan hanya dari sisi medis, tetapi juga dari sisi psikologis dan hukum.
Karena itu, program surogasi memerlukan persiapan yang matang dan pendampingan dari tenaga medis serta ahli terkait. Dan untuk kasus di Queensland ini, mungkin kalimat paling tepat adalah: dua bayi, satu rahim, tetapi dua family biologis yang berbeda. Sebuah kejadian yang sangat langka dan menjadi pengingat bahwa bumi reproduksi manusia tetap menyimpan banyak perihal yang menarik untuk dipelajari.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)