Larangan Penggunaan HP di Sekolah, Benarkah Bikin Anak Lebih Fokus? Ini Kata Studi

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 4 menit 508x dilihat
Larangan Penggunaan HP di Sekolah, Benarkah Bikin Anak Lebih Fokus? Ini Kata Studi

Penggunaan handphone (HP) di sekolah tetap menjadi perdebatan di kalangan orang tua. Di satu sisi, ponsel dapat membantu anak mengakses info dan mendukung proses belajar. Namun, di sisi lain, media sosial dan beragam aplikasi intermezo bisa menjadi sumber distraksi saat pelajaran berlangsung.

Dampak media sosial terhadap anak-anak dan remaja telah terdokumentasi dengan baik. Media sosial berakibat negatif pada perkembangan otak dan kesejahteraan emosional anak.

Di beberapa negara, patokan penggunaan HP di sekolah cukup ketat. Tak hanya itu, banyak negara menerapkan larangan penggunaan media sosial berasas usia dan orang tua sedang mempertimbangkan kembali apa yang dapat mereka lakukan di rumah.


Pada Juni 2026, Perdana Menteri Britania Raya saat itu, Keir Starmer, mengumumkan bakal memberlakukan larangan media sosial bagi anak-anak di bawah usia 16 tahun, mulai tahun 2027. Demikian seperti melansir dari laman Mom.

Di Australia, larangan media sosial sudah bertindak pada Desember 2025. Namun, larangan tersebut dianggap kandas lantaran beberapa remaja telah menemukan langkah untuk mengakali sistem.

Lantas, benarkah larangan penggunaan HP bisa bikin anak lebih fokus?

Efektivitas larangan penggunaan HP di sekolah

Dalam bumi yang ideal, media sosial hanya bakal menjadi perangkat untuk menyatukan orang. Media sosial bakal memungkinkan anak-anak dan remaja untuk mengeksplorasi identitas mereka, berjumpa orang-orang yang berpikiran sama dari seluruh dunia, dan terhubung dengan teman-teman seperti yang kita lakukan sebelum era munculnya ponsel.

Media sosial bakal menyediakan akses ke info yang menarik, membantu mendorong kegemaran dan kreativitas, dan apalagi berfaedah sebagai sumber daya untuk advokasi, sehingga memudahkan pengorganisasian dan keterlibatan sipil. Sayangnya, meskipun semua ini mungkin berfaedah bagi remaja, manfaatnya sebagian besar tertutupi oleh kerugian.

Dilansir laman Forbes, penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dan layar yang lebih besar dapat dikaitkan dengan rendahnya nilai diri, pelecehan daring, kualitas tidur yang buruk, dan peningkatan tingkat kekhawatiran dan depresi. Penggunaan smartphone yang berlebihan juga dapat berakibat negatif pada prestasi akademik.

Sebuah studi tahun 2020 di jurnal Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking terhadap lebih dari 11.000 remaja menemukan bahwa siswa yang melaporkan penggunaan telepon setidaknya dua jam pada hari kerja lebih condong melaporkan prestasi akademik yang jelek dan mempunyai nilai ujian yang lebih rendah dalam bahasa Inggris dan matematika.

Meski temuan studi cukup menjanjikan, master menemukan keterbatasan pada penelitian. Sebuah tinjauan tahun 2025 di The Lancet Regional Health-Europe memperingatkan bahwa sebagian besar bukti dalam literatur yang menghubungkan penggunaan ponsel pandai dengan kesehatan mental remaja berkarakter korelasional. Artinya, bukti tersebut tidak dapat membuktikan bahwa peningkatan penggunaan ponsel menyebabkan pengaruh jelek pada kesehatan mental.

Studi yang dikenal sebagai studi SMART Schools, meneliti lebih dari 1.200 remaja berumur 12 hingga 15 tahun di 30 sekolah menengah yang berbeda.

Dalam studi ini, siswa di sekolah dengan kebijakan yang ketat menghabiskan waktu sekitar 40 menit lebih sedikit di ponsel mereka dan sekitar 32 menit lebih sedikit di media sosial selama jam sekolah. Meskipun demikian, para peneliti menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam kesejahteraan mental secara keseluruhan antara siswa di sekolah yang menerapkan kebijakan ketat, dan sekolah yang menerapkan kebijakan longgar.

Studi ini juga tidak menemukan perbedaan yang berfaedah dalam total penggunaan telepon pada hari kerja alias akhir pekan.

Keuntungan dan kerugian larangan penggunaan HP di sekolah

Menyingkirkan HP memang dapat menghilangkan gangguan di lingkungan kelas. Namun, ada faedah yang jelas dari ponsel di tangan siswa.

Penelitian menunjukkan bahwa media sosial dan ponsel dapat membikin anak-anak dan remaja tetap terhubung, menumbuhkan rasa kebersamaan, memungkinkan remaja untuk mengekspresikan diri, dan juga meningkatkan keahlian sebagai pemecahan masalah.

Jadi, larangan penggunaan telepon di sekolah bukanlah solusi untuk menjaga konsentrasi alias kesehatan mental anak-anak dan remaja. Larangan ini merupakan salah satu intervensi lingkungan yang dampaknya sangat berjuntai pada apa yang terjadi di tempat-tempat di mana larangan tersebut tidak berlaku, seperti di rumah.

Strategi yang layak untuk sekolah ke depannya dapat mencakup menggabungkan pembatasan penggunaan telepon dengan pendidikan literasi digital. Selain itu, anak juga diberikan kesempatan untuk bersosialisasi tatap muka untuk mengembangkan persahabatan dan hubungan.

Terakhir, orang tua juga kudu berkedudukan aktif di rumah dalam mengatur waktu anak-anak mereka menggunakan media sosial dan ponsel. Tujuannya adalah untuk mengajarkan siswa kapan teknologi bermanfaat, dan kapan teknologi dapat menimbulkan akibat bagi kesehatan.

Demikian penjelasan tentang kelebihan dan kekurangan larangan penggunaan HP di sekolah bagi anak. Semoga info ini berfaedah ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak

Bagikan Postingan