Lebih dari Separuh Bunda Cari Saran Menyusui dari AI, Dokter Ungkap Risikonya

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 5 menit 512x dilihat
Lebih dari Separuh Bunda Cari Saran Menyusui dari AI, Dokter Ungkap Risikonya

Jakarta -

Kecanggihan teknologi rupanya juga memudahkan para pejuang ASI dalam memberikan wawasan pada mereka. Sebanyak 51 persen ibu sekarang mencari solusi tentang menyusui melalui AI alias media sosial.

Ya, dalam sebuah survei nasional baru ditemukan bahwa sebanyak 51 persen wanita berumur 18 hingga 44 tahun bakal terlebih dulu beranjak ke AI, media sosial, alias mesin pencari daring untuk mencari tahu solusi persoalan menyusui yang mereka hadapi secara mendesak sebelum menghubungi master spesialis.

Dari survei tersebut juga merilis bahwa hanya sekitar 29 persen yang mengatakan bahwa mereka bakal menghubungi master alias konsultan laktasi terlebih dahulu, sementara 21 persen lainnya bakal beranjak ke family alias teman. 


Temuan ini pun menyoroti tantangan yang kian berkembang seiring semakin banyaknya orang tua baru yang menggunakan AI untuk menjalani masa kehamilan, merawat bayi, dan menyusui.

Apakah saran AI selalu dapat diandalkan?

AI memang sedianya dapat dengan sigap menjelaskan istilah klinis dan menyarankan kemungkinan penyebab masalah, serta memberikan info umum tentang menyusui. Namun, AI tidak dapat memeriksa apakah bayi betul-betul mendapatkan cukup ASI.

"Ada pertanyaan-pertanyaan tertentu yang tidak dapat dijawab oleh AI," ujar Erynne Bowers, M.D., seorang master anak di Orlando Health Physician Associates seperti dikutip dari laman Healthnme.

Walau dianggap lebih sigap mendapatkan solusi, namun Dr Erynne Bowers memperingatkan bahwa saran umum dari internet justru dapat menunda penanganan medis serta tidak mempunyai pendekatan individual yang dibutuhkan dalam banyak kasus. 

"AI tidak bisa memandang diagram pertumbuhan mereka. Selain itu, AI tidak bisa menilai langkah bayi melekat pada tetek (latch)," kata Bowers, seperti dikutip dari laman People.

Meski demikian, lebih dari separuh wanita yang disurvei mengatakan mereka bakal beranjak ke internet, bukan tenaga medis profesional, saat menghadapi masalah menyusui yang mendesak, menurut studi nasional terbaru tersebut.

Hal tersebut memang wajar menjadi pilihan para wanita di luar sana ya, Bunda. Sebab, ketika persoalan baru dihadapi dalam waktu mendesak, para ibu tentunya memerlukan solusi sigap untuk mengatasi permasalahannya.

Namun demikian, Dr Bowers dari Orlando Health Physician Associates mengatakan bahwa alat-alat itu tidak dapat mempertimbangkan kebutuhan spesifik masing-masing ibu dan bayi.

"AI tidak bisa memandang apakah ada disfungsi motorik mulut yang dialami anak, yang mungkin berkontribusi pada kesulitan menyusui," katanya.

Terkait dengan ketergantungan pada teknologi dan internet dalam memecahkan masalah menyusui, Bowers mengatakan sekitar sepertiga ibu yang datang kepadanya dengan masalah menyusui pernah menerima saran yang keliru dari internet. Bahkan, dalam beberapa kasus, mereka yang mengikuti saran tersebut dapat menunda pemberian penanganan medis yang tepat. 

Selain itu, setiap bayi sedianya mempunyai penanganan dan kebutuhan yang berbeda. Sehingga, treatment yang didapatkan mungkin tidaklah selalu sama. Seperti dalam perihal nutrisi yang perlu diberikan pada bayi ya, Bunda.

"Tidak semua bayi makan sesering itu. Dan, tidak semua bayi mengonsumsi jumlah yang sama banyaknya," ujarnya.

Karena kebutuhan asupan bisa sangat bervariasi antara satu bayi dengan bayi lainnya, Bowers mengatakan bahwa saran yang berkarakter umum terkadang bisa menyesatkan orang tua.

"Terkadang kami memandang adanya halangan pertumbuhan akibat perihal itu, sehingga kami kudu mengambil langkah mundur, alias kami memandang penurunan pasokan ASI ibu lantaran AI memberi tahu mereka bahwa mereka tidak perlu menyusui sesering itu," jelasnya.

Penting diketahui bahwa kebutuhan nutrisi bayi berjuntai pada beberapa aspek ya, Bunda. Termasuk diantaranya usia, berat badan janin laju pertumbuhan, riwayat medis, dan efisiensi saat menyusu.

Dokter juga bakal memeriksa kenaikan berat badan bayi, hidrasi, pola buang air mini dan besar, tingkat kewaspadaan, serta perkembangan bayi dengan detail. Mereka mungkin mengawasi langkah bayi melekat pada payudara, aktivitas lidah, serta koordinasi antara menghisap, menelan, dan bernapas. Sementara, penilaian-penilaian ini tidak dapat dilakukan oleh chatbot AI.

Bisa jadi, seorang bayi mungkin dapat menghabiskan waktu lama di tetek tetapi hanya mendapatkan sedikit ASI. Sementara bayi lain mungkin menyusu dalam waktu lebih singkat namun melakukannya dengan efisien. Karena itu, agenda pemberian makan yang berkarakter umum tidak dapat menjelaskan keseluruhan masalah yang ada.

Bagaimana saran yang keliru dapat menciptakan suatu siklus?

Para mahir memperingatkan bahwa menyarankan seorang ibu untuk menyusui lebih jarang, misalnya, berpotensi mengurangi asupan kalori bayi sekaligus menurunkan stimulasi payudara.

Laporan tersebut juga mengisahkan pengalaman Emily Hunziker, seorang ibu asal Florida yang bayinya yang baru lahir mulai kehilangan berat badan meskipun dia telah berupaya memberikan ASI eksklusif.

Ia bekerja sama dengan master anak dan ahli laktasi, serta menggunakan kombinasi metode memerah ASI, pemberian susu lewat botol, dan susu formula tambahan, sembari tetap mempertahankan tujuannya untuk menyusui. Kini, putranya tumbuh sehat dan berkembang dengan baik.

Haruskah para ibu menyusui berakhir menggunakan AI untuk mendapatkan saran seputar menyusui?

AI memang tidak dapat sepenuhnya menggantikan pemahaman dari mahir medis secara langsung ya, Bunda. Sehingga memanfaatkannya dengan bijak bisa menjadi pilihan. 

Hal ini tidak berfaedah bahwa pemakaian AI kudu betul-betul dihentikan. Sebab kenyataannya, Ai juga bisa berfaedah untuk memahami istilah medis, menyusun pertanyaan bagi dokter, alias mencari sumber info tepercaya. Namun, AI tidak boleh menjadi penentu keputusan akhir ketika menyangkut nutrisi alias pertumbuhan bayi.

Tanda-tanda peringatan seperti kenaikan berat badan yang minim, rasa kantuk yang tidak wajar, dehidrasi, muntah terus-menerus, kesulitan bernapas, nyeri hebat, alias penurunan drastis dalam kegiatan menyusu memerlukan pemeriksaan medis oleh dokter, bukan sekadar saran umum yang dihasilkan secara otomatis.

Terlalu mengandalkan chatbot AI untuk mendapatkan jawaban dapat menunda upaya mencari support dokter, yang pada akhirnya bisa menghalang pemeriksaan klinis dan penanganan medis yang diperlukan.

Sehingga, ada baiknya segera konsultasikan apa pun persoalan menyusui Bunda dengan master untuk mendapatkan solusi terbaik. Semoga informasinya membantu ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak

Bagikan Postingan