Cahaya hidayah (ilustrasi).
Kincai Media ,JAKARTA -- Hidayah datang dengan langkah yang tak terduga. Itulah yang dialami Rasheed, seorang pemuda asal Florida, Amerika Serikat, yang memeluk Islam pada usia 17 tahun. Kisahnya menjadi refleksi tentang pencarian kebenaran, sekaligus gimana prasangka dapat luruh melalui perbincangan dan pencarian ilmu.
Rasheed mengisahkan dirinya dibesarkan dalam tradisi kepercayaan sebelumnya yang cukup kuat. Sejak mini dia aktif mengikuti kebaktian dan studi Alkitab, sehingga mempunyai pemahaman dasar tentang aliran yang dianutnya.
Namun, seperti banyak remaja lainnya, pengetahuannya tentang kepercayaan lain, termasuk Islam sangat terbatas. Bahkan, dia mengakui sempat menghindari mempelajari Islam lantaran terpengaruh gambaran media yang membuatnya merasa takut.
“Jadi saya tidak mau membahasnya, lantaran saya takut dengan apa yang mungkin saya pelajari. Jadi saya pada dasarnya hanya mengikuti apa yang diberitakan media,” ujarnya menukil dari AboutIslam, Senin (20/4/2026),
Meski demikian, rasa mau tahunya terhadap kepercayaan lain sempat membawanya mempelajari sejumlah agama. Anehnya, Islam justru menjadi satu-satunya kepercayaan yang tidak dia sentuh secara serius pada masa itu.
Titik kembali terjadi ketika dia mempunyai seorang kawan sekolah yang telah lebih dulu menjadi mualaf. Alih-alih tertarik, Rasheed justru merasa terusik. Ia menganggap temannya telah meninggalkan kepercayaan yang dia cintai.
Berbekal semangat dakwah, dia pun berupaya membujuk temannya kembali ke kepercayaan yang dia anut saat itu. Namun, upaya itu justru membuka jalan yang tak pernah dia duga sebelumnya.
Dalam proses berbincang dan berdebat soal keyakinan, Rasheed mulai mempelajari Islam secara langsung, baik dari literatur maupun penjelasan temannya. Ia menemukan banyak aliran Islam yang dinilainya logis dan susah dibantah.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·