Tafsir Surah An-nazi’at (bag. 1): Allah Bersumpah Dengan Para Malaikat

Apr 20, 2026 11:00 AM - 10 jam yang lalu 419

Muqaddimah surah

Surah An-Naziat adalah surah ke-79 dalam Al-Qur’an. Surah ini adalah surah Makkiyah yang dominan isinya adalah iktikad dan kepercayaan seorang muslim. Nama An-Naziat diambil dari penggalan awal surat ini, yang bermakna, “Malaikat yang mencabut ruh dengan keras/kasar”.

Surah ini mempunyai beberapa tema utama.

Pertama, penjelasan tentang sebagian malaikat dan tugas yang mereka emban.

Kedua, menjelaskan tentang keadaan orang musyrik yang mengingkari hari kiamat.

Ketiga, menceritakan kisah Fir’aun di era Nabi Musa, dimana Fir’aun dengan sombongnya mengaku sebagai tuhan, maka Allah hancurkan dengan ditenggelamkan ke dalam lautan.

Keempat, menceritakan tentang kesombongan masyarakat musyrik Makkah yang menentang dakwah Nabi.

Kelima, ditutup dengan penjelasan bahwa hari hariakhir bakal datang, namun tidak ada yang tahu kapan datangnya.

Tafsir surah An-Nazi’at

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَالنّٰزِعٰتِ غَرْقًاۙ

“Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa orang kafir) dengan keras.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 1)

Allah berjanji dengan menyebut malaikat An-Naziat. Mereka adalah malaikat yang mencabut nyawa orang kafir dengan pencabutan yang keras lagi kasar. Sebagai jawaban keburukan mereka di bumi yang tidak alim kepada Allah. Permulaan kematian orang kafir saja sudah sebegitu mengerikannya, apalah lagi kehidupan setelahnya. (Shofwatut Tafasir, hal. 488)

Ketika malaikat hendak mencabut nyawa orang kafir, mereka berkata, “Keluarlah wahai jiwa yang busuk, yang berada dalam jasad yang buruk, keluarlah kalian menuju kemarahan Allah.” Ketika dipanggil demikian, maka arwah mereka menolak, sangat takut, berpegangan erat kepada jasadnya, sehingga susah untuk ditarik. Sehingga malaikat menarik mereka dengan keras dan kasar agar bisa terlepas, hingga jasad tersebut nyaris terkoyak, robek, dan terbelah lantaran saking kerasnya tarikan tersebut. (Tafsir Juz Amma Syaikh Utsaimin, hal. 29)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَّالنّٰشِطٰتِ نَشْطًاۙ

“Demi (malaikat) yang mencabut (nyawa orang mukmin) dengan lemah lembut.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 2)

An-Nasyithoh adalah malaikat yang mencabut nyawa orang mukmin dengan lemah lembut dan hati-hati.

Ketika malaikat ini hendak menyabut nyawa orang yang mukmin, mereka memberikan berita gembira, “Wahai jiwa yang baik, yang berada dalam jasad yang baik, mari keluar menuju keridaan Allah Ta’ala.” Jiwa orang mukmin ini menyambut dengan penuh kegembiraan, sehingga keluarlah dari jasad dengan mudah. (Tafsir Juz Amma Syaikh Utsaimin, hal. 29)

Dalam sabda dari ‘Aisyah disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ . فَقُلْتُ يَا نَبِىَّ اللَّهِ أَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ فَكُلُّنَا نَكْرَهُ الْمَوْتَ فَقَالَ « لَيْسَ كَذَلِكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا بُشِّرَ بِرَحْمَةِ اللَّهِ وَرِضْوَانِهِ وَجَنَّتِهِ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ فَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَسَخَطِهِ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ

“Barangsiapa senang berjumpa dengan Allah, maka Allah juga mencintai perjumpaan dengannya. Sebaliknya, barangsiapa membenci perjumpaan dengan Allah, Allah juga membenci perjumpaan dengannya.”

Kontan ‘Aisyah berkata, “Apakah yang dimaksud tidak suka bakal kematian, wahai Nabi Allah? Tentu kami semua takut bakal kematian.”

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas bersabda, “Bukan begitu maksudnya. Namun maksud yang benar, seorang mukmin jika diberi berita ceria dengan rahmat, keridaan serta surga-Nya, dia suka berjumpa Allah, maka Allah pun suka berjumpa dengan-Nya. Sedangkan orang kafir, jika diberi berita dengan siksa dan murka Allah, dia pun cemas berjumpa dengan Allah, lantas Allah pun tidak suka berjumpa dengan-Nya.” (HR. Muslim no. 2685)

Seorang mukmin pasti kangen dan ceria dengan perjumpaannya dengan Allah, dan pintu pertama perjumpaan tersebut adalah kematian. Dengan gembiranya dirinya untuk berjumpa Allah, membawa kebaikan kebajikan, maka malaikat juga mudah untuk mencabut nyawanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَّالسّٰبِحٰتِ سَبْحًاۙ

“Demi (malaikat) yang sigap (menunaikan tugasnya) dengan mudah.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 3)

Malaikat yang turun dari langit membawa perintah dari Allah. Allah memberikan malaikat kekuatan yang sangat besar untuk menjalankan perintah-perintah tersebut, sehingga bisa menjalankannya dengan baik.

Dalam Tafsir Juz Amma, Syekh Utsaimin rahimahullah menjelaskan bahwa malaikat adalah makhluk Allah yang kekuatannya sangat besar, jauh lebih besar dari kekuatan jin, kemudian kekuatan hantu itu lebih besar dari manusia.

Dalam kejadian Nabi Sulaiman ‘alaihissalam meminta didatangkan singgasana Ratu Balqis (atau Bilqis) dari negeri Yaman menuju negeri Syam, yang jaraknya lebih dari 2000 kilometer, salah satu pendapat mengatakan bahwa yang memindahkan singgasana tersebut sebelum Nabi Sulaiman ‘alaihissalam mengedipkan matanya adalah malaikat yang Allah tugaskan dan beri kekuatan untuk bisa memindahkan secepat itu. (Tafsir Juz Amma Syaikh Utsmainin, hal. 30)

Demikianlah, dan beragam kejadian lainnya yang menunjukkan bahwa Allah memberikan kekuatan luar biasa kepada malaikat. Namun, jangan lupa bahwa pemilik kekuatan dan kekuasaan sejati hanyalah Allah; semua makhluk tidak dapat melakukan apapun, apalagi sekedar mengedipkan mata, melainkan dengan izin dari Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَالسّٰبِقٰتِ سَبْقًاۙ

“(Malaikat) yang bergegas (melaksanakan perintah Allah) dengan cepat.” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 4)

Salah satu pendapat menyebut bahwa yang dimaksudkan di sini adalah malaikat yang dengan sigap membawa ruh kaum muslimin menuju surga. (Shofwatut Tafasir, hal. 488)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَالْمُدَبِّرٰتِ اَمْرًاۘ

“Dan (malaikat) yang mengatur urusan (dunia).” (QS. An-Nāzi‘āt [79]: 5)

Allah berjanji dengan para malaikat yang mendapatkan tugas mengatur beragam urusan bumi dan urusan langit seperti mengatur urusan ruh, hujan, rezeki, mencatat amal, dan selain hal-hal tersebut. Di antara malaikat yang mengemban tugas sangat krusial adalah malaikat Jibril yang membawa wahyu, malaikat Mikail yang bekerja mengatur hujan dan pepohonan, malaikat Malik yang menjaga neraka, malaikat Ridwan yang menjaga surga, serta malaikat lainnya.

Allah Ta’ala berjanji dari ayat pertama sampai ayat kelima dengan para malaikat. Dalam sumpah, ada perihal yang digunakan untuk berjanji yang disebut muqsam bih dan ada perihal yang ditegaskan dengan sumpah tersebut yang disebut dengan muqsam ‘alaih. Seperti seseorang bersumpah, “Demi Allah, besok hutangmu saya bayar”; maka kata “Allah” adalah muqsam bih yang digunakan bersumpah, dan kata “saya bayar hutangmu besok” adalah muqsam ‘alaih.

Dalam ayat pertama sampai kelima dari surah An-Naziat, Allah hanya menyebut muqsam bih saja, tanpa menyebut muqsam ‘alaih alias perkara yang mau ditegaskan dengan sumpah. Para ustadz kemudian mencari apa muqsam ‘alaih yang Allah inginkan. Mereka menafsirkan bahwa muqsam ‘alaih-nya adalah “bahwasanya hari hariakhir pasti bakal datang.” Sehingga lengkapnya dari sumpah Allah tersebut adalah, “Demi para malaikat yang mempunyai beragam keistimewaan, pastilah hari hariakhir bakal datang kepada kalian.” (Al-Mukhtashor fi At-Tafsir, hal. 583)

[Bersambung]

***

Penulis: Dany Indra Permana

Artikel Kincai Media

Selengkapnya