Setiap manusia pasti mempunyai waktu luang. Di sela kesibukan belajar, bekerja, alias menjalani beragam kegiatan kehidupan, selalu ada saat-saat ketika seseorang bebas memilih apa yang mau dia lakukan. Pada waktu itulah manusia biasanya melakukan sesuatu yang dia sukai, yang sering disebut sebagai hobi.
Bagi sebagian orang, kegemaran dianggap sebagai perihal yang ringan, sekadar intermezo untuk mengisi waktu senggang. Namun bagi seorang Muslim, kegemaran bukanlah sekadar kegiatan pengisi waktu. Ia merupakan bagian dari gimana seseorang menggunakan umur yang Allah amanahkan kepadanya.
Setiap detik kehidupan manusia sangat berharga. Waktu yang telah berlalu tidak bakal pernah kembali, dan setiap detik itu bakal dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah pada hari kiamat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا تزول قدما عبد يوم القيامة حتى يسأل عن [أربع]: عمره فيمَ أفناه؟ وعن علمه فيمَ فعل؟ وعن ماله من أين اكتسبه؟ وفيمَ أنفقه؟ وعن جسمه فيمَ أبلاه
“Kedua kaki seorang hamba tidak bakal bergeser pada hari hariakhir sampai dia ditanya tentang empat perkara: (1) tentang umurnya, untuk apa dia habiskan; (2) tentang ilmunya, gimana dia mengamalkannya; (3) tentang hartanya, dari mana dia memperolehnya dan untuk apa dia membelanjakannya; (4) serta tentang tubuhnya, untuk apa dia gunakan.” (HR. Tirmidzi)
Hadis ini mengingatkan bahwa umur adalah amanah. Maka gimana seseorang mengisi waktu luangnya juga merupakan bagian dari amanah tersebut.
Waktu luang: Nikmat besar yang sering terlupakan
Di antara nikmat terbesar yang Allah berikan kepada manusia adalah kesehatan dan waktu luang. Namun ironisnya, dua nikmat ini justru sering tidak disadari oleh banyak manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Banyak orang baru menyadari nilai waktu setelah kehilangan kesempatan. Ketika masa muda telah berlalu, ketika kesehatan mulai melemah, alias ketika kesempatan telah hilang, barulah seseorang menyesal lantaran tidak memanfaatkan waktunya dengan baik.
Allah apalagi berjanji dengan waktu dalam Al-Qur’an,
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ
“Demi waktu. Sesungguhnya manusia betul-betul berada dalam kerugian.” (QS. Al-‘Asr: 1–2)
Islam tidak melarang hiburan
Sebagian orang beranggapan bahwa kepercayaan melarang kesenangan alias hiburan. Anggapan ini tidak sepenuhnya benar. Islam adalah kepercayaan yang sangat memahami dan menjaga fitrah manusia. Allah menciptakan manusia dengan kebutuhan untuk beristirahat, bersantai, dan menikmati kehidupan bumi dalam pemisah yang diperbolehkan.
Allah berfirman,
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Katakanlah (Muhammad), ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?’ Katakanlah, ‘Semua itu untuk orang-orang yang beragama dalam kehidupan dunia, dan unik (untuk mereka saja) pada hari kiamat.’ Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk kaum yang mengetahui.” (QS. Al-A‘raf: 32)
Ayat ini menunjukkan bahwa pada dasarnya, menikmati hal-hal yang baik adalah sesuatu yang diperbolehkan, selama tidak melanggar pemisah syariat.
Di antara sabda tentang permainan dan intermezo yang dilakukan pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbareng para sahabat adalah sabda tentang orang-orang Habasyah yang bermain tombak di masjid. Dari Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,
رَأيتُ النَّبيَّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم يَستُرُني برِدائِه، وأنا أنظُرُ إلى الحَبَشةِ يَلعَبونَ في المَسجِدِ، حتَّى أكونَ أنا التي أسأمُ، فاقدُروا قدرَ الجاريةِ الحَديثةِ السِّنِّ، الحَريصةِ على اللَّهوِ
“Aku memandang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menutupiku dengan selendang beliau, sementara saya memandang orang-orang Habasyah bermain di masjid. Beliau membiarkanku memandang hingga saya sendiri yang merasa bosan. Maka pahamilah keadaan seorang gadis muda yang senang terhadap hiburan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa mereka bermain dengan tombak dan perisai sebagai corak latihan ketangkasan.
Ada pula sabda tentang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkompetisi lari dengan Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anha,
سابقتُ رسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ فسبقتُهُ ، فلمَّا حملتُ اللحمَ سابقتُهُ فسبقني ، فقال : هذهِ بتِلْكَ
“Aku pernah berkompetisi lari dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lampau saya mengalahkannya. Ketika tubuhku mulai berisi, saya berkompetisi lagi dengan beliau. Beliau pun mengalahkanku. Beliau berkata, ‘Kemenangan ini sebagai jawaban kemenangan yang dahulu.’” (HR. Ath-Thahawi dan Abu Dawud)
Ini menunjukkan bahwa Islam tidak melarang hiburan, tetapi mengaturnya agar tetap berada dalam pemisah yang benar. Hiburan yang diperbolehkan dapat menjadi sarana untuk menyegarkan jiwa setelah kelelahan menjalani aktivitas. Namun, intermezo tidak boleh menjadi tujuan hidup alias membikin seseorang lalai dari kewajiban.
Hobi yang mendekatkan diri kepada Allah
Hobi yang paling baik adalah kegemaran yang membantu seseorang menjadi lebih baik dalam kepercayaan maupun dalam kehidupan. Allah Azza wa Jalla berfirman,
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا
“Carilah dengan apa yang Allah berikan kepadamu negeri akhirat, dan janganlah engkau melupakan bagianmu di dunia.” (QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Seorang Muslim tidak meninggalkan bumi sepenuhnya, tetapi juga tidak menjadikan bumi sebagai tujuan utama.
Beberapa contoh kegemaran yang berfaedah antara lain:
– Membaca kitab dan menuntut ilmu;
– Menghafal Al-Qur’an;
– Menulis dan berdakwah;
– Berolahraga untuk menjaga kesehatan;
– Berkebun alias memelihara tanaman;
– Belajar keahlian baru yang bermanfaat.
Aktivitas seperti ini bukan hanya mengisi waktu, tetapi juga memberi nilai positif bagi kehidupan seseorang.
Mengubah kegemaran menjadi ibadah
Salah satu keelokan aliran Islam adalah bahwa perkara yang mubah bisa berubah menjadi ibadah jika disertai niat yang benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya kebaikan itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Misalnya:
– Olahraga diniatkan untuk menjaga kesehatan agar kuat beribadah;
– Menulis diniatkan untuk menyebarkan ilmu;
– Berkebun diniatkan untuk memberi faedah bagi keluarga.
Dengan niat yang benar, kegiatan yang tampaknya sederhana bisa menjadi kebaikan yang berbobot pahala.
Hobi yang menguatkan bentuk dan mental
Islam juga mendorong umatnya untuk mempunyai bentuk yang kuat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
المؤمنُ القويُّ خيرٌ وأحبُّ إلى اللهِ من المؤمنِ الضعيفِ وفي كلٍ خيرٌ
“Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada kebaikan.” (HR. Muslim)
Dalam beberapa riwayat, disebutkan rekomendasi untuk mempelajari keahlian seperti:
– Memanah;
– Berkuda;
– Berenang.
Aktivitas seperti ini tidak hanya melatih kekuatan fisik, tetapi juga melatih disiplin, kesabaran, dan keberanian.
Bahaya kegemaran yang tidak terarah
Sebaliknya, tidak semua kegemaran membawa kebaikan. Sebagian kegemaran justru dapat menghabiskan waktu tanpa manfaat. Allah berfirman,
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا
“Apakah kalian mengira bahwa Kami menciptakan kalian secara sia-sia?” (QS. Al-Mu’minun: 115)
Hobi yang tidak terarah dapat menyebabkan beragam akibat negatif, seperti:
– Lalai dari ibadah;
– Menghabiskan waktu berlebihan;
– Menimbulkan kecanduan hiburan;
– Mengurangi produktivitas;
– Melemahkan semangat menuntut ilmu.
Padahal, setiap detik waktu adalah bagian dari umur yang tidak bakal kembali.
Pada akhirnya, kegemaran bukan sekadar kegiatan pengisi waktu luang, tetapi bagian dari gimana seseorang menjalani hidupnya. Seorang Muslim hendaknya memahami bahwa waktu adalah nikmat sekaligus amanah yang bakal dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Oleh lantaran itu, memilih kegemaran yang berfaedah merupakan corak kepintaran dalam memanfaatkan umur.
Islam tidak melarang intermezo dan kesenangan, selama tetap berada dalam pemisah yang legal dan tidak melalaikan dari kewajiban. Bahkan, kegemaran dapat menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah andaikan dilakukan dengan niat yang baik dan memberi faedah bagi diri sendiri maupun orang lain.
Maka hendaknya seorang Muslim memilih kegiatan yang dapat menambah ilmu, menjaga kesehatan, menguatkan mental, serta memperbaiki adab dan produktivitas. Jangan sampai waktu lenyap hanya untuk perihal yang sia-sia, sementara umur terus berkurang setiap harinya.
Semoga Allah menjadikan waktu-waktu kita penuh keberkahan, memberikan taufik untuk memanfaatkan usia dalam kebaikan, dan menjadikan setiap kegiatan yang kita lakukan berbobot ibadah di sisi-Nya. Aamiin.
Wallahu Ta’ala a’lam.
***
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Artikel Kincai Media