Kincai Media,BANDUNG-- Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi momentum untuk memperbaiki adab dan peduli kepada alam. Tidak hanya itu, menjadi momentum refleksi perjuangan dan keteladanan Rasullullah SAW.
Dewan Penasehat Pengurus Pusat Persatuan Umat Islam Indonesia (PP PUI), Prof Achmad Tjachja Nugraha mengatakan peringatan maulid nabi seharusnya tidak hanya berakhir sebagai kegiatan seremonial. Akan tetapi, kudu menjadi momentum untuk memperbaiki akhlak.
Ia mengatakan kehidupan Rasulullah SAW memberikan keteladanan tentang membangun masyarakat dengan kejujuran, amanah, persaudaraan, keadilan. Serta kasih sayang dan kepedulian terhadap sesama serta tidak membikin kerusakan di muka bumi.
“Maulid Nabi kudu kita maknai sebagai momentum untuk kembali kepada keteladanan Rasulullah. Bukan hanya mengingat kelahiran beliau saja, bakal tetapi gimana akhlak, perjuangan dan kepemimpinan beliau kita hadirkan dalam kehidupan sehari-hari,” ucap Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
Ia mengatakan pesan tersebut semakin relevan ketika dikaitkan dengan momentum kemerdekaan Indonesia. Kemerdekaan yang telah diperjuangkan tidak cukup hanya diperingati melalui upacara dan kegiatan seremonial.
Kemerdekaan kudu diisi dengan pembangunan terutama membangun karakter alias adab yang dirasakan oleh umat dan alam. “Kalau kita mau mengisi kemerdekaan dengan benar, salah satu modal terbesarnya adalah akhlak. Kemerdekaan tanpa adab dapat kehilangan arah. Kekuasaan tanpa amanah dapat melahirkan ketidakadilan. Ilmu tanpa adab juga dapat disalahgunakan," kata dia.
Ia menyebut Rasullulah merupakan suri tauladan kesempurnaan adab dalam mengisi kemerdekaan. Prof Achmad mengatakan sifat siddiq, amanah, tabligh dan fathanah perlu diterjemahkan dalam kehidupan modern.
Ia mengatakan Siddiq berfaedah menjunjung kejujuran dalam keseharian, amanah berfaedah dapat dipercaya dan bertanggung jawab, tabligh berfaedah menyampaikan kebenaran dan kebaikan. Sedangkan fathanah berfaedah mempunyai kepintaran sifat bijak.
“Empat sifat itu jangan hanya kita hafalkan kudu menjadi karakter. Kejujuran kudu menjadi budaya, amanah kudu menjadi prinsip dalam menjalankan tugas, kepintaran kudu digunakan untuk kemaslahatan dan setiap kebaikan kudu disampaikan kepada masyarakat,” kata dia.
Selain itu, Rasulluloh mengajarkan tentang menjaga keseimbangan alam ialah agar kita tidak merusak alam. Perjuangan mengisi kemerdekaan saat ini kudu dapat mengoptimalkan potensi alam dengan tidak merusak alam.
"Alam adalah untuk kita saat ini dan untuk anak cucu kita di masa depan," kata dia.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman Indonesia. Perbedaan suku, budaya, bahasa, pandangan. Serta latar belakang semestinya menjadi kekuatan bangsa, bukan argumen untuk saling berdebat hingga bermusuhan.
“Jangan lantaran perbedaan pilihan, kepentingan, kemauan alias pandangan menjadikan persaudaraan kita rusak. Kita kudu belajar dari Rasulullah gimana membangun kehidupan berbareng dengan keadilan, persaudaraan dan kebijaksanaan,” katanya.
Selanjutnya, Maulid Nabi juga kudu menjadi momentum pertimbangan kondisi gimana penerapan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari khususnya generasi muda. Ia menambahkan, Indonesia memerlukan manusia-manusia (generasi muda ke depan) yang merdeka pikirannya, kuat imannya, baik akhlaknya dan besar kepeduliannya kepada sesama juga alam lingkungan.