Kincai Media,TAIF -- Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bisa dimaknai dengan mempelajari keteladanannya semasa hidup. Salah satu yang patut diteladani adalah gimana Nabi menyelami jiwa para pengikutnya.
Nabi Muhammad SAW dikenal sebagai seorang pemimpin besar. Beliau mempunyai pengikut yang sangat banyak hingga saat ini.
Di masa perjuangannya menyebarkan kepercayaan Islam, Nabi Muhammad mempunyai para pengikut yang disebut sebagai sahabat Nabi. Bahkan, para sahabat ini dikenal mempunyai kesetiaan yang tinggi kepada Nabi Muhammad. Sehingga, menjadi salah satu pendukungnya untuk mempertahankan dan menyebarkan aliran Islam.
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, Prof DR Hamka (Buya Hamka), menuliskan dalam bukunya yang berjudul Sejarah Umat Islam, bahwa Nabi Muhammad mempunyai kesanggupan menyelami jiwa sahabatnya. Karena itulah, para sahabat menjadi sangat setia kepada Nabi Muhammad.
Bahkan, semua sahabatnya bersedia meninggal lantaran mempertahankannya dan semuanya diberi kebesaran dan dinaikkan jiwanya ke atas. Sehingga, para sahabat merasa diberikan penghargaan menjadi manusia yang besar.
"Penghargaan mereka diberinya menurut tingkatannya masing-masing," tulis Buya Hamka.
Misalnya, tentang Abu Bakar Nabi Muhammad berkata, "Perempuan yang paling kusayangi adalah Aisyah dan laki-laki yang kucintai adalah ayahnya (Abu Bakar)."
Tentang Umar bin Khattab dia berkata, "Kalau ada Nabi sesudahku, tentulah Umar Nabi itu."
Tentang Ustman Nabi berkata, "Kalau ada anak wanita yang lain lagi, hai Ustman, tentu engkau juga yang bakal kuambil menantu."
Tentang Ali bin Abi Thalib, Nabi berkata, "Saya kota ilmu, Ali adalah pintunya."
Tentang Az-Zubair, Nabi berkata, "Tiap Nabi mempunyai hawary (pengikut setia), hawary-ku adalah Az-Zubair."
Abdullah bin Abbas, diberikan gelar oleh Nabi sebagai ustadz Islam dan didoakannya agar dia bisa mengetahui pengetahuan Alquran.