Mengapa Anak Mudah Terpengaruh Influencer di Media Sosial? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Jul 04, 2026 08:10 PM - 1 bulan yang lalu 29520

Media sosial saat ini telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk pada anak. Oleh karena itu, anak mudah terpengaruh oleh para influencer. Bagaimana penjelasan ilmiahnya?

Ya, influencer bisa dengan mudah berpengaruh besar terhadap langkah anak berpikir, berperilaku, apalagi membikin keputusan.

Konten yang dilihat anak dapat membentuk persepsi mereka tanpa disadari, serta memengaruhi tren dan style hidupnya.


Saat anak mau menjadi influencer

Ketika anak senang menonton konten tentang influencer di media sosial, banyak orang tua mengira bahwa anak mereka kelak juga mau menjadi influencer. 

Namun nyatanya, penelitian-penelitian banyak menemukan bahwa orang tua yang justru memulai perihal tersebut. Mereka membiasakan anak untuk menonton influencer, lampau kemudian mengarahkan anak.

"Penelitian terbaru di Eropa menunjukkan bahwa nyaris semua akun influencer anak sebenarnya dikelola oleh orang tua. Jadi, meskipun akun tersebut terlihat dikelola oleh anak, pada kenyataannya anak tidak mempunyai akses langsung terhadap akun tersebut," ungkap peneliti di Ghent University, Belgia, Liselot Hudders, PhD, dikutip dari laman Children and Screens.

Temuan ini menunjukkan bahwa ketika seorang anak memutuskan mau menjadi influencer, kemauan tersebut mungkin dipengaruhi oleh dorongan orang tua. 

Jika anak terpengaruh dan mau menjadi influencer, orang tua perlu membujuk anak berbincang mengenai peran dan tanggung jawab tersebut. Bahas juga batas dan patokan krusial yang kudu dipatuhi dalam keluarga.

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Western University menemukan bahwa di kembali pilihan pekerjaan yang sedang tren ini, terdapat sisi gelap yang perlu diwaspadai.

Menurut peneliti studi tersebut, Daniel Clark, pengaruh influencer awalnya tampak sangat sederhana. 

Anak mau juga menjadi influencer, tujuan awalnya hanya punya banyak pengikut dan bisa berinteraksi. Proses ini biasanya berkembang secara alami di tahap-tahap awal. 

"Lalu, seiring waktu, semuanya terus berkembang hingga pada akhirnya melangkah layaknya sebuah perusahaan," ungkap Clark, dikutip dari CBC.

Penelitian Clark menemukan bahwa orang tua selalu memegang kendali atas konten, serta pendapatan yang dihasilkan.

Oleh lantaran itu, orang tua perlu berhati-hati dalam membagikan foto alias video anak di media sosial, terutama jika akun orang tua mempunyai banyak pengikut.

"Dalam jangka panjang, membagikan info tentang anak di internet turut membentuk identitas digital mereka, sehingga anak kehilangan kesempatan untuk membangun identitasnya sendiri," pesannya.

Alasan anak mudah terpengaruh influencer di media sosial

Menurut peneliti di University of South Florida, Kelli S. Burns, PhD, influencer memengaruhi anak melalui pesan-pesan yang dapat dijelaskan berasas perpaduan tiga proses.

Pertama, saat menjelajahi media sosial, anak condong memproses info secara aktif. Pengalaman ini berbeda dengan ketika mereka hanya menonton iklan di televisi.

Kedua, konten yang dibuat influencer sering kali susah dibedakan dari konten yang diunggah oleh pengguna biasa. Ketiga, influencer yang dianggap 'dekat' dan menarik oleh anak bakal menjadi sumber info yang mereka percaya.

Kombinasi antara pemrosesan info secara aktif, sulitnya membedakan konten influencer dengan konten biasa, serta tingginya tingkat kepercayaan terhadap influencer membikin mereka bisa memengaruhi beragam pilihan yang diambil anak.

Ciri-ciri anak banyak terpengaruh oleh influencer

Untuk perihal ini, Bunda perlu lebih memperhatikan sikap dan perilaku anak. Perhatikan apakah ada perubahan pada perilaku sehari-hari mereka.

Sebagai contoh, anak mungkin mulai menjalani pola makan tertentu alias mengikuti tren baru. Bunda bisa memandang apakah mungkin ada perihal serupa yang 'dicontohkan' oleh tontonan mereka.

Dikutip dari Children and Screens, orang tua pun disarankan menggunakan platform media sosial yang sama dengan anak.

"Orang tua tidak kudu mengikuti akun anak, tetapi dengan menggunakan platform yang sama, mereka dapat memahami konten apa saja yang sedang tren di sana," ungkap Burns.

Perhatikan jika sedang ada tren-tren yang termasuk rawan alias membawa pengaruh jelek bagi karakter anak. Misalnya seperti tren membikin prank alias bullying.

Apakah menonton influencer bisa memengaruhi perkembangan sosial anak?

Tanpa disadari, menonton influencer di media sosial dapat membawa beragam emosi dan emosi seseorang. Bahkan jika tidak disaring dengan tepat, ini juga bisa memengaruhi pola pikir dan refleksi diri.

Sebagai contoh, anak di usia praremaja dan remaja mungkin lebih rentan secara emosional. Oleh karena itu, terlalu banyak menonton influencer tanpa pendampingan bisa membentuk pola pikir jangka pendek.

Orang tua mempunyai peran yang sangat krusial dalam menetapkan batasan, mengajarkan langkah berinteraksi secara sehat di media sosial, mendorong anak memberikan kontribusi yang positif, serta menciptakan waktu unik tanpa gadget untuk bermain, membaca, dan menjalani kegemaran lainnya.

Orang Tua Habiskan Lebih dari 96 Jam per Tahun Bertengkar soal Screen Time AnakIlustrasi/ Foto: Getty Images/Natee Meepian

Melissa Hunt, PhD, peneliti dari University of Pennsylvania, mengingatkan bahwa mengikuti orang asing, termasuk influencer dan selebriti, berisiko membikin seseorang merasa rendah diri terhadap dirinya sendiri maupun kehidupannya.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial dalam tingkat terbatas dapat membikin anak merasa lebih senang dan lebih terhubung dengan teman-temannya.

Sebaliknya, penggunaan media sosial secara berlebihan berangkaian dengan peningkatan akibat depresi, rasa tidak percaya diri, kekhawatiran sosial, serta kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain yang dianggap lebih baik.

Apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi akibat tersebut?

Sebelum terburu-buru menyimpulkan perihal yang buruk, cobalah memandang beberapa unggahan dari influencer yang diikuti anak terlebih dahulu. Ini krusial agar Bunda bisa belajar memahami argumen kenapa anak begitu menyukainya.

Buka obrolan santuy dengan anak tentang influencer tersebut. Bunda bisa mengusulkan pertanyaan seperti, 'hal apa yang paling Anda sukai dari orang ini?' alias 'kalau temanmu di bumi nyata bersikap seperti ini, apakah menurutmu dia bakal menjadi kawan yang bisa dipercaya?'.

Berikut beberapa tips krusial mendampingi anak yang rentan terpengaruh influencer:

1. Rutin ajak anak berdiskusi 

Sampaikan kepada anak bahwa influencer tidak perlu selalu dianggap serius. Termasuk dalam memperhatikan peralatan yang digunakan oleh para influencer ini.

Penelitian menunjukkan bahwa ketika anak memandang orang tuanya turut hadir, kemauan mereka untuk mempunyai beragam peralatan konsumtif bakal berkurang.

Lalu arahkan perhatian anak pada nilai-nilai yang lebih penting, seperti produktivitas dan kepedulian terhadap sesama.

Orang tua yang mempunyai anak usia lebih mini dianjurkan membatasi waktu mereka menonton video alias unggahan terkenal yang tampak tidak rawan di beragam platform.

Sementara itu, untuk anak usia lebih besar Bunda dapat secara berkala membujuk mereka berbincang tentang video yang diunggah oleh para influencer.

2. Jadilah contoh bagi anak

"Pertimbangkan untuk membikin akun media sosial bersama, lampau ikuti beberapa akun yang dapat dilihat dan didiskusikan berbareng anak," imbuh psikoterapis anak, Joanna Fortune.

Tunjukkan rasa mau tahu Bunda terhadap pesan yang disampaikan dalam unggahan, proses penyuntingan foto, serta ajak anak membedakan mana yang nyata dan mana yang telah dikurasi dengan cermat.

Dengan terlibat aktif dalam percakapan seperti ini, orang tua dapat memastikan bahwa pengarahan moral dari merekalah yang menjadi pegangan utama anak, bukan pengaruh dari influencer.

3. Bantu anak memahami konsep 'iklan'

Influencer biasanya mempunyai tagar tertentu yang menunjukkan bahwa suatu unggahan merupakan konten berbayar.

Bantu anak memahami bahwa ketika mereka memandang tagar seperti itu, influencer mungkin tidak sedang menyampaikan pendapat yang betul-betul murni, melainkan sedang mempromosikan suatu produk alias layanan.

4. Ajarkan anak untuk berpikir kritis

Sangat krusial bagi orang tua untuk mendorong anak berpikir kritis mengenai unggahan para influencer. Ajak anak mengobrol tentang baik dan jelek hal-hal yang diunggah oleh influencer, dengarkan pendapatnya tanpa terkesan menggurui.

Itulah penjelasan tentang penjelasan ilmiah kenapa anak mudah terpengaruh influencer di media sosial. Semoga berfaedah ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(fir/fir)

Selengkapnya