Jakarta -
Bayi kagetan saat tidur sering kali membikin Bunda bingung? Ini sebenarnya termasuk perihal yang wajar, lho. Bayi punya mobilitas refleks terutama dalam bulan-bulan pertama hidupnya.
Dikutip dari situs University of Rochester Medical Center, refleks adalah aktivitas alias tindakan yang tidak disengaja. Beberapa aktivitas berkarakter spontan dan terjadi sebagai bagian dari kegiatan normal bayi.
Sementara itu, gerakan-gerakan refleks lainnya mungkin merupakan respons terhadap tindakan tertentu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gerakan refleks ini merupakan bagian dari sistem pertahanan diri, sekaligus tanda bahwa sistem saraf bayi sedang dalam proses perkembangan.
Nah, salah satu mobilitas refleks yang umum terjadi ialah refleks kaget (startle reflex). Refleks ini sering membikin bayi kagetan saat tidur.
Apa itu refleks kaget?
Dikutip dari Baby Center, refleks kaget (juga disebut refleks Moro) adalah salah satu dari banyak refleks bayi baru lahir. Hal ini termasuk aktivitas tidak sadar yang sudah dimiliki bayi sejak lahir.
Saat terkejut, bayi baru lahir bakal tersentak, merentangkan tangan dan kakinya, lampau menarik kembali personil tubuhnya ke arah dalam seperti biasa.
Terkadang bayi tidak terlalu terpengaruh oleh aktivitas kaget tersebut. Namun, kadang dalam posisi tidur, refleks ini dapat membikin mereka terbangun dan apalagi sampai menangis.
Sampai kapan refleks kaget terjadi?
Jenis refleks kaget ini paling sering terjadi pada usia baru lahir, setidaknya sampai Si Kecil mencapai usia 2 bulan.
Namun perlu dicatat bahwa pada beberapa bayi, refleks kaget dapat terus terjadi hingga usia 3-4 bulan. Sebagian bayi apalagi dapat terus mengalaminya lebih lama.
Perhatikan jika bayi tetap mempunyai refleks kaget setelah usia 6 bulan, sebaiknya segera lakukan konsultasi dengan dokter.
Apa yang kudu dilakukan jika bayi mudah kagetan?
Jika bayi kagetan saat tidur dan menangis, mereka mungkin memerlukan rasa nyaman untuk menenangkan diri, Bunda.
Terkadang jika bayi terbangun lantaran refleks kagetnya sendiri, mereka tidak selalu dapat kembali tidur dengan mudah.
Nah, untuk membantu mencegah bayi terbangun lantaran refleks kaget berikut perihal yang bisa dilakukan:
- Gunakan kain bedong pada bayi baru lahir sebelum menidurkannya, ini bakal membantu menjaga tangan dan kaki tetap berada dekat dengan tubuh sehingga tidak bergerak tiba-tiba.
- Putarkan white noise (menggunakan mesin bunyi alias musik yang menenangkan) di dalam ruangan untuk mengurangi gangguan bunyi lain yang dapat mengganggu tidur bayi.
- Letakkan bayi secara perlahan saat menidurkannya.
- Bergeraklah dengan tenang dan perlahan di ruangan tempat bayi tidur.
Adakah refleks Moro yang tidak normal?
Meski jenis refleks ini termasuk normal, ada beberapa perihal yang perlu menjadi perhatian orang tua.
Salah satunya ketika refleks Moro terjadi secara berlebihan. Hal ini adalah corak refleks kaget yang lebih kuat, di mana tangan bayi bakal merentang dengan aktivitas yang lebih ekstrem.
Refleks Moro yang tidak simetris (asymmetrical Moro reflex) juga bisa terjadi. Contohnya saat bayi merentangkan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap berada di samping tubuh.
Hal ini dapat menjadi tanda adanya kerusakan saraf alias patah tulang selangka (klavikula) pada bayi.
Dalam kasus yang jarang terjadi, bayi dapat lahir tanpa refleks Moro. Hal ini dapat menjadi tanda kondisi yang lebih serius, seperti cedera saat lahir, infeksi, gangguan neurologis, alias gangguan otot.
Tips mencegah bayi kagetan saat tidur
Jika refleks Moro membikin Si Kecil susah tidur dengan nyenyak alias apalagi mengganggu jam tidurnya, cobalah beberapa tips berikut:
1. Dekatkan bayi ke tubuh Bunda saat menidurkannya
Dikutip dari Healthline, pertahankan posisi bayi tetap dekat dengan tubuh Bunda selama mungkin saat menurunkannya ke tempat tidur. Lepaskan bayi secara perlahan hanya setelah punggungnya menyentuh kasur.
Gerakan seperti ini biasanya cukup kondusif untuk mencegah bayi merasakan sensasi jatuh yang dapat memicu refleks kaget.
2. Membedong bayi
Membedong dapat membikin bayi merasa kondusif dan nyaman. Alasannya, teknik membedong meniru suasana rahim yang hangat dan menenangkan.
Selain itu, membedong juga dapat membantu bayi tidur lebih lama.
Kapan perlu konsultasi ke dokter?
Jenis-jenis refleks tertentu, seperti refleks menggenggam dan refleks Moro, melibatkan kedua sisi tubuh bayi. Oleh lantaran itu, krusial untuk memastikan bahwa aktivitas refleks tersebut terjadi secara simetris.
Jika refleks tidak sama kuat alias tidak sama sigap pada kedua sisi tubuh, mungkin terdapat masalah pada sistem saraf pusat bayi. Berikut beberapa kondisi lain pada refleks bayi yang sebaiknya diperiksakan ke dokter:
1. Refleks tidak muncul sejak awal
Jika bayi tidak menunjukkan refleks dasar seperti refleks mengisap alias kaget dalam beberapa hari setelah lahir, perihal ini dapat menandakan adanya gangguan pada sistem saraf alias otot.
2. Refleks asimetris
Contohnya, saat terkejut maka aktivitas refleks bayi hanya terjadi pada satu tangan alias satu kaki saja. Kondisi ini dapat menandakan adanya masalah pada saraf perifer alias otot di salah satu sisi tubuh.
3. Refleks terjadi terlalu lama
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, beberapa refleks seperti refleks Moro alias refleks menggenggam biasanya menghilang setelah bayi berumur 4–6 bulan.
Jika refleks tersebut tetap memperkuat dalam waktu jauh setelah rentang usia tersebut, master mugnkin perlu melakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah terdapat gangguan pada perkembangan saraf alias otak.
4. Refleks tampak terlalu lemah alias berlebihan
Refleks yang terlalu lemah, misalnya bayi tidak bereaksi saat disentuh, alias sebaliknya refleks yang terlalu kuat dan tidak terkendali, juga dapat menjadi indikasi adanya masalah neurologis.
Itulah penjelasan tentang serba-serbi bayi kagetan saat tidur. Pemeriksaan sejak awal dapat membantu mendeteksi serta menangani gangguan perkembangan secara lebih sigap dan tepat.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·