Perkembangan kepintaran buatan (AI) mulai semakin meluas, apalagi hingga ke sektor pendidikan, Bunda. Namun, program AI yang gantikan pembimbing tersebut tetap menimbulkan perdebatan, meskipun sudah ada sekolah yang menerapkannya.
Berbeda dengan sekolah pada umumnya, Alpha Schools tidak mempunyai pembimbing yang mengajar di depan papan tulis alias menyampaikan materi secara langsung. Siswa bakal belajar melalui platform AI sekitar dua jam setiap hari untuk mata pelajaran inti seperti matematika, bahasa, dan sains.
Peran pembimbing alias pendamping diketahui hanya sebagai pemandu di kelas yang membantu memotivasi siswa, serta mengajarkan keahlian hidup. Sementara itu, unik pelajaran yang melibatkan pengetahuan pengetahuan sudah diserahkan sepenuhnya kepada AI, Bunda.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat perihal tersebut, banyak yang menilai penemuan ini termasuk cukup berani dan menarik. Namun, krusial bagi orang tua untuk tetap berhati-hati ke depannya, mengingat AI sebagai pengganti pembimbing belum sepenuhnya memberikan bukti dan akibat yang kuat dalam pembelajaran.
Mengenal Alpha School, sekolah yang menerapkan AI sebagai model belajar
Melansir dari beragam sumber, Alpha School merupakan sekolah swasta di Amerika Serikat yang menggunakan AI sebagai model pembelajaran yang menggantikan peran pembimbing di kelas. Keunikannya menjadi perbincangan luas, terutama di kalangan yang tetap skeptis terhadap masuknya AI ke bumi pendidikan.
Meski begitu, sekolah ini sebenarnya tetap memadukan dua unsur antara pembelajaran modern dan konvensional. Namun, porsi penggunaan AI jauh lebih mendominasi dibandingkan pendampingan langsung pembimbing yang hanya berkedudukan sebagai pendukung.
Setelah siswa selesai belajar dengan platform AI tersebut, mereka bakal mengikuti beragam kegiatan praktik, seperti proyek wirausaha dan pengembangan soft skill. Dengan kurikulum yang ada, siswa diharapkan dapat mengembangkan minat sekaligus keahlian mereka.
Kurikulum yang digunakan Alpha School sendiri mengedepankan pembelajaran berbasis penguasaan (mastery learning) yang berkarakter adaptif. Maka dari itu siswa dapat menyesuaikannya dengan keahlian dan ritme belajar masing-masing.
Apakah terobosan AI yang gantikan peran pembimbing di kelas efektif?
Sejauh ini, AI memang terbukti membantu proses belajar. Akan tetapi, perannya tetap lebih sebagai pendukung, bukan pengganti. Hal ini lantaran berangkaian beragam aspek penting, seperti interaksi, emosional, hingga keahlian memahami kebutuhan tiap anak.
Pendiri Alpha School dalam Book Club Chicago menyatakan bahwa siswanya dapat belajar dua kali lebih sigap dibandingkan sekolah tradisional. Ini lantaran AI yang mereka gunakan mengumpulkan materi yang sesuai dengan kurikulum, bukan dari mesin pencarian berbasis internet.
Namun, para peneliti mengingatkan bahwa klaim tersebut perlu dikaji lebih dalam, Bunda. Menurut Charles Logan, penggunaan AI sebagai perangkat bantu memang menunjukkan hasil yang positif di beragam studi, namun hasilnya tetap sangat jauh jika digunakan sebagai metode utama dalam pengajaran.
“Penelitian tentang pembelajaran personalisasi dan AI tetap menunjukkan hasil yang beragam. Menurut saya, pendekatan Alpha Schools terhadap pengarahan adaptif tetap seperti penelitian terbuka dan belum didukung oleh bukti penelitian yang kuat,” kata Logan.
Keraguan master terhadap penggunaan AI di beragam jenjang usia
Konsultan pendidikan, Stephanie Sewell, pun mempertanyakan kesesuaian penggunaan AI di beragam jenjang usia anak. Pada anak usia sekolah dasar alias TK, kecenderungan untuk belajar berinteraksi tampaknya bakal terganggu jika AI sebagai model pembelajarannya.
“Anak-anak seusia itu tetap dalam tahap belajar berinteraksi dengan orang lain di bumi nyata. Maka, memindahkan perihal sepenting matematika dasar, menulis dasar, dan membaca dasar ke dalam konteks daring dan AI sungguh menimbulkan kekhawatiran,” jelasnya dalam laman CBC.
Selain itu, seorang kepala sekolah yang berjulukan Chris Kennedy juga menilai bahwa model pembelajaran AI cocok untuk siswa yang berdikari dan mempunyai inisiatif yang tinggi. Misalnya, anak SMA alias anak yang tengah mempersiapkan diri untuk masuk perguruan tinggi.
“Sebagian siswa mungkin bisa berkembang dengan sedikit hubungan dengan guru. Namun, ada juga yang memerlukan support lebih intensif,” tuturnya.
Risiko penggunaan AI pada bagian pendidikan
Selain berangkaian dengan efektivitas pembelajaran, AI yang gantikan pembimbing juga menimbulkan sejumlah risiko, Bunda. Mulai dari rumor privasi informasi siswa, seperti pencarian aktivitas, gerakan, dan tingkat fokus belajar, hingga meningkatnya ketergantungan anak terhadap teknologi.
Di sisi lain, proses belajar secara tradisional juga dikhawatirkan semakin berkurang. Bahkan, sejumlah master mulai mengkhawatirkan gimana proses belajar nantinya yang hanya sebatas menyelesaikan tugas, tanpa membikin anak betul-betul memahami materinya.
Demikian penjelasan mengenai AI yang sudah gantikan peran pembimbing dalam proses belajar di sekolah. Tentunya tetap dibutuhkan bukti dan temuan lebih lanjut agar pelaksanaannya jauh lebih optimal di kemudian hari. Semoga info ini bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·