Jakarta -
Menjadi seorang ibu bukan hanya soal melahirkan bayi ke dunia. Ada proses besar yang terjadi dalam diri wanita secara fisik, emosional, hingga psikologis. Proses ini dikenal dengan istilah matrescence.
Istilah ini mungkin tetap terdengar baru, tapi sebenarnya sudah lama dikaji dalam bumi ilmiah. Memahami matrescence bisa membantu Bunda lebih memahami diri sendiri di tengah perubahan yang terasa begitu besar.
Perubahan menjadi ibu selama matrescence
Matrescence adalah fase transisi ketika seorang 'perempuan menjadi ibu', baik secara biologis, emosional, maupun sosial. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh antropolog Dana Raphael pada tahun 1970-an.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam penelitian terbaru di jurnal Trends in Cognitive Sciences, matrescence dijelaskan sebagai fase perkembangan manusia, setara dengan masa remaja (adolescence), yang melibatkan perubahan besar dari masa sebelum mempunyai anak hingga setelahnya.
Bunda mungkin pernah merasa seperti jadi orang baru setelah punya anak. Perasaan ini bukan sekadar sugesti, matrescence memang terbukti secara ilmiah dan sudah diteliti dalam beragam bidang, mulai dari neurosains hingga ilmu jiwa perkembangan.
1. Otak Bunda betul-betul berubah
Penelitian menggunakan pemindaian otak menemukan bahwa selama kehamilan hingga setelah melahirkan, terjadi perubahan struktur pada otak ibu. Area otak yang berangkaian dengan:
- Empati
- Ikatan emosional
- Respons terhadap bayi menjadi lebih aktif dan sensitif.
Bahkan, beberapa studi menyebut perubahan ini mirip dengan fase pubertas. Artinya, otak Bunda memang sedang di-reset untuk menjalani peran baru sebagai ibu.
2. Hormon alami lonjakan dan penurunan drastis
Selama dan setelah kehamilan, hormon seperti estrogen, progesteron, dan oksitosin mengalami perubahan besar.
Dampaknya:
- Emosi jadi lebih intens
- Lebih mudah resah alias menangis
- Muncul rasa protektif yang tinggi terhadap bayi
Ini bukan baper, tapi reaksi biologis alami tubuh ya Bunda.
3. Perubahan bio-psiko-sosial
Dalam bumi medis, matrescence dikenal sebagai perubahan bio-psiko-sosial, artinya mencakup:
- Biologis → tubuh dan hormon berubah
- Psikologis → emosi dan pola pikir berubah
- Sosial → peran dan hubungan ikut berubah
Perubahan ini terjadi secara bersamaan, sehingga wajar jika Bunda merasa kewalahan di awal.
4. Pergeseran identitas itu normal
Penelitian juga menemukan bahwa banyak ibu mengalami:
- Kehilangan identitas lama
- Kebingungan menjalani peran baru
- Perubahan prioritas hidup
Namun, ini bukan kehilangan melainkan proses membentuk identitas baru sebagai ibu.
5. Bisa berakibat pada kesehatan mental
Karena perubahan yang begitu besar, sebagian ibu bisa mengalami:
- Baby blues
- Stres berlebih
- Bahkan depresi pasca melahirkan
Itulah kenapa krusial untuk memahami matrescence sejak awal, agar Bunda tidak merasa sendirian alias ada yang salah.
Ilustrasi Ibu Hamil/ Foto: Getty Images/iStockphoto/torwai
Pentingnya masa matrescence
Sayangnya, meski perubahan ini sangat besar, banyak ibu tidak mendapatkan cukup dukungan. Sebuah laporan terbaru menyebut bahwa banyak wanita merasa:
- Bingung dengan perubahan diri
- Tidak punya 'bahasa' untuk menjelaskan perasaannya
- Tertekan oleh ekspektasi menjadi ibu sempurna
Inilah kenapa istilah matrescence menjadi penting, lantaran membantu Bunda memahami bahwa Ini adalah proses normal, bukan kelemahan.
Secara biologis, penelitian dalam bagian neurosains menunjukkan bahwa otak ibu mengalami perubahan struktur dan fungsi. Bahkan, perubahan ini disebut mirip dengan masa pubertas lantaran melibatkan proses neuroplastisitas (kemampuan otak untuk 'membentuk ulang' dirinya). Otak menjadi lebih sensitif terhadap bayi, tetapi di sisi lain, proses penyesuaian ini juga bisa membikin ibu merasa lebih emosional, mudah lelah, dan kewalahan.
Selain itu, perubahan ini tidak hanya terjadi di tubuh, tetapi juga di kehidupan sehari-hari. Penelitian dalam jurnal Nature Reviews Neuroscience menjelaskan bahwa kehamilan dan menjadi ibu menghubungkan perubahan hormon, perilaku, dan lingkungan secara langsung. Jadi, ketika Bunda merasa hidup berubah total, itu memang nyata secara ilmiah, lantaran semua aspek kehidupan ikut terdampak.
Yang membikin terasa semakin berat adalah adanya peningkatan beban kognitif. Studi menunjukkan bahwa sekitar 80% ibu baru melaporkan penurunan fokus, memori, alias konsentrasi di awal masa keibuan. Ini bukan lantaran keahlian menurun, tetapi lantaran otak sedang beradaptasi dengan tanggung jawab baru yang jauh lebih kompleks.
Di sisi lain, tekanan sosial juga memperparah kondisi ini. Banyak ibu merasa kudu memenuhi standar 'ibu sempurna', padahal realitasnya sangat berbeda. Tak pelak, banyak ibu merasa bingung, kehilangan identitas, dan kewalahan lantaran tidak mampu menjelaskan perubahan yang mereka alami. Tidak heran jika banyak Bunda merasa capek secara bentuk sekaligus emosional.
Apakah matrescence sama dengan baby blues?
Tidak, Bunda. Keduanya berbeda meski sering terjadi bersamaan.
Matrescence adalah proses besar dan alami ketika seorang wanita beralih bentuk menjadi ibu. Istilah ini diperkenalkan oleh Dana Raphael dan dalam kajian ilmu jiwa perkembangan, fase ini dianggap sebagai bagian dari siklus hidup yang wajar, seperti masa remaja.
Sementara itu, baby blues adalah kondisi emosional sementara yang biasanya muncul beberapa hari setelah melahirkan. Bunda mungkin merasa lebih sensitif, mudah menangis, cemas, alias mood naik turun tanpa argumen yang jelas. Kondisi ini sangat umum terjadi dan biasanya membaik dalam waktu sekitar dua minggu.
Penelitian menunjukkan bahwa baby blues dipicu oleh perubahan hormon yang sangat sigap setelah persalinan, ditambah kelelahan dan penyesuaian terhadap peran baru sebagai ibu. Jadi, baby blues bisa dianggap sebagai salah satu bagian mini dari pengalaman dalam matrescence, tapi bukan keseluruhannya.
Yang perlu diperhatikan, jika emosi sedih alias resah berjalan lebih lama, semakin berat, alias sampai mengganggu kegiatan sehari-hari, kondisi ini bisa berkembang menjadi depresi pasca melahirkan. Berbeda dengan baby blues, kondisi ini memerlukan perhatian dan support profesional.
Secara sederhana, Bunda bisa memahaminya seperti ini: Matrescence adalah perjalanannya, baby blues adalah salah satu fase yang mungkin terjadi di dalam perjalanan tersebut. Atau, Matrescence adalah 'fase besar'-nya, sementara baby blues adalah salah satu kemungkinan yang terjadi di dalamnya.
Gejala baby blues/ Foto: HaiBunda
Sisi positif dari matrescence
Meski sering terasa berat, matrescence bukan hanya tentang perubahan yang melelahkan. Di kembali proses ini, ada banyak sisi positif yang secara ilmiah justru menunjukkan bahwa Bunda sedang mengalami pertumbuhan besar dalam hidup.
Dalam penelitian di bagian neurosains, ditemukan bahwa otak ibu menjadi lebih adaptif setelah melahirkan. Proses ini disebut neuroplastisitas, ialah keahlian otak untuk membentuk hubungan baru. Dampaknya, banyak ibu mengalami peningkatan dalam keahlian memahami emosi, membaca situasi, dan merespons kebutuhan orang lain, terutama bayinya.
Selain itu, studi dalam ilmu jiwa perkembangan menunjukkan bahwa fase ini sering kali memperkuat ketahanan mental (resilience). Meski awalnya terasa sulit, banyak ibu justru menjadi lebih kuat secara emosional setelah melewati masa-masa awal menjadi orang tua. Mereka belajar menghadapi tekanan, mengelola emosi, dan beradaptasi dengan situasi baru.
Perubahan identitas yang terjadi selama matrescence juga membawa akibat positif. Penelitian tentang transisi menjadi ibu menemukan bahwa banyak wanita akhirnya mempunyai pemahaman diri yang lebih dalam. Bunda jadi lebih mengenal nilai hidup, prioritas, dan hal-hal yang betul-betul penting. Ini sering kali membikin hidup terasa lebih bermakna.
Dari sisi hubungan, matrescence juga bisa memperkuat ikatan emosional. Hormon seperti oksitosin membantu membangun kedekatan antara ibu dan bayi, sekaligus bisa meningkatkan kedalaman hubungan dengan pasangan ketika dijalani dengan komunikasi yang baik.
Menariknya, beberapa penelitian juga menyebut bahwa menjadi ibu dapat meningkatkan rasa tujuan hidup (sense of purpose). Banyak wanita merasa hidupnya menjadi lebih berfaedah lantaran mempunyai peran baru yang penuh makna.
Jadi, meskipun matrescence dipenuhi tantangan, fase ini juga merupakan proses Bunda menjadi:
- Tumbuh lebih kuat
- Lebih peka secara emosional
- Lebih mengenal diri sendiri
- Dan menemukan makna baru dalam hidup
Tips menjalani matrescence dengan lebih sehat
Agar Bunda bisa melewati fase matrescence dengan lebih nyaman, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan:
1. Terima bahwa ini proses alami
Dalam kajian ilmu jiwa perkembangan, penerimaan diri terbukti membantu menurunkan stres saat menghadapi perubahan besar dalam hidup.
2. Ungkapkan perasaan, jangan dipendam
Berbagi cerita dengan pasangan, teman, alias menulis jurnal dapat membantu meredakan beban emosional.
3. Prioritaskan istirahat
Kurang tidur dapat memperburuk suasana hati dan meningkatkan stres. Manfaatkan waktu rehat sekecil apa pun.
4. Bangun support system
Dukungan dari pasangan, keluarga, alias kawan sangat krusial untuk menjaga kesehatan mental Bunda.
5. Kurangi membandingkan diri dengan orang lain
Terlalu sering memandang 'ibu sempurna' di media sosial bisa memicu rasa tidak percaya diri.
6. Luangkan waktu untuk diri sendiri (me time)
Hal sederhana seperti mandi dengan tenang alias minum teh hangat bisa membantu mengisi ulang energi.
7 Kenali pemisah diri
Tidak semua perihal kudu dilakukan sendiri. Tidak apa-apa meminta bantuan.
8. Cari support ahli jika dibutuhkan
Jika merasa kewalahan, konsultasi dengan mahir bisa membantu mencegah kondisi seperti depresi pasca melahirkan.
Demikian penjelasan mengenai istilah mastrescence yang merupakan fase perubahan besar menjadi seorang ibu.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·