Jakarta -
Psikomotorik merupakan aspek tumbuh kembang anak yang tak boleh disepelekan. Hal ini krusial untuk mengoordinasikan kegunaan otak dan aktivitas tubuh.
Ya, perkembangan anak tidak hanya dilihat dari keahlian berbincang alias berpikir, tetapi juga dari kemampuannya menggerakkan tubuh dan melakukan beragam kegiatan sehari-hari.
Kemampuan yang melibatkan pengaturan koordinasi antara kegunaan otak dan aktivitas bentuk disebut sebagai psikomotorik.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Handbook of Clinical Neurology, perkembangan psikomotorik merujuk pada perubahan keahlian motorik, kognitif, emosional, dan sosial yang terjadi sejak masa bayi hingga remaja. Hal ini berkedudukan dalam proses adaptasi, eksplorasi, serta membantu anak belajar mandiri.
Oleh lantaran itu, orang tua perlu memahami tentang psikomotorik dan gimana langkah mengembangkannya sesuai dengan usia dan kebutuhan anak.
Mengenal psikomotorik, aspek krusial dalam perkembangan anak
Psikomotorik adalah keahlian seseorang melakukan beragam kegiatan yang memerlukan koordinasi otak, saraf, otot, dan indra secara bersamaan.
Cakupannya termasuk keahlian anak untuk mengontrol aktivitas tubuh, menjaga keseimbangan, mengoordinasikan mata dan tangan, serta melakukan kegiatan yang semakin kompleks seiring usia bertambah.
Pada masa bayi, keahlian psikomotorik terlihat melalui aktivitas sederhana seperti mengangkat kepala, berguling, meraih benda, dan merangkak.
Nantinya keahlian tersebut berkembang menjadi berjalan, berlari, melompat, menulis, menggambar, hingga melakukan kegiatan yang memerlukan ketelitian tinggi.
Dikutip dari Cortex Academy, semakin matang sistem saraf anak, semakin baik pula keahlian mobilitas dan koordinasinya.
Seperti disebutkan sebelumnya, psikomotorik merupakan keahlian krusial dalam perkembangan anak.
Tidak hanya membantu anak bergerak, tetapi juga mendukung proses belajar, hubungan sosial, dan kemandirian.
Sebagai contoh, ketika anak belajar berjalan, memegang sendok, alias menggambar, mereka sedang melatih keahlian psikomotoriknya.
Aktivitas tersebut membantu memperkuat hubungan antara otak dan tubuh, sehingga anak dapat melakukan tugas yang lebih kompleks di kemudian hari.
Stimulasi perkembangan motorik yang tepat bakal membantu pembentukan hubungan antarsel saraf di otak, yang krusial untuk proses belajar, komunikasi, dan apalagi perkembangan emosi.
Selain itu, keahlian motorik yang baik memungkinkan anak lebih aktif mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya.
Perbedaan Psikomotorik dengan Kognitif dan Afektif
Dikutip dari laman University of Illinois Chicago, dalam bumi pendidikan dan perkembangan anak, terdapat tiga aspek utama yang sering dibahas: kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Kognitif berangkaian dengan pengetahuan, pemahaman, dan proses berpikir. Lalu afektif berangkaian dengan perasaan, emosi, sikap, nilai, dan pembentukan diri. Sementara itu, psikomotorik berangkaian dengan keahlian bentuk dan aktivitas tubuh.
Berikut penjelasan lengkapnya, Bunda:
1. Kognitif
Aspek kognitif berangkaian dengan keahlian berpikir, memahami, mengingat, memecahkan masalah, dan mengambil keputusan. Contohnya adalah keahlian anak mengenal warna, berhitung, alias memahami instruksi.
2. Afektif
Aspek afektif berasosiasi dengan emosi, sikap, nilai, empati, dan keahlian bersosialisasi. Kemampuan ini krusial untuk anak belajar mengelola emosi dan bekerja sama dengan teman.
3. Psikomotorik
Psikomotorik berangkaian dengan keahlian anak melakukan aktivitas bentuk yang terarah. Termasuk seperti menulis, menggunting, berlari, melompat, menangkap bola, dan mengancingkan baju.
Ketiga aspek ini sama-sama krusial dan saling berhubungan. Misalnya, ketika anak sedang belajar menulis, dia menggunakan keahlian kognitif untuk mengenali huruf, afektif untuk menjaga motivasi belajar, dan psikomotorik untuk menggerakkan tangan serta jari.
Jenis-jenis keahlian psikomotorik
Secara umum, keahlian psikomotorik dibagi menjadi dua golongan utama, ialah motorik kasar dan motorik halus.
1. Motorik kasar
Dikutip dari laman Brown Health University, motorik kasar melibatkan penggunaan otot-otot besar pada tubuh, seperti otot kaki, tangan, dan tubuh bagian inti.
Kemampuan ini digunakan untuk melakukan aktivitas besar dan kegiatan fisik. Termasuk seperti berlari, melompat, menendang bola, bersepeda, hingga berguling.
2. Motorik halus
Sebaliknya, motorik lembut melibatkan keahlian menggunakan otot-otot kecil, terutama tangan dan jari. Contohnya seperti menggenggam pensil, menumpuk balok, mengancingkan baju, menggambar, menulis, dan menggunting kertas.
Perkembangan motorik biasanya berjalan seiring dengan kematangan otot, saraf, dan koordinasi. Semua ini sangat dipengaruhi oleh beragam aspek termasuk stimulasi dari lingkungan sekitar dan asupan nutrisi.
Tahapan perkembangan psikomotorik anak
Ilustrasi/ Foto: Getty Images/Kannika Paison
Setiap anak sebenarnya mempunyai waktu berkembang dengan kecepatan yang berbeda-beda, sehingga tidak selalu bisa disamaratakan. Namun, terdapat tonggak perkembangan alias milestone dasar yang bisa digunakan sebagai panduan.
Untuk tahapan perkembangan psikomotorik anak sesuai usia di antaranya:
Usia 0–2 bulan
- Mengangkat kepala saat tengkurap
- Menggenggam benda
- Menggerakkan tangan ke mulut
Usia 3–5 bulan
- Mengangkat kepala lebih tinggi saat tengkurap
- Mulai tertarik meraih mainan dengan tangannya
- Berguling dari tengkurap ke telentang
Usia 6–8 bulan
- Berlatih duduk tanpa bantuan
- Merangkak
- Memindahkan mainan dari satu tangan ke tangan lainnya
Usia 9–12 bulan
- Mencoba berdiri dengan bantuan
- Berjalan sembari berpegangan dengan barang di sekitar
- Mengambil barang mini menggunakan ibu jari dan telunjuk (pincer grasp)
Usia 1–2 tahun
- Berlatih melangkah sendiri
- Naik tangga dengan support orang dewasa
- Menumpuk balok
- Mulai menggunakan sendok
Usia 2–3 tahun
- Berlari dan melompat
- Menggambar garis dan lingkaran sederhana
- Menggunakan sendok dengan lebih baik
- Mampu menumpuk mainan balok lebih banyak
Usia 3–5 tahun
- Melompat dengan satu kaki
- Menangkap dan menendang bola
- Menggunakan gunting yang kondusif untuk anak-anak
- Menggambar corak sederhana dengan lebih rapi
Cara mengembangkan keahlian psikomotorik anak
Perkembangan psikomotorik dapat dioptimalkan dengan stimulasi yang tepat. Berikut beberapa langkah mengembangkan keahlian psikomotorik tersebut, Bunda:
1. Berikan kesempatan anak untuk aktif bergerak
Pastikan anak mempunyai cukup waktu untuk bergerak dan bermain di luar rumah. Termasuk untuk berlari, melompat, memanjat, alias bermain bola.
Aktivitas bentuk dapat membantu melatih kekuatan otot, keseimbangan, dan koordinasi tubuh.
2. Optimalkan motorik halus
Ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan untuk menstimulasi motorik lembut anak, misalnya seperti:
- Menggambar
- Mewarnai
- Bermain play dough
- Menyusun balok
- Meronce manik-manik
- Menggunting dan menempel
Selain meningkatkan koordinasi mata, aktivitas-aktivitas tersebut juga melatih tangan serta keahlian jari Si Kecil.
3. Berikan mainan sesuai usia
Berikan anak mainan yang dapat merangsang keahlian motoriknya, seperti puzzle, susun balok, sepeda roda tiga, alias permainan konstruksi.
4. Latih anak untuk mandiri
Biarkan anak belajar berdikari dengan mencoba beragam perihal baru secera bertahap. Misalnya untuk memakai pakaian, makan, alias membereskan mainannya.
Kegiatan sehari-hari seperti ini merupakan salah satu latihan psikomotorik yang sangat baik.
5. Batasi screentime
Terlalu banyak bermain gadget dapat mengurangi kesempatan anak untuk bergerak aktif. Padahal seperti dijelaskan sebelumnya, aliknya, kegiatan bentuk sangat efektif dalam merangsang perkembangan motorik.
Itulah penjelasan tentang psikomotorik yang menjadi aspek krusial dalam perkembangan anak. Dengan memahami tahapan perkembangan dan memberikan stimulasi yang tepat sejak dini, Bunda dapat membantu mengoptimalkan tumbuh kembang motorik Si Kecil.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·