Dalam perjalanan hidup yang penuh liku, manusia kerap tersesat bukan lantaran gelapnya jalan, tetapi lantaran tidak mengenal dirinya sendiri. Kita melangkah jauh, mencari makna ke beragam arah, padahal kunci ketenangan itu berdomisili di dalam diri.
Saat seseorang mulai mengenali dirinya, dia tidak lagi asing dengan asal-usulnya, mengerti apa yang betul-betul dia butuhkan, dan bisa membedakan mana yang menguatkan serta mana yang perlahan merusaknya. Dari situlah lahir sebuah kompas jiwa yang menuntun langkah agar tidak mudah goyah oleh beragam fitnah.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata,
مَنْ عرف نفسه بالضعف عرف ربه بالقوة، ومن عرفها بالعجز عرف ربه بالقدرة، ومن عرفها بالذل، عرف ربه بالعز، ومن عرفها بالجهل، عرف ربه بالعلم
“Barang siapa mengenal dirinya sebagai makhluk yang lemah, maka dia bakal mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Kuat.
Barang siapa mengenal dirinya sebagai tidak mampu, maka dia bakal mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Berkuasa.
Barang siapa mengenal dirinya sebagai hina, maka dia bakal mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mulia.
Barang siapa mengenal dirinya sebagai bodoh, maka dia bakal mengenal Rabb-nya sebagai Yang Maha Mengetahui.” (Madarijus Salikin, 1: 427)
Mengenal diri bukan sekadar memahami kelebihan, tetapi juga berani menatap kelemahan dengan jujur. Dalam kejujuran itu, hati menjadi lebih lapang, lebih lembut, dan membikin kita menyadari kelemahan, kebutuhan, dan ketergantungan total kepada Allah Ta’ala.
Ada beberapa langkah agar kita dapat mengenali diri sendiri lebih dalam.
Pertama, mengetahui unsur dasar pembuatan diri
Manusia adalah makhluk spesial (mulia), diberi akal, diberi amanah, dan dijadikan khalifah di bumi. Allah Ta’ala berfirman,
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ
“Sungguh Kami telah memuliakan anak Adam…” (QS. Al-Isra’: 70)
Kemuliaan itu bukan tanpa alasan. Salah satunya adalah lantaran manusia diciptakan dari dua unsur besar, ialah jasad dan ruh.
Unsur jasad (lahir)
Allah Ta’ala berfirman,
وَمِنْ ءَايَٰتِهِۦٓ أَنْ خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan Anda dari tanah.” (QS. Ar-Rum: 20)
Jasad manusia berasal dari tanah, memerlukan makanan, pakaian, tempat tinggal, istirahat, dan perawatan. Semua itu adalah tanda bahwa manusia lemah dan berjuntai pada pemberian Allah.
Unsur ruh (batin)
Allah Ta’ala juga berfirman mengenai ruh,
وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى
“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu urusan Rabb-ku…” (QS. Al-Isra’: 85)
Ruh adalah tiupan kemuliaan dari Allah Ta’ala. Ia tidak terlihat, tidak tersentuh, tetapi dia yang menggerakkan hati, iman, dan arah hidup kita.
Oleh lantaran itu, siapa saja yang hanya memperhatikan jasadnya, tetapi membiarkan ruhnya kelaparan, dia telah merusak keseimbangan terhadap dirinya sendiri.
Baca juga: Dua Hikmah Penciptaan Manusia
Kedua, mengenali kebutuhan pokok diri
Ketika kita telah mengetahui bahwa manusia diciptakan dari dua unsur (jasmani dan rohani), maka selanjutnya untuk bisa mengenal diri sendiri perlu juga untuk mengetahui kebutuhan pokok atas jasmani dan rohani tersebut.
Kebutuhan pokok jasad meliputi pangan (makanan), sandang (pakaian), dan papan (tempat tinggal), lantaran ketiganya adalah kebutuhan dasar yang membikin manusia bisa memperkuat hidup.
Allah Ta’ala berfirman,
وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ
“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan…” (QS. Al-A‘raf: 31)
Oleh lantaran itu, kebutuhan jasad memang kudu dipenuhi, namun tidak boleh dituruti secara berlebihan alias tanpa batas.
Kemudian adalah kebutuhan ruh. Ruh adalah inti kehidupan. Ia hidup bukan dari makan dan minum, tetapi dari ilmu dan ibadah.
Imam Ahmad rahimahullah berkata,
الناس إلى العلم أحوج منهم إلى الطعام والشراب. لأن الرجل يحتاج إلى الطعام والشراب في اليوم مرة أو مرتين. وحاجته إلى العلم بعدد أنفاسه
“Manusia lebih butuh kepada pengetahuan (agama), dibandingkan kebutuhan terhadap makanan dan minuman. Karena seseorang dalam sehari hanya memerlukan makan dan minum sekali alias dua kali. Sedangkan dia memerlukan pengetahuan dalam setiap helaan nafasnya.” (Madarijus Salikin, 2: 440)
Tanpa ilmu, seseorang bakal tersesat. Tanpa ibadah, ruh menjadi hampa. Allah Ta’ala menegaskan tujuan pembuatan manusia,
وَمَا خَلَقْتُ ٱلْجِنَّ وَٱلْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah Aku menciptakan hantu dan manusia selain untuk beragama kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Inilah makanan bagi ruh, ialah dengan salat, zikir, membaca Al-Qur’an, menuntut ilmu, dan mendekat kepada Allah dalam setiap keadaan.
Ketiga, mengenali hal-hal yang merusak diri
Setelah mengetahui dari apa kita diciptakan dan apa kebutuhan utama diri, kita juga wajib mengenali apa saja yang dapat merusak kita, baik jasmani maupun rohani.
Hal-hal yang dapat merusak jasad di antaranya adalah mengonsumsi makanan haram alias berbahaya, melakukan kebiasaan yang merusak kesehatan, serta bersikap malas dan tidak menjaga amanah tubuh.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
فَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
“Sesungguhnya tubuhmu mempunyai kewenangan atas dirimu.” (HR. Bukhari)
Sehingga jasad ini adalah amanah dari Allah yang wajib dijaga dan tidak boleh disia-siakan.
Selain perusak jasad, ada pula hal-hal yang merusak ruh. Kerusakan ruh jauh lebih rawan daripada kerusakan jasad, lantaran ruh adalah pusat keimanan, ketenangan, dan arah hidup. Jika ruh rusak, maka seluruh kehidupan ikut rusak. Berikut ini beberapa perihal yang paling merusak ruh seorang hamba:
Dosa dan maksiat
Dosa adalah racun bagi hati. Setiap kali seseorang melakukan maksiat, maka dia sedang menambah noda yang menggelapkan hatinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}
“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya bakal ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristigfar, dan bertobat; niscaya noda itu bakal dihapus. Tapi jika dia kembali melakukan dosa, niscaya noda-noda itu bakal semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu. Hadis ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi)
Semakin banyak noda itu dibiarkan, semakin gelap hati seseorang, sehingga susah menerima nasihat dan sinar hidayah. Dosa membikin ruh melemah, ketaatan menurun, dan hati menjadi keras.
Lalai dari zikir dan ibadah
Ruh yang tidak diberi makanan berupa zikir, doa, dan ibadah bakal menjadi lemah seperti halnya jasad. Allah Ta’ala memperingatkan,
وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ نَسُوا۟ ٱللَّهَ فَأَنسَىٰهُمْ أَنفُسَهُمْ ۚ
“Dan janganlah Anda menjadi seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (QS. Al-Hasyr: 19)
Ketika seseorang melupakan Allah, dia kehilangan arah hidup. Ia lupa tujuan penciptaannya, lupa kewajibannya, dan akhirnya justru merugikan dirinya sendiri.
Syubhat, syahwat, dan hawa nafsu
Syubhat merusak pemikiran. Syahwat merusak kemauan dan tindakan. Hawa nafsu merusak keteguhan hati.
Tiga perihal ini adalah musuh besar ruh. Allah Ta’ala menyebut bahwa mengikuti hawa nafsu bakal menyesatkan dari jalan yang benar,
وَلَا تَتَّبِعِ ٱلْهَوَىٰ فَيُضِلَّكَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ
“Dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, lantaran dia bakal menyesatkan dari jalan Allah.” (QS. Shad: 26)
Syubhat membikin seseorang ragu terhadap agama, syahwat membuatnya mudah tergelincir, dan hawa nafsu membuatnya membenarkan kesalahan.
Tidak menuntut pengetahuan agama
Hati tanpa pengetahuan bakal kosong dan mudah disusupi kebodohan, syubhat, serta bisikan setan. Ilmu adalah cahaya, dan kegoblokan adalah kegelapan. Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ هَلْ يَسْتَوِى ٱلَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ
“Apakah sama orang-orang yang mengetahui dan yang tidak mengetahui?” (QS. Az-Zumar: 9)
Buruknya kawan dan lingkungan
Ruh sangat mudah terpengaruh oleh lingkungan. Teman yang jelek bisa menyeret seseorang kepada kelalaian dan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل
“Agama seseorang sesuai dengan kepercayaan kawan dekatnya. Hendaklah kalian melihat, siapakah yang menjadi kawan dekatnya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi. Lihat Silsilah Ash-Shahihah, no. 927)
Lingkungan jelek membikin ruh susah berkembang, sementara kawan saleh adalah penolong bagi ketaatan dan ketenangan hati.
Perjalanan mengenal diri adalah perjalanan pulang
Mengenal diri bukan sekadar mengetahui kelemahan diri, tapi memahami dari mana kita berasal dan ke mana kita bakal kembali. Allah Ta’ala berfirman,
قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ
“Sesungguhnya kami milik Allah, dan kepada-Nya kami bakal kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)
Semoga Allah memberi kita taufik untuk mengenali diri, memperbaiki diri, dan mendekat kepada-Nya dengan segenap hati. Aamiin.
Baca juga: Faktor Internal Perusak Iman
***
Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya
Artikel Kincai Media
English (US) ·
Indonesian (ID) ·