Syawal Adalah Indikator Diterimanya Amalan Ramadan

May 05, 2026 11:00 AM - 1 hari yang lalu 1498

Keadaan kita di bulan Syawal adalah parameter hasil pekerjaan kita di bulan Ramadan. Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan,

أن معاوَدَةَ الصِّيام بعدَ صِيام رمضانَ علامةٌ على قَبُولِ صَوْمِ رمضانَ

“Melanjutkan puasa setelah Ramadan (dengan puasa Syawal–pen) adalah tanda diterimanya puasa Ramadan kita.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)

Hal ini berasas norma besar yang disebutkan oleh para ulama,

ثوابُ الحسنةِ الحسنةُ بَعْدَها

“Ganjaran kebaikan adalah kebaikan setelahnya.”

Ibnu Katsir mengutip norma ini dari keterangan para salaf atas sebuah firman Allah ﷻ,

فَسَنُيَسِّرُهُۥ لِلْيُسْرَىٰ

“Maka Kami kelak bakal menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (QS. Al-Lail: 7)

Konteks ayat ini adalah bagi mereka yang beramal saleh, bersedekah dan semisalnya, maka Allah ﷻ bakal mudahkan dia untuk mengerjakan kebaikan setelahnya. Dari sinilah sebagian salaf radhiyallahu ‘anhum mengatakan,

فإنَّ الله تعالى إذا تقبَّل عَمَلَ عَبْدٍ وفَّقَه لعمل صالحٍ بعدَه، كما قال بعضُهم: ثوابُ الحسنةِ الحسنةُ بَعْدَها

“Karena sesungguhnya andaikan Allah ﷻ menerima ibadah seorang hamba, maka Allah ﷻ bakal memberikan taufik untuk beramal saleh setelahnya. Sebagaimana dikatakan sebagian ustadz salaf, “Ganjaran dari sebuah kebaikan adalah kebaikan setelahnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)

Hal ini juga sesuai dengan tafsir Ibnu Katsir atas QS. Al-Lail: 7 di atas,

أَنَّ اللَّهَ، عَزَّ وَجَلَّ، يُجازي مَنْ قَصَدَ الْخَيْرَ بِالتَّوْفِيقِ لَهُ

“Bahwasanya Allah ﷻ membalas orang yang beriktikad untuk mengerjakan kebaikan dengan memberinya kekuatan untuk mengerjakannya.”

Berniat kebaikan saja pasca Ramadan bakal Allah ﷻ ganjar dengan taufik untuk mengerjakannya. Maka, kunci dari menjaga kesuksesan ibadah Ramadan adalah senantiasa memasang niat dan berupaya kuat untuk melanjutkannya dengan ibadah kebaikan lain. Andai pun Allah ﷻ tidak menakdirkan kebaikan itu terjadi, semoga Allah ﷻ sudah mengganjarnya dengan kebaikan, sebagaimana dalam sebuah hadis,

فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً

“Barangsiapa yang beriktikad melakukan kebaikan, lampau tidak mengerjakannya, maka Allah menulis itu di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna.” (HR. Bukhari no. 6491 dan Muslim no. 131)

Ganjaran sempurna itu didapatkan bagi orang yang baru berniat, sedangkan mereka yang bisa mewujudkannya, bakal Allah ﷻ balas minimal sepuluh kali apalagi sampai tujuh ratus kali.

Dan tidak hanya dimudahkan untuk melakukan baik setelahnya, tetapi juga dimudahkan untuk mendapatkan hasil kebaikan setelahnya.

Bukankah Allah ﷻ berfirman,

هَلْ جَزَآءُ ٱلْإِحْسَٰنِ إِلَّا ٱلْإِحْسَٰنُ

“Tidak ada jawaban kebaikan, selain kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman: 60)

Dan kata para mahir tafsir, di antaranya dinukil dari Zaid bin Aslam, maksud dari ganjaran kebaikan di bumi adalah kebaikan yang banget dahsyat di akhirat, ialah surganya Allah ﷻ.

Baca juga: Keadaan Manusia Sesudah Ramadhan

Waspada beriktikad jahat di bulan Syawal

Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan ayat,

فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى

“Maka kelak kami bakal menyiapkan segera jalan yang penuh kesulitan.” (QS. Al-Lail: 10)

Beliau membawakan peringatan,

وَمَنْ قَصَدَ الشَّرَّ بِالْخِذْلَانِ. وَكُلُّ ذَلِكَ بِقَدَرٍ مُقدّر

“Dan barangsiapa yang beriktikad bakal melakukan keburukan, Allah bakal menghinakannya; dan semuanya itu berasas takdir yang telah ditetapkan.”

Bahkan pengembaliannya sampai level terburuk, seakan-akan tiada sisa dari ibadah membaca Al-Qurannya, apalagi tak mengenal sama sekali. Sebagaimana firman Allah ﷻ,

وَنُقَلِّبُ أَفْئِدَتَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ كَمَا لَمْ يُؤْمِنُوا بِهِ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَنَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

“Dan (begitu pula) Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beragama kepadanya (Al-Qur’an) pada permulaannya, dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (QS. Al-An’am: 110)

Beramal keburukan setelah musim kebaikan adalah tanda kebaikan kita tidak diterima

Amalan ikutan dari sebuah kebaikan tidak hanya berupa kebaikan selanjutnya. Bisa saja ibadah kebaikan melahirkan ibadah keburukan selanjutnya. Waspadalah! Keburukan yang kita lakukan pasca melakukan kebaikan adalah tanda kebaikan baik itu tidak diterima.

كما أن مَن عَمِلَ حسنةً، ثم أتبَعَها بسيئةٍ، كان ذلك علامَةَ رَدِّ الحسَنَةِ وعَدَمَ قبولها

“Sebagaimana orang yang beramal kebaikan, kemudian setelahnya dia lanjutkan dengan keburukan, sungguh itu menjadi tanda ditolaknya kebaikan tersebut.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)

Para Salaf menjadikan Syawal sebagai momentum bersyukur

Allah ﷻ menjadikan puasa Ramadan sebagai jalan agar dosa-dosa kita yang telah lampau dapat diampuni-Nya. Dan ini adalah nikmat yang besar dan patut kita syukuri. Ibnu Rajab rahimahullah menerangkan kebiasaan para salaf berpuasa Syawal sebagai corak syukur,

فيكون معاوَدَةُ الصِّيامِ بعدَ الفِطْر شُكرًا لهذه النِّعمةِ

“Maka mereka menjadikan meneruskan puasa setelah Ramadan sebagai corak syukur atas nikmat Allah ﷻ ini.

فلا نِعْمَةَ أعظمُ مِن مغفرة الذنوبِ

Sungguh tiada nikmat yang lebih besar dari pembebasan Allah ﷻ atas dosa-dosa kita.” (Lathaiful Maarif, hal. 394)

Bahkan Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa beramal sebagai corak syukur atas ibadah sebelumnya juga kudu disyukuri. Artinya, setiap kebaikan kesyukuran butuh kepada rasa syukur selanjutnya. Pola ini tiada hentinya di dalam kehidupan seorang mukmin. Sehingga wajarlah jika Allah ﷻ katakan kita tidak bakal pernah bisa mensyukuri segala nikmat Allah ﷻ yang diberikan-Nya kepada kita semua.

Hal ini tidak hanya merupakan keteladanan dari orang saleh setelah Nabi ﷺ. Namun, Nabi ﷺ sendiri pun melakukan perihal serupa.

كان النبي – صلى الله عليه وسلم – يقوِمُ حتَّى تتورَّمَ قَدَمَاهُ، فيقالُ له: أتفعَلُ هذا وقد غَفَرَ الله لك ما تقدَّم من ذنبك وما تأخَّر؟ فيقول: أفلا أكونُ عبدًا شكورًا؟

“Suatu ketika, Nabi ﷺ berdiri salat malam sampai bengkak kedua kakinya. Kemudian dikatakan kepada baginda Nabi ﷺ, “Mengapa engkau melakukan sebegitunya, sementara Allah ﷻ sudah mengampuni dosa-dosamu yang telah lampau maupun yang bakal datang?” Lalu Nabi ﷺ bersabda, “Tidakkah saya menjadi hamba yang pandai bersyukur?” (HR. Bukhari no. 1130)

Maka, hendaknya menjadi renungan bagi kita di penghujung Syawal ini, gimana keadaan diri kita? Sudahkah kita mendapatkan parameter positif bahwa kebaikan Ramadan diterima? Ataukah kita tetap dalam bayang-bayang rapor merah dengan keadaan Syawal yang dipenuhi kelalaian dan kemaksiatan?

Baca juga: Menjaga Keistikamahan Pasca Ramadan

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Kincai Media

Referensi

Lathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab Al-Hanbali dengan pen-tahqiq Syekh Yasin Muhammad As-Sawas cet. Dar Ibnu Katsir.

Tafsir Ibnu Katsir yang dinukil dari tafsir.app

Selengkapnya